Cerita ini adalah kelanjutan dari kisah sebelumnya berjudul Pulang ke Bogor yang merupakan bagian dari kumpulan cerita Komunitas Serabi Jenggot.
———————-
Mentari pagi yang baru saja muncul dari balik Gunung Salak langsung disambut hangat oleh kesibukan di Pasar Anyar. Satu suara khas terdengar agak berbeda pagi itu, suara langkah kaki tergesa-gesa bercampur dengan desahan napas berat, diselingi gerutuan penuh amarah.
Pras muncul dari tikungan jalan, bibir bawahnya jontor seperti habis disengat tawon. Lengan kirinya yang bertato lengkuas memantul terkena cahaya matahari pagi, mengilat karena sisa minyak kelapa yang dia pakai untuk menggosok luka—salah satu tradisi Betawi yang katanya “biar cepat kering”.
“Assalamualaikum, warung perdamaian dunia!” Teriak Pras sambil ngeloyor ke bangku panjang yang disediakan untuk para pembeli di warung ketoprak milik Duloh.
Duloh yang sedang mencampur bumbu kacang melirik tanpa ekspresi, “Wa’alaikum salam. Bibirmu kenapa, Pras? Digigit kecoa betina?”
Pras mendengus, duduk di bangku kayu yang satu kakinya agak miring. “Berantem gue, Loh… sama tukang tape baru. Ngaku-ngaku bisa dagang di situ, tapi kagak mau setor uang keamanan. Gue cuma minta dua ribu, bukan minta ginjal!”
Dari sebelah, suara Wekape menyambar. Ia duduk di kios korannya sambil menggunting kupon undian, “Yah, emang tapenya enak?”
“Enak sih. Tapi kan bukan soal rasa! Ini soal prinsip!”
Duloh meletakkan piring ketoprak di depan Pras. “Nih, makan dulu. Biar tenang. Tapi aku nggak pedesin ya, takut bibirmu makin tidak enak dilihat.”
Pras mendesah lega. “Lu paling ngerti gue, Loh. Hidup ini udah cukup pedes, makanan nggak usah ikut-ikutan.”
Tiba-tiba suara Hohah terdengar dari balik warung, “Buset, Pras! Tato lengkuasmu makin glowing. Habis luluran?”
Pras menjawab santai, “Minyak kelapa, Hah. Biar serangga kagak nempel. Lu tau sendiri gue jijik sama binatang melata, merayap, termasuk juga serangga. Pernah gue ngimpi digigit cicak sampe lompat dari kasur, bangunin emak gue.”
Semua langsung tertawa.
Wekape menimpali, “Preman pasar, tapi takut sama cicak. Kagak banget kamu, Pras.”
Pras mengangkat piring ketoprak dan berkata, “Lu boleh ngetawain gue, tapi coba lu tidur bareng tokek di plafon. Suara dia kayak ngetawain dosa kita semua.”
Duloh duduk di bangku seberang, menyeruput kopinya yang masih tersisa setengah gelas. “Jadi, gimana rencana kita? Daeng sudah resmi anggota. Aku dengar dia mau bikin acara jalan-jalan bareng kita. Judulnya katanya Jalan-jalan Penuh Cinta.”
Pras mendongak, “Asal jangan ke kebun binatang. Gue ogah lihat ular atau iguana. Bisa langsung pensiun dini gue dari preman.”
Wekape tertawa terbahak. “Maunya jalan-jalan tapi takut binatang. Ini mah acara narsisnya Daeng. Gak bakal ada ular atau binatang lain kecuali jalan-jalannya di hutan.”
Suasana warung pagi itu hangat. Meski hidup sebagai rakyat jelata dengan profesi jelata juga tentunya, mereka bangga menjadi bagian dari Komunitas Serabi Jenggot, komunitas yang sarat semangat saling bantu dan kental rasa kekeluargaan.
Daeng muncul di ujung gang dengan gaya santai. Melihat Pras, dia langsung berseru, “Eh, ini dia, sang jagoan bibir bengep! Siap berangkat ekspedisi cinta ke Tanah Abang minggu depan?”
Pras mengangkat tangan, “Siap! Tapi asal enggak ada kunjungan ke kandang reptil!”
“Sayang kamu gak ikut acara Ngopi Kere kemarin, Pras.” Daeng mengganti pembicaraan.
“Gue mesti ke Jakarta, acara keluarga. Ramai, ya?” Pras penasaran.
“Bukan cuma ramai. Heboh, Pras. Ada yang pingsan di dalam gua,” Wekape menyambar sambil tertawa. Dia suka tertawa sendiri atau kadang tersenyum lebar bila teringat peristiwa di Gua Seplawan waktu acara Ngopi Kere beberapa hari lalu.
“Gak usah didengar omongannya wong kenthir, Pras,” kata Daeng sambil memelototi Wekape.
Pras hanya tertawa. Meskipun dia tidak ikut acara yang diadakan di Gunung Kelir itu, dia sudah dapat bocoran tentang insiden di dalam Gua Seplawan. Pras juga tahu penyebab Daeng mendapat tambahan nama panggilan sehingga namanya menjadi Daeng Benjol.

Sebenarnya Pras tidak pernah bercita-cita menjadi preman pasar. Waktu kecil, dia justru ingin jadi dokter gigi. Alasannya sederhana, dia pernah lihat dokter gigi pegang uang sejuta dalam sekali buka mulut pasien. Tapi impian itu pupus ketika gigi susunya copot karena ketabrak jidat temannya saat main bola. Bukannya dibawa ke dokter, ibunya malah menyuruh dia berkumur air garam sambil bilang, “Udah, jangan banyak gaya. Dokter gigi mah mahal.”
Pras tumbuh besar di daerah Karet, Jakarta Selatan. Anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya tukang tambal ban, ibunya jualan gorengan. Kehidupan keluarga Pras tidak kekurangan cinta, tapi jelas kekurangan duit. Makan kadang nasi sama kerupuk ditambah petai cina buat lalap. Kalau lagi mewah, ada telor dadar yang hanya boleh dimakan setengah, setengahnya lagi buat besok pagi.
Waktu SMP, Pras mulai dikenal di lingkungan sebagai bocah yang mulutnya kayak speaker masjid rusak—keras, cempreng, dan sering bikin orang sakit kepala. Namun demikian, justru itu yang bikin dia punya banyak teman. Termasuk teman-teman yang kurang sehat secara sosial, alias anak-anak tongkrongan yang lebih banyak nongkrong ketimbang belajar.
Pras tidak pernah suka sekolah. Bukan karena dia bodoh. Dia malah cukup cerdas, terutama dalam hal akal-akalan. Pernah suatu ketika dia bisa menyontek seluruh jawaban matematika dari siswa di sebelahnya hanya dengan kode morse yang dia buat sendiri, kedipan sekali berarti A, dua kali berarti B, dan seterusnya. Sayangnya, saat ulangan matanya iritasi kena debu, jadi dia kedip-kedip terus kayak lampu diskotik. Temannya bingung, nilainya hancur, tapi Pras tetap dapet 40. Lulus? Tidak. Tapi jadi legenda.
Lulus SMP, Pras kerja serabutan. Mulai dari tukang parkir, tukang sapu di minimarket, sampai jadi asisten tukang ojek yang tugasnya cuma megangi helm. Satu pekerjaan yang benar-benar membuka jalan takdirnya sebagai preman adalah ketika dia kerja jadi kernet Kopaja jurusan Pasar Senen–Lebak Bulus.
Selama jadi kernet, Pras belajar tiga hal penting. Pertama, suara lantang bisa jadi senjata terutama buat memanggil penumpang dan menyemprot sopir lawan. Kedua, kecepatan tangan penting, apalagi buat mengambil uang dari penumpang sambil mencari kembalian. Ketiga, dunia itu keras tapi keras bukan berarti tidak bisa tertawa.
Pras memutuskan untuk mengubah hidupnya setelah mendengar bahwa menjadi preman di Pasar Anyar Bogor adalah cara tercepat untuk mendapatkan uang. Kenapa harus kerja kantoran kalau bisa jadi raja pasar, pikirnya, sambil membayangkan dirinya duduk di kursi besar dengan mahkota dari jeruk nipis yang dironce.
Dengan menggunakan KRL, Pras tiba di Stasiun Bogor. Pasar Anyar berjarak hanya beberapa puluh meter dari stasiun. Ia melangkah ke pasar dengan percaya diri, mengenakan kaos oblong dan celana jeans yang sengaja disobek di beberapa tempat agar terlihat lebih meyakinkan. Dia merasa seperti pahlawan super. Tapi realita tidak seindah mimpinya. Ternyata, preman bukan hanya soal tampang, melainkan juga soal keahlian bernegosiasi dan, yang lebih penting, siapa yang lebih berani.
Pras mencoba menakut-nakuti pedagang sayur dengan tatapan tajamnya yang justru malah lebih mirip tatapan kucing lapar.
“Saya Pras, preman baru di sini!” Teriaknya.
Para pedagang hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menghitung uang mereka. Salah satu pedagang, Mbok Sini, malah tertawa.
Setelah beberapa hari gagal mengintimidasi, Pras pun menyadari bahwa untuk bertahan di pasar, ia harus belajar dari yang terbaik. Ia mulai memperhatikan cara Mbok Sini berjualan. Ternyata, bukan ancaman yang membuat orang membeli, tapi keramahan dan tawaran harga yang adil. Dengan sarkastik, ia berpikir, “Jadi, preman itu bukan cuma soal otot, tapi juga soal otak, ya?”
Akhirnya, Pras mengubah strateginya. Alih-alih menakut-nakuti, ia mulai membantu pedagang merapikan barang dagangan mereka.
“Kalau kamu butuh preman, saya bisa bantu menjaga barang-barang ini,” ujarnya dengan nada kurang percaya diri.
Ternyata, tawarannya disambut baik. Pras pun menjadi semacam ‘preman baik’, yang lebih banyak membantu daripada mengancam.
Lambat laun, ia dikenal di pasar bukan sebagai preman yang menakutkan, tetapi sebagai ‘Pras si pembantu pasar’. Ironis, tapi setidaknya ia bisa makan siang gratis dari hasil kerjasamanya. Di akhir hari, Pras tersenyum, menyadari bahwa kadang hidup membawa kita ke tempat yang tak terduga, dan menjadi preman pasar bukanlah tentang kekuatan, tapi tentang hubungan.
“Siapa sangka, jadi preman itu lebih banyak kerja sama daripada musuh,” gumamnya sambil menikmati bakso gratis dari Mbok Sini.
Baginya, Pasar Anyar adalah tempat pertama yang terasa seperti di rumah. Tempat itu riuh, penuh manusia, penuh emosi, dan tentu saja penuh masalah. Dan Pras? Dia cocok di sana. Dia tahu siapa yang sering membohongi timbangan, siapa yang menyimpan duit palsu di laci, dan siapa yang pura-pura mengeluh reumatiknya kumat tiap ditagih utang.
Selain dikenal sebagai Pras si pembantu pasar atau preman baik, dia juga dikenal sebagai preman ganas bila diharuskan. Gara-garanya adalah ketika seorang tukang ikan sudah keterlaluan sikapnya dan dia anggap tukang ikan ini model orang yang dikasih hati minta nambah ampela. Sudah dibaik-baiki tapi tidak tahu diri. Peristiwanya terjadi saat Pras menginjak usia 19 tahun.
Di umur 19, Pras resmi jadi ‘anak lapak’. Dia diminta oleh seniornya, Kang Memed Bagong, untuk jaga satu blok di Pasar Anyar. Tugasnya memastikan tidak ada pedagang baru yang buka lapak tanpa izin. Awalnya Pras agak ragu, karena dia punya prinsip kalau bisa damai kenapa harus ribut? Tapi prinsip itu berubah drastis waktu dia dimaki-maki tukang ikan yang menolak mengasih uang keamanan sambil bilang, “Anak ingusan kayak lu ngapain sok jadi preman?”
Pras tidak balas makian itu. Dia pulang, tidur siang, bangun jam lima sore, lalu balik lagi ke pasar. Tapi kali ini dia bawa teman-teman dari tongkrongannya. Siang itu, tukang ikan tidak cuma menyerahkan uang keamanan, tapi juga minta maaf sambil menyodorkan sekantong kerang darah gratis. Sejak saat itu, pedagang lain melihat Pras bukan hanya sekadar Pras si pembantu pasar atau si preman baik. Lambat tapi pasti, dia jadi pemegang blok Pasar Anyar bagian tengah.
Sebagai preman, Pras punya gaya khas. Dia tidak suka kekerasan, tapi juga tidak segan gebuk orang kalau keterlaluan. Dia punya kode etik tidak boleh memukul anak kecil, tidak boleh mengganggu ibu-ibu, dan yang paling penting—tidak boleh ribut sama tukang serabi. Kenapa? Karena serabi mengandung kenangan masa kecil dan bisa dimakan tanpa lauk. Filosofi itu kemudian membuatnya terlibat dalam pendirian Komunitas Serabi Jenggot bersama empat sahabat barunya, termasuk Duloh dan Wekape.







