Dukuh Pengeluh

0
121

Dukuh Harapan adalah nama yang indah. Dari namanya, dukuh ini tentu penuh harapan. Sayangnya, di dukuh ini harapan adalah komoditas yang sudah punah sejak lama. Seperti optimisme, kesabaran, dan, yang paling tragis, rasa syukur. 

Sebenarnya, dukuh itu lebih cocok disebut Dukuh Pengeluh. Nama itu jauh lebih akurat karena di sanalah berkumpul para juara mengeluh se-Indonesia, bahkan mungkin sedunia. Mereka mengeluh dengan dedikasi yang patut diacungi jempol. Kalau saja ada Olimpiade Mengeluh, Dukuh Harapan pasti akan menyapu bersih semua medali emas.

“Aduh, matahari terlalu terang hari ini,” keluh Mak Darmi sambil menggantung cucian yang sudah kering sempurna.

“Iya, tapi kemarin kan mendung terus. Bikin baju nggak kering-kering,” sahut Bu Tini dari seberang jalan, dengan nada seolah-olah cuaca adalah konspirasi global yang dirancang khusus untuk menyiksa hidupnya.

“Kalau hujan, ya basah. Kalau panas, ya gerah. Hidup ini memang susah,” tambah Pak Karjo yang sedang duduk-duduk santai di teras rumahnya, tidak melakukan apa-apa kecuali, tentu saja, mengeluh.

Begitulah kehidupan di Dukuh Harapan berjalan. Dengan irama keluhan yang tak pernah putus, seperti soundtrack film horor yang diputar berulang-ulang hingga Anda kehilangan kewarasan.

Yang unik, mereka bahkan mengeluh tentang hal-hal baik. Ketika panen padi berlimpah, mereka mengeluh karena harus bekerja ekstra keras untuk mengangkut gabah. Ketika ada hajatan dan disuguhkan makanan gratis, mereka mengeluh karena menunya itu-itu saja. Ketika dapat rejeki nomplok, mereka mengeluh karena takut kena pajak.

Sungguh, jika pesimisme adalah seni, maka Dukuh Harapan adalah galerinya.

Mata Air Pengeluh

Di tengah dukuh itu berdiri sebatang pohon trembesi tua yang gagah. Di bawahnya, mata air jernih mengalir tenang, satu-satunya sumber kehidupan bagi seluruh penduduk. Ironisnya, bahkan tentang mata air ini pun mereka punya keluhan.

“Airnya kok dingin banget, sih. Bikin masuk angin,” gerutu Mak Ijah.

“Tapi kalau airnya hangat kan aneh. Namanya juga mata air,” balas Bu Sari.

“Ya itu dia masalahnya! Kenapa nggak bisa sedang-sedang saja sih suhunya?”

Sungguh logika yang menawan.

Reputasi Dukuh Pengeluh ini, tentu saja, tidak luput dari perhatian pejabat setempat. Pak Lurah Sutrisno, misalnya, sudah berkali-kali mendapat komplain dari lurah-lurah desa tetangga tentang wabah pesimisme yang mengancam menyebar ke wilayah mereka.

“Pak Lurah, warga desa saya yang paling dekat sama Dukuh Harapan mulai ikut-ikutan mengeluh melulu,” lapor Pak Lurah Winardi dari desa sebelah dengan nada prihatin. “Seperti penyakit menular, lho.”

Pak Lurah Sutrisno hanya bisa mengelap keringat di dahinya. Bagaimana tidak? Setiap kali ada rapat koordinasi tingkat kecamatan, dia selalu jadi bahan olok-olok sesama lurah.

“Wah, Pak Sutrisno datang. Gimana kabar Dukuh Pengeluh? Masih sering menggerutu nggak warganya?” ejek Pak Lurah dari desa lain, diikuti tawa para peserta rapat lainnya.

Bahkan Pak Bupati Haryanto pernah memanggilnya secara khusus untuk “konsultasi” masalah ini. Percakapan mereka saat itu masih teringat jelas di kepala Pak Lurah Sutrisno.

“Pak Lurah,” kata Pak Bupati dengan nada yang berusaha tenang tapi terdengar sarkastik, “saya dapat laporan bahwa ada satu dukuh di wilayah Bapak yang… unik. Katanya warganya hobi mengeluh?”

“Ah, itu Dukuh Harapan, Pak Bupati. Sebenarnya mereka baik-baik saja, Pak. Cuma… agak ekspresif.”

“Ekspresif?” Pak Bupati menaikkan alis. “Pak Lurah, kemarin saya dapat laporan dari Dinas Pariwisata. Ada turis yang datang ke sana, malah ikut stres dan depresi setelah mendengar keluhan warga setempat selama satu jam. Itu bukan ‘ekspresif,’ Pak. Itu ancaman kesehatan mental!”

Pak Lurah Sutrisno tahu bahwa Pak Bupati memang punya alasan kuat untuk khawatir. Kabupaten mereka sedang gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata dengan slogan “Kabupaten Sejahtera, Rakyat Bahagia.” Bayangkan betapa ironisnya jika ada satu dukuh yang seluruh penduduknya seperti iklan anti-depresan berjalan.

“Pak Lurah, saya kasih Bapak waktu tiga bulan,” kata Pak Bupati dengan tegas. “Kalau dalam tiga bulan budaya mengeluh di dukuh itu belum berubah, saya terpaksa harus… mengambil tindakan khusus.”

“Tindakan khusus seperti apa, Pak?”

“Entahlah. Mungkin saya akan pindahkan semua warga ke tempat lain. Atau malah hapus saja dukuh itu dari peta. Biar nggak mencoreng nama baik kabupaten.”

Sejak percakapan itu, Pak Lurah Sutrisno jadi sering bolak-balik ke Dukuh Harapan, berusaha memberi penyuluhan warganya untuk lebih positif. Tapi hasilnya? Nihil. Bahkan dia sendiri yang sering pulang dengan suasana hati jelek karena ketularan pesimisme warga setempat.

“Pak Lurah datang lagi,” kata Mak Darmi suatu hari. “Pasti mau ngomong-ngomong soal bersyukur lagi. Capek deh, hidup kok diatur-atur terus.”

“Iya, kan kita sudah nyaman gini. Kenapa harus berubah sih?” sahut Bu Tini. “Ribet banget jadi orang sekarang. Mau mengeluh saja dilarang.”

Dan Pak Lurah Sutrisno, yang mendengar percakapan itu dari kejauhan, hanya bisa menghela napas panjang. Dia mulai memahami mengapa para ahli psikologi bilang bahwa mengubah pola pikir orang adalah salah satu hal tersulit di dunia.

Bencana Nasional dan Solusi Gila

Sementara itu, Pak Bupati Haryanto semakin gelisah karena masalah ini mulai naik ke tingkat provinsi. Dalam rapat koordinasi dengan gubernur, dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membuat mukanya merah padam.

“Pak Bupati Haryanto,” tanya sang Gubernur dengan nada yang dibuat-buat ramah, “saya dengar di kabupaten Bapak ada desa yang warganya terkenal suka mengeluh. Apa benar?”

“Ah, itu hanya dukuh kecil, Pak Gubernur. Populasinya tidak sampai 200 orang.”

“Tapi dampaknya besar, Pak. Kemarin istri saya lihat di media sosial, ada video viral tentang ‘Dukuh Pengeluh’ yang sudah ditonton jutaan orang. Komentar-komentar… kurang bagus untuk image provinsi kita.”

Pak Bupati tahu persis video yang dimaksud. Seorang YouTuber iseng datang ke Dukuh Harapan dan merekam percakapan dengan warga setempat. Videonya berjudul “DESA PALING PESIMIS DI INDONESIA?! BIKIN DEPRESI!!!” dan sudah ditonton 3,2 juta kali dalam seminggu.

Yang lebih memalukan lagi, di kolom komentar penuh dengan ejekan seperti:

“Wkwkwk ini desa apa rumah sakit jiwa sih?”

“Gua cuma nonton 5 menit udah ikut stres.”

“Pemerintah daerahnya kemana sih? Kok dibiarkan?”

“Pak Bupati,” lanjut sang Gubernur, “saya kasih deadline sampai akhir bulan ini. Kalau masalah ini tidak terselesaikan, saya terpaksa akan melaporkan ke pusat bahwa ada daerah yang tidak mampu mengelola kesejahteraan mental rakyatnya.”

Ancaman itu membuat Pak Bupati panik setengah mati. Karier politiknya bisa tamat jika sampai dilaporkan ke pusat gara-gara sekelompok warga yang hobi mengeluh.

Namun takdir, atau mungkin karma, punya cara uniknya sendiri untuk mengajar. Dan instrukturnya bernama Pongge.

Pongge adalah seorang insinyur kimia yang agak eksentrik. Atau dalam bahasa yang lebih sopan: gila. Dia punya obsesi aneh untuk memperbaiki dunia dengan cara-caranya yang… kreatif. Ketika mendengar reputasi Dukuh Pengeluh, mata Pongge berbinar-binar seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

“Menarik sekali,” gumamnya sambil menyesuaikan kacamata tebalnya. “Manusia yang alergi terhadap rasa syukur. Ini tantangan yang sempurna.”

Di laboratorium pribadinya yang berantakan, Pongge mulai merancang pelajaran untuk warga Dukuh Harapan. Dia menciptakan sebuah cairan kimia yang akan mengubah warna kulit seseorang menjadi semakin gelap setiap kali orang tersebut mengeluh.

“Satu keluhan, satu tingkat kegelapan,” katanya sambil tertawa seperti profesor gila dalam film-film horor kacangan. “Mari kita lihat seberapa gelap mereka bisa menjadi.”

Suatu malam, ketika bulan bersembunyi di balik awan, seolah ikut malu menyaksikan apa yang akan terjadi, Pongge menyelinap ke Dukuh Harapan. Dengan hati-hati, dia menuangkan cairan ciptaannya ke mata air di bawah pohon trembesi.

Cairan itu larut sempurna, tak meninggalkan jejak. Tak ada yang tahu bahwa air kehidupan mereka baru saja dicampur dengan… sebut saja “serum anti-keluhan.”

Kutukan Warna Kulit

Keesokan harinya, kehidupan di Dukuh Harapan berjalan seperti biasa. Keluhan demi keluhan berdatangan seperti hujan di musim penghujan.

“Wah, nasi di rumah habis lagi. Hidup ini berat banget, ya,” keluh Mak Darmi sambil meneguk air putih dari mata air.

Dalam hitungan menit, kulit tangannya berubah sedikit lebih gelap. Tidak terlalu mencolok, hanya seperti orang yang baru saja berjemur sebentar.

“Kok kulit saya jadi agak item, ya?” gumamnya. “Pasti gara-gara cuaca. Hidup ini memang merepotkan.”

Yang terjadi kemudian, kulitnya menjadi sedikit lebih gelap lagi.

Begitulah, satu demi satu, penduduk Dukuh Harapan mulai mengalami transformasi yang sama. Namun, alih-alih menyadari pola yang terjadi, mereka malah semakin rajin mengeluh tentang perubahan warna kulit mereka.

“Kulit saya kok makin item, sih. Pasti gara-gara polusi,” keluh Bu Tini. Gelap.

“Atau mungkin karena makanan sekarang banyak zat kimia,” tambah Pak Karjo. Lebih gelap.

“Hidup zaman sekarang memang susah. Kulit aja bisa berubah warna sendiri,” gerutu Mak Ijah. Semakin gelap.

Dalam seminggu, seluruh penduduk Dukuh Harapan berubah menjadi hitam pekat. Seperti arang yang baru selesai dibakar. Mereka terlihat seperti bayangan hidup yang berkeliaran di siang bolong.

Yang lebih tragis lagi, alih-alih belajar dari situasi ini, mereka malah semakin rajin mengeluh. Tentang warna kulit mereka, tentang tatapan aneh orang-orang dari desa sebelah, tentang betapa sulitnya hidup dengan penampilan seperti ini.

Lingkaran setan yang sempurna.

Berita tentang “desa manusia arang” ini akhirnya menyebar ke mana-mana. Media datang berduyun-duyun. Dukuh Harapan menjadi viral dengan nama baru: Dukuh Hitam. Turis berdatangan untuk sekadar melihat-lihat, seperti mengunjungi kebun binatang manusia.

Dan yang paling menyedihkan? Warga Dukuh Hitam mengeluh tentang popularitas mereka yang mendadak.

“Ribet banget jadi terkenal,” gerutu mereka. “Orang-orang pada datang terus, bikin nggak tenang.”

Kegaduhan Internasional

Pak Lurah Sutrisno yang pertama kali menerima telepon dari stasiun TV nasional tentang “fenomena Dukuh Hitam” hampir pingsan. Dia pikir masalah mengeluh sudah cukup merepotkan, tapi ini? Ini sudah level bencana nasional.

“Pak Lurah, kami ingin wawancara eksklusif tentang dukuh yang penduduknya tiba-tiba berubah warna,” kata reporter dengan antusias. “Ini kan fenomena supernatural yang luar biasa!”

“Supernatural?” Pak Lurah Sutrisno terbata-bata. “Mungkin itu cuma… eh… efek cuaca ekstrem?”

Tapi penjelasan apa pun yang dia berikan terdengar absurd. Bagaimana mungkin cuaca bisa bikin orang hitam pekat dalam semalam?

Yang lebih parah lagi, Pak Bupati Haryanto langsung meneleponnya dengan suara bergetar antara marah dan panik.

“PAK LURAH!” teriak Pak Bupati sampai hampir memecahkan gendang telinga. “INI APAAN SIH?! SAYA BARU SAJA DITELEPON GUBERNUR! KATANYA DUKUH DI WILAYAH SAYA JADI TRENDING TOPIC INTERNASIONAL!”

“Maaf, Pak Bupati, saya juga tidak tahu apa yang terjadi—”

“TIDAK TAHU?! PAK LURAH, CNN INTERNATIONAL SUDAH BUAT ARTIKEL TENTANG ‘MYSTERIOUS BLACK VILLAGE IN INDONESIA’! BBC JUGA SUDAH KIRIM TIM LIPUTAN! INI MEMALUKAN INDONESIA DI MATA DUNIA!”

Pak Lurah Sutrisno merasa dunia berputar. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Dukuh Pengeluh yang biasanya hanya merepotkan di tingkat RT/RW, sekarang sudah jadi masalah internasional.

“Pak Bupati, mungkin kita bisa bilang ini… eh… semacam tradisi budaya lokal?”

“TRADISI BUDAYA APAAN?! ORANG HITAM PEKAT SECARA MENDADAK?! Pak Lurah, dalam 24 jam saya mau jawaban yang masuk akal, atau saya terpaksa harus… harus…”

“Harus apa, Pak?”

“SAYA JUGA NGGAK TAHU! TAPI PASTI ADA YANG HARUS DILAKUKAN!”

Sementara itu, di tingkat yang lebih tinggi lagi, Pak Gubernur sedang menghadapi krisis eksistensial. Kantornya dibanjiri telepon dari berbagai media, peneliti, bahkan dari Kementerian Kesehatan yang ingin menyelidiki “wabah perubahan pigmentasi kulit mendadak.”

“Pak Gubernur,” lapor asistennya dengan wajah pucat, “tadi saya dapat telepon dari Jakarta. Katanya Presiden sudah tahu soal Dukuh Hitam ini dan ingin penjelasan resmi.”

Pak Gubernur hampir tersedak kopi yang sedang diminumnya. “PRESIDEN?! Masak iya Pak Presiden sampai mikirin dukuh kecil di ujung kabupaten?”

“Iya, Pak. Katanya ini sudah jadi isu nasional. Media luar negeri pada nulis artikel dengan judul yang… agak provokatif.”

“Seperti apa?”

“‘Indonesia’s Mysterious Curse Village’ di CNN, ‘Black Magic or Climate Change?’ di BBC, dan yang paling parah… ‘Is This Indonesia’s Chernobyl?’ di The Guardian.”

Pak Gubernur langsung lemas. Kariernya yang sudah mapan sekarang terancam gara-gara sekelompok orang yang hobi mengeluh dan tiba-tiba jadi hitam pekat.

“Hubungi semua ahli,” perintahnya dengan nada putus asa. “Dokter, peneliti, dukun, siapa aja. Kita harus dapat penjelasan yang masuk akal sebelum ini jadi skandal internasional yang lebih besar.”

Tapi para ahli yang didatangkan justru semakin bingung. Tim dokter dari rumah sakit daerah tidak menemukan penyakit atau kelainan apa pun. Tim peneliti dari universitas juga tidak bisa menjelaskan fenomena perubahan pigmentasi yang terjadi secara seragam pada seluruh populasi dukuh.

Yang paling lucu, sekaligus menyedihkan, adalah ketika tim psikolog datang untuk meneliti kondisi mental warga Dukuh Hitam.

“Kami ingin melakukan asesmen psikologis,” kata sang psikolog kepada warga yang berkumpul.

“Ah, ribet banget sih hidup sekarang,” keluh Mak Darmi. “Mau hidup tenang aja kok susah.”

“Iya, dulu kita cuma mengeluh di antara tetangga sendiri. Sekarang malah jadi tontonan orang sedunia,” tambah Bu Tini.

“Hidup zaman sekarang memang susah. Masa iya gara-gara kulit item, kita jadi dikira sakit jiwa?” gerutu Pak Karjo.

Tim psikolog itu akhirnya pulang dengan kesimpulan yang membingungkan: “Kondisi mental mereka normal, hanya terlalu… ekspresif dalam menyampaikan ketidakpuasan.”

Ekspresif. Kata yang sama yang digunakan Pak Lurah Sutrisno dulu. Seolah-olah mereka semua sepakat untuk menggunakan eufemisme yang paling diplomatis untuk menggambarkan kebiasaan mengeluh yang sudah akut.

Ironi yang Tak Berkesudahan

Dari kejauhan, Pongge menyaksikan semua ini sambil tersenyum tipis, senyum yang penuh kepuasan sekaligus kesedihan. Eksperimennya berhasil, tetapi hasilnya jauh lebih besar dari yang dia bayangkan.

Dia bahkan tidak menyangka bahwa ulahnya akan sampai ke telinga Presiden. Ketika melihat berita di TV tentang “Dukuh Hitam yang menggemparkan dunia,” Pongge merasa seperti Frankenstein yang melihat monster ciptaannya mengamuk di luar kendali.

“Mungkin saya terlalu berlebihan,” gumamnya sambil mengemas peralatan laboratoriumnya. “Tapi… itulah ganjaran kalau tidak pernah bersyukur.”

Ironisnya, kericuhan yang ditimbulkan oleh “fenomena Dukuh Hitam” malah membuat para pejabat, dari lurah hingga gubernur, jadi rajin mengeluh juga.

Pak Lurah Sutrisno mengeluh tentang betapa sulitnya mengurus warga yang “spesial.” Pak Bupati Haryanto mengeluh tentang betapa tidak adilnya dia harus menanggung malu gara-gara masalah yang tidak pernah dia ciptakan. Pak Gubernur mengeluh tentang betapa anehnya nasib yang membuatnya terjerat dalam skandal supernatural.

Seandainya Pongge masih punya sisa cairan kimia ciptaannya, mungkin sekarang tidak hanya Dukuh Hitam yang berkulit gelap. Seluruh jajaran pemerintahan dari tingkat desa hingga provinsi juga akan mengalami transformasi warna yang sama.

Tapi Pongge sudah pergi, meninggalkan kekacauan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia pikir eksperimennya akan berakhir di tingkat dukuh saja. Ternyata, efek dominonya menyebar hingga ke tingkat nasional, bahkan internasional.

Yang paling tragis adalah, meskipun sudah menjadi pusat perhatian dunia, warga Dukuh Hitam tetap tidak menyadari korelasi antara kebiasaan mengeluh mereka dengan warna kulit yang berubah. Mereka malah semakin rajin mengeluh tentang semua keriuhan yang terjadi di sekitar mereka.

“Capek deh jadi terkenal,” keluh Mak Darmi di hadapan kamera CNN. “Hidup kita jadi nggak tenang.”

“Iya, dulu tenang-tenang aja. Sekarang malah jadi ribut,” tambah Bu Tini kepada reporter BBC.

Dan kulit mereka pun semakin hitam pekat, hingga hampir tidak bisa dibedakan dengan bayangan di siang hari.

Tapi apakah warga Dukuh Hitam akhirnya belajar? Apakah mereka menyadari hubungan antara keluhan dan warna kulit mereka? Tentu saja tidak. Mereka terlalu sibuk mengeluh tentang betapa anehnya hidup untuk sempat merenung tentang penyebabnya.

Hingga hari ini, Dukuh Hitam masih ada di sana. Penduduknya masih mengeluh, kulitnya masih hitam pekat, dan wisatawan masih berdatangan untuk menyaksikan keajaiban itu. Bahkan sudah ada paket tur khusus yang dijual agen perjalanan dengan judul Misteri Dukuh Hitam: 2 Hari 1 Malam.

Pak Lurah Sutrisno akhirnya dipindahkan ke desa lain karena stres berkepanjangan. Penggantinya, Pak Lurah Bambang, bertahan hanya tiga bulan sebelum mengajukan mutasi dengan alasan gangguan kesehatan mental akibat lingkungan kerja yang toksik.

Pak Bupati Haryanto tidak terpilih lagi dalam pemilihan kepala daerah berikutnya. Dalam kampanyenya, lawan politiknya selalu menyinggung kegagalan menangani fenomena Dukuh Hitam sebagai bukti ketidakmampuannya memimpin.

Pak Gubernur berhasil bertahan di jabatannya, tapi dengan catatan hitam dalam laporan evaluasi kinerja: “Kurang responsif dalam menangani isu yang berpotensi merusak citra daerah.”

Sementara itu, Dukuh Hitam sendiri, ironisnya, justru menjadi lebih makmur karena menjadi destinasi wisata unik. Para warga mulai berjualan suvenir, membuka warung makan, dan bahkan ada yang jadi pemandu wisata. Tapi tentu saja, mereka tetap mengeluh tentang semua kesibukan baru ini.

“Ribet banget jadi tuan rumah wisatawan,” keluh Mak Darmi sambil menghitung uang hasil jualan keripik singkong. “Capek ngurusin orang terus.”

“Iya, dulu hidup tenang. Sekarang malah jadi ribut,” sahut Bu Tini yang sedang melayani turis yang ingin foto bareng.

Setiap kali ada yang bertanya tentang asal-usul kegelapan mereka, jawaban yang selalu diberikan adalah: “Entahlah. Hidup memang aneh. Kita cuma bisa mengeluh.”

Mata air di bawah pohon trembesi masih mengalir jernih, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah tidak pernah ada Pongge dengan obsesi gilanya. Seolah-olah kegelapan yang menyelimuti dukuh itu adalah hal yang wajar. Tapi mata air itu tahu. Dia tahu bahwa kadang-kadang, pelajaran terberat dalam hidup datang dalam bentuk yang paling tidak terduga. Dan bahwa terkadang, untuk belajar bersyukur, kita harus kehilangan segalanya terlebih dahulu, bahkan warna kulit kita sendiri.

Yang paling ironis dari semua ini adalah, Dukuh Hitam akhirnya benar-benar menjadi “Dukuh Harapan”, bukan bagi penduduknya, tapi bagi para pejabat yang berharap suatu hari nanti fenomena aneh ini akan berakhir dengan sendirinya. Tapi sampai hari ini, harapan itu masih tetap harapan. Dan keluhan di Dukuh Hitam masih berlanjut, seperti soundtrack yang tidak pernah berhenti diputar.

Kisah Dukuh Pengeluh ini, sepertinya, masih akan terus berlanjut. Entah sampai kapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here