Cenderawasih

0
220

Alkisah di pedalaman Irian Jaya pada masa itu, hiduplah seorang gadis bernama Vanda yang memiliki kegemaran aneh untuk berpose di depan cermin seakan-akan ia adalah Grace Kelly yang sedang difoto untuk sampul majalah Vogue. Padahal cermin yang ia hadapi hanyalah kaca usang berukuran 30×40 sentimeter yang menempel di dinding kayu lapis rumah dinas TNI AU yang sudah mulai mengelupas cat hijaunya.

Vanda adalah anak semata wayang dari Mayor Bramantyo, seorang pilot pesawat tempur F-16 yang bertugas di Pangkalan Udara Sentani. Keluarga kecil ini terdampar di Papua karena panggilan tugas negara, istilah romantis untuk menggambarkan nasib seorang prajurit yang harus rela tinggal di ujung dunia demi gaji pokok plus tunjangan daerah terpencil yang besarnya hampir sama dengan uang jajan anak Jakarta.

Sejak kecil, Vanda sudah menunjukkan bakat alamiah dalam hal bergaya. Ia bisa menghabiskan berjam-jam di depan cermin, berlatih berjalan di atas catwalk berujud lantai semen yang retak-retak di ruang tamu, sambil membayangkan dirinya sedang melenggang di runway Milan Fashion Week. Ibunya, Ratih, yang dulunya adalah seorang guru di Yogyakarta sebelum menikah dan mengikuti suami ke ujung nusantara, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya.

“Van, kamu ini hidup di mana sih? Ini Papua, bukan Paris!” ujar Ratih suatu hari sambil melipat seragam sekolah anaknya yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci dengan sabun colek.

Tapi Vanda tidak peduli. Baginya, tempat tinggal bukanlah penghalang untuk bermimpi. Meskipun setiap hari ia harus bersekolah dengan berjalan kaki melintasi jalan tanah yang berlumpur saat hujan dan berdebu saat kemarau, ia tetap berusaha tampil modis dengan seragam sekolah yang sama-sama lusuh seperti teman-temannya.

Parasnya yang cantik dan berkulit putih membuatnya tampak seperti alien di antara teman-teman sekolahnya yang sebagian besar adalah anak-anak Papua asli berkulit hitam. Mereka memandangnya dengan tatapan campuran kagum dan iri. Kagum karena kecantikannya, iri karena privilese yang ia miliki sebagai anak “orang Jakarta” yang bisa membeli sampo ibukota di koperasi TNI, sementara mereka harus puas dengan sabun mandi biasa untuk keramas.

Eh, sapa pu kata mau jadi artis, ee (Eh, si putih mau jadi artis katanya),” gumam Yosef, salah satu teman sekelasnya, dengan nada mengejek. 

“Artis apa? Artis jual lele goreng?” timpal Demianus, teman sekelas Vanda lainnya.

Vanda hanya tersenyum tipis mendengar ejekan tersebut. Dalam hati ia berkata, “Kalian tidak akan mengerti. Kalian tidak memiliki visi seperti aku.”

Obsesi Vanda untuk menjadi model semakin menguat setelah ia menemukan majalah Femina edisi 1991 yang sudah sobek-sobek di perpustakaan sekolah. Halaman demi halaman ia pelajari dengan seksama, mengamati pose-pose model, gaya rambut, hingga ekspresi wajah. Ia bahkan mencoba meniru gaya rias wajah dengan menggunakan bedak tabur ibunya yang tinggal setipis kertas rokok.

“Suatu hari nanti, saya akan menjadi cenderawasih yang terkenal akan keindahannya,” gumamnya sambil memandang refleksi dirinya di cermin. “Saya akan terbang jauh dari hutan ini.”

Ironisnya, burung cenderawasih yang ia jadikan inspirasi justru hampir punah diburu oleh manusia untuk diambil bulunya yang indah. Sebuah metafora yang tepat untuk mimpinya yang juga akan menghadapi banyak pemburu yang siap menembak jatuh impiannya.

Ketika duduk di kelas 3 SMA, Vanda semakin serius dengan rencananya. Ia mulai mengumpulkan uang saku untuk membeli tiket pesawat ke Jakarta. Setiap rupiah ia hitung dengan cermat, bahkan ia rela tidak jajan selama berminggu-minggu demi menambah tabungannya.

“Papa, setelah lulus SMA nanti, Vanda mau kuliah di Jakarta,” ujarnya suatu malam saat keluarga sedang makan malam dengan menu ikan mas yang dibeli dari kolam TNI.

Mayor Bramantyo hampir tersedak mendengar pernyataan anaknya. “Jakarta? Untuk apa? Disini juga bisa kuliah. Ada Universitas Cenderawasih.”

“Tapi Vanda mau jadi model, Pa. Tidak mungkin jadi model kalau di sini terus.”

“Model?” Bramantyo tertawa sinis. “Vanda, papa sudah keliling Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Yang namanya model itu harus punya koneksi, punya uang, punya orang dalam. Kita ini orang biasa, Van. Orang biasa yang kebetulan tinggal di ujung dunia.”

Ratih yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. “Lagipula, Vanda cantik di sini karena kulitnya putih. Kalau di Jakarta, gadis putih cantik kayak kamu itu ada ribuan. Kamu cuma ikan kecil di lautan yang besar.”

Vanda merasa dunianya runtuh. Orang tua yang seharusnya mendukung mimpinya justru menjadi pembunuh mimpi pertama yang ia hadapi.

“Tapi Vanda masih mau coba, Pa, Ma. Kalau gagal, baru Vanda pulang.”

“Gagal dengan modal apa? Uang papa cuma cukup untuk hidup di sini. Kalau kamu ke Jakarta, mau makan apa? Minum angin?”

Pertengkaran kecil itu berlanjut selama beberapa hari. Vanda yang keras kepala tidak mau mengalah, sementara kedua orang tuanya bersikukuh dengan pendapat mereka. Hingga akhirnya, Bramantyo memberikan ultimatum yang membuat Vanda tersentak.

“Kalau kamu berani keluar dari rumah ini tanpa restu papa mama, jangan pernah kembali. Papa tidak punya anak yang durhaka.”

Ancaman yang klasik namun ampuh. Vanda yang sejak kecil dimanja sebagai anak tunggal tidak pernah membayangkan harus hidup tanpa kasih sayang orang tua. Ia terdiam, bingung antara mengejar mimpi atau mempertahankan kenyamanan zona amannya.

Minggu-minggu berlalu. Vanda lulus SMA dengan nilai yang lumayan, cukup untuk masuk PTN mana pun di Indonesia. Tapi pikirannya tetap tertuju pada satu hal, runway dan lampu sorot.

Suatu hari, saat ia sedang berjalan-jalan sendirian di sekitar pangkalan udara, ia bertemu dengan Sersan Dua Bagus, salah satu teknisi pesawat yang sering ngobrol dengan ayahnya. Bagus baru saja pulang cuti dari Jakarta dan membawa beberapa majalah terbaru.

“Wah, Vanda cantik banget hari ini,” goda Bagus sambil menyerahkan sebuah majalah Cosmopolitan. “Ini buat kamu, siapa tahu terinspirasi.”

Vanda menerima majalah itu dengan mata berbinar. Halaman demi halaman ia buka, dan matanya terpaku pada sebuah artikel tentang model Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional. Gadis itu berasal dari Medan, bukan Jakarta. Orang tuanya adalah PNS biasa, bukan artis atau pengusaha.

“Ternyata bisa ya,” gumamnya sambil memperhatikan foto-foto model tersebut di berbagai negara.

Malam itu, Vanda duduk di depan cermin usangnya untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini, ia tidak berpose. Ia hanya memandang refleksi dirinya sambil bertanya dalam hati: “Apakah aku cukup berani untuk terbang jauh dari sangkar emas ini?”

Keputusan yang ia ambil malam itu akan mengubah hidupnya selamanya. Ia menulis surat untuk kedua orang tuanya, menyatakan bahwa ia akan pergi ke Jakarta dengan atau tanpa restu mereka. Uang tabungannya sudah cukup untuk tiket pesawat dan bekal hidup selama tiga bulan. Setelah itu, ia akan bergantung pada nasib dan keberaniannya sendiri.

Keesokan harinya, saat Bramantyo dan Ratih pergi ke pasar, Vanda mengemas barang-barangnya dalam sebuah tas ransel tua. Ia meninggalkan surat itu di atas meja makan, bersama dengan cermin kecil yang selama ini menjadi teman setia latihannya.

“Sampai jumpa, cermin kecilku,” bisiknya sambil menutup pintu rumah untuk yang terakhir kalinya.

Pesawat Garuda Indonesia yang membawanya ke Jakarta lepas landas tepat pukul 10.30 WITA. Dari jendela pesawat, Vanda memandang hutan Papua yang hijau membentang luas di bawahnya. Entah mengapa, air mata menetes di pipinya. Bukan karena takut, tapi karena ia menyadari bahwa ia baru saja meninggalkan satu-satunya tempat di dunia di mana ia dianggap istimewa.

Di Jakarta, ia hanya akan menjadi satu dari jutaan gadis yang bermimpi menjadi bintang. Tapi setidaknya, ia sudah membuktikan bahwa ia cukup berani untuk terbang keluar dari sangkarnya sendiri.

Apakah impiannya akan terwujud? Apakah ia akan menjadi cenderawasih yang terkenal akan keindahannya? Atau justru menjadi burung yang mati karena terlalu jauh terbang dari habitatnya?

Hanya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, Vanda telah membuktikan bahwa kadang-kadang, orang yang dianggap tidak mungkin berhasil justru adalah orang yang paling berani mengambil risiko.

Dan di suatu tempat di pedalaman Papua, Mayor Bramantyo menemukan surat anaknya dengan mata berkaca-kaca, sambil bergumam, “Semoga kamu berhasil, cenderawasih kecilku. Semoga kamu berhasil.”

Ternyata takdir berkata lain bagi cenderawasih asal Sentani yang sudah membulatkan tekadnya menaklukkan Jakarta.

Tiga bulan setelah tiba di Jakarta, saat Vanda hampir kehabisan uang dan mulai berpikir untuk menjual ginjal demi bisa makan nasi Padang, ia bertemu dengan Broto Singodimejo, seorang agen modeling senior yang kebetulan sedang mencari wajah baru untuk kliennya.

“Kamu punya potensi, Van,” ujar Broto sambil mengamati Vanda dari atas sampai bawah layaknya pedagang kuda. “Tapi kamu perlu pendidikan yang layak. Modeling sekarang bukan cuma soal cantik, tapi juga harus pintar.”

Broto kemudian menawarkan sesuatu yang hampir tidak bisa dipercaya Vanda. Tawaran itu berupa beasiswa penuh untuk kuliah S1 dan S2, dengan syarat Vanda harus bekerja paruh waktu sebagai model untuk agensinya. Kontrak yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, namun Vanda tidak punya pilihan lain selain menerima.

“Ini bukan kisah dongeng, Van,” Broto memperingatkan sambil menyodorkan kontrak setebal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. “Dunia modeling itu keras. Kalau kamu tidak siap mental, lebih baik pulang sekarang juga.”

Vanda menandatangani kontrak itu tanpa membaca detail kecil yang ternyata akan membuatnya terikat selama sepuluh tahun. Naif? Sangat. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk impian yang terlalu besar.

Kuliah S1 di Universitas Trisakti jurusan Komunikasi berjalan lancar. Vanda berhasil menyeimbangkan antara kuliah dan modeling, meskipun sering kali ia harus tidur hanya tiga jam sehari. Prestasi akademiknya cukup baik untuk melanjutkan ke S2 di sebuah institut manajemen ternama dekat Stasiun Gambir.

Di sinilah kisah baru dimulai. Tahun 1996, saat Vanda mulai kuliah S2, ia bertemu dengan empat orang yang akan mengubah hidupnya lebih dari mimpi menjadi model.

Lilac, gadis berambut panjang dari Universitas Indonesia jurusan Psikologi, yang memiliki kebiasaan aneh menganalisis kepribadian orang hanya dari cara mereka memegang pulpen. Rose, lulusan Universitas Padjadjaran jurusan Hukum, yang bicara dengan logika tajam layaknya jaksa penuntut umum. Olive, alumnus Institut Pertanian Bogor jurusan Teknologi Pangan, yang selalu bersikeras bahwa namanya berasal dari bunga zaitun meskipun semua orang tahu zaitun itu buah. Dan Wulan, lulusan Universitas Gadjah Mada jurusan Sastra Indonesia, yang dengan muka tebal mengklaim namanya termasuk kategori bunga karena “bulan kan mekar seperti bunga”.

Kelima gadis dari lima universitas berbeda ini bertemu di kelas Manajemen Strategis yang diampu oleh Profesor Wijaya, seorang dosen sadis yang hobi memberikan tugas kelompok dengan tenggat yang tidak masuk akal.

“Baik, kalian berlima,” tunjuk Profesor Wijaya dengan tatapan seolah-olah ia baru saja mengirim mereka ke medan perang. “Kalian akan menganalisis strategi pemasaran produk kosmetik lokal. Batas waktunya minggu depan.”

Itulah awal mula persahabatan yang paling absurd namun paling solid yang pernah ada. Mereka sering bertemu di warung kopi kecil di Gang Tembok dekat kampus, tempat yang bau asap rokok dan aroma tempe goreng bercampur menjadi satu.

“Jadi kita ini geng apa?” tanya Lilac suatu hari sambil mengunyah kerupuk.

“Geng Bunga!” seru Rose sambil tertawa. “Soalnya nama kita semua bunga.”

“Eh, Wulan itu bukan bunga,” protes Olive sambil menyeruput kopi pahit yang rasanya malah seperti kencing kuda.

“Wulan itu bulan, tapi bulan kan mekar seperti bunga,” bantah Wulan dengan argumen yang dipaksakan. “Lagipula, siapa yang bilang Olive itu bunga? Zaitun itu buah, bukan bunga!”

“Tapi pohon zaitun kan berbunga sebelum berbuah,” Olive ngotot mempertahankan argumennya.

“Terus Vanda? Anggrek memang bunga sih,” kata Lilac sambil memandang Vanda yang sedang diam-diam berpose untuk foto selfie dengan kamera sekali pakai.

“Kalau gitu kita Geng Bunga,” putus Rose dengan nada final. “Vanda anggrek, Rose mawar, Lilac bunga ungu, Wulan bunga bulan, dan Olive bunga zaitun. Selesai.”

Dan sejak itu, mereka dikenal sebagai “Geng Bunga” yang sering nongkrong di warung kopi sambil membahas tugas kuliah yang tidak pernah selesai tepat waktu.

Vanda yang awalnya merasa seperti alien di Papua, kini menemukan keluarga barunya di Jakarta. Mereka tidak peduli dengan latar belakang Vanda sebagai model atau asal daerahnya. Yang penting adalah tawa mereka yang tulus dan solidaritas yang terbentuk dari penderitaan bersama menghadapi dosen-dosen sadis.

“Kalian tahu nggak,” ujar Vanda suatu hari sambil memandang foto mereka berlima yang ditempel di dinding warung kopi. “Dulunya aku cuma pengin jadi model. Sekarang aku pengin jadi teman kalian selamanya.”

“Ah, jadi lebay,” canda Lilac sambil melempar kerupuk ke arah Vanda. “Tapi kami juga sayang sama kamu, kok.”

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Papua, Vanda merasa ia telah menemukan tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan sebagai gadis cantik berkulit putih di antara teman-teman Papua, bukan sebagai model yang harus selalu tampil sempurna, tapi sebagai Vanda yang sederhana, yang bisa tertawa lepas sambil makan kerupuk dan membahas tugas kuliah yang tidak masuk akal.

Mungkin ini yang dimaksud dengan cenderawasih yang sesungguhnya. Bukan burung yang cantik dan eksotis, tapi makhluk yang akhirnya menemukan kawanannya sendiri di tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here