Rose menatap undangan pernikahan anaknya dengan campuran bangga dan haru. Bangga karena si bungsu akhirnya mau nikah—anak bontot yang akan dia lepas ke pelukan pasangan hidupnya. Haru karena rasanya baru kemarin dia gendong bayi mungil itu, sekarang sudah mau jadi pengantin. Dan sedikit panik karena dia harus menghadapi trio sahabat karibnya yang pasti akan datang dengan drama tingkat tinggi.
“Kita harus kompak!” teriak Lilac lewat video call grup WhatsApp yang diberi nama “Emak-emak Gaul Forever” oleh Wulan. “Pakai tutu!”
Vanda yang sedang menyeruput kopi di rumahnya di Serpong hampir tersedak. “Tutu? Kita ini emak-emak lima puluhan dengan anak yang sudah dewasa semua, bukan balerina!”
“Justru itu! Kita harus berani tampil beda. Masa mau pakai kemeja putih celana hitam kayak pegawai bank?” Lilac bersikeras sambil memamerkan foto tutu pink genjreng yang sudah dia screenshoot dari marketplace.
Wulan, yang sedang ngasih makan kucing kesayangannya di rumahnya di Cipete, ikut nimbrung. “Aku setuju sama Lilac. Sudah lama kita tidak bikin heboh. Terakhir kali waktu kita ke Bali, kita cuma pakai baju polos kayak ibu-ibu PKK.”
“Excuse me,” Vanda protes, “baju polos itu namanya elegan, bukan membosankan.”
Rose yang dari tadi cuma jadi penonton debat kusir ini akhirnya angkat bicara. “Kalian serius mau pakai tutu di pernikahan anakku?”
“Kenapa tidak? Acaranya kan di Bogor, outdoor, santai,” Lilac berargumen dengan logika yang… well, logika ala Lilac. “Lagipula, kan kita sudah janji dari jaman kuliah kalau salah satu dari kita nikah atau nikahkan anak, yang lain harus datang dengan kostum unik.”
“Itu janjinya waktu kita masih usia kepala dua dan masih percaya kalau hidup itu indah!” Vanda berkomentar sinis.
“Hidup memang indah, kamu saja yang pesimis,” sahut Wulan sambil ngegas. “Makanya suami kamu sering pergi keluar kota terus.”
“Hei!” Vanda tersinggung. “Suami aku pergi keluar kota karena urusan bisnis, bukan karena aku pesimis!”
Di tengah debat sengit ini, suara notifikasi WhatsApp berbunyi. Olive kirim voice note dari Seoul dengan latar suara hiruk pikuk pasar tradisional Korea.
“Guys, sorry banget tidak bisa ikutan. Aku lagi di acara promosi tteokpokki spesial untuk pasar Indonesia. Pemerintah Korea ngundang aku karena brand ambassador makanan Korea di Indonesia. Tau sendiri kan aku suka banget sama makanan Korea, apalagi yang pedes-pedes. Kayak bayam sama tomat, tteokpokki juga sayuran kan… eh, bukan ding, tapi pokoknya sehat!”
“Dasar Olive,” gumam Lilac. “Dia mah alasannya selalu aneh. Bayam sama tomat kok dibilang alasan dia suka makanan Korea.”
“Padahal kalau dia ada, bisa jadi Kuartet Tutu,” tambah Wulan dengan nada menyesal yang dibuat-buat.
Vanda mendadak punya ide cemerlang. “Gimana kalau kita pakai kaftan aja? Elegan, nyaman, dan cocok untuk acara outdoor.”
“NO!” Lilac dan Wulan berteriak bersamaan.
“Tahun lalu di Toraja kita sudah pakai kaftan semua, rasanya kayak rombongan haji yang tersesat,” Wulan menjelaskan dengan wajah serius.
“Lagipula, kaftan itu sudah mainstream banget. Sekarang emak-emak mana yang tidak punya kaftan?” tambah Lilac.
Lilac kemudian mengusulkan alternatif. “Gimana kalau kebaya? Kita kan perempuan Indonesia, harus bangga sama budaya sendiri.”
Giliran Vanda yang menolak mentah-mentah. “Kebaya itu ribet! Harus pakai kemben, harus dijahit pas, sanggul segala macam. Aku sudah tua, tidak mau repot-repot.”
“Lah, tua katanya. Emang berapa umur kamu sekarang? Lima puluh dua? Masih muda kok!” ejek Wulan sambil tertawa.
“Lima puluh empat, and I’m proud of it!” Vanda memamerkan keriput di sekitar matanya lewat kamera depan. “Ini namanya garis wisdom, bukan cuma pengalaman hidup.”
Wulan tiba-tiba tercerahkan. “Oke, gimana kalau batik? Indonesia banget, elegan, dan ada motif yang modern.”
Kali ini ketiga sahabatnya kompak menjawab: “BOSAN!”
“Batik itu sudah terlalu sering dipakai ke kondangan,” Rose akhirnya ikut berkomentar. “Setiap undangan pasti ada yang menyarankan berbatik.”
“Aku punya ide!” Olive tiba-tiba muncul lagi lewat voice note, kali ini dengan latar musik K-Pop. “Kalian tidak usah seragam saja. Yang penting datang dengan happy. Lagipula kan yang nikah anaknya Rose, bukan kalian.”
“Kurang asyik!” protes Lilac. “Kalau tidak kompak, mana seru foto-fotonya?”
“Dan gimana nanti orang-orang tau kalau kita ini geng?” tambah Wulan dengan logika yang patut dipertanyakan.
Vanda menggeleng-gelengkan kepala. “Kalian ini masih saja mikir kayak ABG. Kita ini sudah nenek-nenek, anak-anak kita sudah pada dewasa, masa masih mikirin geng-gengan.”
“Excuse me, Mbak Vanda yang terhormat,” Lilac menyela dengan nada dramatis. “Friendship itu tidak kenal umur. Solidaritas persahabatan harus dijaga sampai mati!”
“Lebay banget kamu, Li,” Rose tertawa. “Tapi aku setuju sih. Persahabatan kita dari jaman kuliah sampai sekarang kan memang solid.”
Mereka berlima memang sudah berteman lama. Meskipun lulusan dari lima universitas berbeda, mereka dipertemukan ketika mengambil S2 di institut manajemen dekat Stasiun Gambir tahun 90-an. Dulu mereka sering disebut “Geng Bunga” karena nama mereka semua nama bunga—Rose (mawar), Vanda (anggrek), Lilac (bunga ungu), Wulan (bulan, yang mereka paksa-paksa masuk kategori bunga), dan Olive (yang ngotot nama dia dari zaitun yang berbunga).
Setelah lulus, hidup mereka menyebar. Rose menikah muda, punya dua anak, tinggal di rumahnya di Bogor dengan suami yang memiliki restoran eksklusif di dekat Kebun Raya. Lilac jadi wanita karir tulen, menikah dengan pengusaha sukses, punya dua anak kembar yang sudah kuliah, tinggal di rumah mewah di area Pondok Indah. Vanda menikah dengan pengusaha EO terbesar di Jakarta, punya tiga anak yang sudah kuliah dan kerja, tinggal di rumahnya di Serpong yang tadinya rumah lama kemudian direnovasi jadi rumah modern. Wulan menikah dengan konsultan pajak kondang, punya dua putri yang sudah SMA semua, tinggal di rumahnya di kawasan Cipete yang asri. Olive tak kalah beruntung, menikah dengan chef terkenal, punya dua anak laki-laki, kariernya di bidang kuliner melesat, sering traveling ke luar negeri untuk urusan bisnis.
“Aku punya ide final,” Rose akhirnya angkat bicara setelah debat panjang. “Gimana kalau kalian pakai tutu tapi yang dewasa? Maksudnya, tutu rok tapi atasannya pakai blazer atau kebaya kembang-kembang?”
“Mix and match gitu?” Wulan antusias. “Boleh juga!”
“Tapi warnanya harus senada ya,” tambah Lilac. “Biar kelihatan kompak.”
Vanda menghela napas panjang. “Fine. Tapi aku milih warna yang tidak terlalu norak.”
“Tunggu, Rose tidak ikutan?” tanya Wulan.
“Aku kan yang punya hajat, harus tetap elegan dan sopan. Kalian aja yang kompak pakai tutu,” Rose menjelaskan dengan bijak. “Lagipula, aku harus fokus jadi tuan rumah.”
“Deal!” teriak Lilac. “Kita hunting tutu mulai besok!”
Dan mulailah petualangan hunting tutu yang epic itu. Lilac langsung stalking toko online dari pagi sampai malam, screenshot puluhan model tutu dari yang princess banget sampai yang rock and roll. Wulan keliling pasar tradisional dari Tanah Abang sampai Pasar Baru, negosiasi harga dengan penjual yang bingung kenapa emak-emak mau beli rok tutu.
Vanda, being Vanda, malah pesan tutu custom di penjahit langganannya dengan spesifikasi detail sampai jenis kain dan warna yang tidak boleh terlalu girly. Rose sebagai tuan rumah fokus memilih warna yang elegan dan sesuai untuk ibu pengantin, tidak ikut dalam rencana tutu trio sahabatnya.
Seminggu sebelum hari H, mereka video call lagi untuk fitting session virtual.
“Aku sudah dapat!” Lilac memamerkan tutu fuschia-nya yang blink-blink. “Ini namanya confident!”
“Aku milih warna dusty pink,” tunjuk Wulan sambil berputar-putar. “Romantis tapi tidak lebay.”
Vanda dengan bangga memamerkan tutu navy blue-nya yang sophisticated. “Ini dia, tutu untuk wanita dewasa. Elegan dan berkelas.”
Rose tersenyum melihat sahabat-sahabatnya. “Kalian keren semua! Aku sudah pilih warna yang elegan, cocok untuk ibu pengantin.”
“Perfect!” Lilac bersorak. “Trio Tutu siap beraksi!”
“Ya, trio,” Vanda mengingatkan. “Kita bertiga yang pakai tutu, Rose kan tidak ikutan.”
“Iya, Rose kan yang punya hajat, harus tetap sopan dan elegan. Kita bertiga yang jadi Trio Tutu,” Lilac menjelaskan dengan bangga.
Di hari pernikahan, ketika mereka bertiga—Lilac, Vanda, dan Wulan—muncul dengan tutu mereka masing-masing, seluruh tamu undangan menoleh. Ada yang senyum-senyum, ada yang bisik-bisik, ada yang foto diam-diam.
“Berhasil!” bisik Lilac bangga. “Kita jadi pusat perhatian!”
“Emang itu tujuannya?” tanya Vanda sambil mencoba duduk dengan anggun di kursi tamu.
“Kan lumayan, foto-foto nanti pasti viral,” sahut Wulan sambil pose selfie.
Rose yang sekarang berpenampilan elegan dan sesuai statusnya sebagai ibu pengantin melihat sahabat-sahabatnya dari kejauhan cuma bisa geleng-geleng kepala sambil senyum. Mereka memang tidak pernah berubah. Masih sama seperti dulu—dramatis, loyal, dan selalu bikin hidup jadi lebih berwarna. Padahal sekarang mereka semua sudah jadi ibu rumah tangga mapan dengan anak-anak yang sudah dewasa.
Saat acara resepsi, mereka bertiga duduk di meja yang sama, menjadi hiburan tersendiri bagi tamu lain. Lilac sibuk update Instagram story, Wulan ngobrol sama semua orang tentang tutunya, Vanda berusaha tetap terlihat bermartabat meski pakai rok mengembang.
“Olive pasti nyesel tidak bisa datang,” komentar Wulan sambil makan risoles.
“Dia kan lagi promosi tteokpokki untuk Indonesia. Katanya sih penting banget buat karier,” sahut Lilac.
“Alasannya selalu aneh,” Vanda berkomentar. “Kemarin-kemarin dia bilang suka tteokpokki karena mirip sayuran. Sayuran apaan, coba?”
Mereka tertawa bersama, sadar bahwa persahabatan mereka memang unik. Lima perempuan dengan kepribadian berbeda, tapi selalu bisa bersatu dalam kekonyolan bersama.
Saat acara hampir selesai, Rose menghampiri meja sahabat-sahabatnya.
“Thank you sudah datang dengan… penampilan yang memorable,” Rose berkata sambil merangkul mereka.
“Anything for you, dear,” Lilac memeluk Rose. “Lagipula, kapan lagi kita bisa pakai tutu bareng-bareng?”
“Hopefully never again,” gumam Vanda, tapi tetap ikut pelukan grup.
“Next time kalau ada yang nikah lagi, kita pakai kostum superhero,” usul Wulan.
“TIDAAAK!” teriak Rose, Lilac, dan Vanda bersamaan.
Mereka pulang dengan perasaan puas dan foto-foto yang bakal jadi bahan tertawaan bertahun-tahun. Trio Tutu memang berhasil mencuri perhatian, tapi yang terpenting, mereka berhasil merayakan kebahagiaan sahabat dengan cara mereka sendiri yang unik dan penuh cinta.
Dan di Seoul sana, Olive sedang makan tteokpokki sambil lihat foto-foto dari Instagram mereka, nyengir sendiri sambil bergumam, “Dasar gila semua. Untung aku tidak jadi ikutan.”







