Pakar Korea

0
352

Tiga minggu setelah mission impossible tomat tujuh rupa, Lilac duduk di kafe favoritnya di Kemang bersama tiga sahabatnya. Sehari sebelumnya mereka sudah bikin janji ngopi bareng di tempat itu. 

Lilac sedang melihat Instagram Olive yang penuh foto makanan Korea dan caption “Missing my girls”. Ide gila langsung muncul di kepala Lilac.

Girls!” Lilac terlihat bersemangat dengan semangat yang bisa dirasakan sampai ke Seoul. “Ada yang mau bikin kejutan buat Olive?”

“Kejutan gimana?” Rose membalas cepat, seperti biasa yang paling waspada kalau Lilac atau Vanda punya ide aneh.

“Kita ke Korea! Kasihan Olive sendirian di negara orang!”

“KOREA?” Wulan cengo. “Li, kamu serius?”

“Serius pakai banget! Aku sudah pernah ke Korea, jadi aku bisa jadi pemandu kalian. Aku pakar Korea!”

Vanda yang masih agak ngambek sama suami langsung tertarik. “Boleh juga sih. Suamiku bisa merasakan gimana rasanya ditinggal.”

“Van, ini bukan balas dendam ke suami,” Rose mengingatkan.

“Bukan! Ini murni demi persahabatan semata!”

Lilac yang sudah kebayang jadi tour guide langsung bikin strategi. “Gini, kita bilang ke suami masing-masing kalau kita kasihan sama Olive. Dia sendirian di negara orang, butuh dukungan dari sahabat-sahabatnya.”

“Tapi Li, biaya ke Korea mahal banget,” Wulan yang paling realistis mulai hitung-hitungan.

“Makanya kita minta dukungan suami! Bilang saja ini misi kemanusiaan!”

Rose skeptis. “Suamiku pelit kalau urusan jalan-jalan yang mahal.”

“Bilang saja ini bukan jalan-jalan, tapi pengiriman satgas pendukung untuk sahabat yang lagi berjuang di luar negeri!”

Vanda langsung menyala. “Jenius! Suamiku pasti mau, dia kan lagi merasa bersalah karena sering ninggalin aku.”

“Nah kan! Klop waktunya! Oia, biar tak terendus oleh Olive, aku akan bikin WAG Surprised Olive,” kata Lilac.

Operasi “Modus Kasihan Olive” pun dimulai. Mereka kompakan bilang ke suami masing-masing dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

“Kasihan Olive sendirian di Korea,” Vanda bilang ke suaminya sambil pasang muka sedih. “Dia sering nangis di video call, kangen Indonesia.”

“Emang dia kenapa?” suami Vanda yang memang lagi merasa bersalah langsung tersulut empatinya.

“Ya namanya hidup sendirian di negara orang. Butuh dukungan dari teman-teman terdekatnya.”

“Ya sudah, kalau kamu mau jenguk dia, papa beliin tiket.”

“Beneran? Tapi aku maunya bareng teman-teman yang lain. Biar ramai, jadi Olive senang.”

“Oke, untuk teman-teman juga sekalian.”

Vanda langsung teriak dalam hati: “JACKPOT!”

Rose dengan pendekatan yang lebih halus: “Sayang, Olive lagi sedih tuh di Korea. Teman-teman mau jenguk, tapi aku bingung ikut atau tidak.”

“Kenapa bingung?”

“Ya biayanya kan lumayan.”

Suami Rose yang memang baik hati langsung melembut. “Ya sudah, ikut saja. Teman kan penting.”

Wulan pakai strategi merasa bersalah: “Kasihan Olive, Sayang. Sendirian di negara orang, butuh dukungan mental.”

“Memang dia kenapa lagi?”

“Rindu rumah parah. Penginnya pulang terus. Kata Lilac yang pernah ke Korea, hidup di sana tuh berat kalau sendirian.”

“Ya sudah, kamu pergi saja bantu dia. Papa jaga anak-anak.”

Lilac yang paling dramatis: “Sayang, aku merasa bersalah sama Olive.”

“Kenapa?”

“Dia sendirian di Korea, berjuang mati-matian, kadang lupa makan lupa mandi, sementara aku di sini nyaman-nyaman saja. Rasanya aku harus ke sana, menyemangati dia secara langsung.”

“Ya sudah, pergi saja. Kamu kan memang pernah ke Korea, bisa jadi guide.”

“Bisa aku ajak teman-teman yang lain? Biar Olive lebih senang?”

“Boleh.”

Misi telah terlaksana! Dalam waktu seminggu, tiket pesawat sudah dibeli, visa sudah diurus tinggal nunggu jadinya, dan Lilac sudah bersiap menjadi “Pakar Korea” yang akan memandu sahabat-sahabatnya.

Girls, percayakan semuanya padaku,” Lilac bilang dengan penuh kepercayaan diri di grup Surprised Olive. “Aku sudah pernah ke Korea, tahu seluk-beluknya. Dari Incheon ke Mapo mah gampang banget.”

“Kamu yakin, Li?” Rose masih agak khawatir.

“Yakin dong! Aku kan pakar Korea! Sudah pernah ke sana, tahu transportasinya, tahu budayanya. Pokoknya ikuti aku saja!”

Malam keberangkatan tiba. Terminal 3 Soekarno-Hatta ramai seperti biasa. Mereka berempat duduk di ruang tunggu dengan antusiasme level maksimal.

“Olive pasti kaget banget!” Wulan gembira.

“Iya, surprise terbaik sepanjang masa!” Rose ikut bersemangat.

“Ini semua berkat aku yang pertama punya ide, guys. Jangan lupa itu,” Lilac mengingatkan sambil pose dengan boarding pass.

Vanda yang sudah agak lupa sama masalahnya dengan suami ikut bersukacita. “Akhirnya, melancong tanpa suami! Bebaaas!”

Pesawat berangkat malam hari, mendarat di Incheon pagi-pagi. Lilac langsung mengambil alih kepemimpinan dengan penuh percaya diri.

“Oke, girls! Welcome to Korea! Ikuti pakar Korea kalian!” Lilac berjalan dengan langkah pasti, diikuti tiga sahabatnya yang masih agak linglung karena jet lag.

“Li, kita naik apa ke Mapo?” tanya Wulan sambil nenteng koper.

“Gampang! Naik bus bandara. Aku sudah hafal rutenya.”

Di konter bus bandara, Lilac dengan pede bilang ke petugas: “Bus to Gimpo, please.

Petugas Korea memberikan tiket dan menunjuk bus yang sudah siap berangkat.

“Nah kan, gampang!” Lilac bangga. “Makanya aku bilang, percaya sama pakar Korea!”

Mereka naik bus dengan semangat tinggi. Pemandangan Korea dari jendela bus bikin mereka bergairah.

“Wah, beda banget sama Indonesia ya,” Rose takjub.

“Iya, rapi banget!” Wulan ikut terpesona.

“Nanti kalian akan lebih takjub lagi. Korea tuh maju banget, guys,” Lilac sok tahu.

Satu jam kemudian, bus berhenti di terminal yang tidak mereka kenal.

“Li, ini Mapo?” tanya Vanda sambil lihat sekitar.

Lilac mulai agak ragu, tapi masih tetap menjaga citra sebagai pakar Korea. “Harusnya sih iya…”

Rose lihat papan nama terminal. “Li, ini Gimpo Airport.”

“Gimpo?” Lilac bingung. “Bukannya kita tadi dari Incheon?”

“Iya, kita dari Incheon. Terus kenapa sekarang di Gimpo?”

Pelan tapi pasti, kesadaran mereka muncul. Mereka salah naik bus. Bukannya memilih bus ke arah kota, mereka naik bus antar bandara dari Incheon ke Gimpo. Lilac tidak menyadari ketika membeli tiket dia salah ucap. Di benaknya Mapo, yang terucap Gimpo.

“LILAC!” teriak mereka bertiga bersamaan.

“Eee… ini kesalahan minor,” Lilac berkilah. “Namanya juga petualangan!”

“Kesalahan minor? Kita sekarang di bandara yang salah!” Vanda mulai panik.

“Tenang! Aku pakar Korea, pasti bisa tangani!”

Dimulailah pengembaraan mereka berkeliling Korea dengan bimbingan “Pakar Korea” yang ternyata lebih bingung dari turis biasa. Dari Gimpo, mereka coba naik subway, tapi salah arah. Dari subway, mereka coba naik bus kota, tapi turun di tempat yang salah. Mereka mencoba bertanya sana-sini tetapi yang ditanya hanya menggelengkan kepala atau malah hanya  menatap bingung. Ada juga yang menunjuk suatu arah sambil berbicara bahasa Korea. Bukannya menolong tapi makin membuat bingung karena tidak ada satu pun yang mengerti bahasa Korea. Tahunya hanya anyeonghaseyo dan kamsahamnida. Lilac kemudian membuka Google Maps untuk mencari stasiun terdekat. Balik lagi mereka naik subway. Sampai dua jam lebih mereka baru turun karena ternyata itu ujung dari rel alias stasiun terakhir. Itu pun dikasih tahu oleh seorang bapak yang kasihan melihat empat alien dari tadi longak-longok lewat jendela.

“Li, kita sudah berputar-putar dari pagi, sekarang sudah sore, belum ketemu juga apartemen Olive,” Rose mulai kesal.

“Sabar dong, Ros. Namanya juga adventure!”

Adventure tahi kucing! Kita tersesat!”

Vanda yang dari tadi lapar dan capek mulai hilang semangatnya. “Aku mau pulang! Aku kangen sama rumah! Aku kangen sama suamiku yang nyebelin itu! Hikkk…” Air mata Vanda mulai bercucuran. 

“Van, jangan nangis dong,” Wulan coba menenangkan.

“Aku lapar, capek, dan bingung! Kita sudah jalan-jalan seharian tapi tidak tahu kita di mana!”

Lilac mulai panik lihat Vanda nangis. “Van, tenang. Aku pasti bisa cariin jalan.”

“Cariin jalan? Dari tadi kamu bilang tahu jalan, tapi kita malah makin jauh!”

Matahari mulai tenggelam, mereka berempat duduk di bangku stasiun entah apa namanya dengan wajah frustrasi.

“Li, kamu yakin kamu pernah ke Korea?” Rose bertanya dengan nada skeptis.

“Pernah dong! Tapi… mungkin waktu itu aku ikut tour guide, jadi tidak hafal jalanannya.”

“MUNGKIN?” Wulan hampir teriak. “Kamu bilang pakar Korea!”

“Aku memang pakar! Pakar… makan makanan Korea!”

“ITU BEDA, DODOL!” Wulan makin emosi.

Vanda masih terisak. “Aku mau makan nasi Padang. Aku mau tidur di kasur sendiri. Aku mau…”

“Sudah, Van. Kita nyerah saja. Telepon Olive, minta dijemput,” Rose akhirnya memutuskan.

“Telepon di mana? Kita tidak tahu kita ada di mana!” Wulan frustrasi.

Lilac akhirnya terpaksa membuka aplikasi Google Maps dan melihat lokasi mereka. “Eh… kita ada di Chuncheon.”

“Chuncheon? Itu di mana?”

“Agak… jauh dari Seoul.”

“AGAK JAUH? Seberapa jauh?”

“Sejam-dua jam naik kereta…”

“LILAC!”

Dengan perasaan malu yang luar biasa, Lilac akhirnya video call Olive.

“Ol… surprise!” Lilac bilang dengan nada lemah.

“Li? Kalian dari mana?” Olive kaget lihat empat sahabatnya di layar dengan muka kusut dan koper berantakan.

“Kami… ada di Korea. Mau bikin kejutan untuk kamu.”

“Wah, sweet banget! Kalian ada di mana sekarang?”

“Di… Chuncheon.”

“CHUNCHEON? Itu jauh banget dari Seoul! Kalian ngapain ke sana?”

“Tersesat…” Lilac mengaku dengan muka memerah.

“NGAKUNYA PAKAR KOREA!” teriak Wulan. Dia masih sebel dengan Lilac. 

Olive tidak bisa menahan tawa. “Pakar Korea katanya?”

“Jangan diingetin, Ol. Mereka sudah ngamuk dari tadi.”

“Oke, kalian tunggu di sana. Aku datang jemput. Tapi butuh waktu ya, Chuncheon tuh jauh.”

Dua jam kemudian, Olive tiba di Stasiun Chuncheon dengan wajah gemas campur geli melihat sahabat-sahabatnya yang sudah lemas.

“Selamat datang di Korea, chingudeul!” Olive memeluk mereka satu per satu.

“Ol, maaf ya. Rencana mau memberi kejutan malah jadi kacau gara-gara si Pakar Korea,” muka Vanda masih memerah habis nangis.

No problem! Yang penting kalian datang dan selamat. Tapi lain kali, jangan percaya sama Lilac kalau dia bilang pakar Korea,” Olive meledek.

“HEY!” Lilac protes. “Aku memang pakar Korea! Pakar nyasar di Korea!”

Mereka berempat tertawa, dan bagaimanapun, petualangan yang kacau ini malah jadi cerita yang akan mereka kenang selamanya.

“Tapi beneran, guys. Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini. Kalian tahu tidak, betapa bahagianya aku lihat kalian?” Olive terharu.

“Demi persahabatan, Ol, demi persahabatan. Meski harus tersesat dulu,” Rose memeluk Olive.

“Lain kali kalau kalian mau ke Korea lagi, aku yang jemput dari bandara ya. Jangan percaya pakar Korea palsu,” Olive menggoda Lilac.

“Pakar Korea palsu katanya! Aku cuma salah sedikit!”

“Salah sedikit? Kita nyasar seharian, Li!” samber Wulan.

Dan malam itu, di apartemen mungil Olive di Mapo, mereka berempat duduk makan ramyeon sambil tertawa mengingat petualangan seharian mereka. Terkadang, kejutan terbaik memang yang tidak sesuai rencana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here