Dua minggu setelah petualangan Korea yang memalukan dan gagal total memberi kejutan, grup WhatsApp “Surprised Olive” berganti nama menjadi “Lilac’s Disaster Squad”. Kali ini Lilac punya ide cemerlang lagi yang bikin dia bersemangat seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.
“Girls!” sapa Lilac di grup dengan emoji api berlebihan. “Ada yang mau kulineran?”
Rose yang sedang santai di rumahnya di Bogor langsung waspada. “Kulineran di mana, Li? Jangan-jangan kamu mau ajak kita ke planet Mars?”
“Lebay! Cuma ke Bogor doang. Tepatnya ke lereng Gunung Salak. Ada soto mie TERENAK SEDUNIA di sana!”
“Terenak sedunia? Mencurigakan banget, Li,” Wulan skeptis.
“Serius! Aku pernah makan sama suami di sana. PALING ENAK yang pernah aku makan seumur hidup! Kuahnya bening tapi berasa banget, mienya kenyal sempurna, dagingnya lembut meleleh di mulut. Aku jamin, ini bukan soto mie biasa!”
Vanda yang masih trauma dengan keahlian navigasi Lilac bertanya hati-hati. “Li, kamu yakin tahu tempatnya?”
“Yakin dong! Aku kan pakar kuliner! Selera lidahku sudah teruji internasional. Dari Masakan Korea sampai Padang, semuanya aku kuasai. Percaya deh sama aku!”
“Pakar kuliner?” Rose meragukan. “Kamu yang kemarin nyasar di Korea?”
“Itu beda! Korea kan negara asing. Ini Bogor, masih Jawa Barat. Aku hafal jalanan Bogor!”
Rose yang rumahnya memang di Bogor langsung protes. “Li, aku yang tinggal di Bogor saja sering nyasar. Kamu yakin?”
“Rose, Rose… kamu kan cuma tinggal di Bogor. Aku? Aku penjelajah kuliner! Beda level, Sayang.”
Akhirnya karena penasaran dengan soto mie terenak sedunia versi Lilac, mereka berempat sepakat bertemu di rumah Rose untuk kemudian bersama-sama berburu kuliner.
Sabtu pagi, Lilac sampai di rumah Rose dengan semangat menggebu-gebu. Dia membawa tas ransel besar seolah-olah mau mendaki ke Everest.
“Siap-siap terpesona dengan kehebatan pakar kuliner kalian!” Lilac sok pose di depan mobil Rose.
“Li, kamu bawa tas segede gaban ngapain?” Wulan bingung.
“Persiapan! Aku bawa air minum, cemilan, power bank, obat-obatan, dan peta offline. Pemburu kuliner profesional gitu loh!”
“Peta offline? Bukannya kamu bilang hafal jalan?” Vanda mengingatkan.
“Rencana cadangan, Say. Pakar kuliner sejati selalu punya rencana cadangan.”
Rose yang dari tadi diam-diam was-was akhirnya bersuara. “Li, mending aku yang nyetir deh. Aku kan yang tinggal di Bogor.”
“O tidak bisa! Aku yang tahu tempatnya, aku yang nyetir. Kamu duduk manis saja, nanti dibawa ke surga kuliner!”
Perjalanan dimulai dengan Lilac di belakang kemudi, Rose di sebelahnya dengan wajah cemas, sementara Vanda dan Wulan di belakang mulai deg-degan mengingat tragedi Korea bersama Lilac sebelumnya.
“Girls, kalian akan berterima kasih sama aku setelah makan soto mie ini. Serius, ini pengalaman yang akan mengubah hidup kalian hingga tak heran kalau nanti di Instagram kalian akan menulis caption nikmat mana lagi yang kau dustakan!” Lilac berceloteh sambil nyetir.
“Li, kamu yakin arahnya?” Rose lihat GPS di HP Lilac yang kayaknya mulai aneh.
“Tenang! Aku sudah masukkan koordinatnya. Google Maps gak pernah bohong!”
Tapi setelah satu jam berkendara, pemandangan di sekitar mereka mulai aneh. Bukannya warung-warung makan, yang mereka lihat malah deretan nisan dan makam.
“Li…” Vanda mulai khawatir. “Ini kok kayak kuburan?”
“Mana mungkin kuburan! Ini pasti jalan menuju warung soto mie.”
“LILAC!” Rose teriak. “Ini KUBURAN BENERAN!”
Lilac berhenti di tengah area pemakaman dengan wajah bingung. Di depan, jalan buntu. Di sekeliling mereka, nisan-nisan berderet rapi, beberapa orang sedang ziarah, dan suasana hening yang mencekam.
“Ehm… kesalahan navigasi minor kayaknya,” Lilac berkilah dengan suara kecil.
“KESALAHAN MINOR? Kita ada di kuburan, Li! Kuburan!” Wulan hampir histeris.
“Mungkin warungnya ada di sebelah kuburan?”
“WARUNG SOTO MIE DI SEBELAH KUBURAN?” Vanda tidak percaya.
Seorang bapak-bapak yang sedang ziarah menghampiri mobil mereka dengan wajah bingung.
“Permisi, Mbak. Nyari siapa?”
“Ehm… Pak, ada warung soto mie di sekitar sini?” Lilac bertanya dengan muka memerah.
“Warung soto mie? Di kuburan?” Bapak itu makin bingung. “Tidak ada, Mbak. Ini tempat pemakaman.”
“Iya, saya tahu, Pak. Tapi mungkin ada warung di dekat sini?”
“Warung paling deket ya di bawah gunung, Mbak. Masih jauh.”
Setelah minta petunjuk ke bapak baik hati itu, mereka akhirnya keluar dari area kuburan dengan perasaan malu yang luar biasa.
“Pakar kuliner katanya!” Rose mulai gemas. “Nyasar ke kuburan!”
“Gimana sih GPS-nya? Kok malah ke kuburan?” Lilac bingung sendiri.
“Mungkin kamu salah masukin alamat!” Wulan kesal.
“Tidak mungkin! Aku hafal kok alamatnya!”
Setelah satu jam lagi berkeliling lereng Gunung Salak dengan bantuan petunjuk dari beberapa warga lokal, mereka akhirnya menemukan warung soto mie yang dimaksud Lilac.
“NAH! Ini dia! Warung soto mie legendaris!” Lilac teriak girang sambil turun dari mobil.
Tapi kegembiraan mereka langsung sirna ketika melihat sebuah papan pengumuman di depan warung bertuliskan: “TUTUP UNTUK SELAMANYA – TERIMA KASIH”
“TUTUP?” Vanda tidak percaya.
“Selamanya?” Wulan tambah syok.
“Tidak mungkin!” Lilac panik. “Minggu lalu masih buka!”
Seorang ibu-ibu tetangga warung menghampiri mereka. “Warungnya sudah tutup seminggu, Mbak. Pemiliknya pindah ke Jakarta.”
“Seminggu?” Lilac hampir pingsan. “Padahal minggu lalu saya masih mau ajak suami ke sini…”
“Oh, jadi minggu lalu kamu belum ke sini lagi?” Rose mulai curiga.
“Ehm… belum sih, tapi kan pernah…”
“KAPAN terakhir kamu ke sini?” Wulan mendesak.
“Setahun yang lalu…” Lilac mengaku dengan suara hampir tidak terdengar.
“SETAHUN YANG LALU?” mereka bertiga teriak bersamaan.
“Tapi kan rasa makanan enak itu tidak berubah!” Lilac berkilah.
“KALAU WARUNGNYA TUTUP GIMANA MAU MAKAN?” Vanda frustrasi.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, perut mereka sudah keroncongan, dan satu-satunya yang tersisa di sekitar sana hanya tukang gorengan pinggir jalan. Gorengan yang masih ada tinggal bala-bala yang sudah agak dingin.
“Ya sudah lah, makan ini dulu,” Rose pasrah sambil beli gorengan.
“Bala-bala doang?” Wulan menatap gorengan dengan wajah tidak yakin.
“Daripada tidak makan sama sekali,” Vanda ikut beli meski hatinya menangis.
Mereka berempat duduk di warung pinggir jalan yang sederhana, makan bala-bala dingin dengan perasaan campur aduk antara kecewa, lapar, dan gemas sama Lilac.
“Li, ini soto mie terenak sedunia yang kamu bilang?” Rose bertanya sambil mengunyah bala-bala dengan ekspresi datar.
“Ini mah bala-bala biasa yang rasanya kayak karton,” Wulan tambah sarkastik.
“Guys, maaf ya… Aku tidak tahu kalau warungnya tutup,” Lilac minta maaf sambil gigit bala-bala dengan perasaan bersalah.
“Pakar kuliner katanya,” Vanda masih sebel. “Pakar nyasar ke kuburan, pakar bawa kita makan bala-bala pinggir jalan.”
“Tapi kan ini juga pengalaman!” Lilac masih mencoba berpikir positif.
“Pengalaman apaan? Pengalaman kecewa?”
Tiba-tiba HP Rose berbunyi. Suaminya nelpon.
“Sayang, sudah makan? Gimana soto mienya?” suara suami Rose dari pelantang.
“Sudah makan, Sayang. Makan bala-bala.”
“Bala-bala? Bukannya kalian mau makan soto mie?”
“Ceritanya panjang. Pakar kuliner kita nyasar ke kuburan, terus warungnya tutup.”
Suara tawa suami Rose terdengar dari HP. “Pakar kuliner nyasar ke kuburan? Serius?”
“Serius banget! Lilac bilang hafal jalan, eh malah bawa kita jalan-jalan ke tempat orang meninggal.”
“Hahaha! Kasihan kalian. Nanti pulang-pulang papa buatin soto ayam ya.”
“Boleh tuh! Daripada bala-bala dingin ini.”
Setelah menghabiskan bala-bala dengan perasaan yang campur aduk, mereka bersiap pulang. Kali ini Rose yang nyetir, sementara Lilac duduk di belakang dengan muka memerah.
“Li, lain kali kalau mau ajak kulineran, survei dulu ya warungnya masih buka apa tidak,” Rose berpesan sambil nyetir.
“Dan jangan ngaku-ngaku pakar kuliner kalau ujung-ujungnya cuma bawa kita makan gorengan pinggir jalan,” Wulan menambahkan.
“Plus, jangan pernah lagi ngaku hafal jalan kalau ujung-ujungnya nyasar ke kuburan,” Vanda ikut mengingatkan.
“Iya deh, iya. Sori banget ya, girls. Lain kali aku survei dulu.”
“Lain kali jangan ada lagi, Li. Trauma kita sama petualangan-petualangan kamu,” Rose tegas.
Tapi di dalam hati, mereka sebenarnya tahu bahwa petualangan kacau seperti ini yang bikin persahabatan mereka makin kuat. Meski kesal, mereka tetap sayang sama Lilac yang selalu punya ide gila tapi penuh semangat.
“Tapi jujur ya,” Lilac tiba-tiba bersuara dari belakang. “Bala-bala tadi lumayan enak juga kok.”
“LILAC!” teriak mereka bertiga bersamaan, dan mobil pun dipenuhi tawa meski masih campur gemas.
Bagaimanapun, mereka menyadari petualangan kuliner yang berakhir di kuburan dan warung gorengan pinggir jalan ini menjadi cerita yang akan mereka kenang dan tertawakan bertahun-tahun kemudian. Mereka meyakini terkadang momen terburuk justru yang paling berkesan.
Ketika mobil sampai di pertigaan Cibatok, Vanda melihat rumah makan Padang di seberang jalan.
“Rose, kita mampir ke situ,” kata Vanda sambil mengarahkan telunjuknya ke seberang jalan. “Bala-bala karton tadi cuma ngotor-ngotori perutku,” lanjut Vanda.
Ketiga temannya ikut kemauan Vanda karena perut mereka juga belum puas kalau isinya cuma bala-bala cemplang.
Begitu turun dari mobil, Vanda langsung mendatangi penjualnya yang ada di sebelah etalase makan siap melayani pesanan. “Da, nasi tiga, gulai kepala kakap dua, tunjang dua, rendang dua… oia, ayam gulai tiga yang paha ya. Minumnya es jeruk dua, air mineral dua. Sudah itu saja.”
Si uda hanya mengangguk sambil bengong. Dia curiga ibu-ibu cantik yang ada di depannya ini jangan-jangan demit yang baru turun dari Gunung Salak.
Lilac, Rose, dan Wulan kemudian ikut memesan tapi tidak sebanyak Vanda. Mereka hanya pesan satu nasi putih, satu jenis lauk, dan segelas es teh tawar. Selesai pesan makan, mereka mendatangi Vanda yang sudah duduk manis di meja berkapasitas enam kursi.
“Gila kamu ya, Van. Pesan makanan sebanyak itu,” kata Wulan.
“Bales dendam, aku.” Jawab Vanda singkat.
“Kamu katanya diet, Van?” Lilac menyambung.
“Bodo amat dengan diet! Gara-gara kamu dietku gagal!”
Lilac diam saja. Dia tidak mau menimpali omongan Vanda. Hasilnya pasti ribut. Sudah pasti itu! Sementara Rose cuma geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan Vanda yang memesan makanan entah dengan sadar atau dengan kalap.
Makanan dan minuman yang dipesan sudah lengkap terhidang. Empat sahabat itu segera menyantap pesanannya masing-masing. Di luar, jalan padat dengan kendaraan. Mereka sibuk menghindari kemacetan yang sudah jadi langganan pertigaan Cibatok. Bising suara klakson karena angkot berhenti seenaknya mencari penumpang tak mempengaruhi mereka yang makan di rumah makan Padang, terutama Vanda.







