mencret puisiTerus terang, saya tidak suka puisi. Ketidaksukaan saya ini dikarenakan ketidakmengertian saya akan keindahan puisi, ketidakpahaman saya tentang cerita di balik bait-bait yang tersusun. Wajar kan bila saya tidak senang? Tapi itu dulu.

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan itu tidak salah tetapi juga belum tentu benar. Bila kita tidak kenal, atau hanya tahu kulitnya tanpa tahu isinya, barangkali kita enggan untuk terlibat lebih jauh. Dengan kata lain, mungkin kita susah berdamai dengan hati kita sendiri yang merasa tidak sreg karena tidak kenal jauh dengan orang atau hal tersebut. Apakah bila sudah kenal luar dalam otomatis akan menjadi senang? Belum tentu juga. Bisa jadi ketika kita sudah mengenal sangat jauh, kita memutuskan lari menjauh karena ada yang kita temukan dari yang bersangkutan. Sesuatu yang akhirnya membulatkan tekad kita untuk tidak lagi dekat-dekat dengan dia.

Seingat saya, saya tidak pernah membuat puisi. Saya jadi tahu bahwa rupanya saya pernah menuliskan sebuah puisi dalam buku catatan yang sekaligus saya jadikan buku harian saat kuliah dulu. Buku yang secara tidak sengaja saya temukan di rumah masa kecil saya saat libur lebaran kemarin. Di dalam buku itu ternyata ada sebuah puisi cinta yang saya tulis hari Selasa, 29 Mei 1990. Berarti saat ini umur puisi itu sudah 21 tahun. Wow! Anda tahu mengapa saya membuat puisi itu? Ya, saya sedang jatuh cinta ketika itu. Konon kala emosi berayun-ayun entah karena kesedihan atau rasa melayang manakala sedang jatuh cinta akan mampu membuat seseorang mengguratkan tulisan dan menjelma menjadi pujangga. Anda boleh percaya boleh tidak.

Seperti inilah puisinya:

kala sepi, gundah dan gelisah
kau datang
bagai lilin; meski kecil tapi
setidaknya ia menerangi sekitarnya
begitu juga kau; datang di saat
aku betul-betul membutuhkanmu

Pleburan, Selasa
29 Mei 1990

Puisi yang saya temukan itu adalah bukti bahwa saya pernah menulis puisi. Apakah itu satu-satunya puisi yang pernah saya buat atau sebenarnya ada yang lain, saya tidak tahu dan saya benar-benar tidak ingat telah menulis puisi lain. Yang pasti, penemuan puisi itu menjadi sebuah bukti satu-satunya bahwa dalam hidup ini saya pernah menorehkannya. Perihal apakah puisi itu pernah saya baca di depan orang lain atau tidak, rasanya bila mengingat saya orangnya pemalu, tidak mungkin saya suarakan di depan khalayak kecuali untuk konsumsi sendiri.

maman s mahayana
Maman S. Mahayana menjadi narasumber di KBS WORLD Radio, Korea Selatan (4 Oktober 2011)

Saya dulu pernah mencoba memahami puisi dengan cara berguru ke seorang penulis sekaligus kritikus sastra Maman S. Mahayana. Anda kenal? Bukan belajar intensif dan periodik, tetapi hanya sekali, itupun sekadar iseng. Saat itu saya sedang bertandang ke rumahnya. Bila bertemu dengannya, saya lebih suka main catur daripada membahas puisi. Hasil belajar dari ahlinya yang hanya sekali itu tidak ada yang saya dapat kecuali kebingungan. Jangankan hanya sekali, berkali-kali juga tidak menjadi jaminan saya akan paham dahsyatnya sebuah puisi. Saya yakin, tidak cukup hanya bisa baca untuk dapat menikmati sebuah puisi. Ada hal lain yang dibutuhkan yaitu yang dinamakan rasa. Ini hanya asumsi saya pribadi. Benar tidaknya, itu tidak penting bagi saya. Saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan. Kemampuan baca tulis bukan kendala bagi saya tetapi kenyataannya saya tak mampu menikmati puisi.

Ketidakbisaan saya dalam menikmati puisi bukan berarti mematikan niat saya untuk belajar. Justru saat ini bisa dibilang saya sedang tergila-gila dengan puisi. Bila dirunut ke belakang, asal mula dan penyebab saya jatuh cinta pada puisi adalah saat mulai bergabung dengan sebuah komunitas sastra yang menamakan dirinya Rumah Kata. Karena berada di Bogor, kelompok ini sering disebut Rumah Kata Bogor. Komunitas inilah yang saya persalahkan, jika dianggap bersalah, sebagai biang keladi penyebab kegilaan saya. Orang-orang yang berkumpul di dalamnya adalah mereka yang mencintai literasi termasuk puisi. Grup di Facebook dari komunitas ini sangat aktif. Bisa dikatakan hampir setiap hari beberapa puisi yang ditulis anggotanya diunggah, entah puisi yang sangat singkat maupun yang berpanjang-panjang. Apa akibatnya? Saya jadi terprovokasi!

Seolah macan tidur dibangunkan, saya mengamuk. Tiba-tiba saya membabi buta dalam menuliskan puisi. Saya bergabung di Rumah Kata Bogor sekitar pertengahan Agustus 2011. Dalam jangka waktu dua setengah bulan puisi yang saya buat sudah mendekati 80. Itu artinya, jika dirata-rata, dalam sehari saya membuat satu puisi. Ini saya sebut sebuah kegilaan. Sudah puluhan tahun tidak pernah membuat puisi, hanya pernah sekali ketika jatuh cinta dulu, tiba-tiba sekarang seperti orang mencret.

Meski pertengahan Agustus bergabungnya, baru tanggal 20 September 2011 puisi pertama saya buat. Puisi itu saya beri judul Balada Cinta. Ini sebenarnya puisi main-main. Saya sendiri tidak yakin apakah coretan saya ini bisa dinamakan puisi. Karena keraguan itu, saya minta pendapat kepada anggota Rumah Kata Bogor tentang puisi pertama saya tersebut. Ada yang mengatakan bahwa puisi saya ini disebut puisi mbeling. Silakan menikmati puisi pertama saya yang ternyata mbeling ini. Dan saya akan sangat berterimakasih bila anda sudi memberikan masukan.

 BALADA CINTA

jalannya melenggang
sedikit mekangkang
membusungkan dada yang bidang
siapa berdiri menghalang
dia akan tendang
kesempatan memadu kasih tak kan dia buang
pujaan hatinya telah menunggu tenang
di batas cakrawala pandang

tubuhnya putih mulus
begitu halus
dia sedang menunggu belahan jiwa berdada bidang
yang terlihat melangkah dengan tenang
di ujung mata memandang

dua hati menyatu kini
hari-hari indah terisi
tak ada lara
tiada nestapa
hanya suka ria
canda tawa
dunia milik berdua
yang lain gimana?
bah! itu urusan mereka

nyanyi seri telah berhenti
sepi mengisi hari-hari
gema takbir penanda akhir
si dada bidang sudah menghilang
terpanggang sunyi di dalam dandang

si putih?
tak mungkin bersedih
tak ada rasa perih
dalam panci di atas kompor
dirinya mewujud opor

Cikiray, 20/9/2011
WKF

mencret puisi
puisi di @PerihalCINTA yang dikicau ulang anggotanya

Kegilaan saya dalam berpuisi tidak hanya berhenti di grup Facebook Rumah Kata Bogor. Twitter juga saya jadikan korban. Linimasa di akun Twitter saya yang menggunakan nama @wkf2010 belepotan puisi pendek saya. Keterbatasan dalam menuliskan status di linimasa yang hanya 140 huruf/angka, tidak boleh lebih, tidak menghalangi niat saya. Bahkan puisi pendek saya yang menggunakan hashtag #PerihalCINTA sering dikicau ulang (retweet) oleh sebuah akun bernama @PerihalCINTA yang memiliki pengikut (follower) 76.084 ketika tulisan ini saya tulis dan telah menjadi 76.832 saat tulisan ini diunggah, dan sekarang pasti telah bertambah lagi. Tidak berhenti di situ penyebaran puisi pendek saya. Sebagian pengikut @PerihalCINTA juga mengicau ulang puisi tersebut ke pengikutnya lagi yang jumlahnya variatif. Efek bola salju terjadi pada puisi pendek yang saya tuliskan di linimasa. Puluhan ribu pengguna Twitter atau biasa disebut tweep telah kecipratan mencret saya. Oops!

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here