Setelah hampir 10 tahun absen, saya akhirnya bisa kembali mengikuti kegiatan yang diadakan oleh sebuah komunitas bernama NTPB (Napak Tilas Peninggalan Budaya). NTPB ini pernah saya ulas secara singkat dalam tulisan berjudul Di Bawah Lindungan Komunitas. Hebatnya, dari lima komunitas yang saya bahas dalam tulisan tersebut, hanya NTPB yang masih eksis.
Beberapa kegiatan tapak tilas bersama NTPB pernah saya jadikan tulisan di blog ini. Catatan perjalanan itu adalah (1) Jejak Tradisi Megalitik di Gunung Salak, (2) Menyusuri Jejak Peninggalan Kerajaan Tarumanegara, (3) Akhirnya Bertemu Keluarga Van Motman, (4) Satu Curug Lima Nama.
Acara terbaru dari NTPB yang dinamai Trabas (Tracking Bahas Sejarah) dilaksanakan pada Minggu, 12 Oktober 2025. Tempat berkumpul para peserta di alun-alun Empang depan masjid. Sesuai jadwal acara, kumpul mulai pukul 7.00 WIB. Berangkat ke lokasi tujuan pukul 7.30 WIB dengan menyewa dua angkot dan beberapa peserta mengendarai sepeda motor. Ada tiga lokasi yang hendak dituju yaitu Situs Batu Korsi, Situs Batu Aseupan, dan Situs Gua Langkop. Ketiga lokasi berada di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Setelah menyelesaikan tiga perjalanan itu, kegiatan ditutup sekaligus beristirahat dan makan siang di sebuah tempat bernama Saung Panggoleran.
BATU KORSI

Pukul 8.00 WIB, rombongan kami tiba di Kampung Pondok Bitung, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Perjalanan dari titik kumpul memakan waktu sekitar 30 menit, cukup untuk membuat saya menyadari bahwa otot-otot kaki kini harus bersiap menghadapi medan yang menantang. Sebuah petualangan fisik yang sebenarnya sudah lama saya rindukan.

Batu Korsi menyambut kami dengan keangkuhan monolit yang telah berdiri entah sejak kapan. Sebuah batu besar yang, menurut pandangan orang-orang dengan imajinasi tingkat dewa, berbentuk seperti kursi. Saya mengernyitkan dahi, memutar kepala dari berbagai sudut, mencoba memahami dari mana datangnya persepsi “kursi” ini. Mungkin nenek moyang kita memiliki standar kenyamanan duduk yang sangat berbeda dengan zaman sekarang. Atau mungkin, mereka memang sengaja membuat kursi dengan desain yang mengutamakan nilai simbolis ketimbang ergonomi. Kalau ini kursi sungguhan, saya yakin tidak ada yang mau duduk lama-lama di sana kecuali untuk ritual tertentu, yang memang benar adanya.
Kang Hendra sebagai pemandu menjelaskan bahwa batu ini merupakan tempat pemujaan pada zaman dahulu. Hingga kini, masyarakat sekitar masih mensakralkan keberadaannya. Ada hal-hal yang ditabukan dilakukan di tempat seperti ini. Di zaman yang katanya serba rasional ini, masih ada tempat-tempat yang mengingatkan kita bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan logika semata. Atau mungkin, logika kita saja yang terlalu sempit untuk memahami dimensi lain dari keberadaan sebuah batu.
Yang menarik, atau mungkin lebih tepatnya, yang bikin saya geleng-geleng kepala, adalah fakta bahwa batu ini masih berstatus ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya). Belum resmi menjadi cagar budaya. Keberadaannya sudah dilaporkan pada tahun 2005, dan hingga 20 tahun kemudian, statusnya masih “diduga”. Saya membayangkan jika ini adalah kasus kriminal, tersangkanya sudah pasti putus asa menunggu vonis. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup untuk seseorang lulus SD, SMP, SMA, kuliah, menikah, punya anak, bahkan mungkin sudah punya cucu. Tapi untuk sebuah batu menjadi cagar budaya resmi? Birokrasi kita memang tidak pernah berhenti menghibur.
Pemandu kemudian memberikan pencerahan perihal penyebutan batu itu menjadi Batu Korsi. Ia menjelaskan bahwa kata “korsi” atau “kursi” sebenarnya bukan bahasa Sunda kuno. Dalam bahasa Sunda asli, ada kata “bangku” atau “jojodok” untuk menyebut tempat duduk. Kata “kursi” baru muncul setelah ada interaksi dengan bangsa Arab. Jadi, menyebut batu ini sebagai “Batu Korsi” sejatinya adalah anakronisme yang menggelikan. Ibarat menyebut candi Borobudur sebagai “Gedung Tinggi Kuno” karena orang sekarang lebih familiar dengan istilah gedung ketimbang candi.
Saya melirik sekeliling. Beberapa peserta sibuk berfoto dengan pose-pose andalan mereka. Ada yang berdiri di samping batu dengan gaya seperti sedang menunggu bis. Ada yang mencoba bersandar di batu dengan ekspresi kontemplatif. Ada pula yang sekadar selfie dengan latar belakang batu, karena bukti visual bahwa “saya pernah ke sini” jauh lebih penting daripada benar-benar memahami apa yang sedang dilihat.
Namun, di balik semua sarkasme yang mengalir dalam pikiran saya, ada rasa kagum yang jujur. Batu ini telah bertahan berabad-abad, menyaksikan pergantian zaman, perubahan sistem kepercayaan, evolusi bahasa, hingga munculnya generasi yang lebih tertarik mengabadikannya dalam pixel daripada memahami maknanya. Dan batu ini masih berdiri, masih disakralkan, masih menjadi saksi bisu bahwa nenek moyang kita pernah memiliki hubungan spiritual yang mendalam dengan alam dan benda-benda di dalamnya.
BATU ASEUPAN
Pukul 8.35 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya yang masih di area Kampung Pondok Bitung yang sama. Jarak antara Batu Korsi dan Batu Aseupan tidak terlalu jauh, tapi cukup membuat napas saya sedikit terengah-engah melewati medan yang naik turun.

Batu Aseupan menyambut kami dengan kemegahan yang berbeda. Dilihat dari depan, dari arah jalan, bentuknya mirip piramid. Beberapa peserta langsung berbisik-bisik, “Wah, piramid!” dengan antusiasme yang agak berlebihan. Saya hampir tergoda untuk menyampaikan teori konspirasi bahwa alien pernah singgah ke Bogor dan membangun piramid mini sebagai proyek percobaan sebelum mereka melanjutkan ke Mesir. Tapi saya tahan godaan itu demi menjaga kredibilitas sebagai peserta yang, setidaknya, mencoba terlihat serius.
Pemandu kami dengan sabar menjelaskan bahwa Batu Aseupan adalah bentukan alam 100 persen. Bukan hasil pahatan manusia. Bukan peninggalan peradaban kuno yang hilang. Bukan pula bukti kunjungan makhluk luar angkasa. Murni karya alam yang kebetulan, atau mungkin dengan desain artistik Sang Pencipta, berbentuk menyerupai piramid jika dilihat dari satu sudut tertentu. Dari belakang? Sama sekali tidak mirip piramid. Hanya gundukan batu biasa yang tidak akan membuat siapa pun terkesan.
Nama “Aseupan” diambil dari bahasa Sunda yang berarti kukusan, alat untuk memasak nasi. Lagi-lagi, nenek moyang kita menunjukkan kepraktisan dalam memberi nama. Lihat batu yang bentuknya seperti aseupan? Ya sudah, sebut saja Batu Aseupan. Sederhana, jelas, tidak bertele-tele. Tidak seperti generasi sekarang yang memberi nama tempat dengan embel-embel bahasa Inggris yang sering kali tidak nyambung dengan esensinya. “The Peak Residence” untuk perumahan yang lokasinya di dataran rendah, misalnya. Atau “Ocean View Apartment” padahal laut terdekat berjarak 50 kilometer.
Yang menarik dari Batu Aseupan adalah pelajaran tentang perspektif. Dari satu sudut, ia adalah piramid yang menakjubkan. Dari sudut lain, ia hanya batu biasa. Ini mengingatkan saya pada kehidupan modern di mana kita begitu terobsesi dengan citra, dengan bagaimana sesuatu terlihat dari luar, tanpa peduli seperti apa kebenarannya dari sudut pandang yang berbeda. Media sosial adalah Batu Aseupan raksasa: tampak mengagumkan dari satu sudut, tapi begitu kita lihat dari belakang layar, yang ada hanyalah kenyataan yang jauh dari kemegahan yang dipamerkan.
Beberapa peserta mencoba mengambil foto dari berbagai sudut, berusaha mendapatkan sudut yang membuat Batu Aseupan terlihat paling dramatis. Ada yang, meskipun tidak sampai berbaring di tanah, berusaha mendapatkan sudut rendah yang membuat batu terlihat lebih besar. Ada yang mencari posisi tinggi di dekatnya untuk mendapatkan perspektif dari atas. Dedikasi untuk konten visual yang sempurna memang patut diacungi jempol, atau mungkin diacungi pertanyaan: apakah kita datang untuk belajar atau untuk pamer?
Namun, kembali lagi, batu berujud kukusan terbalik ini perlu saya apresiasi. Batu Aseupan mengajarkan bahwa alam memiliki seni rupa sendiri yang tidak kalah menakjubkan dari karya manusia. Bahwa keindahan tidak selalu membutuhkan intervensi manusia. Bahwa kadang, kita perlu berhenti sejenak dan mengagumi apa yang sudah ada, tanpa perlu menambahkan narasi berlebihan atau teori yang tidak berdasar. Terkadang, batu ya batu. Dan itu sudah cukup indah.
GUA LANGKOP


Pukul 9.45 WIB, kami tiba di lokasi terakhir yaitu Gua Langkop, yang juga berada di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Perjalanan menuju Gua Langkop adalah yang paling menantang. Jalanan setapak, tanjakan yang membuat paha berteriak protes, dan matahari yang mulai meninggi seolah-olah sengaja menguji kesungguhan kami dalam menimba ilmu sejarah. Saya mulai mempertanyakan keputusan saya untuk ikut kegiatan ini. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melupakan betapa melelahkannya tracking di medan yang tidak bersahabat.

Namun, begitu tiba di lokasi, semua keluhan mendadak terlupakan, atau setidaknya, disimpan sementara di sudut pikiran yang akan kembali aktif begitu perjalanan pulang dimulai. Gua Langkop, atau yang sebenarnya pada tahun 2005 diusulkan dengan nama Gua Lengkop sebagaimana yang disampaikan Kang Hendra, menyambut kami dengan keheningan yang khusyuk. Nama “lengkop” dalam bahasa Sunda berarti lembah di ketinggian, deskripsi yang jauh lebih akurat dibandingkan “langkop” yang entah bagaimana menjadi nama yang lebih populer.
Ini adalah pelajaran lain tentang bagaimana informasi terdistorsi seiring waktu. Nama yang diusulkan tidak selalu nama yang diadopsi. Kebenaran linguistik kalah dengan kepopuleran pengucapan yang salah. “Lengkop” menjadi “langkop” karena mungkin lebih mudah diucapkan, atau karena orang pertama yang menyebarkan informasinya salah dengar, atau karena berbagai alasan lain yang tidak akan pernah kita ketahui dengan pasti. Sama seperti “ambulans” yang menjadi “ambulan”, atau “apotek” yang menjadi “apotik” dalam percakapan sehari-hari. Bahasa berkembang dengan cara yang tidak selalu mengikuti kaidah resmi, dan kita hanya bisa menggeleng-geleng sambil mencatat fenomena ini sebagai bagian dari dinamika sosiolinguistik.
Di area Gua Langkop, terdapat tiga struktur punden berundak yang masih bisa diidentifikasi. Punden berundak adalah struktur bangunan khas peninggalan megalitikum yang berbentuk bertingkat-tingkat, biasanya digunakan untuk upacara keagamaan atau pemujaan. Melihat struktur ini, saya tidak bisa tidak terkagum-kagum dengan kemampuan nenek moyang kita yang tanpa teknologi modern mampu membangun struktur yang bertahan hingga sekarang. Tanpa alat berat, tanpa software desain, tanpa Google untuk mencari tutorial “cara membuat punden berundak yang tahan gempa”. Mereka mengandalkan pengetahuan empiris, gotong royong, dan mungkin sedikit doa kepada penguasa alam.
Selain punden berundak, di area ini juga terdapat beberapa menhir atau batu berdiri. Sayangnya, banyak yang sudah roboh. Entah karena faktor usia, gempa, atau mungkin ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Melihat menhir-menhir yang roboh ini menimbulkan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada kesedihan melihat peninggalan sejarah yang tidak terawat. Di sisi lain, ada kekaguman bahwa meskipun roboh, batu-batu ini masih ada, masih bisa dilihat, masih menjadi saksi bahwa di tempat ini pernah ada peradaban dengan sistem kepercayaan dan ritual mereka sendiri.
Pemandu kami menjelaskan bahwa situs ini belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dalam hal pelestarian. Anggaran terbatas, prioritas pembangunan yang berbeda, dan mungkin juga kurangnya kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya membuat situs seperti Gua Langkop terus terancam kerusakan. Saya mendengarkan dengan perasaan yang tidak enak. Kita hidup di zaman di mana smartphone terbaru lebih penting daripada menjaga warisan leluhur. Di mana anggaran untuk pembangunan mal dan apartemen mewah jauh lebih besar daripada anggaran untuk pelestarian situs bersejarah.
Beberapa peserta mulai menjelajahi area sekitar, mencoba mengidentifikasi struktur-struktur yang masih tersisa. Ada yang berdiskusi tentang fungsi setiap bagian dari punden berundak. Ada yang berusaha membayangkan bagaimana ritual dilakukan di tempat ini ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Ada pula yang, tentu saja, sibuk mencari spot terbaik untuk berfoto. Karena di zaman ini, pengalaman yang tidak terdokumentasikan dalam bentuk foto adalah pengalaman yang seperti tidak pernah terjadi.
Saya duduk sejenak di salah satu batu yang datar, membiarkan angin sepoi-sepoi menyapu wajah yang mulai lelah. Dari tempat ini, saya bisa melihat hamparan hijau Bogor yang masih relatif asri. Suara burung-burung dan gemericik air di kejauhan menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Sesaat, saya melupakan semua keluhan, semua sarkasme, semua sinisme yang biasanya mewarnai pemikiran saya. Sesaat, saya hanya menjadi seorang manusia yang duduk di tempat yang sama di mana nenek moyang saya mungkin pernah duduk, merasakan angin yang sama, melihat langit yang sama.
Tapi tentu saja, momen kontemplasi itu tidak berlangsung lama. Seseorang tiba-tiba berteriak, “Eh, sini dong, ayo poker dulu.” Maksud “poker” adalah poto keluarga atau foto bareng. Tahu sendiri kan, di Bogor sebagian orang bingung membedakan antara huru f dengan p. Dan seperti itu, saya kembali ditarik ke realitas abad ke-21 di mana momen harus diabadikan, dibagikan, dan dikomentari oleh orang-orang yang bahkan tidak peduli dengan esensi dari apa yang sedang dialami.
SAUNG PANGGOLERAN
Setelah puas, atau lebih tepatnya, setelah lelah, menjelajahi ketiga situs, rombongan kami menuju Saung Panggoleran untuk istirahat dan makan siang. Perjalanan menuruni bukit ternyata tidak lebih mudah daripada menanjak. Lutut saya protes. Otot-otot paha gemetar seperti sedang menari jaipongan tanpa irama. Saya mulai menyesali keputusan untuk tidak rutin berolahraga selama 10 tahun terakhir.
Saung Panggoleran menyambut kami dengan segala keteduhannya. Nasi putih hangat, ayam goreng, ikan asin, tempe bacem, tahu goreng, lalapan segar, sambal terasi, dan berbagai hidangan lain yang membuat perut yang sudah keroncongan sejak tadi langsung berbunyi lebih keras. Namun perut ini harus bersabar dulu dan pura-pura tidak lapar. Saya menyeduh kopi khas Bogor yang disediakan tuan rumah. Memang minuman ini yang saya tunggu-tunggu.

Kami duduk sesukanya. Kami tidak duduk rapi bersila di atas tikar, mengelilingi hidangan yang tertata apik di atas tampah besar. Sebagian malah rebahan di tempat yang sudah disediakan sesuai nama saungnya sambil menanti momen yang ditunggu-tunggu yaitu makan bersama setelah lelah berpetualang.
Percakapan mengalir ringan. Ada yang berbagi pengalaman lucu selama perjalanan. Ada yang mendiskusikan aspek historis dari apa yang baru saja kami lihat. Ada yang mengeluh tentang pegal-pegal yang sudah mulai terasa. Ada pula yang sudah sibuk mengecek media sosial, mengunggah foto-foto hasil buruan hari ini, lengkap dengan caption yang tentu saja lebih dramatis daripada pengalaman sebenarnya.
Saya mengamati wajah-wajah di sekeliling saya. Ada wajah-wajah lama yang sudah tidak saya lihat selama 10 tahun. Ada wajah-wajah baru yang baru pertama kali bertemu. Tapi di antara semua wajah itu, ada satu kesamaan yaitu antusiasme terhadap sejarah dan budaya. Di zaman di mana orang lebih tertarik dengan drama selebriti ketimbang drama sejarah, di mana trending topic lebih penting daripada fakta historis, masih ada sekelompok orang yang rela bangun pagi di hari Minggu, menyewa angkot, berjalan menanjak di bawah terik matahari, hanya untuk melihat batu-batu kuno yang bahkan belum tentu diakui resmi sebagai cagar budaya.
Mungkin kami ini orang-orang aneh. Mungkin kami ketinggalan zaman. Mungkin kami tidak produktif secara ekonomi karena menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan uang. Tapi saya rasa, dalam dunia yang semakin seragam, di mana semua orang berlomba-lomba menjadi influenser, kreator konten, atau entrepreneur muda sukses, keanehan kami adalah bentuk perlawanan kecil-kecilan. Perlawanan terhadap kecenderungan untuk melupakan akar, untuk mengabaikan sejarah, untuk menganggap masa lalu tidak relevan dengan masa kini.
Setelah perut kenyang dan obrolan mulai melandai, panitia menyediakan mainan jamparing atau panahan kepada peserta yang berminat untuk mencoba. Sebuah permainan yang menyenangkan dan buat saya, seumur-umur, baru kali ini mencoba menggunakan busur dan anak panah.

Selain cinderamata berbentuk pin peniti dan stiker, saya pribadi mendapat bibit pohon rosela yang bisa ditanam, dirawat, dan kelak akan tumbuh menjadi tanaman yang berguna.
Ada simbolisme yang indah buat saya di sini. Sama seperti saya datang untuk belajar tentang masa lalu, saya juga membawa pulang sesuatu untuk masa depan. Bibit ini, jika dirawat dengan baik, akan tumbuh dan mungkin suatu hari nanti akan menjadi bahan obrolan dengan anak cucu: “Ini pohon rosela yang Kakek dapat dari acara napak tilas dulu. Waktu itu masih muat di telapak tangan. Sekarang sudah sebesar ini.” Dan mungkin, mereka akan tertarik untuk ikut kegiatan serupa. Atau mungkin tidak. Tapi setidaknya, ada benang merah yang tersambung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Trabas bukan sekadar acara jalan-jalan. Ini adalah pengingat bahwa kita berdiri di atas pundak para leluhur yang telah membangun peradaban dengan pengetahuan dan teknologi terbatas mereka. Bahwa sebelum ada telepon pintar, media sosial, dan internet, sudah ada manusia-manusia yang berpikir, berkreasi, dan menciptakan struktur-struktur yang bertahan hingga sekarang.
Batu Korsi mengajarkan tentang sakralitas dan bagaimana sesuatu yang sederhana bisa memiliki makna mendalam jika kita mau membuka pikiran. Batu Aseupan mengingatkan tentang perspektif dan bagaimana kebenaran bisa berbeda tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Gua Langkop menunjukkan bahwa warisan budaya kita rapuh dan membutuhkan perhatian serius jika kita tidak ingin kehilangan jejak dari siapa kita sebenarnya.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, serba instan, serba virtual, kegiatan seperti Trabas adalah oasis. Tempat di mana kita bisa memperlambat laju, menyentuh batu-batu yang telah ada jauh sebelum kita lahir, dan merasakan kembali koneksi dengan tanah tempat kita berpijak. Mungkin saya terdengar terlalu romantis. Mungkin saya terkesan nostalagis. Tapi bukankah manusia membutuhkan romantisme dan nostalgia untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin gila ini?
NTPB, komunitas yang masih bertahan dari lima komunitas yang pernah saya tulis, adalah bukti bahwa ada nilai-nilai yang tidak lekang oleh waktu. Bahwa masih ada orang-orang yang peduli dengan hal-hal yang mungkin dianggap tidak penting oleh mayoritas. Bahwa masih ada ruang untuk pembelajaran yang tidak berorientasi pada sertifikat atau gelar, tapi murni karena rasa ingin tahu dan apresiasi terhadap sejarah.
Sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Banyak hal yang berubah. Teknologi berkembang pesat. Media sosial menguasai hampir setiap aspek kehidupan. Tapi esensi dari kegiatan seperti Trabas tetap sama yaitu manusia yang berjalan bersama, berbagi pengetahuan, dan mencoba memahami masa lalu untuk memaknai masa kini.
Apakah kegiatan ini akan mengubah dunia? Tentu tidak. Apakah kegiatan ini akan membuat situs-situs bersejarah tiba-tiba mendapat anggaran besar dari pemerintah? Sangat tidak mungkin. Apakah kegiatan ini akan membuat orang-orang tiba-tiba lebih peduli dengan pelestarian cagar budaya? Jangan berharap terlalu tinggi.
Namun demikian, kegiatan ini mengubah sesuatu dalam diri saya. Mengingatkan bahwa ada hal-hal yang lebih penting daripada like, share, dan comment. Bahwa ada kepuasan yang didapat dari belajar hal baru, bertemu orang-orang dengan minat yang sama, dan berkontribusi, meskipun kecil, dalam upaya pelestarian warisan budaya.
SAATNYA PULANG
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul 13.00 WIB. Itu artinya kami harus buru-buru jalan kaki kembali untuk turun ke arah titik penjemputan. Kedua sopir angkot yang tadi pagi mengantarkan kami berjanji akan datang lagi pukul 13.00 di titik penjemputan. Dengan angkot yang sama seperti saat berangkat, kami diturunkan di depan masjid di alun-alun Empang dan pulang ke rumah masing-masing.

Bibit rosela yang saya bawa pulang kini duduk manis di teras rumah, menunggu untuk ditanam. Setiap kali saya melihatnya, saya teringat pada Batu Korsi yang masih menunggu status resmi sebagai cagar budaya, Batu Aseupan yang mengajarkan tentang perspektif, dan Gua Langkop dengan menhir-menhirnya yang roboh. Saya teringat pada tawa riang peserta, diskusi seru tentang sejarah, dan keluhan pegal-pegal yang diucapkan sambil tersenyum.
Suatu hari nanti, pohon rosela ini akan berbunga. Dan saat itu terjadi, saya akan kembali teringat pada Minggu yang indah ini, pada Trabas yang membawa saya kembali ke dunia yang sempat saya tinggalkan selama 10 tahun. Saya akan teringat bahwa di suatu tempat di Bogor, masih ada batu-batu kuno yang menunggu untuk dikunjungi, diapresiasi, dan dipelajari oleh generasi-generasi selanjutnya.
Oleh-oleh menyenangkan dari acara Trabas selain menambah pengetahuan sejarah dan bertemu teman lama serta baru adalah berupa bibit pohon rosela yang saya bawa pulang untuk ditanam.







