Swing Customer

0
285

Lemah! Begitu komentar seorang sahabat saat saya kasih tahu kalau saya membeli kopi berbeda dari rencana awal gara-gara dirayu mbak baristanya.

WAKTUNYA NGOPI

Sebenarnya saya tidak punya waktu khusus kapan harus minum kopi. Namun demikian, belakangan ini saya menghindari ngopi sore apalagi malam hari. Penyebabnya adalah mata ini susah diajak merem kalau tetap nekat menikmati kopi. Ada kalanya karena kondisi tertentu misalnya main di rumah teman, pantangan itu saya langgar. Sebenarnya bisa saja saya menolak ketika ditawari kopi, tapi saya sendiri yang bandel dan sok coba-coba, siapa tahu malamnya tetap bisa tidur. Faktanya tetap saja mata ini ketap-ketip.

KOPI FAVORIT

Saya tidak tahu istilahnya apa untuk peminum segala jenis kopi. Kalau istilah omnivor untuk pemakan segala, bolehlah saya ini disebut omnivor kopi. Mau kopi sachet, kopi kalengan, kopi yang digiling langsung dari biji, semua saya embat. Jika ditanya apa kopi favorit saya, saya akan jawab dengan pertanyaan situ punya kopi apa? Kopi tubruk, kopi campur jagung, kopi santan, kopi klepon, kopi oncom, americano, cappuccino, latte, V60, cold brew, apa pun jenis kopinya, sini, saya akan minum. Wah, nggak benar ini. Tidak punya pendirian. Bukan contoh yang baik. Tidak bisa dijadikan panutan. Bukan teman yang asyik untuk diajak ngopi. Duh, ribet amat ya jika ada yang menanggapi sampai seperti itu. Itu respon saya jika ada yang bersikap seolah-olah minum kopi itu hal rumit dan serius. Saran saya, seruputlah kopimu sambil monyong. Sudah, itu saja.

SWING CUSTOMER SEJATI

Nah, kembali ke cerita awal soal saya yang dibilang lemah karena mudah tergoda barista cantik. Sebenarnya ini bukan soal lemah atau kuat, ini soal fleksibilitas dalam menjalani hidup. Saya ini swing customer sejati – bisa ke kiri, bisa ke kanan, tergantung angin bertiup ke mana. Kalau ada yang bilang tidak punya pendirian, ya sudahlah. Toh hidup ini bukan cuma soal menegakkan prinsip sampai kaku seperti robot yang rusak.

Bayangkan kalau semua orang punya pendirian keras seperti tembok Berlin. Pedagang kopi bakal bangkrut karena customer-nya cuma loyal ke satu tempat saja. Barista cantik bakal nganggur karena senyumnya tidak laku. Dunia ini butuh orang-orang seperti saya yang mudah berganti haluan. Kami ini penyeimbang ekonomi! Tanpa kami, mana ada persaingan sehat antar kedai kopi?

DRAMA MEMILIH KOPI

Pernahkah kalian mengamati orang-orang di kedai kopi saat memesan? Ada yang sampai lima menit menatap menu seolah-olah sedang memilih jodoh. “Mas, cappuccinonya pakai susu apa?” “Arabikanya dari mana?” “Robustanya gimana?” Duh, ribet banget. Padahal ujung-ujungnya tetap saja pesen yang itu-itu juga.

Ada juga yang gayanya seperti sommelier wine, tapi untuk kopi. Dicium dulu aromanya, diputar-putar di mulut, lalu berkomentar panjang lebar soal notes buah-buahan yang entah benar ada atau cuma sugesti. “Wah, ini ada hint cherry dan dark chocolate ya.” Mas, Mbak, itu kopi hitam biasa, bukan wine vintage. Mau bilang enak ya bilang enak, mau bilang pahit ya bilang pahit. Ngapain pakai embel-embel notes segala.

BARISTA DAN PELANGGAN SWING

Barista zaman sekarang sudah seperti sales handphone. Mereka tahu persis bagaimana cara menarik perhatian customer yang swing seperti saya. “Kak, mau coba yang baru nih, limited edition.” Limited edition apanya coba? Kopi kok limited edition, bukannya tanaman kopi tumbuh terus sepanjang tahun? Bukan itu maksudnya, Wong Kampung!

Tapi harus diakui, strategi mereka ampuh. Saya yang awalnya cuma mau pesen americano biasa, tiba-tiba kepincut sama “kopi flores special blend with hints of tropical fruits.” Ujung-ujungnya rasanya ya tetap kopi. Tapi entah kenapa, ketika ada embel-embel special dan dijelasin sama barista cantik, rasanya jadi lebih istimewa. Placebo effect namanya.

Yang lucu, barista perempuan biasanya lebih jago merayu customer cowok, sementara barista cowok lebih jago sama customer cewek. Apa ini kebetulan? Tentu saja bukan. Ini strategi bisnis yang sudah diperhitungkan matang-matang. Makanya kedai kopi zaman sekarang lebih memperhatikan penampilan barista daripada skill bikin kopinya. Yang penting customer betah dan mau balik lagi.

FILOSOFI SWING CUSTOMER

Orang bilang saya tidak punya pendirian karena mudah berganti pilihan kopi. Padahal ini namanya adaptasi. Charles Darwin bilang yang bertahan hidup bukan yang paling kuat, tapi yang paling adaptif. Nah, saya ini Darwin-nya dunia perkopian.

Coba kalau saya fanatik berat sama satu jenis kopi saja. Misalnya cuma mau americano tanpa gula. Terus suatu hari kedai langganan tutup, atau mesin espressonya rusak. Saya bakal stress, galau, mungkin sampai depresi. Tapi karena saya swing customer, mau americano rusak, masih ada cappuccino. Cappuccino habis, masih ada latte. Latte sold out, ya sudah pesen teh saja. Easy going, no drama.

Swing customer itu seperti bambu – lentur tapi tidak mudah patah. Orang yang kaku seperti kayu jati memang terlihat kokoh, tapi sekali ada badai langsung tumbang. Sedangkan bambu, mau angin dari mana pun, dia ikut bergoyang tapi tetap berdiri tegak. Paling-paling akan tercerabut seakar-akarnya jika badainya keterlaluan seolah-olah tangan raksasa sedang membetot.

INDUSTRI YANG MEMBUTUHKAN SWING CUSTOMER

Tanpa swing customer seperti saya, industri kopi Indonesia tidak akan sevariatif sekarang. Coba kalau semua orang cuma loyal sama kopi sachet, mana mungkin bermunculan kedai-kedai specialty coffee dengan harga selangit? Swing customer inilah yang membuat pasar terus bergerak dan berinovasi.

Kami ini motor penggerak ekonomi kreatif! Karena kami mudah tergoda, para pelaku bisnis kopi berlomba-lomba menciptakan inovasi. Mulai dari nama yang unik sampai kemasan yang instagramable. Cold brew, nitro coffee, kopi susu gula aren, kopi charcoal – semua itu ada karena swing customer seperti saya yang selalu penasaran dan mau coba hal baru.

Bayangkan kalau tidak ada swing customer. Para barista cuma perlu hafal satu resep, kedai kopi cuma perlu satu menu, petani kopi cuma perlu tanam satu varietas. Dunia kopi akan sangat membosankan dan monoton.

SWING CUSTOMER VS COFFEE SNOB

Ada dua kutub ekstrem di dunia kopi: swing customer dan coffee snob. Coffee snob itu yang mengklaim punya selera tinggi, cuma mau minum kopi dengan harga minimal enam digit, dan tidak segan menghina orang yang minum kopi sachet. Mereka ini kebalikan dari swing customer.

Coffee snob biasanya punya ritual rumit sebelum minum kopi. Harus pakai timbangan digital, termometer, timer, bahkan ada yang sampai pakai pH meter. Minum kopi kok kayak eksperimen kimia di laboratorium. Terus habis minum, pasti ada sesi reviewing panjang lebar di Instagram Stories seolah-olah mereka food critic Michelin.

Sedangkan swing customer seperti saya? Lihat kopi, langsung minum. Enak ya enak, tidak enak ya sudah, habis. Tidak perlu drama, tidak perlu filosofi mendalam, tidak perlu posting Instagram dengan caption puitis tentang “journey of coffee beans from farm to cup.”

MASA DEPAN SWING CUSTOMER

Dunia berubah cepat, begitu juga tren kopi. Sekarang lagi ngehits kopi dengan tambahan oat milk, besok mungkin ada kopi dengan protein shake, lusa bisa jadi ada kopi dengan collagen, lusanya lagi ada kopi campur minyak sinyom-nyom. Swing customer seperti saya siap menghadapi perubahan apapun.

Sementara coffee snob masih berkutat dengan “kemurnian” rasa kopi arabika single origin dari ketinggian tertentu dengan proses natural honey, swing customer sudah melaju ke masa depan. Kami tidak terikat dengan dogma-dogma kuno tentang “kopi yang benar.” Bagi kami, kopi yang baik adalah kopi yang bisa dinikmati tanpa perlu pusing tujuh keliling.

Di masa depan, mungkin akan ada kopi sintetis yang dibuat di laboratorium, atau kopi dari planet lain hasil eksplorasi Mars. Coffee snob pasti akan protes, “Ini bukan kopi asli!” Sementara swing customer akan dengan santai bilang, “Boleh dicoba tuh, gimana rasanya?”

KOPI ATAU CANGKIRNYA?

Jadi, kalau ada yang bilang saya lemah karena mudah tergoda barista cantik, saya mau bilang: terima kasih sudah mengingatkan saya bahwa hidup ini tidak perlu terlalu serius. Kopi itu cuma minuman, bukan agama yang perlu diimani dengan fanatik buta.

Mari kita nikmati kopi dengan santai, tanpa beban, tanpa harus membuktikan apa-apa kepada siapa atau apa. Mau swing customer, mau coffee snob, mau yang di tengah-tengah, semua punya tempatnya masing-masing di dunia yang luas ini.

Yang penting, jangan sampai gara-gara perbedaan selera kopi, persahabatan jadi rusak. Lagipula, hidup sudah cukup complicated tanpa harus debat soal kopi mana yang paling enak. Lebih baik energinya dipakai untuk hal-hal yang lebih penting. Penting dan jelas. Seperti ketika disuruh memilih kopi atau cangkirnya, jelas lebih penting kopinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here