Tomat Tujuh Rupa

0
285

Satu minggu setelah insiden Trio Tutu yang masih jadi bahan gunjingan tetangga kompleks, Vanda duduk di ruang tamu rumahnya di Serpong sambil menatap layar HP dengan wajah masam. Suaminya sudah tiga hari ini keluar kota lagi untuk urusan EO-nya yang katanya “urgent dan tidak bisa ditunda”. 

Urgent dari Hongkong!” gumam Vanda sambil scrolling timeline Instagram yang penuh foto couple goals yang bikin mual. “Dua puluh lima tahun nikah, eh malah sibuk sama klien mulu.”

Notifikasi WhatsApp grup “Emak-emak Gaul Forever” berbunyi. Lilac kirim foto suaminya yang lagi masak sarapan dengan captionMy Chef at Home ❤️”.

“Dasar pamer,” Vanda bergumam kesal. “Suami orang sibuk masak, suamiku sibuk entah sama siapa.”

Rose membalas dengan foto suaminya yang lagi nyiram tanaman. “Sabtu pagi, quality time with hubby.”

Wulan ikut nimbrung dengan foto suaminya yang lagi ngajarin anak les piano. “Weekend goals: family time!

Vanda menatap nanar layar HP-nya dengan perasaan campuran kesal dan iri. Kenapa suami teman-temannya bisa santai di rumah, sementara suaminya selalu saja ada urusan bisnis?

“Itu dia!” Vanda tiba-tiba tercerahkan. “Mereka bisa quality time sama suami, aku bisa quality time sama sahabat!”

Langsung saja Vanda menelepon Rose.

“Ros, kamu mau kamping tidak?”

“Kamping? Maksudnya kemah-kemah gitu?”

“Iya! Kita butuh me time. Aku sudah capek jadi istri yang ditinggal mulu. Yuk, kita escape sebentar.”

Rose tertawa. “Kamu ngambek ya sama paksu alias pak suami?”

“Ngambek? Aku cuma butuh quality time with my girls. Suami kalian kan ada terus di rumah, suamiku? Entah ke mana!”

“Oke deh, tapi kamping di mana?”

“Cibodas! Udara sejuk, pemandangan oke, jauh dari hiruk pikuk Jakarta.”

Rose langsung tertarik. “Boleh juga. Kapan?”

“Seminggu!” kata Vanda yang sebenarnya tidak nyambung dengan pertanyaan Rose karena masih terbawa emosi.

“SEMINGGU?” Rose hampir tersedak. “Van, kita ini bukan anak SMA lagi. Punya tanggung jawab di rumah.”

“Makanya namanya me time! Masa cuma sehari? Kurang puas!”

“Oke, aku tanya suami dulu ya.”

Vanda kemudian menelepon Lilac dengan semangat yang sama.

“Li, yuk kamping!”

“Kamping?” Lilac yang sedang facial di salon langsung tertarik. “Kayaknya asyik nih! Di mana?”

“Cibodas, seminggu!”

“Seminggu? Wah, kayak retreat gitu ya. Boleh banget! Aku lagi butuh detox dari rutinitas.”

Selanjutnya Wulan.

“Wul, kamping yuk!”

“Seriusan? Kita ini sudah emak-emak lima puluhan, Van.”

“Justru itu! Kapan lagi kita bisa bebas? Anak-anak sudah pada gede, saatnya kita menikmati hidup kita sendiri!”

Wulan terdiam sebentar. “Oke, tapi maks tiga hari ya.”

“Seminggu, Wul. Yang bener!”

“Seminggu? Aku tidak bisa ninggalin suami dan anak segitu lama.”

Fine, aku nego sama yang lain.”

Hasil negosiasi dengan ketiga suami: satu malam. Take it or leave it.

“SATU MALAM?” Vanda berteriak di grup WhatsApp. “Itu mah bukan kamping, itu piknik!”

“Van, suamiku bilang kalau lebih dari satu malam, dia tidak tahu harus masak apa,” Rose menjelaskan dengan nada menyesal.

“Suamiku juga bilang dia tidak bisa jaga kucing sendirian lebih dari 24 jam,” tambah Wulan.

“Suamiku sih oke-oke saja, tapi aku yang tidak tega ninggalin dia. Dia kan tidak bisa masak nasi,” Lilac ikut memberikan alasan.

Vanda mendesah frustrasi. “Fine! Satu malam, tapi kita maksimalin!”

Di Seoul sana, Olive yang baru selesai syuting program kuliner lokal membaca obrolan grup dengan perasaan FOMO tingkat akut.

“Kalian kamping tanpa ngajak aku?” Olive kirim voice note dengan nada ngambek. “Padahal aku kan suka banget sama alam!”

“Kamu kan di Korea, Ol. Mau gimana ngajak?” balas Vanda.

“Ya dikasih tahu dari jauh-jauh hari kek! Aku bisa planning cuti!”

“Lah, ini juga dadakan. Aku baru kepikiran kemarin.”

“Hmph! Aku ngambek nih!”

Vanda yang sedang kesal dengan suaminya dan sekarang ditambah Olive yang ngambek jadi makin stres. “Sudah ah, Ol. Kamu kan lagi sibuk jadi brand ambassador tteokpokki.”

“Aku sudah selesai! Sekarang lagi promosi kimchi untuk pasar Indonesia. Kimchi kan sayuran fermentasi, sama kayak asinan Indonesia!”

“Lah, kimchi kok dibilang sama kayak asinan?” Lilac bingung.

“Ya sama-sama sayuran asem-asem gitu!”

Logika Olive memang selalu unik dan sulit dibantah.

Untuk menenangkan Olive yang ngambek, Vanda punya ide cemerlang. “Gini saja, Ol. Kalau kamu mau, nanti kami carikan oleh-oleh spesial dari kamping.”

“Oleh-oleh apa?”

“Eh…” Vanda mikir keras. “Tomat! Kita carikan tomat segar dari kebun!”

“Tomat doang?” Olive terdengar skeptis.

“Bukan tomat biasa! Tomat… eh… tujuh macam! Yang khusus dari daerah pegunungan!”

“Tujuh macam? Emang ada?”

“Pasti ada! Namanya juga daerah pegunungan, pasti banyak varietas tomat!”

Rose, Lilac, dan Wulan yang baca obrolan ini langsung panik.

“Van, kamu yakin ada tujuh macam tomat di Cibodas?” tanya Rose via japri.

“Pokoknya ada! Masa iya aku bohong sama Olive?”

“Tapi kalau ternyata tidak ada gimana?”

“Ya kita cari! Namanya juga petualangan!”

Olive di Seoul langsung senang. “Oke! Aku mau! Tapi harus beneran tujuh macam ya! Soalnya aku lagi riset varietas tomat untuk bisnis sambal Indonesia di Korea!”

Deal!” Vanda menjawab dengan PD tingkat maksimal, padahal dalam hati mulai deg-degan.

Hari H kamping tiba. Mereka berempat berangkat ke Cibodas dengan mobil Lilac yang paling besar dan nyaman. Vanda duduk di depan sambil googling “jenis-jenis tomat Indonesia” dengan panik.

“Van, kamu tadi bilang pasti ada tujuh macam tomat. Sekarang kok googling?” Wulan yang duduk di belakang melihat yang dilakukan Vanda.

“Aku cuma mau memastikan nama-namanya biar tidak salah beli,” Vanda berkilah.

“Atau memastikan ada atau tidak?” Rose menebak dengan tepat.

“Ya… bisa jadi.”

Lilac yang lagi nyetir sambil mendengarkan obrolan sahabat-sahabatnya cuma geleng-geleng kepala. “Van, kamu ini kebiasaan ngomong duluan mikir belakangan.”

“Tapi kan kita harus optimis! Masa iya di daerah pegunungan tidak ada varietas tomat?”

Sesampainya di lokasi kamping di Cibodas, mereka langsung pasang tenda dengan bantuan pak guide lokal yang sudah agak sepuh.

“Pak, disini ada jual tomat tidak?” tanya Vanda to the point.

“Ada dong, Bu. Tomat lokal segar.”

“Kalau jenisnya berapa macam, Pak?”

Pak guide mikir sebentar. “Ya… tomat merah sama tomat hijau.”

“DUA DOANG?” Vanda hampir teriak.

“Iya, Bu. Memang mau berapa?”

“Tujuh…”

Pak guide bengong. “Tujuh? Wah, susah Bu. Disini cuma ada dua macam.”

Rose, Lilac, dan Wulan saling pandang dengan tatapan “I told you so“.

“Tapi Pak, kalau di tempat lain gimana? Mungkin ada yang jual tomat impor atau varietas khusus?” Vanda masih berharap.

“Wah, kalau itu harus ke pasar Cipanas, Bu. Atau ke Puncak. Tapi jauh.”

“Berapa jam dari sini?”

“Kalau naik motor ya sejam-dua jam. Kalau jalan kaki bisa setengah hari.”

Vanda langsung pundung. Malam itu, sambil bakar jagung dan ubi di api unggun, dia cerita ke teman-temannya tentang masalahnya dengan suami.

“Aku capek, guys. Suamiku itu sekarang kayak hantu. Ada tapi tidak ada. Pulang malem, pagi-pagi sudah pergi lagi.”

“Sudah kamu omongin sama dia?” tanya Rose sambil meniup jagung bakar yang masih panas.

“Omongin gimana? Dia selalu bilang ‘ini demi masa depan kita, sayang’. Tapi masa depan siapa? Aku merasa kayak single parent!”

Lilac yang biasanya paling optimis ikut prihatin. “Memang sih, kalau suami terlalu sibuk kerja, istri jadi merasa terabaikan.”

“Nah kan! Makanya aku butuh me time ini. Biar aku ingat lagi siapa diri aku selain jadi istrinya.”

Wulan menepuk bahu Vanda. “Tapi Van, kamping semalam doang ini juga sudah bikin suami kita panik semua. Gimana kalau seminggu?”

“Ya mereka harus belajar jadi mandiri! Masa iya hidup tergantung istri mulu?”

“Tapi memang begitu realitanya, Van. Kita sudah terlanjur jadi tulang punggung rumah tangga,” Rose berkomentar bijak.

“Nah itu yang salah! Kenapa cuma kita yang harus nguruhin semuanya? Mereka kan juga dewasa!”

Malam itu mereka ngobrol sampai larut tentang kehidupan rumah tangga, ekspektasi, dan realita menjadi istri dan ibu di usia lima puluhan. Api unggun perlahan meredup, tapi semangat persahabatan mereka makin berkobar.

Pagi harinya, misi pencarian tomat tujuh rupa dimulai.

“Oke, ini dia rencananya,” Vanda membentangkan peta hasil googling semalam. “Kita ke pasar Cipanas, terus ke Puncak, kalau perlu ke Bogor.”

“Van, kita cuma punya waktu sampai sore. Nanti sore harus balik Jakarta,” Rose mengingatkan.

“Makanya kita harus efisien!”

Mereka berkendara ke pasar Cipanas dengan harapan tinggi. Di pasar, mereka menemukan… tiga jenis tomat.

“Ini tomat merah biasa, tomat hijau, sama tomat cherry,” penjual sayur menjelaskan.

“Cuma tiga?” Vanda mulai panik.

“Iya, Bu. Mau berapa?”

“Tujuh macam…”

“Tujuh macam? Wah, tidak ada Bu. Paling mentok ya tiga ini.”

Lilac berbisik ke Vanda. “Van, gimana ini? Kita sudah janji sama Olive.”

“Tenang! Kita ke Puncak!”

Di Puncak, mereka menemukan supermarket yang lebih lengkap. Ada tomat Roma, tomat beef, bahkan tomat organik.

“Nah kan! Sekarang sudah ada enam jenis!” Vanda mulai optimis.

Rose menghitung dengan jari. “Tomat merah, tomat hijau, tomat cherry, tomat Roma, tomat beef, tomat organik… itu enam. Kurang satu lagi.”

“Pasti ada! Kita cari lagi!”

Mereka keliling Puncak mencari tomat jenis ketujuh. Dari toko buah ke toko buah, dari pasar tradisional ke supermarket modern.

“Bu, tomat yellow ada tidak?” tanya Wulan ke penjual di pasar.

“Tomat kuning? Tidak ada, Bu. Adanya tomat ijo sama merah.”

“Tomat hitam?” tanya Lilac di toko lain.

“Tomat hitam? Yang ada cuma tomat ungu, Bu. Tapi lagi kosong.”

Sudah hampir sore, mereka baru mengumpulkan enam jenis tomat. Kurang satu lagi.

“Gimana nih?” Rose mulai khawatir. “Kita harus balik Jakarta, tapi belum dapat yang ketujuh. Btw, aku sudah bilang suami kalau mau nginep di Jakarta semalam.”

“Di rumahku saja,” kata Wulan cepat.

“Oke. Tapi pagi-pagi aku balik Bogor,” jawab Rose.

“Sip!” Wulan mengacungkan kedua jempol tangannya.

Vanda duduk di bangku taman sambil memeluk kantong plastik berisi enam jenis tomat. “Aku tidak bisa bohong sama Olive. Dia pasti kecewa.”

“Van, gimana kalau kita bilang saja yang jujur? Bahwa ternyata di Indonesia tidak ada tujuh jenis tomat?” usul Wulan.

“Tidak bisa! Aku sudah janji!”

Tiba-tiba Lilac tercerahkan. “Van, kamu bilang tadi tomat organik sama tomat biasa itu beda kan?”

“Iya.”

“Nah, gimana kalau tomat lokal sama tomat impor kita bilang beda jenis juga?”

“Maksudnya?”

“Ini kan ada tomat yang dari petani lokal, ada yang impor. Secara teknis berbeda dong?”

Rose ikut kepikiran. “Atau tomat yang masih mentah sama yang sudah matang kita bilang varietas berbeda?”

Vanda menatap sahabat-sahabatnya dengan mata berbinar. “Kalian jenius!”

Akhirnya mereka berhasil mengumpulkan “tujuh jenis tomat”: tomat merah lokal, tomat merah impor, tomat hijau muda, tomat hijau tua, tomat cherry merah, tomat cherry kuning, dan tomat Roma.

“Agak maksa sih,” Rose berkomentar sambil lihat koleksi tomat mereka.

“Yang penting tujuh macam!” Vanda bersikeras.

Malam itu, sesampainya di Jakarta, mereka video call Olive untuk pamer hasil buruan.

“Tadaaa! Tomat tujuh rupa dari Cibodas!” Vanda memamerkan tujuh kantong plastik berisi tomat.

Olive di Seoul menatap layar dengan ekspresi bingung. “Van… itu kayaknya cuma tomat biasa deh.”

“Bukan! Ini tomat lokal premium! Ada tomat hijau dua varietas, tomat cherry dua warna, tomat Roma impor, tomat merah lokal, sama tomat merah impor!”

“Hmm…” Olive masih terlihat skeptis. “Tapi kok kayaknya sama aja ya?”

“Beda dong! Yang satu dari petani lokal, yang satu impor. Yang satu masih muda, yang satu sudah tua. Beda banget!”

Olive akhirnya tersenyum. “Ya sudah deh, makasih ya guys! Kapan-kapan kalau aku pulang, tomat-tomatnya dibuat sambal bareng-bareng.”

Setelah video call selesai, mereka berempat tertawa lepas.

“Van, kamu tahu tidak sih, kita ini sudah umur lima puluhan tapi masih saja kayak bocah,” Wulan berkomentar sambil tertawa.

“Memangnya kenapa? Siapa bilang kalau sudah tua tidak boleh have fun?” Vanda membela diri.

“Tapi mission impossible tomat tujuh rupa ini memang epic sih,” Rose mengakui.

“Yang penting Olive senang. Dan kita dapat quality time,” Lilac menyimpulkan.

Vanda menatap sahabat-sahabatnya dengan perasaan haru. “Makasih ya sudah mau ikut gila-gilaan aku. Aku tahu kalian juga susah ninggalin rumah.”

Anything for friendship,” Rose memeluk Vanda.

“Lagipula, kita memang butuh refreshing. Meski cuma satu malam, tapi berasa banget bedanya,” tambah Wulan.

Next time kita kamping lagi ya, tapi jangan janji-janji aneh lagi,” Lilac menyarankan.

Deal! Tapi next time seminggu!”

“VANDA!” teriak mereka bertiga bersamaan.

Di Seoul, Olive sedang riset resep sambal tomat tujuh rupa sambil senyum-senyum sendiri, tidak sadar bahwa “tomat tujuh rupa” adalah hasil kreativitas sahabat-sahabatnya yang tidak mau mengecewakan dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here