Persatuan yang Tidak Direncanakan

0
259

Cerita ini adalah kelanjutan dari kisah sebelumnya berjudul Bahah dan Ganov yang merupakan bagian dari kumpulan cerita Komunitas Serabi Jenggot.

———————-

Di Pasar Anyar, sebuah pasar tradisional yang terletak di jantung kota, terdapat beberapa orang yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Duloh, seorang pedagang ketoprak yang terkenal dengan rasa ketopraknya yang lezat, Wekape, seorang penjual koran dan majalah yang selalu memiliki senyum manis, Pras, seorang preman pasar yang memiliki reputasi sebagai preman baik, Bahah, bertubuh tinggi besar berkumis melintang tapi gemulai, adalah seorang satpam perumahan yang selalu waspada, dan Ganov, meskipun lamban karena tubuhnya oversize, merupakan tukang parkir yang handal dalam mengatur lalu lintas.

Mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu mereka semua memiliki kehidupan yang tidak mudah. Duloh harus berjuang untuk membuat ketopraknya menjadi yang terbaik, Wekape harus berjuang untuk menjual koran dan majalahnya, Pras harus berjuang untuk mempertahankan reputasinya sebagai preman pasar, Bahah harus berjuang untuk menjaga keamanan perumahan, dan Ganov harus berjuang untuk mengatur lalu lintas dan keamanan kendaraan yang menjadi tanggung jawabnya.

Mereka semua biasa berkumpul di warung ketoprak Duloh, yang terletak di Pasar Anyar. Warung ketoprak Duloh adalah tempat yang nyaman dan hangat, dengan aroma ketoprak yang lezat dan suasana yang santai.

‐–

Mentari pagi baru saja menyapa hangat Pasar Anyar, dengan sinarnya yang lebih mirip sorotan lampu warung kopi daripada cahaya ilahi. Udara masih penuh aroma kombinasi antara daun kol, gorengan semalam, dan sedikit harapan palsu dari kios-kios yang belum laku jualannya. Di antara hiruk pikuk itu, seorang pria jangkung dengan jenggot kambing melambai-lambai seperti daun kelor kering berdiri tegak di depan gerobak ketoprak.

Duloh namanya. Warga asli Cirebon. Dulu dia penjual serabi, sekarang banting setir jadi pedagang ketoprak. Alasannya? “Modal kelapa mahal, mendingan beli tahu,” katanya suatu sore sambil meneguk sisa kopi kental sampai tinggal ampas di dasar gelas.

Selain menjual ketoprak, Duloh juga menyediakan kopi sachet untuk pembeli ketopraknya. Awalnya dia hanya jualan ketoprak. Karena banyak yang menanyakan kopi dan agak dipaksa teman-temannya, Duloh akhirnya menjual kopi meskipun yang dijual hanya kopi khas Bogor seperti Liong Bulan, Oplet, Piala, dan Kacamata Bah Sipit.

Di sebelah kiri gerobaknya, berdiri kios koran dan majalah. Pemiliknya, Wekape, lebih dikenal dengan julukan Kepala Redaksi Dunia Nyinyir. Dengan tubuh kekar dan rambut cepak ala tentara yang baru pensiun dari drama keluarga, Wekape bangga menyebut dirinya sebagai Sumber Segala Fakta yang Tidak Diminta. Dia tidak hanya menjual berita, tapi juga menambahkan opini yang tidak pernah lewat proses verifikasi.

Suatu pagi, ketika kopi Duloh masih panas dan harapan Wekape untuk menang undian majalah masih segar, datanglah Ganov.

“WOY! SIAPA YANG NARUH MOTOR DI TEMPAT GUA PARKIR?” teriaknya dengan suara melengking seperti teko mendidih.

Ganov, si tukang parkir penuh semangat dari Bogor. Tubuhnya besar, lebih tepatnya gembrot, kulit putih pucat seperti belum pernah melihat matahari, dan di pipi kirinya ada tato bulan sabit yang katanya simbol keseimbangan hidup, padahal itu bekas taruhan kalah waktu mabuk.

“Nov, kamu mabuk kendaraan ya? Baru jam tujuh sudah teriak kayak sirene ambulan kurang bensin,” sahut Wekape dari balik tumpukan majalah bekas.

“Gua tuh bukan mabuk! Gua tuh emosian, ngerti kagak?” balas Ganov cepat, lalu mengangkat dagunya ke arah Duloh. 

“Loh, kopi satu! Yang pahitnya kayak masa lalu gua!”

“Kopi apa nih?” 

“Yaelah pakai nanya. Kayak baru kenal gua aja lu, Loh. Kopi biasalah.”

“Siapa tahu berubah selera.”

“KAGAK!”

Duloh hanya mengangguk pelan, lalu menyeduh kopi favorit tukang parkir gembrot itu sambil membaca koran hasil pinjam dari kios Wekape. Ia memang suka membaca, walau seringkali tidak paham isi beritanya. Yang penting kelihatan intelek. 

“Berarti kamu habis ribut lagi ya, Nov?”

“Gua ribut tiap hari, Loh. Hidup ini emang medan perang,” sahut Ganov sambil duduk dengan posisi yang tidak ergonomis.

Beberapa menit kemudian datang Bahah, satpam perumahan dari Bogor juga. Tubuhnya besar, berkumis melintang seperti jalan tol tanpa ujung, dan langkahnya lambat seperti tidak punya semangat hidup. Bahah terkenal pendiam, tapi kalau sudah nonton drakor, komentarnya bisa lebih panjang dari transkrip sidang DPR.

“Assalamu’alaikum! Loh, ente bikin ketoprak satu, yang pedes ya. Biar hidup ini lebih ada rasa,” kata Bahah lirih. Dia habis ditinggal tokoh utama favoritnya mati di episode terakhir drakor yang ditontonnya.

Wekape menyambar, “Wah, kamu sedih lagi nonton drama Korea, Bah?”

“Sedih banget, Pe. Si pemeran utamanya mati demi cinta,” jawab Bahah, hampir berkaca-kaca.

“Kenapa nggak lu aja yang gantiin dia, Bah?” celetuk Ganov sambil ngunyah kerupuk.

Tidak lama, datanglah si bintang terakhir dalam formasi lima sekawan, Pras.

Dengan langkah pendek, bibir manyun, dan tato lengkuas menyala di lengan kirinya, Pras langsung melemparkan diri ke bangku kayu, lalu mengangkat kakinya seolah baru saja menaklukkan Gunung Pangrango. 

“Gue cape, Bro. Tukang ikan baru lagi bikin ulah. Masa dia jualan tanpa ijin gue? Gue preman pasar bukan patung pajangan!”

“Kamu suruh minta izin kayak mau pinjam bumbu dapur saja, Pras,” sindir Duloh sambil menyajikan sepiring ketoprak tanpa cabai pesanan Pras.

“Lu emang pengusaha peduli pelanggan, Loh. Paham banget selera pembeli. Hidup ini sudah pedas, ketoprak nggak usah ikut-ikutan pedas.” Pras mengangguk puas setelah sebelumnya mencolek sambal ketoprak menggunakan kerupuk lalu dia jilat.

Wekape yang dari tadi memandangi mereka satu-satu, tiba-tiba berseru, “Eh, tahu nggak, aku kepikiran sesuatu.”

“Biasanya kalo kamu ngomong ‘kepikiran’, kita mesti siap dengan bencana,” cetus Ganov.

“Enggak, ini serius. Gimana kalau kita bikin komunitas?”

“Maksudnya?” tanya Duloh sambil menyeruput kopi.

“Komunitas nongkrong. Kita ini kan tiap hari ketemu, ngobrol ngalor-ngidul, bahas berita sampai gosip tetangga. Tapi gak punya nama. Masa kita kalah sama Komunitas Penggemar Kue Balok?” Jelas Wekape, antusias.

Pras angkat alis, “Komunitas apa coba?”

“Komunitas Serabi Jenggot!” Wekape menjawab penuh keyakinan.

“Hlah! Dengar namanya, nanti kalau ada yang berpikiran komunitas itu isinya pasti orang-orang mesum gimana?”

“Mesum apanya? Dia saja sendiri yang otaknya mesum. Ngeres. Pikirannya penuh kopinya Duloh.”

“Maksudnya?”

“Hitam.”

Duloh memicingkan mata, “Kenapa itu namanya?”

“Karena kamu dulunya jual serabi dan punya jenggot. Simbol keotentikan. Simbol tradisi. Simbol… entahlah, pokoknya terdengar sakral dan penuh misteri.”

Ganov tertawa sampai hampir terguling dari bangku yang dia duduki. 

“Gila! Ini ide paling ngaco tapi gua suka!”

“Ente yakin itu nama komunitas, bukan nama jajanan baru?” tanya Bahah ragu.

“Justru itu! Nama itu mengandung sejarah. Simbol perjuangan dari dagang serabi sampai jadi ketoprak. Dari jenggot sampai jadi filosofi,” Wekape menjelaskan dengan penuh semangat seperti sedang kampanye pemilu.

Akhirnya, dengan suara bulat dan karena tidak ada yang berminat mendebat, mereka sepakat dengan nama yang diusulkan Wekape. 

Komunitas Serabi Jenggot lahir pagi itu, di tengah ketoprak, kopi, dan perasaan tidak tahu harus bangga atau malu.

Duloh diangkat sebagai ketua karena dianggap paling senior dan berjenggot, serta memang dia satu-satunya yang pernah jualan serabi. Apalagi waktu dagang serabi, pembeli langganannya menyebut serabinya serabi jenggot. Klop sudah dia jadi ketuanya.

Wekape jadi tukang dokumentasi sekaligus humas walau tidak ada media yang peduli. Setidaknya setiap hari dia bergelut dengan media, maksudnya media massa, ya koran dan majalah yang dia jual itu.

Pras jadi bagian keamanan, tentu saja. Posisi itu dianggap pas baginya karena dia hampir dikenal oleh seluruh penghuni Pasar Anyar baik yang kasatmata maupun yang gaib, baik manusia ataupun binatang.

Bahah ditunjuk sebagai pasukan keamanan cadangan yang bisa difungsikan melengkapi gugus tugasnya Pras. Dengan tubuh meraksasa berkulit coklat gelap berkumis melintang, cocok ditaruh di bagian depan sebagai portal, atau setidaknya bisa jadi patung pajangan untuk menakut-nakuti biang rusuh. Bahah setuju dengan tugas itu asal dia juga menjadi penanggung jawab acara nonton bareng drakor dan bapak pelindung kucing pasar.

Ganov di bagian logistik alias petugas angkat junjung barang pas ada acara. Meskipun lambat, tenaganya ternyata sebanding dengan bobot tubuhnya. Yang bisa menandinginya hanya Bahah dan pohon asam tua di kuburan dekat alun-alun.

Mereka tidak pernah menyangka, komunitas yang mereka deklarasikan ini justru membuat mereka lebih terorganisir, lebih kompak, dan yang terpenting, lebih punya alasan untuk nongkrong tiap hari tanpa rasa bersalah.

Seperti itulah Komunitas Serabi Jenggot berdiri. Bukan dari seminar, bukan dari proposal proyek, tapi dari obrolan warung dan sisa-sisa hidup yang masih bisa ditertawakan bareng. Bisa dibilang komunitas ini merupakan pengejawantahan dari persatuan yang tidak direncanakan sebelumnya atau belum terpikirkan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here