Long Live, Olive!

0
231

Grup WhatsApp “Emak-emak Gaul Forever” yang biasanya cuma berisi berbagi resep dan keluhan soal anak remaja tiba-tiba meledak dengan satu pesan yang membuat keempat perempuan paruh baya itu hampir tersedak kopi pagi mereka.

Olive: “Guys, aku balik ke Indonesia besok! Cuma sehari doang, tapi kita harus ketemuan. Ada something special yang mau aku bagi. Lingkari tanggalnya di kalender, ya!”

Rose, yang sedang menggoreng telur mata sapi untuk sarapan suaminya, langsung panik. “Ya ampun, rumah berantakan! Kebun lagi musim hujan, becek banget!”

Vanda, yang sedang rapat dengan kliennya via Zoom dari kantor di rumahnya yang bergaya Scandinavian, dengan anggun membisukan mikrofonnya sambil ngetik cepat. “Di rumahku saja. Sudah lama gak terima tamu nih.”

Lilac, yang baru saja selesai yoga paginya, langsung ambil alih koordinasi seperti biasa. “Sip! Di tempat Vanda. Rose, kamu bawa tar buah andalanmu, ya. Wulan, kamu bawa koleksi wine-mu yang bagus. Aku bawa dessert dari hotel.”

Wulan, yang lagi nyiapin bekal anak-anaknya, cuma bisa ngetik sambil geleng-geleng kepala. “Olive ini dramatis banget sih. Something special apaan coba? Kayak reality show saja.”

Olive: “Serius! Ini benar-benar SANGAT SPESIAL. Btw, dandan yang cakep, ya. Kita akan merayakan something special!”

“Merayakan apaan sih,” gumam Rose sambil mikir harus pakai baju apa. Di hadapannya pintu lemari pakaiannya terbuka lebar.

Keesokan harinya, rumah Vanda di Serpong jadi medan perang persiapan. Vanda, dengan efisiensi seorang event organizer profesional, sudah menyiapkan ruang tamunya dengan sempurna. Meja kaca besar di tengah sudah disiapkan dengan taplak meja krim dan rangkaian bunga segar.

“Pa, tolong sound system dinyalakan dong. Playlist jazz yang biasa,” teriak Vanda ke suaminya yang lagi santai nonton bola.

“Sudah umur segini masih saja ribet kayak anak muda,” sahut suaminya dengan nada bercanda, tapi tetap bangun dan menyalakan sound system.

Rose datang pertama, membawa tar buah andalannya dalam kotak plastik transparan. “Van, rumahmu makin keren saja. Aku minder nih.”

“Ah, lebay kamu, Ros. Duduk sini, mau kopi atau teh?”

“Kopi dong. Aku butuh kafein buat menghadapi drama Olive hari ini.”

Lilac datang dengan elegansi khasnya, membawa boks dessert dari hotel tempat dia jadi konsultan. Rambutnya di-blow dry rapi, rias muka sempurna, pakai blazer krim yang bikin dia kelihatan kayak CEO muda meskipun sudah 53 tahun. “Sori telat, tadi sempat conference call sama klien Singapura.”

“Li, kamu kerja terus. Kapan relaksnya?” tanya Rose sambil menggigit tar buahnya sendiri.

“Relaks itu buat yang sudah pensiun, Rose. Aku masih produktif.”

Wulan datang paling terakhir dengan terburu-buru, bawa wine dan wajah agak panik. “Maaf-maaf! Tadi Kirana mendadak minta dijemput di sekolah, katanya sakit perut. Ternyata cuma pengin pulang cepat.”

“Anak remaja jaman sekarang kreatif banget ya nyari alasan,” komentar Vanda sambil membuka wine yang dibawa Wulan. “Wah, ini wine mahal ya?”

“Suamiku yang milih. Dia bilang kalau kumpul sama kalian harus yang premium, soalnya kalian para wanita hebat,” jawab Wulan sambil duduk dan langsung melepas sepatu hak tingginya.

“Wanita hebat yang lagi ngomongin anak-anak mereka yang nakal,” tambah Rose dengan sarkastik. “Sangat hebat, tentunya.”

Mereka berempat duduk mengelilingi meja kaca, dengan berbagai minuman di tangan. Vanda, Wulan dan Lilac dengan wine, Rose dengan kopi keduanya, menunggu kedatangan Olive sambil ngobrol kehidupan masing-masing. Rose cerita soal restoran suaminya, Lilac komplain soal klien yang banyak maunya, Vanda sharing soal acara kawinan anak orang super kaya Indonesia yang baru dia tangani, dan Wulan curhat soal putrinya yang mulai pacaran.

“Aku sih oke-oke saja dia pacaran, tapi cowoknya itu… Ya ampun, rambutnya kayak mie instan,” keluh Wulan.

“Wul, jaman kita dulu juga pernah naksir cowok rambut gondrong,” Lilac mengingatkan. “Ingat gak sih, kamu dulu naksir si Brandon yang rambutnya sampai pundak?”

“Jangan diungkit-ungkit masa lalu dong!” protes Wulan sambil mukanya merah karena malu.

Di tengah canda tawa mereka, bel rumah berbunyi. Vanda langsung lompat dari sofa. “Pasti Olive!”

Tapi yang keluar dari taksi bukan Olive yang biasa mereka kenal. Yang mereka lihat adalah versi Olive yang… berbeda. Lebih percaya diri, ada aura intelektual yang beda, dan entah mengapa lebih… moncer.

Surprise!” teriak Olive sambil bawa tas karton cokelat muda. “Kangen aku?”

“Ol, kamu kelihatan beda deh,” komentar Rose sambil memeluk Olive. “Ada apa sih? Botox?”

“Lebih bagus dari botox, Say,” jawab Olive dengan senyum misterius. “Duduk dulu semua. Aku ada pengumuman.”

Mereka berlima duduk melingkar seperti ritual bulanan mereka dulu waktu masih mahasiswa S2. Bedanya sekarang ada yang pakai wine mahal, ada yang tetap setia dengan kopi, dan ada yang memilih minuman ringan, bukan semuanya kopi saset dari warung Mang Juned.

“Oke, sebelum aku bocorkan something special yang aku omongkan di grup WA,” mulai Olive sambil ambil nafas dalam, “aku mau kalian tahu bahwa selama empat tahun ini di Korea…”

“Iya, untuk bisnis kuliner kan? Kamu kan jago Korean cuisine,” potong Vanda.

“Eee…” Olive senyum-senyum. “Bukan itu maksudku”

Keempat sahabatnya menatap dengan penasaran. Rose bahkan sampai menaruh mug kopinya di meja, penuh perhatian.

“Aku… baru saja lulus Ph.D.”

Senyap. Sunyi senyap. Bahkan suara TV yang menyiarkan pertandingan bola dari ruang keluarga kedengeran jelas.

“PH APA?” teriak Wulan sampai wine di gelasnya hampir tumpah.

“Ph.D, Wul. Doctor of Philosophy. Bidang Food Science and Technology dari Seoul National University.”

“DOKTOR OLIVE?” Rose teriak sambil berdiri. “KAMU DOKTOR?”

“Begitulah, Dr. Olive,” jawab Olive sambil ketawa. “Surprise!

Lilac, yang biasanya paling heboh, cuma bisa melongo. “Tunggu, tunggu, tunggu. Jadi selama ini kamu bohong?”

“Bukan bohong. Cuma… gak cerita saja. Kalian tahu sendiri kan, Ph.D itu penuh ketidakpastian. Apa jadinya kalau aku gagal? Malu dong.”

“MALU APAAN?!” teriak Lilac. “KAMU SUDAH JADI DOKTOR, MASIH MALU?”

Guys, tolong ya. Tetanggaku bisa komplain,” Vanda berusaha menenangkan.

Olive membuka tas karton cokelat mudanya dan mengeluarkan botol sparkling cider premium dan jus jeruk segar dalam botol kaca elegan. “Itulah mengapa kita mesti merayakan. Secara resmi aku sekarang Olive, Ph.D. Dan…” dia tersenyum lebar, “aku dapat tawaran kerja dari Seoul National University sebagai profesor.”

Kali ini yang diam adalah Olive, karena keempat sahabatnya langsung teriak bareng sampai suami Vanda keluar dari ruang keluarga dengan wajah bingung.

“Ada apa sih? Kayak orang menang lotre,” tanya suami Vanda.

“OLIVE JADI DOKTOR!” teriak Rose dengan semangatnya.

“Oh, selamat dong. Doktor apa? Gigi? Mata?”

“Ph.D, Mas. Profesor,” jawab Olive sambil ketawa.

“Wah, mantap. Pantas saja tadi di taksi supirnya bilang, ‘Kok mukanya pintar banget ya, Mbak,'” canda suami Vanda sebelum balik lagi ke ruang keluarga.

Setelah perayaan heboh berakhir dan mereka berhasil membuka sparkling cider tanpa ada yang kena semprot, mereka duduk lagi dengan perasaan yang benar-benar lain.

“Ol, aku bangga banget sama kamu,” kata Lilac sambil pegang tangan Olive. “Serius. Ph.D itu gak main-main.”

“Apalagi usia kita yang sudah… matang,” tambah Wulan diplomatis.

“Maksud kamu tua?” sahut Rose. “Bilang saja apa adanya, Wul.”

“Aku masih gak percaya,” kata Vanda sambil geleng-geleng kepala. “Jadi selama ini, pas kita komplain soal anak-anak yang susah belajar, kamu lagi mati-matian sama disertasimu?”

“Tul! Dan pas kalian bicara soal suami yang banyak maunya atau kurang perhatian, aku lagi revisi yang ke-20.”

“Dua puluh revisi?” Rose melongo. “Aku nulis email saja males revisi.”

“Selamat datang di dunia akademik, Ros. Revisi adalah makanan sehari-hari.”

Wulan tiba-tiba jadi serius. “Ol, tapi… profesor di Korea? Maksudnya?”

Olive senyum-senyum. “Maksudnya, aku bakal tinggal di Seoul. Permanen.”

Dan untuk kedua kalinya, kesunyian menguasai ruang tamu Vanda.

“Permanen?” Rose suaranya hampir berbisik.

“Awalnya, kontrak lima tahun dulu. Tapi mungkin diperpanjang.”

“Tapi… tapi…” Wulan kayak mau nangis. “Geng Bunga gimana?”

“Geng Bunga gak akan ke mana-mana,” jawab Olive kalem. “Ada teknologi, Say. Video call, chat group, jalan-jalan reuni setiap tahun ke Seoul?”

“Gak sama,” potong Lilac. “Gak ada yang sama dengan kehadiran secara fisik.”

Olive mengerti banget perasaan mereka. Inilah kenapa dia tidak cerita soal Ph.D-nya dari awal. Dia tahu momen ini pasti datang.

Girls,” kata Olive sambil berdiri, mengambil gelas sparkling cider-nya, “ayo kita toast.”

Mereka berempat ikutan berdiri. Wulan, Vanda, dan Lilac mengambil gelas wine-nya, Rose mengambil mug kopinya, Olive dengan sparkling cider, meskipun dengan perasaan campur aduk.

“Untuk Geng Bunga,” mulai Olive, “yang sudah menyemangati aku, bahkan ketika kalian tidak tahu apa yang kalian sedang semangati. Untuk persahabatan yang sudah bertahan 25 tahun lebih. Untuk mimpi-mimpi yang kita raih meski di usia yang bisa dibilang terlambat. Dan untuk petualangan baru kita, di mana pun.”

“Untuk Geng Bunga,” sahut mereka berempat, dengan suara agak bergetar.

“Dan yang paling penting,” tambah Olive dengan senyum nakal, “untuk fakta bahwa sekarang kalian punya teman yang bisa dipanggil ‘Doktor’ dan bikin kalian kelihatan keren di media sosial.”

Rose langsung ketawa. “Oh iya! Instagram story-ku bakal naik level. ‘Makan malam bareng bestie Ph.D-ku.'”

“‘Nyantai bareng Dr. Olive,'” tambah Vanda.

“Aku bisa bilang ke tetangga-tetanggaku, ‘Oh, temen aku profesor di Korea, lho'” sahut Wulan bersemangat.

“Dan aku bisa bilang ke klien, ‘Konsultanku punya jejaring sampai Seoul National University,'” tambah Lilac.

Mereka ketawa bareng, dan ketegangan mulai berkurang. Ini mereka. Geng Bunga yang selalu bisa mengubah apa pun menjadi lelucon, bahkan saat emosional. 

“Tapi ini pertanyaan serius,” kata Rose sambil duduk lagi, “kamu gak takut kesepian di sana?”

“Rose, aku sudah menikah dengan dua anak. Kesepian tidak ada di dalam kamusku.”

“Suamimu oke dengan keputusan ini?”

“Suami chef-ku? Dia malah semangat banget. Katanya kuliner Korea itu tempat bermain impiannya. Dia mau ikut, buka restoran di Seoul.”

“Dan anak-anak?”

“Anak-anakku umur 20 dan 22. Mereka lebih bergairah daripada takut. Mereka bilang akhirnya mama mereka keren.”

Vanda mengambil botol wine untuk mengisi gelas Lilac dan dirinya sendiri, sementara Rose bikin kopi baru dan Olive menuang sparkling cider. “Cheers untuk Olive yang akhirnya keren di mata anak-anaknya.”

Cheers untuk mimpi-mimpi yang gak kenal umur,” tambah Lilac.

Cheers untuk persahabatan yang bertahan hingga saat ini, meski berjarak antar negara,” sambung Wulan.

“Dan cheers untuk kenyataan,” kata Rose sambil mengangkat mugnya, “bahwa kita masih dahsyat di usia kepala lima.”

“SO PASTI!” teriak mereka berlima bersamaan.

Sore hari di rumah Vanda di Serpong itu berakhir dengan pelukan grup yang ketat, sedikit air mata emosional di mata Vanda, Wulan, dan Lilac yang entah karena sedih beneran, bahagia, atau karena pengaruh alkohol, dan janji untuk jalan-jalan setiap tahun ke Seoul yang kemungkinan besar akan mereka realisasikan.

“Ol,” kata Rose sebelum mereka beranjak pulang, “lain kali ada berita besar kayak gini, jangan tunggu sampai selesai. Kami ingin menjadi bagian dari prosesnya, bukan hanya merayakannya.”

“Siap,” jawab Olive. “Asal kalian janji tidak ribut kalau aku bilang aku mau ambil Ph.D kedua.”

“OLIVE!” teriak mereka berempat bersamaan.

“BERCANDA! Aku bercanda!”

Dan dengan tawa yang mengisi sore hari itu, Geng Bunga sekali lagi membuktikan bahwa sahabat sejati itu tidak kenal jarak, tidak kenal umur, dan sudah pasti tidak kenal tingkatan gelar pendidikan.

Long live, Olive! Long live, Geng Bunga!

—–

Epilog

Grup WhatsApp “Emak-emak Gaul Forever” setiap hari masih ramai dengan cerita hidup sehari-hari, cuma sekarang ada perbedaan waktu dan kadang-kadang muncul kosakata Korea dari Olive yang bikin mereka berempat buka Google Translate.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here