Cerita ini adalah kelanjutan dari kisah sebelumnya berjudul Tragedi Gua Seplawan yang merupakan bagian dari kumpulan cerita Komunitas Serabi Jenggot.
———————-
Angin pagi Yogyakarta masih berembus pelan, tapi di Stasiun Tugu, suasana sudah riuh. Empat lelaki tampak berdiri di peron sambil menunggu kedatangan kereta api yang akan membawa mereka ke Jakarta. Daeng, Duloh, Hohah, dan Wekape berdiri diam seribu bahasa bak lagi musuhan. Mereka membawa ransel dan plastik berisi oleh-oleh. Masing-masing menenteng termos kopi, hadiah yang disediakan panitia untuk seluruh peserta acara Ngopi Kere. Duloh menyimpan termos kopi lamanya. Sekarang dia menggunakan termos baru seragam dengan ketiga temannya.
“Sesuai nama acaranya, tak salah panitia menghadiahi kita termos kopi. Ya, nggak?” Wekape membuka obrolan.
“Akur,” sahut Daeng.
Duloh membuka tutup termos, menyeruput pelan, lalu memandang langit.
“Alhamdulillah… akhirnya naik kereta juga. Enggak lagi-lagi deh naik bus,” ucapnya dengan penuh syukur seperti baru lolos dari sebuah tragedi mengerikan.
Wekape mengangguk setuju sambil menggaruk perut, “Gara-gara bus Sepuluh Bersaudara waktu kita berangkat itu, aku sampai trauma bau parfum semprot AC dan musik koplo remix. Langsung mual bila dengar orang menyebut bus Sepuluh Bersaudara!”
“Aku mah bukan cuma mual. Rasa bersalah terus menghantui karena menyemburkan muntahan ke punggung sopir bus yang temanmu itu, Hah,” timpal Duloh sambil geleng-geleng.
Hohah hanya tersenyum kecut mengingat kejadian itu.
“Saya juga nggak enak sama Mas Giarto. Itu nama sopirnya. Untung orangnya baik.”
“Dia saudaramu, Hah?” Tanya Wekape.
“Bukan. Kami sama-sama dari Purworejo tapi beda desa. Aku Kaligono, Mas Giarto Donorejo,” jawab Hohah.
Daeng tertawa mendengar cerita mereka. “Tenang kawan, kita sekarang naik kereta. Nyaman, adem, bisa tidur, bisa ngopi, dan…”
“Dan bisa makan nasi kucing murah meriah sepuasnya sebelum naik kereta,” potong Duloh.
Kereta tujuan Pasar Senen datang. Deru mesin dan suara dari pelantang membuat hati mereka deg-degan. Kali ini bukan karena takut mabuk, tapi karena semangat ingin segera pulang di kota yang sejuk penuh pohon tua dan besar di sepanjang jalan. Setelah meninggalkan Bogor meskipun hanya beberapa hari, rasa ingin segera balik ke kota yang mereka kenal baik tiba-tiba menggelora.
Mereka masuk ke gerbong ekonomi AC yang kini tidak seperti dulu. Bersih, rapi, dan tempat duduknya tegak lurus seperti kursi seminar.
Daeng duduk di dekat jendela. Wekape di sebelahnya. Di seberang, Hohah dan Duloh duduk berdempetan. Tak lama setelah kereta berangkat, suasana tenang jadi terganggu. Ada suara aneh seperti orang menyanyi ditimpali suara cekikikan dan tepuk tangan dari gerbong sebelah.
Seseorang masuk dari pintu sambil memainkan ukulele kecil. Suaranya melengking, nadanya tidak jelas, dan liriknya jelas hasil ciptaan sendiri. Rupanya dia ini yang tadi jadi biang keriuhan di gerbong sebelah.
“Sayang… kamu tinggalkanku, padahal aku… baru belajar dandan…”
Semua mata menoleh. Seorang bencong berselendang merah, mengenakan rok mini dan kaos pink bertuliskan “I’m a Queen”, berdiri di lorong kereta sambil nyanyi dan sesekali menggoyang-goyangkan pinggul.
Wekape melirik sinis.
Bencong itu mendekat, berjalan ke arah mereka sambil tetap menyanyi. Daeng menahan tawa, Hohah mencoba pura-pura tidur, tapi Wekape mulai merasa terganggu.
Ketika sang bencong menyodorkan plastik minta sumbangan, Wekape langsung berkata pelan tapi ketus, “Mas, saya mau tenang. Bisa nggak nyanyi lain kali saja?”
Bencong itu tersenyum, “Ih, Om ini kayaknya iri deh. Sini, nyanyi bareng yuuuk.”
“OGAH!” bentak Wekape spontan.
Seluruh gerbong mendadak diam. Penumpang lain melirik. Beberapa pura-pura menonton pemandangan luar padahal telinganya siaga. Bencong itu cemberut.
“Ih, galak amat, Om. Emangnya aku ngapain sih?”
Wekape berdiri. “Saya bayar tiket mahal bukan buat dengerin karaoke jalanan. Ini kereta, bukan acara pencarian bakat.”
Bencong itu mendelik. “Kalo mau sepi, naik delman aja, Om!”
Wekape mulai kehilangan kesabaran, “Kalo mau manggung, ke TV, jangan ke gerbong!”
Bencong itu mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari Wekape. Dagu dan bagian bawah hidungnya terlihat bekas dikerok kemudian ditutup bedak.
“Om, Om, udah tua jangan emosian. Ntar darah tinggi, bibir miring, susah senyum!”
Duloh buru-buru berdiri dan melerai, “Sabar… sabar. Udah, Pe. Duduk lagi.”
Wekape duduk dengan wajah merah padam. Bencong itu cemberut, muter balik, lalu menyindir sambil jalan. “Semoga hidup Omnya lebih bahagia dari aku yang cuma bisa nyanyi buat hidup.”
Setelah ia pergi ke gerbong berikutnya, suasana kembali tenang. Tapi bukan berarti damai. Wekape masih menggerutu.
“Kenapa sih mesti ngamen di kereta? Sudah tahu penumpang butuh tidur, bukan hiburan absurd macam gitu.”
Hohah nyengir, “Tapi lirik lagunya tadi kreatif sih. Relate dengan kehidupan.”
“Relate dari Hongkong!” Seru Wekape tak terima.
Daeng menyela, “Yang penting sekarang kita sudah aman. Enggak muntah, enggak berantem lagi.”
“Belum tentu,” sahut Duloh sambil menunjuk ke arah seorang ibu-ibu yang mulai membuka bekal nasi rendang dengan aroma super tajam.
Mata Daeng yang memang sudah belok tiba-tiba terlihat makin melotot seolah kedua biji matanya hendak melompat kabur dari kantungnya. Ibu yang sedang membuka bekal nasi rendang sebenarnya berjarak lima baris dari tempat duduknya, tapi indra penciuman Daeng akan jadi super sensitif bila ada aroma rendang. Seketika dia kabur ke gerbong lain sampai bau rendang jahanam itu tak tercium lagi. Namun demikian, suara seperti babi hutan digorok masih sempat terdengar oleh penumpang lain termasuk ketiga temannya.
“Hoek… HOOOEEEKKKK!”
Bukannya kasihan, Wekape, Duloh, dan Hohah malah terpingkal-pingkal. Daeng pasti tidak mau balik lagi ke gerbong itu hingga sampai stasiun tujuan. Duloh dan Hohah mengambil barang-barang Daeng yang ditinggal begitu saja.
—
Kereta sudah masuk Stasiun Pasar Senen. Samar-samar terdengar azan asar dari pelantang masjid perkampungan dekat stasiun. Wekape, Duloh, dan Hohah siap-siap turun sambil menenteng barang. Sampai di peron, mereka bertiga celingukan mencari Daeng. Dari gerbong paling akhir, yang sedang dicari terlihat jalan cepat ke arah mereka. Daeng terlihat baik-baik saja. Tampaknya efek rendang sudah sirna.
“Nih barangmu,” kata Duloh sambil menyodorkan barang-barang Daeng.
“Jauh amat kaburmu, Njol.” Hohah menimpali.
“Harus! Daripada hidupku terancam?” Daeng menanggapi Hohah.
Wekape sempat melirik ke belakang mencari sosok bencong tadi, siapa tahu ingin meminta maaf. Tapi yang terlihat hanya petugas kebersihan yang sedang mengangkat plastik berisi sisa kopi sachet dan kulit pisang.
Keluar dari stasiun, Hohah menghirup udara Jakarta yang penuh dengan polusi. “Ah… ibu kota. Aku datang hanya untuk numpang lewat.”
“Gimana kabar Joling, Nabil, dan Sahara ya. Kok rindu ini makin menggebu. Mudah-mudahan mereka lewat sini,” kata Daeng.
Wekape menjentik jidat Daeng. “Heh, Benjol, jangan drama ya. Kita bukan syuting sinetron.”
Daeng nyengir. “Tapi hidup ini kan kayak sinetron, Pe. Ada cinta, ada luka, ada bencong nyanyi di tengah kereta.”
Duloh tertawa. “Dan ada Daeng Benjol yang pingsan demi cinta.”
Semua tertawa. Mereka melangkah keluar dan berjalan ke sisi lain dari stasiun untuk menuju loket tiket KRL. Perjalanan akan dilanjutkan ke Bogor. Sebelum itu, mereka mampir dulu ke warteg sebelah stasiun.
Sambil makan tempe orek dan sop daging, Daeng berkata, “Sumpah, ini perjalanan hidup yang luar biasa. Gua Seplawan, bencong kereta, rendang bangsat, dan teman-teman luar biasa.”
Hohah menyuap nasi, “Daeng, kamu lebay. Tapi ya… kita bangga punya anggota kayak kamu.”
Wekape mengangguk. “Bikin hidup kami lebih ramai.”
Duloh mengangkat gelas teh manis sambil berkata, “Untuk Daeng Benjol. Anggota baru, tukang drama, calon legenda Komunitas Serabi Jenggot.”
“CHEERS!”
—
Empat sekawan dari Komunitas Serabi Jenggot akhirnya mendarat dengan selamat di Bogor. Bukan berarti langsung bahagia, karena begitu mereka keluar dari stasiun, langit mendadak gelap.
“Eh, ini langit kenapa? Baru juga nginjek Bogor,” kata Hohah sambil menatap awan gelap yang menggelantung di atas kepalanya.
Wekape menjawab sambil membuka jaket, “Namanya juga Bogor, Hah. Hujan itu sudah sepaket dengan kota ini. Beli satu dapat dua. Begitu kira-kira.”
Baru saja Wekape selesai ngomong, hujan langsung turun menyambut kedatangan mereka. Rintik-rintik? Jelas tidak. Air hujan seperti ditumpahkan dari atas sana.
“Saya yakin langitnya sedang bocor dan perlu ditambal.” Daeng bicara entah ditujukan ke siapa. Kedua telapak tangannya dia bentangkan di atas kepala untuk menahan air hujan.
Banyak penumpang yang sudah keluar stasiun balik lagi ke dalam. Sebagian nekat hujan-hujanan. Duloh dan tiga sahabatnya memilih cari tempat lain.
Duloh panik, “Cepetan cari tempat berteduh! Nanti Daeng pingsan lagi kena air!”
Daeng melotot, “Eh, jangan bawa-bawa masa lalu dong!”
Mereka berlari ke arah sebuah warung bubur ayam yang terletak di pojok perempatan. Warung itu tampak kecil, tapi aroma buburnya wangi mengundang selera.
Sambil ngos-ngosan, mereka duduk dan memesan bubur. Hujan masih turun deras di luar, ditambah bonus satu dua geluduk dan kilatan petir yang sambung menyambung.
Setelah bubur datang, mereka makan dengan lahap. Rasa buburnya luar biasa gurih, padat, serta topping melimpah berupa ayam suwir, cakwe, daun bawang, dan sedikit sambal merah menyala yang rasanya menampar. Sambal super pedas yang Hohah biasa sebut sambal setan juga disediakan di atas meja. Bagi penikmat bubur yang suka pedas bisa mengambil sendiri bila mau. Begitu penjual bubur meleng, Hohah yang doyan pedas langsung menuangkan lima sendok sambal setan ke dalam mangkuknya. Yang terjadi selanjutnya, Hohah merem melek. Entah menikmati atau justru tersiksa oleh sensasi pedas.
Hohah meminum teh tawar hangat yang selalu disediakan gratis oleh semua penjual bubur ayam. Mulutnya mangap-mangap layaknya gurami.
Selesai makan bubur, Hohah dan kawan-kawannya beristirahat sambil ngobrol dan menunggu hujan reda. Empat mangkuk di hadapan mereka isinya sudah ludes.
Daeng membuka pembicaraan.
“Kadang ya… hidup kita ini absurd. Tapi absurd yang menyenangkan.”
“Iya, kayak bubur ini. Gak jelas bentuknya, tapi bisa bikin tenang,” sahut Duloh.
Hujan akhirnya mereda. Setelah membayar buburnya masing-masing, mereka keluar dari warung dan berjalan pulang ke empat arah berbeda. Rumah mereka memang tidak ada yang searah sejalan. Esok mereka akan kembali aktif menjalankan rutinitas sendiri-sendiri. Mereka sepakat akan berkumpul di markas besar Komunitas Serabi Jenggot alias warung ketoprak Duloh. Wekape yang punya kios koran dan majalah di sebelah warungnya Duloh berkata, “Jangan lupa besok kita kumpul di markas untuk konsolidasi.”







