Rose Raib

0
138

Enam bulan setelah perayaan Ph.D. Olive yang spektakuler itu, grup WhatsApp “Emak-emak Gaul Forever” kembali bergejolak dengan intensitas yang bikin notifikasi HP mereka bunyi terus-menerus. Kali ini bukan kabar bahagia, tapi kabar yang bikin mereka semua panik.

Olive: “Girls, penting banget! Aku harus operasi besok. Kaki kiri patah, harus dipasang pen. Fracture fibula sinistra katanya. Terdengar menyeramkan, ya?”

Vanda: “APA? Gimana ceritanya?”

Olive: “Ceritanya konyol banget. Aku turun dari bus kota tadi pagi, eh ternyata busnya lebih tinggi dari biasanya. Aku kira sama saja kayak bus yang biasa aku naiki. Jadinya aku lompat kayak biasa, dan… telapak kakiku jadi ketekuk! Kaki kiri langsung bengkak.”

Rose: “Ampun, Ol! Kamu tuh gimana sih! Ke rumah sakit?”

Olive: “Iya. Mapo Medical Centre di sini bagus kok. Dokternya bilang operasi tulang seperti itu sudah hal rutin. Cuma dipasang K-wire atau Kirschner wire buat bantu penyembuhan. Tapi tetap saja aku gugup.”

Lilac: “Olive, kamu sendirian di sana?”

Olive: “Suami lagi di Indonesia urus restoran, anak-anak kuliah. Jadi… iya, sendirian.”

Keempat sahabat itu seketika merasakan gelombang emosi yang sama. Olive, sang Doktor baru, terbaring di rumah sakit Korea sendirian dengan kaki patah. Ini bukan skenario yang bisa mereka diamkan begitu saja.

Tanpa koordinasi sebelumnya, mereka masing-masing langsung melakukan strategi yang sudah pernah terbukti berhasil: Operasi Merayu Suami.

Vanda menghampiri suaminya yang sedang santai nonton Netflix di ruang keluarga. Dia sengaja duduk di samping suami dengan wajah yang dibuat-buat sedih.

“Sayang, aku sedih banget,” ujar Vanda sambil pura-pura mengusap air mata.

“Kenapa?” tanya suaminya tanpa mengalihkan pandangan dari TV.

“Olive operasi besok di Korea. Sendirian. Bayangin deh, operasi tulang di negara orang, gak ada yang nemenin. Dia pasti takut banget.”

Suami Vanda mulai melirik istrinya. “Terus?”

“Aku tuh merasa bersalah banget. Sebagai sahabat, harusnya aku ada di saat dia butuh dukungan. Tapi ya gimana, jauh…”

“Kamu mau ke Korea?” tebak suaminya sambil mematikan TV.

“Kalau kamu izinkan…” Vanda memasang wajah paling culun yang dia bisa.

“Berapa lama?”

“Seminggu, sampai dia bisa jalan sendiri.”

“Mahal, Van.”

“Tapi ini soal persahabatan, Sayang. Olive kan sudah baik sama kita. Waktu kamu sakit dulu, dia sampai video call tiap hari buat ngecek kabar kamu.”

Suami Vanda terdiam. Memang benar, waktu dia terkena Covid waktu itu, Olive rajin banget video call, bahkan beli vitamin online dan kirim ke rumah mereka.

“Ya sudah. Pergi saja. Tapi jangan lupa beli oleh-oleh untuk anak-anak.”

“SERIUS?” Vanda langsung melompat dan memeluk suaminya.

Rose menggunakan strategi yang lebih halus. Dia menunggu sampai suaminya selesai makan malam, lalu mulai percakapan sambil membereskan piring.

“Sayang, aku bingung nih,” kata Rose sambil cuci piring.

“Bingung kenapa?”

“Olive operasi besok di Korea. Dia sendirian. Sebagai teman, aku tuh ingin bantu, tapi bingung gimana caranya.”

“Emang dia kenapa?”

Rose menceritakan kondisi Olive dengan detail, termasuk bagaimana Olive sempat menangis waktu video call tadi siang karena takut operasi sendirian.

“Kasihan banget ya,” komentar suami Rose. “Terus kamu mau gimana?”

“Aku sih mikirnya mau ke sana, nemani dia selama pemulihan pascaoperasi. Tapi ya… biayanya lumayan.”

“Berapa kira-kira?”

“Sekitar 25 juta untuk seminggu.”

Suami Rose menghitung-hitung. “Lumayan sih. Tapi kalau menurutmu itu perlu, ya sudah.”

“Beneran boleh?”

“Boleh. Tapi aku ikut ya.”

“HAH?” Rose hampir jatuh. “Kenapa?”

“Pengin liat Seoul. Sambil jalan-jalan. Kan kamu di rumah sakit, aku explorasi kota.”

Rose bingung. Ini bukan rencana yang dia bayangkan. “Tapi Sayang, aku akan fokus jagain Olive. Gak bisa jalan-jalan bareng.”

“Gak apa-apa. Aku jalan-jalan sendiri.”

Wulan menggunakan strategi dramatis. Dia menunggu suaminya pulang dari kantor dengan mata sembab, duduk di sofa sambil peluk bantal.

“Wul, kenapa mukamu kayak habis nangis?” tanya suaminya langsung.

“Aku nangis,” jawab Wulan jujur.

“Kenapa?”

“Olive operasi besok. Sendirian. Aku bayangin kalau aku yang operasi sendirian di negara orang, pasti takut banget.”

Suami Wulan duduk di sampingnya. “Terus?”

“Aku pengin ke Korea, nemenin dia. Tapi aku takut kamu marah. Kemarin kan kamu bilang lagi pengin berhemat.”

“Wul, kalau memang itu yang kamu mau, dan itu baik, aku dukung.”

“Serius?”

“Serius. Tapi syaratnya, kamu harus video call aku tiap hari. Dan jangan lupain anniversary kita bulan depan.”

“Pasti!” Wulan langsung memeluk suaminya.

Lilac, dengan keahlian negosiasi dari dunia kerjanya, menggunakan pendekatan yang berbeda. Dia menunggu suaminya di ruang kerja, lalu masuk dengan membawa kopi dan kue.

“Sayang, aku butuh saran,” kata Lilac sambil menyajikan kopi.

“Saran apa?”

“Olive operasi besok di Korea. Dia sendirian. Aku merasa secara moral, aku harus ke sana.”

“Moral?”

“Dia teman dekat aku. Waktu aku sakit tahun lalu, dia sempat terbang ke Jakarta cuma buat jenguk sehari. Sekarang giliran aku.”

“Tapi Korea jauh, Li.”

“Makanya aku bingung. Secara bisnis, aku rugi karena harus membatalkan beberapa pertemuan. Secara finansial, juga lumayan. Tapi secara hubungan…”

“Kamu pengin pergi?”

“Iya. Tapi aku gak mau ambil keputusan sepihak. Kita kan tim.”

Suami Lilac mikir sebentar. “Ya sudah, pergi saja. Tapi maksimal seminggu. Dan kamu harus bawa laptop, siapa tahu ada meeting mendadak.”

“Deal!”

Dalam waktu dua jam, grup WhatsApp mereka sudah penuh dengan kabar gembira.

Vanda: “SUAMI SETUJU!”

Rose: “SUAMI BOLEHIN! Eh, tapi dia mau ikut. Gimana nih?”

Vanda: “Gak masalah Rose suamimu ikut.”

Wulan: “APPROVED! Aku sudah browsing tiket! Rose, suami pengin ikut? Angkut!”

Lilac: “Lampu hijau! Sekarang tinggal koordinasi keberangkatan. Rose, masalah suamimu mau ikut… cincailah itu.”

Olive: “TUNGGU, KALIAN SEMUA MAU KE SINI?”

Rose: “Demi persahabatan, Ol. Kita gak bisa biarin kamu sendirian.”

Olive: “Tapi guys, ini kan operasi kecil…”

Lilac: “Operasi kecil atau besar, tetap operasi. Dan kamu tetap sendirian.”

Vanda: “Plus, aku sudah kelamaan gak ketemu kalian. Kangen!”

Wulan: “Aku juga! Sekalian liburan setelah stres ngurusin Kartika yang semakin susah diatur.”

**Tiga Hari Kemudian: Bandara Soekarno-Hatta

Mereka berempat bertemu di bandara dengan semangat yang berbeda-beda. Vanda tampak gembira, Wulan gugup, Lilac bersikap profesional penuh percaya diri seperti biasanya, dan Rose agak bingung karena suaminya ikut.

“Ros, kenapa suamimu ikut sih?” bisik Wulan.

“Dia bilang pengin jalan-jalan. Gak apa-apa kan?”

“Apa-apa dong! Gimana kalau kita mau girl talk?”

“Dia sudah janji bakal jalan-jalan sendiri kalau kita lagi ngomongin hal-hal perempuan.”

Lilac, yang sudah mengecek boarding pass berkali-kali, mulai mengkoordinasi. “Oke, girls. Ini penerbangan langsung, 7 jam. Kita landing di Incheon jam 2 siang waktu Korea. Olive sudah mengatur penjemputan.”

“Li, kamu yakin kita gak akan nyasar lagi?” tanya Vanda, masih trauma dengan kejadian terakhir.

“Olive yang atur, bukan aku. Jadi aman.”

“Kata ajaib punya Lilac: aman,” gumam Rose.

**Bandara Incheon: 14:00 KST

Mereka berlima termasuk suami Rose tiba di Incheon dengan lancar. Tidak ada drama seperti kejadian sebelumnya karena ada Olive yang sudah menunggu di area kedatangan dengan kursi roda dan kaki kiri yang digips.

“OLIVE!” teriak Vanda langsung memeluk Olive.

“Hati-hati dong, kakiku masih sakit,” protes Olive sambil ketawa.

“Gimana operasinya?” tanya Rose sambil melihat gips di kaki Olive.

“Lancar. Dokternya bilang enam minggu sudah bisa jalan normal lagi. Sekarang masih harus pakai kursi roda dulu.”

Wulan mendorong kursi roda Olive. “Untung kita datang. Masa kamu sendirian pakai kursi roda?”

“Makanya aku terharu banget kalian datang. Beneran gak nyangka.”

Lilac, yang selalu praktis, langsung mengambil alih situasi. “Oke, sekarang kita ke apartemen Olive dulu, kalian istirahat. Besok baru kita tur keliling Seoul.”

“Tapi Li,” kata Rose, “suamiku pengin langsung jalan-jalan. Dia sudah googling tempat-tempat yang mau dikunjungi.”

“Biar dia jalan sendiri. Kita fokus ke Olive dulu.”

Suami Rose mengangguk. “Aku sudah mengunduh aplikasi translator. Pasti bisa jalan sendiri.”

Mereka berjalan menuju pintu keluar yang jaraknya lumayan jauh. Bandara Incheon sangat luas dan modern, dengan berbagai restoran dan toko yang menarik perhatian.

“Wah, bandara ini keren banget,” komentar Vanda sambil melihat-lihat sekitar.

“Iya, lebih keren dari Changi,” tambah Wulan.

Rose yang mendorong kursi roda Olive sambil ngobrol dengan suaminya. “Sayang, kamu yakin mau jalan-jalan sendiri?”

“Yakin. Kamu urusin Olive saja.”

Lilac sibuk dengan ponselnya, mengecek pesan dari klien. “Guys, aku harus conference call sebentar. Kalian tunggu di area penjemputan ya.”

“Oke, Li. Kita tunggu di sana.”

Mereka bergerak menuju area penjemputan, tapi Olive minta berhenti sebentar di toilet. “Guys, aku mau ke toilet dulu. Tadi di jalan gak sempat.”

“Kita tunggu di luar,” kata Vanda.

Saat Olive ke toilet, Wulan dan Vanda sibuk ngobrol tentang belanja di toko duty free. Rose masih dengan suaminya, membahas rencana hotel tempat suaminya akan menginap.

“Sayang, hotel kamu kan dekat Myeongdong. Nanti kalau ada apa-apa, kamu gampang nyari kami.”

“Oke. Tapi kalau malam aku pengin jalan-jalan di Hongdae. Katanya tempat ngumpul anak-anak muda Korea dan orang asing.”

“Hati-hati ya, jangan sampai tersesat.”

Di sisi lain, Lilac masih sibuk telepon dengan kliennya. “Sori, guys. Klien dari Jepang. Penting banget.”

Yang tidak disadari oleh mereka semua adalah… Rose sudah tidak ada di tempat.

Olive keluar dari toilet dan melihat Vanda dan Wulan yang masih sibuk ngobrol di depan toko duty free.

“Guys, mana Rose?” tanya Olive.

Vanda dan Wulan langsung menoleh ke sekitar. “Tadi ada di sini…”

“Mana suaminya?” tanya Olive lagi.

“Tadi juga di sini,” jawab Wulan sambil mulai panik. “Mana Lilac?”

“Masih telepon tuh,” kata Vanda sambil menunjuk Lilac yang masih sibuk dengan ponselnya.

Olive mulai gelisah. “Guys, Rose gak ada. Ini gak lucu.”

Vanda langsung mendekati Lilac dan mengetuk pundaknya. “Li! Darurat nih!!”

“Sebentar, klien penting,” bisik Lilac.

“LILAC! ROSE HILANG!” teriak Vanda.

Lilac langsung mengakhiri teleponnya. “Apa? Rose mana?”

“Itu yang kita tanyakan! Dia hilang!”

Mereka bertiga plus Olive di kursi roda langsung berlari ke segala arah mencari Rose. Bandara Incheon sangat luas, dan Rose bisa ada di mana saja.

“Terakhir kali kalian lihat Rose di mana?” tanya Olive sambil mencoba tetap tenang.

“Di sini. Tadi dia ngomong sama suaminya tentang hotel,” jawab Wulan.

“Suaminya juga hilang?”

“Iya, mereka berdua hilang.”

“Mungkin mereka ke kafe yang kita lewati tadi buat beli kopi?” tebak Lilac.

Mereka menuju ke kafe yang dimaksud, tapi Rose dan suaminya tidak ada di situ.

“Mungkin mereka ke restoran?” tebak Vanda.

“Restoran mana? Ada puluhan restoran di sini,” kata Olive sambil mulai panik.

Pencarian Berlanjut. Mereka memutuskan untuk membagi tugas. Lilac mengecek area gate, Vanda mengecek area restoran, Wulan mengecek area toko, dan Olive menunggu di meja informasi sambil menelepon Rose.

“Rose angkat dong!” kata Olive sambil menelepon Rose untuk kesekian kalinya.

Di sisi lain, Vanda berkeliling area restoran dengan panik. “Excuse me, have you seen Indonesian woman? Not too tall, short hair?” tanyanya ke pramusaji restoran Korea.

Pramusaji itu menggelengkan kepala sambil senyum bingung.

Lilac di area gate juga tidak menemukan apa-apa. “Buset, Rose ke mana sih?”

Wulan di area toko juga mulai frustrasi. “Rose! ROSE!” teriaknya sambil berkeliling duty free.

Bantuan datang 45 menit kemudian saat mereka sudah mulai putus asa. Seorang pria Korea berusia sekitar 40-an mendekati Olive yang masih menunggu di meja informasi.

“Maaf, Anda sedang mencari seseorang?” tanya pria itu dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar.

Olive kaget. “Eh, Anda bisa bahasa Indonesia?”

“Bisa. Saya Kang Ji Min. Tinggal di Bali selama 10 tahun. Tadi saya dengar Anda mencari teman?”

“Iya! Teman saya hilang. Namanya Rose. Perempuan Indonesia, agak tinggi, rambut pendek.”

“Sudah berapa lama?”

“Hampir satu jam.”

Kang Ji Min langsung mengambil inisiatif. “Oke, kita lapor ke security dulu. Mereka punya sistem pemberitahuan.”

“Beneran bisa dibantu?”

“Tentu. Saya kebetulan kerja di bandara ini. Bagian Relations.”

Olive langsung lega. “Terima kasih banyak!”

Kang Ji Min langsung menelepon rekannya di security. Dalam bahasa Korea, dia menjelaskan situasinya.

“Sudah dilaporkan. Sekarang mereka akan mengumumkan di seluruh bandara,” kata Kang Ji Min.

Tidak lama kemudian, terdengar pengumuman dalam bahasa Korea dan Inggris: “Attention passengers. Rose from Indonesia, please come to information desk immediately. Your friends are looking for you.”

Sumber masalah sebenarnya adalah Rose dengan obsesi kulinernya. Ternyata, Rose dan suaminya sedang terdampar di area restoran Korea di lantai 2 bandara. Rose terpesona dengan displai makanan Korea yang sangat menarik di depan salah satu restoran.

“Sayang, lihat ini! Bibimbapnya kelihatan enak banget!” kata Rose sambil mengambil foto displai makanan.

“Iya, mau nyobain?”

“Mau banget! Ini pasti enak. Lihat, presentasinya sempurna. Bikin ngiler!”

Mereka masuk ke restoran dan memesan berbagai macam makanan Korea. Rose sangat antusias mencoba semua hidangan, sampai lupa waktu dan tempat.

“Ini bulgoginya enak banget! Kita harus ajak Olive ke sini,” kata Rose sambil makan dengan lahap.

“Ros, kita sudah sejam di sini. Mungkin mereka sudah nyari kita,” suaminya mengingatkan.

“Bentar lagi. Aku mau foto dessert-nya juga.”

Saat mereka sudah selesai makan dan bersiap keluar, Rose baru mendengar pengumuman tentang dirinya.

“Eh, itu namaku dipanggil!” kata Rose sambil kaget.

“Tuh kan, pasti mereka nyari kita.”

“Aduh, mereka pasti panik.”

Rose dan suaminya sebisa mungkin berlari menuju meja informasi. Dari kejauhan, mereka sudah bisa melihat Olive di kursi roda, Vanda, Wulan, dan Lilac berkumpul dengan seorang pria Korea.

“ROSE!” teriak Vanda saat melihat Rose.

“AKHIRNYA!” teriak Lilac.

Rose berlari sambil membawa kantong plastik berisi jinjingan makanan Korea. “Guys, sori banget! Aku…”

“ROSE, KAMU KE MANA SAJA?” teriak Wulan sambil memeluk Rose.

“Aku… aku di restoran Korea. Makanannya enak banget, aku jadi lupa waktu.”

“LUPA WAKTU?” Vanda hampir histeris. “Kami sudah nyari kamu hampir 2 jam!”

“Ampun, maaf banget. Aku bawa makanan buat kalian,” kata Rose sambil menunjukkan kantong plastik di tangannya.

Olive yang sudah lega melihat Rose selamat, langsung tertawa. “Rose, kamu ini gimana sih? Hilang gara-gara makanan?”

“Makanannya beneran enak, Ol! Ini aku beliin buat kalian.”

Lilac menggelengkan kepala. “Rose, kamu tahu gak, kita sudah panik setengah mati? Vanda sampai mau nangis.”

“Aku memang mau nangis,” kata Vanda sambil mukanya masih memerah.

Kang Ji Min yang melihat situasi ini langsung tersenyum. “Sudah ketemu ya? Syukurlah.”

“Pak Kang, terima kasih banyak sudah bantu kami,” kata Olive.

“Sama-sama. Selamat datang di Korea. Semoga liburannya menyenangkan.”

Di dalam taksi menuju apartemen Olive, suasana masih agak tegang. Rose duduk di tengah, dikelilingi oleh empat sahabatnya yang masih dalam mode stres campur trauma.

“Rose, please deh. Lain kali kalau mau ke mana-mana, bilang dulu,” kata Lilac sambil pijat kepala.

“Iya, sori. Aku gak nyangka kalian bakal separah itu nyarinya.”

“Separah itu?” Wulan memandang Rose dengan tidak percaya. “Rose, kita di negara orang, di bandara yang gede banget, dan kamu hilang hampir 2 jam!”

“Sebenernya gak hilang sih. Aku cuma makan.”

“MAKAN 2 JAM?” Vanda masih tidak bisa percaya.

“Makanannya enak, Van. Plus aku foto-foto buat Instagram.”

Olive yang mendengar ini langsung tertawa. “Rose, kamu tuh… bener-bener deh. Untung kamu gak nyasar keluar bandara.”

“Gak mungkin lah. Aku kan gak bodoh.”

“Kamu gak bodoh, tapi kamu… gampang teralihkan,” kata Lilac diplomatik.

Suami Rose, yang dari tadi diam, akhirnya ikut berkomentar. “Rose memang gitu. Kalau sudah lihat makanan enak, dunia lain jadi tidak terlihat.”

“Makanya aku bawakan makanan buat kalian,” kata Rose sambil buka kantong plastik. “Ini bulgogi, ini bibimbap, ini kimchi…”

“Rose, kita belum mau makan. Kita masih syok,” kata Vanda.

“Syok kenapa? Kan aku sudah ketemu.”

“Syok karena kami kira kamu diculik!”

“Diculik? Di bandara?”

“Apa saja bisa terjadi, Rose. Kita kan gak tahu medan.”

Apartemen Olive di Mapo cukup nyaman untuk menampung mereka semua. Dua kamar tidur, satu untuk Olive, satu lagi untuk mereka bertiga. Suami Rose sudah booking hotel terpisah, jadi tidak masalah.

“Oke, girls. Kalian istirahat dulu. Besok kita akan tur keliling Seoul,” kata Olive sambil duduk di sofa dengan kaki yang masih digips.

“Ol, kamu pasti capek ya operasi terus ngurusin kami yang ribet,” kata Wulan sambil duduk di samping Olive.

“Ribet apanya? Kalian datang jauh-jauh buat nemenin aku. Aku terharu banget.”

“Tapi kami malah bikin masalah dari awal. Rose hilang, kita panik…”

“Itu namanya adventure,” kata Olive sambil tertawa. “Lagian, kan sudah ketemu. Yang penting sekarang kita bisa ngumpul.”

Rose yang sudah agak tenang, akhirnya bisa memahami kenapa sahabat-sahabatnya tadi panik. “Guys, maaf ya. Aku memang gak kepikiran kalian bakal separah itu. Aku pikir kalian tahu aku cuma makan.”

“Rose, kami gak tahu kamu di mana. Kami pikir kamu kenapa-napa,” kata Vanda sambil mulai agak reda emosinya.

“Lain kali aku pastikan HP selalu on dan volume keras, deh.”

“Atau lain kali jangan ditinggal sendiri,” kata Lilac. “Kita harus sistem tandem. Tidak boleh ada yang jalan sendiri.”

“Setuju,” kata Wulan. “Sistem tandem.”

Olive tersenyum melihat sahabat-sahabatnya. “Girls, kalian tahu gak, hari ini aku sadar betapa berharganya persahabatan kita. Kalian datang jauh-jauh cuma buat nemenin aku yang cuma operasi kecil.”

“Operasi kecil atau besar, tetap operasi. Dan kamu tetap sendirian,” kata Vanda.

“Plus,” tambah Lilac, “kita sudah lama gak kumpul. Sekalian liburan.”

“Liburan yang dimulai dengan drama Rose hilang,” kata Wulan sambil ketawa.

“Itu pembuka yang menarik,” kata Rose. “Sekarang kita punya cerita buat diceritakan ke anak-anak.”

“Cerita tentang emak-emak yang nyasar di bandara gara-gara obsesi kuliner,” tambah Olive.

“Eh, aku bukan nyasar. Aku cuma… terdistraksi,” Rose berkilah.

“Terdistraksi selama 2 jam,” kata Vanda.

“Makanannya enak!”

“Kami tahu, Ros. Kamu sudah bilang berkali-kali,” kata Lilac sambil geleng-geleng kepala.

Malam harinya, mereka berkumpul di ruang tamu apartemen Olive. Suami Rose sudah pergi ke hotelnya, jadi mereka berlima bisa bebas girl talk.

“Ol, gimana sih rasanya operasi?” tanya Wulan sambil makan bulgogi yang dibawa Rose.

“Deg-degan banget. Apalagi sendirian. Untung susternya baik-baik.”

“Berapa lama penyembuhannya?”

“Dokter bilang enam minggu. Minggu depan kontrol lagi.”

“Kita temani sampai kontrol ya,” kata Vanda.

“Gak usah. Kalian sudah repot-repot datang. Nanti suami-suami kalian protes.”

“Mereka sudah setuju dari awal,” kata Lilac. “Lagian, kita bisa sekalian liburan.”

“Iya, sudah lama gak jalan-jalan bareng,” tambah Rose.

“Tapi besok gak boleh ada yang hilang lagi ya,” kata Wulan sambil lirik Rose.

“Aku janji. Sistem tandem.”

“Sistem tandem yang ketat,” tegas Lilac.

Olive tersenyum sambil melihat sahabat-sahabatnya. “Girls, aku bahagia banget kalian datang. Beneran. Operasi kemarin itu aku gugup banget. Tapi sekarang aku tenang.”

“Makanya, jangan sendirian lagi,” kata Vanda.

“Iya. Kalau ada apa-apa, langsung bilang. Kami tim pendukungmu,” tambah Wulan.

“Tim pendukung yang kadang-kadang hilang di bandara,” kata Rose sambil ketawa.

“ROSE!” teriak mereka berempat bersamaan.

“Iya, iya. Aku gak akan hilang lagi.”

“Janji?”

“Janji. Serius!”

“Serius, ya! Kita sudah cukup panik hari ini,” kata Lilac.

Sisa seminggu di Seoul, mereka benar-benar menerapkan sistem tandem dengan ketat. Rose tidak pernah ditinggal sendirian, terutama di tempat-tempat yang ada restoran.

Hari pertama, mereka jalan-jalan ke Myeongdong. Rose tandem dengan Vanda.

Hari kedua, ke Hongdae. Rose tandem dengan Wulan.

Hari ketiga, ke Insadong. Rose tandem dengan Lilac.

Hari keempat, ke Lotte Tower. Rose tandem dengan Olive yang sudah bisa pakai kruk.

Hari kelima, belanja di Dongdaemun. Rose tandem dengan Vanda lagi.

Hari keenam, perjalanan seharian ke Pulau Jeju. Rose tandem dengan semua sebagai tanggung jawab kokektif.

Hari ketujuh, hari terakhir, mereka cuma santai di apartemen sambil berkemas.

“Guys, aku sedih banget kalian pulang,” kata Olive sambil melihat mereka berkemas.

“Aku juga sedih. Seru banget seminggu ini,” kata Rose.

“Iya, meski dimulai dengan drama,” tambah Wulan.

“Drama yang tak akan terlupakan,” kata Vanda.

Sekitar 100 meter dari apartemen Olive terdapat halte bus bandara. Dari halte itu mereka naik bus menuju bandara Incheon. Olive ikut mengantar sahabat-sahabatnya sampai Incheon. Tak ada masalah bagi Olive untuk naik turun bus meskipun menggunakan kruk. Setelah sahabat-sahabatnya check in, satu per satu dipeluknya. Saat giliran Rose, sambil memeluk erat Olive berkata, “Janji jangan raib lagi ya, Rose.” Rose mengangguk perlahan sambil tersenyum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here