Tragedi Gua Seplawan

0
428

Cerita ini merupakan kelanjutan dari kisah berjudul Daeng Pattimura. Silakan dibaca dahulu cerita tersebut agar lebih afdal dalam menikmati cerita serial Komunitas Serabi Jenggot.

——————–

Di depan gua, angin sejuk menyambut. Joling selfie sambil pakai filter beautify biar paras ayunya makin moncer. Sahara berdiri dengan anggun, rambutnya berkibar, kulitnya mengilap seperti iklan sabun mandi. Nabil sibuk memotret bebatuan sambil menggumam “ini vibe-nya kayak Bali ya, tapi local taste.”

Dengan senyum penuh percaya diri, Daeng menatap lebar mulut Gua Seplawan yang menganga gelap di depannya. Ia merasa seperti pahlawan dalam film laga yang hendak masuk ke sarang musuh. Sayangnya, musuhnya kali ini bukan penjajah atau penjahat, melainkan tiga perempuan cantik dari Jakarta yang telah membuatnya gelisah sejak bertemu: Nabil, Joling, dan Sahara.

“Saatnya unjuk gigi,” gumam Daeng nyaris berbisik.

Rombongan mulai menuruni anak tangga menuju mulut gua. Dari mulut gua sudah terlihat beberapa stalaktit menggantung di langit-langit gua. Udara makin lembap. Daeng jalan paling depan, bergaya seperti pemandu wisata dadakan.

Di tangan kanannya, ia genggam senter pinjaman dari panitia. Tapi yang ia andalkan bukan cahaya senter itu. Bukan pula sepatu gunung barunya yang masih bersih, tanpa noda lumpur. Yang jadi andalan Daeng adalah insting romantis sekaligus dramatisnya, yang entah mengapa lebih sering mendekati insting seekor ayam jago ketimbang manusia waras.

Beberapa peserta sudah membuka aplikasi kamera dengan flash menyala, berharap bisa mengabadikan stalaktit dan stalagmit yang katanya terbentuk selama ribuan tahun itu. Daeng tak peduli. Dia menunggu momen terbaik.

Begitu berada di dalam gua, suasana berubah drastis. Udara lebih dingin dan lembap. Bau tanah bercampur air kapur begitu terasa. Suara langkah kaki menggema seperti suara pasukan hantu malam. Cahaya redup dari lampu-lampu di dinding gua membantu pandangan, tapi tidak cukup untuk melihat dengan jelas setiap pijakan.

“Nabil, Joling, Sahara, hati-hati ya,” ucap Daeng dengan suara agak keras agar terdengar dramatis dan jantan. Dia yakin ini akan menambah poin di mata para gadis itu.

Joling menoleh dan tersenyum sopan. “Terima kasih, Daeng.”

Senyum itu membuat dada Daeng menghangat, tapi sekaligus membuat langkahnya limbung. Ia nyaris menginjak genangan air. Untungnya dia masih bisa menjaga keseimbangan. Tapi Tuhan tampaknya sedang ingin sedikit bermain-main hari itu.

Beberapa langkah kemudian, saat rombongan mencapai bagian tengah gua—yang cukup luas dan memiliki langit-langit tinggi—tiba-tiba lampu-lampu di dalam gua berkedip-kedip seperti hendak padam. Melihat ini, langsung terbersit ide di benak Daeng apabila lampu mengalami gangguan dan benar-benar mati meskipun hanya sesaat. Ini dia momennya, pikir Daeng sambil tersenyum penuh rencana.

Lampu padam sesuai dugaan Daeng. Gua menjadi gelap total. Hitam pekat. Gelapnya tidak seperti di rumah saat mati lampu yang masih bisa mengandalkan cahaya dari jendela atau tetangga yang punya genset. Ini gelap yang membuat lupa arah, bahkan lihat bentuk hidung sendiri pun tak sanggup.

Daeng langsung bergerak. Dia pikir, kalau dalam gelap dia bisa berdiri tepat di dekat ketiga gadis itu dan kemudian menyalakan senter dengan gaya dramatis sambil mengucapkan puisi, maka dunia akan berhenti berputar, dan waktu akan membeku. Sahara akan menatapnya dengan mata berbinar, Nabil akan tersenyum lebar, dan Joling akan berkata, “Daeng… jantungku berdebar.”

Namun, kenyataan tidak semanis drama Korea yang sering ditontonnya.

Langkah pertama Daeng terlalu lebar. Langkah kedua menginjak batu licin. Langkah ketiga tidak pernah terjadi, karena saat itu juga dia terpeleset.

Tubuhnya meluncur bak kereta super cepat Whoosh Jakarta-Bandung. Senter terlepas dari tangannya dan terpelanting entah ke mana. Yang lebih parah, kepalanya menghantam tonjolan batu di dinding gua. Suara “dug!” yang cukup keras terdengar disertai erangan yang jelas keluar dari mulut Daeng, lalu hening.

“DAENG!” Teriakan itu berasal dari beberapa arah. Nabil, Joling, dan Sahara panik. Rombongan mulai gaduh.

Di tengah gelap, suasana kacau, terdengar suara Wekape.

“Nih orang ke mana?” tanya Wekape sambil berusaha menyalakan fitur senter di telepon genggamnya yang tiba-tiba sulit diaktifkan.

“Daeng hilang!” sahut Joling.

“Astaga, Daeng ke mana?” Sahara panik.

Nabil sok bijak, “Jangan panik. Mungkin dia meditasi.”

“Suara erangan siapa tadi?” tanya Duloh sambil berusaha menyeruput kopi dari termos yang dia bawa.

“DAENG!” teriak Duloh.

Mereka meraba-raba dalam gelap.

Akhirnya, usai beberapa saat pencarian dan tiga kali Hohah berteriak setelah menyentuh sesuatu entah apa, dia menemukan tubuh Daeng tergeletak diam.

“Mana dia? Daeng mana?” suara Duloh terdengar cemas.

Wekape berteriak, “Ini! Di sini! Pingsan!”

Sahara pelan-pelan dan hati-hati berjalan mendekat. 

“Daeng! Bangun!”, kata Joling sambil menerangi wajah Daeng pakai senter di telepon genggam. 

Meskipun hanya mengandalkan cahaya senter telepon genggam yang dinyalakan Hohah, Joling, dan Sahara, terlihat kondisi Daeng. Dia ditemukan tergeletak dengan posisi miring, tangan kirinya seperti mencoba meraih sesuatu sebelum jatuh. Mukanya tertutup tanah basah, dengan sedikit darah mengalir dari pelipisnya. Orang-orang mulai berkumpul. Seorang peserta yang ternyata perawat segera memeriksa keadaannya.

“Pingsan. Tapi napasnya normal. Kayaknya benturan ringan. Kita harus bawa keluar.”

Duloh, yang ikut dalam rombongan dan sempat mendengar suara gedebuk itu, turut mendekat. 

“Ini si Daeng. Kalo bangun nanti, bisa ditebak langsung nyengir sok cool, padahal tadi jatuhnya pasti seperti lele dilempar ke pasir.”

Daeng membuka mata pelan-pelan. Wajahnya lecek, rambut basah berlumpur.

“Eeeenggg… di mana aku?” erangnya.

“Gua Seplawan,” jawab Nabil datar.

“Lampunya mati,” tambah Hohah.

“Aku terpeleset… ” kata Daeng lirih.

Sahara menepuk pipinya, “Kamu kenapa sih? Mau gaya-gayaan ya?”

Daeng nyengir, “Aku cuma mau bikin kenangan.”

“Kenangan apa? Ngemplang ke batu?” Joling tertawa.

Lampu gua menyala kembali. Semua melihat kondisi Daeng. Celana sobek, lutut lecet, sedikit darah di pelipis, jidatnya benjol segede telur puyuh.

Panitia bergerak cepat. Mereka memanggil petugas keamanan wisata dan menggotong Daeng keluar gua dengan tandu darurat. Beberapa peserta membantu membuka jalan. Tiga gadis Jakarta terus mengikut di belakang, terlihat khawatir.

“Kasihan juga ya,” kata Joling sambil mengusap keringat di keningnya.

“Nggak nyangka dia nekat banget,” timpal Nabil.

“Romantis sih… tapi kok ya o’on banget,” kata Sahara pelan, membuat ketiganya nyengir.

Di luar gua, udara segar langsung menyambut. Daeng mulai sadar sepenuhnya. Matanya berkedip beberapa kali. Wajahnya lemah tapi tetap mencoba tampil penuh wibawa.

“Aku… jatuh… karena cinta,” bisiknya pelan seperti aktor utama sinetron.

Duloh yang berdiri di sampingnya langsung mencibir.

“Cinta sama batu gua, maksudnya.” 

Tawa pun pecah.

Ketiga gadis itu tetap berdiri di dekat Daeng. Mereka menyodorkan air minum dan membantu membersihkan mukanya. Daeng tersenyum. Meski kepala benjol dan harga dirinya tergelincir bersama tubuhnya, hatinya membuncah. Bukan karena luka yang akan sembuh, tapi karena tiga perempuan cantik dari Jakarta sekarang melihatnya bukan cuma sebagai peserta rombongan, tapi sebagai Daeng: lelaki yang saking nekatnya, rela jatuh demi cinta, atau setidaknya demi pencitraan romantis. Dan di tengah kepalanya yang masih cenat-cenut, Daeng bersumpah, “Suatu hari nanti, aku akan kembali ke gua ini. Bukan, bukan untuk jatuh… melainkan untuk melamar.”

Tentu saja, tidak jelas siapa yang akan dia lamar. Tapi seperti biasa, Daeng tak butuh rencana matang. Yang penting, dramanya jalan dulu.

Semua duduk di warung depan gua sambil minum teh hangat. Daeng diam. Sahara duduk di sampingnya. 

“Jujur… meskipun memprihatinkan, kamu kocak banget. Aku ketawa sampai sakit perut.”

Daeng tersenyum kecut. 

Sahara berdiri, menepuk bahunya, “Santai aja. Cowok pingsan bukan aib, Daeng. Semoga benjolnya lekas kempes ya.”

Hohah mengangkat gelas, “Untuk Daeng…!”

CHEERS!” semua bersorak.

Rombongan balik ke lokasi acara Ngopi Kere. Mereka kembali menyusuri jalan setapak, jalan yang sama ketika berangkat ke Gua Seplawan. Kepala Daeng masih sedikit pusing, tapi dia berusaha berjalan segagah mungkin. Dia tak mau terlihat lemah di mata tiga gadis incarannya. Sampailah rombongan di lokasi acara meskipun lebih lama dibandingkan waktu berangkat. 

Gunung Kelir mulai menggelap. Cahaya kemerahan terbentuk di ufuk barat. Langit senja mulai merangkak menyelimuti desa yang ada di lereng Bukit Menoreh itu. 

Daeng segera merebahkan tubuh di atas tikar yang sudah digelar panitia di depan rumah induk. Daeng menatap langit sambil merenungi nasib apesnya di Gua Seplawan tadi. Hari itu dia tidak berhasil membuat salah satu atau bila perlu ketiga gadis Jakarta jatuh cinta.

Daeng termenung. Tadi begitu datang dia langsung rebahan, malas untuk membersihkan badan atau sekadar cuci muka. Rambutnya masih basah, kausnya bau lumpur, dan kumis lelenya tampak menggantung lemas seperti semangat cinta yang tak terbalas.

Hanya sebentar Daeng terlihat loyo. Tekadnya segera bangkit.

“Balas dendam,” gumamnya sambil menatap jingga meronanya langit senja. “Hari ini, mereka akan melihat sisi paling laki dari Daeng. Bukan cuma pujangga, tapi juga pahlawan.”

“Aku dengar itu,” sahut Hohah yang juga ikut merebahkan badan di sebelahnya. “Tapi kamu mau ngapain emangnya? Pingsan lagi?”

“Enggak. Kali ini aku akan jadi pemandu gua. Yang gagah. Yang tau jalur rahasia. Yang… disorot lampu senter cinta.”

“Bro, kamu bahkan nyasar ke lubang komodo barusan,” sahut Wekape sambil tertawa. “Mau ngasih tur? Jangan-jangan kita malah dikubur hidup-hidup.”

“Bisa diam enggak sih?” potong Daeng. “Kalian cuma penghalang kisah cinta dua dunia.”

Duloh ikut nimbrung sambil menyesap kopi dari termos, “Kalau cinta dua dunia mah biasanya satunya demit.”

——-

Setelah insiden pingsan, meskipun tidak mengenakkan terutama bagi Daeng selaku korban, ada hikmah positif bagi semua peserta wisata. Ikatan persahabatan mereka makin menguat. Bahkan jidat benjolnya Daeng jadi nama tambahan buatnya. Orang asli Wonosari, Gunung Kidul ini sekarang dipanggil Daeng Benjol. Daeng sendiri tak masalah disebut Daeng Benjol. Baginya, nama itu menjadi pengingat peristiwa manis sekaligus pahit yang terjadi di Gua Seplawan.

Acara Ngopi Kere telah usai. Semua peserta satu persatu maupun berombongan meninggalkan Gunung Kelir. Yang membawa kendaraan pulang sendirian atau mengajak teman baru yang dikenal pas acara. Yang tidak bawa kendaraan diantar oleh mobil yang dulu menjemput mereka di hari pertama.

Nabil, Joling, dan Sahara semobil bareng Wekape, Duloh, Hohah, dan Daeng. Benjol di dahi Daeng mulai mengempis. Pusingnya sudah hilang. Sekarang hatinya kembali berbunga-bunga. Penyebabnya bukan karena benjol yang mengempis atau pusing yang menghilang tapi karena semobil dengan tiga gadis cantik dari Jakarta menuju Yogyakarta. 

Dari Yogyakarta, tiga sekawan dara cantik kembali ke Jakarta dengan bus malam. Wekape, Duloh, dan Hohah yang mendaftar di acara Ngopi Kere atas nama Komunitas Serabi Jenggot kembali ke Bogor. Komunitas ini didirikan oleh lima orang, dua di antaranya adalah Duloh dan Wekape. Selain sebagai pendiri, Duloh juga sebagai ketuanya. 

Daeng yang ternyata tinggal di Bogor ikut bergabung bersama tiga serangkai dari Komunitas Serabi Jenggot kembali ke Kota Hujan. Dia berhasrat mendaftar sebagai anggota komunitas. Ketika Daeng mengutarakan niatnya itu, Wekape dan Hohah langsung setuju. Selaku ketua, Duloh tidak keberatan. Dengan demikian, Daeng otomatis menjadi anggota Komunitas Serabi Jenggot tanpa perlu mengisi formulir keanggotaan dan tetek bengek birokratis lainnya. Komunitas Serabi Jenggot bukan milik instansi pemerintah atau semacam partai politik. Komunitas ini berisi kumpulan rakyat jelata dari berbagai macam profesi yang bermarkas di Bogor. Tempat berkumpul anggota komunitas ini adalah warung ketoprak dagangannya Duloh, bersebelahan dengan kios koran dan majalah milik Wekape.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here