Cerita ini adalah kelanjutan dari kisah sebelumnya berjudul Preman Pasar Anyar yang merupakan bagian dari kumpulan cerita Komunitas Serabi Jenggot.
———————-
Pagi masih malu-malu membuka tirai kabut tipis ketika suara motor tua menjerit-jerit memekakkan telinga. Motor itu seakan beriba-iba minta ampun karena ditunggangi dua manusia yang tak sadar diri akan bobot tubuhnya. Asapnya berhamburan ke mana-mana. Di atas motor, duduk dua sosok yang sudah lama tidak terlihat di Pasar Anyar. Satu tinggi besar dengan kumis melintang duduk di depan, satunya lagi yang membonceng gemuk putih dengan tato bulan sabit di pipi kiri.
“Bah, warung Duloh masih berdiri di tempat biasanya? Jangan-jangan sudah jadi ruko!” Teriak yang gemuk, suaranya nyaring seperti alarm maling, dan sayangnya sama-sama susah dimatikan.
“Sekilat itu? Gak mungkinlah sekarang jadi ruko. Kita perginya saja cuma sebulan dan warung itu masih ada waktu kita tinggal, masak sekarang sudah berubah jadi ruko. Memangnya sulapan,” kata si kumis melintang.
Motor tua makin meraung-meraung ketika jalan menanjak meskipun hanya beberapa centimeter. Dua pengendara yang tampaknya sahabat karib itu terlihat sumringah ketika melihat warung Duloh. Mereka semakin mendekati warung ketoprak yang jadi markas Komunitas Serabi Jenggot.
“Ternyata warung Duloh masih nongkrong di situ, Bah.” Kata si putih gemuk.
“Yoi, Nov.” Jawab si kumis melintang singkat sambil mengerem motor tuanya di depan warung. Rem motor berderit lega terlepas dari siksa neraka dunia.
Pras yang sedang membersihkan bangku panjang langsung berdiri. “Eh buset! Ganov! Bahah! Kagak salah kalian mudik? Sebulan, lagi. Sekarang belum lebaran, abangku! Masih setengah tahun lagi.”
Bahah dan Ganov tidak menggubris omongan Pras. Mereka berdua sedang sibuk meminggirkan motor biar tidak menghalangi jalan.
Ganov turun dari boncengan. Inginnya melompat lincah seperti pendekar kungfu, namun yang terjadi adalah gerakan seekor kungkang. Kita bisa tidur dulu ketika menunggunya menyeberang jalan, apalagi kalau binatang ini pakai istirahat segala di tengah perjalanannya.
Selanjutnya Bahah turun dari motor dengan gerakan lambat dan gemulai penuh perasaan. Buat orang lain, gerakan gemulai dari raksasa tinggi besar berkumis melintang tentu menimbulkan tanda tanya. Benarkah seperti itu? Itu fakta atau fiksi? Namun bagi sahabatnya, justru akan menimbulkan pertanyaan kalau Bahah tidak seperti itu.
“Aku kangen ketoprak,” katanya pelan, sambil memeluk sangat erat Pras kayak sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Sengaja Bahah melakukan itu biar Pras megap-megap.
“Bah lepas, Bah. LEPAS!” Pras meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan raksasa yang baru datang.
“Bangsat kau, Bah.”
Bahah tertawa terkekeh-kekeh melihat Pras ngos-ngosan dibuatnya.
“Ente sehat, Pras?”
“Alhamdulillah sehat, sehat, alhamdulillah,” Pras menjawab dengan ceria. Dia sudah melupakan kelakuan Bahah yang membuatnya susah bernapas.
“Gimana kabar lapakmu, Pras?” Sekarang gantian Ganov yang menyapa sambil mengajak salaman dengan kedua tangan tertangkup.
“Aman-aman saja, Nov,” kata Pras sambil menyambut tangan Ganov untuk bersalaman.
“AAAAAAAHHH… lepaskan, Nov. LEPASKAN GENDUUUUUT!” Pras teriak histeris.
Bukannya melepaskan salamannya, Ganov malah terbahak-bahak. Tangannya makin kencang menggenggam tangan Pras. Pras hanya bisa mengguncang-guncangkan tangan Ganov, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman yang semakin kuat. Rupanya ada tarantula mainan berwarna hitam dari karet di tangan Ganov. Pras bergidik, jijik, dan takut bercampur aduk merasakan barang menggeletar menggelikan di telapak tangannya.
Untung keisengan sahabatnya itu hanya sesaat. Begitu Ganov melepaskan tangan dan Pras melihat yang tertinggal di telapak tangannya adalah laba-laba raksasa hitam, secara refleks dia lemparkan mainan itu jauh-jauh.
“Hiiiiii…!”
“Sialan lu, Nov!”
“Demen bener gua, Pras, lihat lu heboh gitu. Hahahaha…”
Pras segera masuk ke warung diikuti Ganov dan Bahah. Dia tak marah dengan keisengan kedua sahabatnya. Bukan sekali ini dia diisengi, bukan hanya oleh Ganov dan Bahah, sahabatnya lain juga suka jahil.
Ganov langsung memesan ketoprak tanpa melepaskan helm di kepalanya.
Suaranya tinggi melengking seperti orang marah.
“Gua lapar! Bikinin satu, Loh! Pedesnya sedang!”
Duloh hanya mendengus, “Karena kamu pendiri Komunitas Serabi Jenggot, aku kasih bonus cabai, biar ngomelmu lebih pelan.”
“Ngomel apaan, gua kan ngomong halus!” Ganov nyengir, tapi tetap dengan nada suara tinggi.
Wekape dari kios sebelah langsung menyambar, “Lah, halus gimana? Suara kayak TOA kesamber petir gitu dibilang halus. Aku kira malah alarm kebakaran tadi.”
Pras tertawa terpingkal-pingkal, “Gila, akhirnya lengkap lagi. Komunitas Serabi Jenggot bersatu! Panggil produser FTV, bro, ini seperti reuni boyband yang bubar karena beda prinsip!”
Bahah duduk dengan pelan, menatap ketoprak di atas piring seperti sedang menatap masa depan yang tak pasti.
“Aku rindu ente semua. Kangen Pasar Anyar. Pengin ketemu kucing-kucing di parkiran. Dan tentu saja… rindu episode terbaru The Empress Ki.”
Ganov menoleh dengan cepat sambil melepas helm yang masih bertengger di kepalanya. Helm itu kemudian dia taruh di atas gerobak ketoprak.
“Lu nonton itu juga? Gua pikir cuma emak-emak pengajian yang langganan.”
“Ente gak ngerti, Nov. Itu serial bukan cuma tentang cinta. Itu tentang perjuangan batin manusia menghadapi realitas sosial ekonomi yang timpang. Dan oppanya ganteng,” jawab Bahah serius.
Duloh menghela napas, “Kayaknya kamu bukan cuma mudik deh, Bah. Kamu sudah nyemplung ke jurang emosional. Mau saya belikan tisu?”
Bahah mengangguk pelan, “Kalau bisa beli setoko-tokonya, biar maksimal.”
Sementara itu, Ganov menyantap ketoprak dengan cara yang tidak bisa dikatakan sopan. Mulutnya mengunyah cepat, suara makannya kayak mixer rusak. Tapi yang bikin semua kaget adalah ketika dia berhenti mengunyah, menatap kosong ke depan, lalu berkata.
“Gua semalam mimpi ketemu nenek gua. Dia bilang gua harus balik ke Pasar Anyar. Dia bilang jangan jadi tukang parkir di mal. Katanya di sana cuma ada mobil, gak ada jiwa.”
Wekape terbatuk karena menahan tawa.
“Itu bukan mimpi spiritual, Nov. Itu tanda kamu sudah kebanyakan makan cimol di parkiran mal.”
“Serius, Pe. Gua merasa terpanggil. Di mal, gua cuma jadi bayangan pintu otomatis. Di Pasar Anyar, gua bisa jadi sesuatu. Jadi legenda.” Ganov berdiri dan menepuk dada, agak dramatis kalau tidak dibilang lebay.
“Jadi preman?” tanya Pras sinis.
“Enggak. Gua mau jadi kepala bidang parkir Komunitas Serabi Jenggot. Kita bikin sistem. Parkir teratur. Gak ada lagi motor diparkir kayak cendol kusut.”
Bahah mengangguk setuju.
“Aku juga mau aktif lagi. Aku bisa jaga warung malam-malam. Kan aku satpam. Kalau ada orang nyolong, aku kejar. Tapi sebelumnya aku tanya dulu motivasinya, biar gak terlalu kejam.”
Duloh hanya nyengir mendengar semua obrolan itu.
Di pagi yang agak mendung itu, kelima anggota pendiri Komunitas Serabi Jenggot duduk melingkar di warung Duloh. Ada kopi, ada gorengan, dan tentu saja, ada ketidakjelasan rencana. Tapi justru dari ketidakjelasan itulah segala hal besar biasanya lahir, atau minimal jadi bahan tertawaan.
Ganov berdiri dan mengangkat gelas plastik isinya teh manis, “Gua kasih usul, nih. Kita bikin acara kumpul akbar Komunitas Serabi Jenggot. Ajak semua pedagang serabi, penjual ketoprak macam Duloh ini, tukang parkir, satpam, tukang sapu, bahkan pengangguran tersesat. Kita adakan lomba, misalnya lomba jenggot paling filosofis.”
“Jenggot filosofis itu kayak apa?” Tanya Duloh yang punya jenggot kambing.
“Itu bisa kita bahas nanti bila usulanku disetujui,” jawab Ganov.
Pras mengangkat tangan, “Gue setuju! Tapi juga harus ada lomba tato terkreatif. Biar si Bahah kepikiran bikin tato wajah oppa favoritnya.”
Bahah langsung menoleh, “Jangan sembarangan, Pras. Wajah oppa harus dilukis dengan teknik khusus. Tidak semua tukang tato mampu.”
Duloh menyahut sambil jari telunjuknya mengetuk-ketuk meja.
“Boleh, boleh. Tapi kita harus punya anggaran. Kita tidak bisa cuma jual ketoprak atau mengandalkan uang parkir atau uang keamanan. Kita harus jual mimpi.”
Wekape berdehem.
“Kita bisa jual mersedes, contohnya kaos bertulisan Serabi Bukan Cuma Kue, Tapi Juga Sikap Hidup.”
“Apa itu mersedes?” Tanya Pras bingung.
“Maksud ente jual mobil, Pe?” Bahah juga ikut bingung.
Duloh menimpali, “Merchandise kali maksudnya.”
“Iya, itu maksudku,” kata Wekape.
Mereka semua terdiam sejenak. Lalu tertawa. Iya, memang absurd. Tapi absurditas itulah yang menjadi fondasi kokoh komunitas mereka. Komunitas yang lahir bukan dari kesamaan hobi atau status sosial, tapi dari tawa, dari luka yang tidak ditutup-tutupi, dan dari serabi yang entah kenapa, selalu punya kekuatan menyatukan. Hal lain yang juga makin memperkokoh adalah rasa kekeluargaan dan semangat saling menolong.
“Gua janji,” kata Ganov pelan, “mulai sekarang, Komunitas Serabi Jenggot bakal punya aturan. Setiap anggota harus bisa kasih satu kontribusi nyata. Entah itu bikin kopi, jaga parkir, kasih makan kucing pasar, atau sekadar jadi bahan tertawaan.”
Bahah mengangguk.
“Aku bisa menyumbang daftar lagu-lagu sedih. Biar suasana haru kalau hujan turun.”
Pras menimpali, “Gue bisa bantu bagian keamanan. Tapi ingat, gue tetap takut cicak.”
Duloh berdiri, “Baiklah, saudara-saudara. Saatnya kita susun rencana. Komunitas Serabi Jenggot bukan hanya komunitas. Ini revolusi budaya!”
Wekape berteriak, “Hidup serabi! Mati kenyang!”
Semua tertawa mendengar teriakan Wekape. Tertawa bingung.
Di tengah tawa, hujan gerimis mulai turun. Walaupun demikian, tidak ada yang beranjak. Di bawah atap warung sederhana itu, lima pria dengan keunikan masing-masing menyusun rencana yang mungkin tidak akan pernah sempurna, tapi pasti akan sangat menghibur.







