Basri memandang langit pagi yang cerah dengan ekspresi wajah seperti orang yang baru saja mendengar kabar kematian kucing kesayangannya. Padahal hari ini seharusnya menjadi hari yang istimewa. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu tahun hidupnya, dia akan mencicipi kopi. Sebuah pencapaian yang mungkin akan diabadikan di batu nisan kelak. “Di sini berbaring Basri, yang akhirnya minum kopi setelah tiga dekade menghindarinya.”
“Ayo, Basri! Kita harus berangkat sebelum kafe itu penuh!” teriak Dio dari luar pagar, suaranya penuh semangat yang menyebalkan. Dio adalah teman SMA yang entah bagaimana masih bertahan dalam hidup Basri hingga kini, seperti penyakit kronis yang tak kunjung sembuh namun sudah terlanjur akrab.
Basri menghela napas panjang sambil menatap cermin. Wajahnya pucat, tidak jauh berbeda dari orang yang akan menjalani operasi jantung tanpa bius. “Kenapa aku setuju dengan ide gila ini?” gumamnya pada bayangan dirinya sendiri yang tampak sama putus asanya.
Perjalanan menuju kota terasa seperti perjalanan terakhir seorang terpidana mati. Dio terus berkicau tentang berbagai jenis kopi yang akan ditawarkan di kafe tersebut, espresso, cappuccino, latte, macchiato, seolah-olah dia sedang membacakan daftar cara-cara kreatif untuk menyiksa seseorang. Basri hanya mengangguk-angguk dengan senyum yang dipaksakan, sambil dalam hati berharap mobil mereka mogok atau terjadi kemacetan total yang memaksa mereka pulang.
“Kamu tahu kan, Basri,” kata Dio sambil menyetir dengan gaya seperti pembalap Formula 1 yang sedang terburu-buru, “selama ini hidupmu belum lengkap. Bagaimana bisa ada manusia di zaman modern yang tidak pernah minum kopi? Itu seperti… seperti hidup tanpa pernah mengalami patah hati!”
“Justru karena aku tidak pernah minum kopi, makanya aku tidak pernah patah hati,” sahut Basri dengan nada datar. “Mungkin ada korelasi antara konsumsi kafein dengan kemampuan membuat keputusan buruk dalam percintaan.”
Dio tertawa terbahak-bahak seolah Basri baru saja menyampaikan stand-up comedy terbaik abad ini. “Kamu ini lucu banget, Basri! Makanya aku suka berteman denganmu. Pesimisme mu itu… menyegarkan.”
Menyegarkan. Kata yang ironis untuk menggambarkan seseorang yang hidupnya sehitam kopi yang akan segera dia minum.
Setibanya di kafe yang bernama Doomsday Coffee, nama yang sangat tepat, menurut Basri, mereka disambut oleh aroma kopi yang begitu pekat hingga Basri merasa seperti dicekik oleh selimut berbau biji panggang. Interior kafe itu dipenuhi dengan poster-poster motivasi yang menyebalkan: “Life begins after coffee,” “Coffee is my love language,” dan “Death before decaf”. Basri menatap poster terakhir itu dengan ironi yang pahit. Sebentar lagi dia mungkin benar-benar akan mengalami kematian setelah menyesap kopi.
“Selamat datang di Doomsday Coffee!” sapa seorang barista perempuan dengan senyum yang terlalu lebar dan energi yang mencurigakan. Namanya Naella, menurut name tag yang dipasang di seragamnya. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Teman saya ini,” Dio menepuk bahu Basri dengan bangga, “akan minum kopi untuk pertama kalinya dalam hidupnya!”
Mata Naella berbinar-binar seperti orang yang baru saja menemukan fosil dinosaurus. “Wah! Ini momen bersejarah! Saya akan buatkan sesuatu yang spesial untuk Anda.”
Basri ingin berteriak bahwa dia tidak ingin ada yang spesial, dia hanya ingin pulang dan melanjutkan hidupnya yang membosankan namun aman tanpa kafein. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan, seperti ada bola pingpong yang tersangkut di sana.
Naella bergerak dengan gesit di balik konter, mencampur ini dan itu dengan keterampilan seorang ahli kimia yang sedang meracik formula peledak. Sesekali dia melirik ke arah Basri dengan senyum yang membuat Basri semakin yakin bahwa ini adalah konspirasi besar untuk mengakhiri hidupnya.
“Ini dia!” Naella menyodorkan secangkir kopi dengan bangga. “Signature blend kami, dengan tambahan sedikit kayu manis dan vanila. Cocok untuk peminum kopi pertama kali!”
Basri menatap cangkir itu seperti menatap ular kobra yang siap menyerang. Cairan hitam pekat itu mengepul dengan asap yang membentuk pola-pola aneh, seolah-olah roh-roh jahat sedang menari di atasnya.
“Ayolah, Basri,” desak Dio sambil mengangkat ponselnya. “Aku harus merekam momen bersejarah ini!”
Dengan tangan yang bergetar, Basri mengangkat cangkir itu. Aromanya sudah cukup untuk membuat kepalanya sedikit pusing. Dia melirik Dio yang sudah bersiap dengan kamera ponsel, lalu melirik Naella yang menunggu dengan mata berbinar-binar, lalu melirik ke arah pintu keluar yang tampak semakin jauh.
“Untuk pertama kali,” gumam Basri, seolah-olah sedang mengucapkan doa terakhir.
Dia menenggak kopi itu dalam satu tegukan.
Selama beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Basri merasa seperti pahlawan yang berhasil menaklukkan monster. Dio bertepuk tangan, Naella tersenyum bangga, dan beberapa pelanggan lain ikut menyoraki. Basri bahkan sempat tersenyum tipis, merasa bahwa selama ini kekhawatirannya berlebihan.
Lalu dunia mulai berputar.
Mula-mula hanya pusing ringan, seperti setelah naik komidi putar. Tapi kemudian pusaran itu semakin kencang. Jantung Basri mulai berdegup kencang seperti drum dalam konser rock. Tangannya bergetar, keringat dingin mulai bercucuran, dan napasnya tersengal-sengal.
“Basri? Kamu tidak apa-apa?” suara Dio terdengar samar, seolah dari jarak yang sangat jauh.
Basri mencoba menjawab, tapi yang keluar hanya suara seperti orang yang sedang tenggelam. Pandangannya mulai kabur, dan dia merasakan sensasi aneh seperti ada kupu-kupu berukuran raksasa yang mengepakkan sayap di dalam perutnya.
“Oh, Tuhan,” terdengar suara Naella yang panik. “Dia alergi kopi!”
Alergi kopi. Tentu saja. Dalam tiga puluh satu tahun hidupnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran Basri bahwa dia mungkin alergi terhadap minuman yang dikonsumsi setengah populasi dunia setiap hari. Ini seperti menemukan fakta bahwa dia alergi terhadap oksigen.
Yang terjadi selanjutnya adalah adegan khas film komedi yang tidak lucu sama sekali. Basri pingsan di tengah kafe, Dio berteriak-teriak panik sambil mencoba menghubungi ambulans, Naella berlari kesana kemari mencari P3K, dan pelanggan lain sibuk mengambil video dengan ponsel mereka, karena tidak ada yang lebih menghibur daripada melihat orang lain menderita.
Basri tersadar di ruang UGD dengan aroma antiseptik yang menyengat hidung. Kepalanya masih pusing, tapi setidaknya jantungnya sudah berdegup normal. Seorang dokter muda yang tampak lelah berdiri di sampingnya, mencatat sesuatu di clipboard.
“Selamat siang, Pak Basri,” kata dokter itu dengan nada profesional yang menyembunyikan sedikit geli. “Anda mengalami reaksi alergi akut terhadap kafein. Cukup parah, tapi tidak mengancam nyawa. Beruntung teman Anda cepat membawa Anda ke sini.”
Basri menoleh ke samping dan melihat Dio duduk di kursi dengan wajah bersalah yang luar biasa. “Maaf, Basri,” katanya dengan suara serak. “Aku tidak tahu kamu alergi.”
“Aku juga tidak tahu,” jawab Basri lemah. “Makanya aku tidak pernah minum kopi selama ini. Ternyata insting survivalku lebih pintar daripada otakku.”
Dokter itu tersenyum tipis. “Tubuh Anda sepertinya sudah memberikan sinyal selama ini. Seringkali orang yang menghindari makanan atau minuman tertentu tanpa alasan yang jelas sebenarnya memiliki sensitivitas terhadap hal tersebut.”
“Jadi selama ini aku tidak aneh?” tanya Basri dengan nada yang sedikit berharap.
“Tidak aneh, hanya… spesial,” jawab dokter itu dengan senyum yang lebih lebar. “Seperti unicorn di dunia pecinta kopi.”
Tiga jam kemudian, Basri sudah diizinkan pulang dengan kantong berisi obat antihistamin dan nasihat untuk menghindari kafein selamanya. Ironis, karena dia sudah melakukan itu selama tiga puluh satu tahun, hanya untuk tergoda mencoba satu kali dan berakhir di rumah sakit.
Perjalanan pulang terasa lebih hening daripada perjalanan berangkat. Dio masih merasa bersalah, sementara Basri menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk. Lega karena selamat, kesal karena harus mengalami ini, dan sedikit bangga karena akhirnya tahu mengapa dia selalu menghindari kopi.
“Basri,” kata Dio pelan, “aku benar-benar minta maaf.”
“Tidak apa-apa,” jawab Basri sambil tersenyum tipis. “Setidaknya sekarang aku punya alasan medis yang sah untuk menolak ajakan ngopi. Selama ini aku hanya terlihat seperti orang aneh yang antisosial.”
“Kamu masih antisosial,” kata Dio, mencoba meringankan suasana. “Tapi sekarang dengan alasan medis.”
Basri tertawa, untuk pertama kalinya di hari itu. “Kamu tahu apa yang paling ironis dari semua ini?”
“Apa?”
“Aku pergi ke kota untuk minum kopi, tapi yang kudapat malah trauma seumur hidup dan tagihan rumah sakit.”
Mereka tertawa bersama, meskipun ada rasa pahit yang tersisa. Bukan karena kopi, tapi karena ironi hidup yang kadang terlalu kejam untuk ditanggapi dengan serius.
Sesampainya di rumah, Basri langsung menuju kamar dan menatap dirinya di cermin. Wajahnya masih pucat, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Mungkin ini yang disebut orang dengan pencerahan, meskipun pencerahan yang datang dengan harga satu perjalanan ke UGD.
Dia mengambil ponsel dan mengetik status di media sosial. “Hari ini aku belajar bahwa ada alasan mengapa selama 31 tahun aku menghindari kopi. Ternyata tubuhku lebih bijak daripada tekanan sobat main. #AntiSosialAlami #MenjemputKesialan”
Dalam hitungan menit, puluhan komentar berdatangan. Sebagian simpati, sebagian tertawa, dan sebagian lagi bertanya apakah dia baik-baik saja. Basri membaca satu per satu dengan senyum tipis. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa menjadi berbeda itu tidak sepenuhnya buruk.
Malam itu, sambil menyesap teh chamomile yang aman dan membosankan, Basri merenung tentang hari yang baru saja berlalu. Dia datang ke kota dengan ekspektasi akan mencoba sesuatu yang baru, tapi yang didapatnya adalah konfirmasi bahwa instingnya selama ini benar. Kadang, menjemput kesialan adalah cara alam semesta memberitahu kita bahwa kita sudah berada di jalan yang tepat sejak awal.
Dan untuk sekali ini, Basri merasa bersyukur atas kesialannya.







