Pagi itu, setelah sarapan prasmanan yang bikin perut begah, mereka berempat berkeliling kota Sukabumi untuk berburu oleh-oleh. Vanda masih sesekali bergidik kalau mengingat ‘konser malam’ kukang semalam, tapi suasana hatinya sudah membaik drastis berkat panekuk dengan sirup maple dan ayam goreng krispi.
“Gila, moci Sukabumi ini enak banget. Aku beli sepuluh kotak ya buat oleh-oleh tetangga,” Wulan sibuk memilih-milih moci di toko oleh-oleh yang ramai.
“Sepuluh kotak? Kamu mau bagi-bagi ke satu RT apa gimana?” Vanda heran sambil menimbang keripik singkong.
“Tahu sendiri kan tetanggaku gimana. Kalau oleh-oleh kurang, bisa-bisa aku jadi bahan gosip sampai tahun depan,” Wulan menjelaskan sambil terus memasukkan moci ke keranjang.
“Betul juga sih. Mending kelebihan daripada ada yang ngambek karena tidak kebagian,” Rose setuju sambil memilih-milih kerupuk ubi.
Lilac yang sedari tadi diam sambil lihat-lihat brosur wisata tiba-tiba bersuara, “Eh, kalian tahu nggak kalau Sukabumi itu punya kebun teh yang terkenal?”
“Kebun teh yang mana?” Rose penasaran.
“Selabintana namanya. Kata brosur ini pemandangannya bagus banget. Hamparan hijau sampai ke horizon,” Lilac menunjukkan foto di brosur yang memang terlihat spektakuler.
“Wah, keren! Pasti Instagramable banget,” Vanda langsung tertarik melihat foto-foto di brosur.
“Jaraknya dari sini berapa lama?” Wulan bertanya sambil masih sibuk dengan moci-mocinya.
“Kata brosur ini sih sekitar satu jam naik mobil. Lumayan lah buat ngisi waktu sebelum pulang,” Lilac membaca detail di brosur.
Rose yang memang paling suka sama tempat-tempat pemandangan alam langsung bersemangat, “Yuk ke sana! Sekalian foto-foto buat Instagram. Kemarin kan foto-foto di vila cuma dikit karena… ehm… keadaan darurat.”
“Maksudnya kabur tengah malam gara-gara kukang?” Wulan nyeletuk sambil nyengir.
“Jangan diungkit-ungkit lagi!” Vanda protes sambil muka merah.
“Oke, baiklah! Selesai beli oleh-oleh kita langsung ke Selabintana,” Lilac antusias.
Setelah menghabiskan hampir sejam di toko oleh-oleh dan keluar dengan kantong-kantong belanja yang penuh, mereka menuju Selabintana. Perjalanan memang sekitar satu jam melewati jalan yang berkelok-kelok naik ke pegunungan.
“Udara di sini sejuk banget,” Vanda mengambil napas dalam-dalam begitu keluar dari mobil.
Pemandangan di Selabintana memang tidak main-main. Hamparan kebun teh hijau membentang luas sampai kaki gunung dengan langit biru cerah sebagai latar. Benar-benar lokasi super sempurna untuk foto-foto.
“Wuiiiih… indah banget! Tanpa perlu filter segala nih,” Rose langsung sibuk ambil foto dengan berbagai sudut.
“Ayo kita jalan-jalan keliling dulu baru foto bareng,” Wulan mengajak sambil menenteng kamera DSLR-nya.
Mereka mulai berkeliling area kebun teh sambil menikmati pemandangan. Sesekali berhenti untuk foto di spot-spot yang bagus. Lilac terlihat paling bersemangat karena dia memang hobi fotografi lanskap.
“Ini cocok banget buat foto pranikah ya,” Lilac berkomentar sambil menyetel pengaturan kameranya.
“Siapa yang mau pranikah? Kamu?” Vanda menggoda.
“Halah! Maksudnya kalau nanti ada yang mau pranikah, tempat ini sangat direkomendasikan,” Lilac membela diri.
“Nanti kalau salah satu dari kita menikahkan anak, kita foto bareng di sini ya,” Rose melontarkan ide random.
“Aamiin! Tapi yang menikahkan duluan harus traktir yang lain liburan ke luar negeri,” Wulan menambahkan syarat.
“Siap!” mereka berempat sepakat sambil tertawa.
Setelah berkeliling dan foto-foto selama hampir satu jam, mereka memutuskan untuk duduk-duduk di gazebo sambil menikmati teh hangat yang dijual di warung kecil di area wisata.
“Teh asli Selabintana ini memang beda ya rasanya. Harum dan nggak terlalu pahit, sepetnya dapet” Rose menyeruput tehnya dengan nikmat.
“Iya, seger banget. Cocok sama udara sejuk di sini,” Wulan setuju.
Lilac yang sedari tadi sibuk foto-foto dan jalan-jalan tiba-tiba merasa tangannya gatal. Dia awalnya cuek sambil menggaruk-garuk ringan.
“Li, kamu kenapa? Kok garuk-garuk terus?” Vanda memperhatikan.
“Nggak tahu, tangan aku gatal nih. Mungkin kena debu atau apa,” Lilac masih tidak terlalu khawatir.
Tapi beberapa menit kemudian, tangan Lilac mulai bengkak dan bentol-bentol merah muncul di sekitar jari dan pergelangan tangannya.
“Astaga Li, tanganmu kenapa bentol-bentol gitu?” Rose khawatir melihat kondisi tangan Lilac.
“Waduh, ini kenapa ya? Rasanya gatal banget,” Lilac mulai panik melihat tangannya yang semakin membengkak.
“Kamu habis pegang apa?” Wulan bertanya sambil ikut mengamati tangan Lilac.
“Nggak apa-apa sih, cuma foto-foto saja tadi. Eh tunggu, tadi aku sempat pegang daun teh buat foto jarak dekat,” Lilac mengingat-ingat.
“Mungkin alergi sama daun tehnya,” Vanda menduga.
Tapi yang bikin mereka makin khawatir, bentol-bentol itu mulai muncul juga di wajah Lilac. Pipi dan dahinya mulai bengkak dengan bintik-bintik merah yang makin banyak.
“Oh no, ini sampai ke muka juga!” Lilac panik melihat refleksi wajahnya di kaca HP.
“Kita harus cari pertolongan medis nih,” Rose mulai khawatir serius.
Mereka bertanya ke penjual teh di warung tentang ada nggak klinik terdekat atau rumah sakit.
“Waduh, kalau rumah sakit jauh Bu. Tapi kalau mau, Bapak tahu obat alami buat gatal-gatal kayak gini,” Bapak penjual teh menawarkan.
“Obat alami gimana, Pak?” Wulan bertanya.
“Biasanya kalau ada yang kena ulat bulu di kebun teh, kami kasih minyak ramuan khusus. Ampuh kok buat meredakan bentol dan gatalnya,” Bapak menjelaskan.
“Ulat bulu?” Lilac makin panik. “Jadi aku kena ulat bulu?”
“Kemungkinan iya, Bu. Soalnya di kebun teh memang banyak ulat. Apalagi kalau habis pegang-pegang daun langsung. Ulat kecil-kecil itu kadang nggak keliatan,” Bapak menjelaskan.
“Ya ampun, pantesan rasanya kayak ada yang merayap di tangan. Aku kira cuma sugesti,” Lilac bergidik mengingat sensasi aneh di tangannya tadi.
“Pak, minyak ramuannya ada sekarang?” Rose bertanya segera.
“Ada, Bu. Kebetulan istri saya bikin. Sering soalnya ada wisatawan yang kena kayak gini,” Bapak langsung panggil istrinya.
Ibu penjual teh keluar dari warung sambil membawa botol kecil berisi minyak berwarna kehijauan dengan aroma yang cukup menyengat.
“Ini Bu, oleskan tipis-tipis saja di bagian yang bentol. Insya Allah dalam setengah jam sudah mulai reda,” Ibu menjelaskan sambil menyerahkan minyaknya.
“Berapa harganya, Bu?” Wulan bertanya.
“Nggak usah bayar, Bu. Ini kan buat pertolongan pertama. Asal nanti kalau sudah sembuh, jangan lupa beli oleh-oleh teh di warung kami ya,” Ibu tersenyum ramah.
“Baik Bu, pasti! Terima kasih banyak,” Rose berterima kasih sambil membantu mengoleskan minyak ke tangan dan wajah Lilac.
Aromanya memang menyengat banget, campuran bau eucalyptus dengan sesuatu yang nggak bisa diidentifikasi. Tapi yang penting, beberapa menit setelah dioleskan, Lilac mulai merasakan sensasi dingin yang menenangkan di area yang gatal.
“Wah, mulai nggak gatal lagi,” Lilac lega. “Tapi aku bau kayak apotek hidup nih.”
“Yang penting sembuh dulu, bau mah urusan belakangan,” Vanda menenangkan.
Mereka menunggu sekitar tiga puluh menit sambil duduk di gazebo. Perlahan-lahan bentol-bentol di tangan dan wajah Lilac mulai mengempis dan warna merahnya mulai pudar.
“Wow, ampuh banget ternyata minyak ramuannya,” Wulan kagum melihat perubahan kondisi Lilac.
“Iya, hampir nggak kelihatan lagi bentolnya. Cuma tinggal sedikit kemerahan,” Rose memperhatikan.
“Syukurlah. Tadi aku sempat panik mikir kalau ini alergi parah gimana,” Lilac menghela napas lega.
Setelah kondisi Lilac membaik, mereka kembali ke warung untuk berterima kasih dan membeli beberapa kemasan teh sebagai bentuk apresiasi.
“Terima kasih banyak ya Bu, Pak. Obatnya manjur banget,” Lilac berterima kasih dengan tulus.
“Sama-sama, Bu. Memang di kebun teh harus hati-hati. Jangan sembarangan pegang-pegang tanaman,” Bapak berpesan.
“Iya Pak, lain kali kami akan lebih hati-hati,” Rose menjawab.
Di perjalanan pulang, Lilac masih trauma dengan kejadian tadi.
“Guys, aku bersumpah mulai hari ini, aku nggak akan lagi main ke kebun teh di mana pun di dunia ini,” Lilac menyatakan dengan tegas.
“Serius?” Wulan tertawa. “Padahal kan cuma kena ulat bulu doang.”
“Cuma? CUMA? Kamu lihat sendiri kan betapa mengerikannya bentol-bentol di muka aku tadi? Kalau nggak ada minyak ramuan ajaib itu, bisa-bisa aku jadi mirip monster. Atau mungkin saja aku harus ke Korea untuk operasi plastik bila tak bisa balik seperti semula,” Lilac masih trauma.
“Ya nggak sampai segitunya juga sih, Li,” Rose mencoba menenangkan.
“Pokoknya nggak mau! Kalau kalian mau ke kebun teh lagi, aku tunggu di mobil atau cari tempat lain. Bahkan kalau ada kebun teh di planet Mars sekalipun, aku tetap nggak mau!” Lilac bersumpah dengan dramatis.
“Oke, oke. Kita catat ya. Lilac anti kebun teh,” Vanda menggoda sambil pura-pura nulis di HP.
“Eh, tapi tadi kan pemandangannya bagus banget. Sayang kalau foto-foto tadi jadi kenangan traumatis,” Wulan mencoba lihat sisi baiknya.
“Foto-fotonya tetap bagus kok! Cuma pengalaman ngambil fotonya yang bikin trauma,” Lilac tertawa sambil mengecek hasil foto di kameranya.
“Setidaknya kita dapat cerita seru lagi buat diceritain ke anak cucu,” Rose berkomentar.
“Iya, ‘masa muda nenek yang penuh petualangan absurd’,” Vanda menambahkan.
“Dari kuliner infus, kabur tengah malam gara-gara kukang, sampai diserang ulat bulu. Portfolio petualangan kita makin lengkap,” Wulan merangkum.
“Dan kita baru hari kedua liburan. Besok masih ada satu hari lagi. Entah apalagi yang akan terjadi,” Rose bergidik sambil tertawa.
“Jangan bilang gitu! Nanti beneran ada kejadian aneh lagi,” Lilac protes sambil ketok-ketok dashboard mobil.
“Tenang saja, besok kita ke tempat yang aman. Mal saja gimana?” Vanda usul.
“Setuju! Mal itu zona aman. Paling banter ketemu sales yang agresif,” Lilac setuju.
“Atau tersasar di parkiran lantai dasar yang kayak labirin,” Rose menambahkan.
“Rose!” ketiga sahabatnya protes bersamaan.
“Oke, oke, maaf. Besok kita berpikir positif saja,” Rose nyengir.
Sesampainya di hotel, mereka langsung video call Olive untuk mengabari kegiatan hari ini.
“Halo, Girls! Gimana hari kedua kalian?” Olive muncul di layar dengan latar kamar hotel di Seoul.
“Seru banget! Kita ke kebun teh Selabintana,” Wulan jawab singkat.
“Wah, pasti bagus pemandangannya. Kirim foto dong!”
“Nanti kita kirim ya. Pemandangannya memang keren banget,” Rose menjawab.
“Eh, kenapa Lilac wajahnya agak merah-merah gitu? Kecapean ya?” Olive memperhatikan.
“Ehmm… kena sinar matahari tadi, Ol. Lupa pakai sunblock,” Lilac menjawab sambil menyembunyikan sisa-sisa kemerahan di wajahnya.
“Oh gitu. Jangan lupa pakai pelembab biar cepat sembuh,” Olive kasih saran.
“Iya, terima kasih ya Ol,” Lilac tersenyum.
Setelah video call selesai, mereka berkumpul di kamar Rose sambil makan mie gelas dan keripik singkong hasil belanja tadi.
“Jadi pelajaran yang bisa kita ambil hari ini adalah… jangan sembarangan pegang-pegang tanaman di kebun,” Rose menyimpulkan.
“Dan selalu bawa obat anti alergi kalau traveling,” Wulan menambahkan.
“Yang paling penting, hargai kearifan lokal. Untung Bapak dan Ibu di warung teh baik banget mau nolong,” Lilac berterima kasih.
“Iya, kalau nggak ada mereka, bisa repot juga tadi,” Vanda setuju.
“Tapi secara keseluruhan, hari ini tetap menyenangkan kok. Pemandangannya indah, foto-fotonya bagus, dan dapat pengalaman baru lagi,” Rose mencoba positif.
“Pengalaman baru yang akan bikin aku trauma seumur hidup,” Lilac tertawa getir.
“Nanti kalau sudah tua, pasti kita ketawa-ketawa mengingat hari ini,” Wulan yakin.
“Mudah-mudahan saja waktu itu, traumanya sudah hilang,” Lilac berharap.
Dan malam itu mereka tertidur dengan tenang di hotel berbintang mereka, tanpa ada suara kukang atau apapun yang mengganggu. Lilac tidur sambil masih sesekali menggaruk bekas bentol yang hampir hilang, sambil berharap besok tidak ada lagi petualangan ‘seru’ yang melibatkan makhluk hidup lainnya.
“Besok ngemal ya, Girls?” Lilac berpesan sebelum tidur.
“Iya, mal yang aman dan steril,” ketiga sahabatnya menjawab bersamaan sambil tertawa.
“Setuju! Good night, everyone!“
“Good night, Lilac si anti kebun teh!”
“Sialan!”







