Bangkit dari Kubur bukan cerita horor. Bukan juga yang ada kaitannya dengan film hantu-hantuan yang sangat tidak saya suka itu. Saya bukan penikmat atau pendamba apalagi penggemar garis keras film hantu. Bagi saya, film bergenre gituan merupakan sebuah bentuk pembodohan sekaligus melestarikan kebebalan. Kalau Anda selalu datang ke bioskop setiap kali ada film diputar dengan tokoh utamanya hantu, Anda mungkin meradang membaca preambul ini. Anda juga boleh tidak setuju dengan saya dalam hal ini. Anda meradang ataupun terangsang, setuju maupun tidak setuju, saya jamin, tulisan ini tidak seseram judulnya. Percayalah!
CATATAN LEBARAN
Catatan lebaran ini saya awali di sebuah warung kopi kondang dari Seattle, Washington yang logonya berwarna hijau berupa putri duyung berekor dua bernama Siren dalam mitologi Yunani.
Sudah berkali-kali saya membuat catatan lebaran maupun tentang Ramadan di blog ini. Tulisan terawal mungkin yang berjudul Ramadhan Siapa Punya yang saya unggah pada 23 September 2006, 19 tahun silam. Sebuah curahan hati singkat perihal bulan puasa dan siapa yang berhak memilikinya. Silakan mengintipnya dengan cara mengeklik judul tulisan tersebut.
Bisa dibilang lebaran merupakan waktu yang ditunggu-tunggu bagi siapa saja. Baik mereka yang menjalani puasa selama Ramadan maupun yang sekadar menjadi penggembira, harusnya berpuasa tetapi lebih memilih tidak. Saya tidak akan memuji mereka yang taat atau menyayangkan lebih-lebih mencaci mereka yang lebih suka jadi penggembira. Yang mana pun Anda, teruskan saja membaca dan menikmati hidup. Hidup Anda milik Anda, bukan mereka yang memuja atau mencela.
LEBARAN YANG DITUNGGU
Mengapa Anda menunggu lebaran? Atau, mengapa lebaran ditunggu? Beda kepala beda alasan. Alasan Anda mungkin sama, mungkin beda, dengan orang lain. Kalau orang lain itu saya, sudah pasti alasan Anda akan beda. Saya jamin pasti tidak sama. Bahkan tidak bisa dibandingkan. Saya bisa memastikan karena saya tidak menunggu lebaran. Kedatangan lebaran bagi saya adalah sebuah keniscayaan. Mengapa saya harus menunggu bila di ujung Ramadan pasti lebaran? Jadi intinya saya tidak menunggu lebaran. Itulah sebabnya saya berani mengatakan bahwa alasan Anda menunggu lebaran pasti tidak akan sama dengan saya. Bagaimana bisa disamakan jika saya tidak sedang menunggu?
ANDA MUDIK?
Ya buat saya untuk lebaran sekarang. Walaupun beberapa tulisan saya berisi ketidaksetujuan dengan acara mudik misalnya tulisan berjudul Mudik Dinyatakan Haram atau Memang Harus Mudik?, kenyataannya lebaran kali ini saya mudik. Lagi-lagi pasti ada bahkan banyak alasan untuk mudik, atau tidak mudik. Anda bisa mengorek di blog ini yang menjadi latar saya memutuskan mudik atau tidak mudik. Tak peduli betapa susahnya dapat tiket atau betapa mahal harga yang harus ditanggung untuk bisa mudik, beberapa di antara kita tetap memutuskan untuk mudik.
WAKTUNYA KUMPUL KELUARGA DAN SAHABAT
Tentu saja lebaran merupakan momen berkumpul bersama keluarga dan atau sahabat. Prioritasnya pasti berkumpul dengan keluarga. Namun bila di satu kondisi, misalnya tidak mudik, lebaran bisa menjadi waktu berkumpul bersama sahabat. Jika memungkinkan tentunya.
Perihal kumpul bersama keluarga dan sahabat, ada satu grup Whatsapp yang terbentuk karena kami pernah bareng-bareng pergi dan menginap di sebuah tempat kamping di wilayah Sukabumi bernama Tanakita. Tanakita sendiri belum pernah saya tulis atau singgung dalam tulisan di blog ini. Barangkali perlu juga ya menuliskannya. Para sahabat yang ada di grup ini bagi saya sudah bukan lagi sahabat tetapi sudah menjadi keluarga. Walaupun dari latar beragam, sadar atau tidak, kami menafikan itu. Orang lain mungkin tidak setuju, kami tidak peduli. Kami melakoni jalan hidup sendiri, bukan orang lain. Jadi kami menikmati hidup kami sendiri. Mengapa harus tidak abai sikap orang lain?
Kebetulan saya mudik, jadi hanya bisa menikmati foto-foto yang dikirim di grup Tanakita saat mereka berkumpul lebaran kali ini. Tentu saja ini “menyebalkan” buat saya. Yang lebih menyebalkan lagi, kok ya ada segerombolan orang di sebelah saya sedang berkumpul berhaha-hihi sambil menikmati kopi. Mereka pasti para sahabat yang sedang kangen-kangenan dan bisa jadi sudah saling menganggap keluarga. Bikin sewot saja!
KULINER LEBARAN
Mungkin ada makanan khas yang muncul hanya di saat lebaran. Anda bisa memberi contoh? Tulis di kolom komentar ya kalau bisa menemukan. Apa pun itu, kulineran ketika berlebaran adalah salah satu agenda yang suka dilakukan pemudik. Biasanya karena kangen dengan cita rasanya atau suasana tempat sajian itu dijual. Apalagi jika hidangan itu hanya bisa ditemukan di kampung halaman atau susah ditemukan di tempat lain, pasti akan dibela-belain memburunya.

Kue moho adalah kue jadul. Dulu waktu masih jadi siswa SD, kue yang bikin seret di kerongkongan ini suka saya beli saat jam istirahat. Kue ini susah diperoleh di Bogor di mana saya tinggal sekarang. Atau malah tidak ada, karena saya belum pernah menemukan di toko kue mana pun yang saya datangi. Meskipun demikian, kue moho masih dijual di kota tujuan saya mudik. Moho selalu masuk daftar belanja setiap kali mudik. Bukan hanya rasanya, ada ikatan emosi yang menjadikan moho menjadi kue spesial buat saya. Ini yang merawat hasrat untuk selalu mencari dan membelinya. Anda sendiri, kuliner apa yang penuh emosi Anda?
TEMPAT PENYIMPAN KENANGAN
Sebuah pantai, sebentuk warung reyot, satu terminal beraroma pesing, misalnya, mungkin tidak berarti apa-apa buat Anda. Bagi orang lain, hal tersebut bisa penuh kenangan.
Di suatu masa ketika mudik lebaran, saya pernah pergi ke sebuah perkampungan hanya untuk melihat sebuah rumah. Yang mau saya lihat itu bukan rumah keluarga atau kerabat saya. Kalaupun hanya reruntuhan yang saya temukan, hal tersebut sudah cukup buat saya. Sayangnya saya tidak berhasil menemukannya. Bangunan utuh maupun reruntuhannya juga tidak. Lingkungan di mana rumah itu berada sudah berubah total. Saya benar-benar tidak mengenali sebagaimana tergambar di benak saya. Kecewa, tapi mau gimana lagi. Sudah tidak ada satu pun petunjuk yang mengarahkan saya ke lokasi rumah masa lalu tersebut. Itu rumah sahabat saya. Rumah penyimpan kenangan. Dulu saya suka main dan menginap di rumah itu. Kini yang tertinggal hanya kesan dalam ingatan tentang sebentuk rumah penuh kenangan dan kamar-kamarnya. Gambar rumah itu masih terlihat jelas dalam kenangan saya.
Barangkali perilaku saya ini terlihat konyol. Berjalan kaki menyusuri jalan menuju ke sebuah perkampungan hanya untuk melihat rumah orang lain. Dan akhirnya tidak menemukan yang dicari. Namun kalau yang dicari itu tempat penyimpan kenangan milik Anda, pasti akan menjadi istimewa bagi Anda. Bukan hal konyol lagi.
Dan perlu Anda ketahui, blog ini adalah tempat penyimpan kenangan saya. Daripada gentayangan tak karuan, saya masukkan saja ke sini. Kalau sewaktu-waktu butuh, atau ada kenangan samar-samar yang ingin saya perjelas, saya tinggal masuk blog ini. Saya cukup mengetik kata kunci di kolom pencari. Jika kenangan itu tersimpan di sini dengan kata kunci yang terkandung di dalamnya, pasti akan berhamburan nongol di halaman hasil pencarian.
MENGAPA MEMBUAT CATATAN LEBARAN
Seperti yang saya tulis di atas, salah satu tujuan membuat catatan lebaran adalah untuk menyimpan kenangan. Pendorong yang menggerakkan tangan saya membuat tulisan bisa macam-macam. Bahkan hal sepele bisa menjadi tidak sepele dalam urusan memicu ide menulis. Bagi saya, ide menulis itu selalu ada dan tidak akan pernah habis. Omong kosong bila ada yang bilang tidak ada ide untuk ditulis. Yang ada atau yang pasti sedang terjadi adalah apa yang saya sebut Sembelit Penulis.
BANGKIT DARI KUBUR

Kalau saya katakan bangkit dari kubur, itu terkait dengan blog yang sekarang sedang Anda baca. Blog saya ini ibarat bangkit dari kubur dengan munculnya tulisan ini. Wongkamfung.com nyaris empat tahun terkubur terhitung sejak 31 Mei 2021. Di tanggal itulah tulisan terakhir saya buat.
Biar tidak melebar ke mana-mana, saya hentikan saja menulis catatan ini. Sudah, itu saja.
Sumber gambar: Meta AI







