Tiga hari setelah insiden ‘kuliner infus’ di Rumah Sakit Leuwiliang, terjadi obrolan di grup WA Emak-emak Gaul Forever.
Wulan (15:23): Girls, kalian lihat IG Story aku belum? Ada vila bagus banget nih di Sukabumi! 😍
Vanda (15:24): Tunggu, buka dulu…
Vanda (15:25): YA AMPUN! KECE BANGET! Villa di tengah hutan gini romantis banget! 😭
Rose (15:26): Wah, pemandangannya bagus banget. Berapa per malam?
Wulan (15:27): 2 juta untuk 4 kamar. Kalau kita berempat, 500 ribu per orang per malam.
Vanda (15:28): MURAH BANGET! YUK KE SANA WEEKEND INI!
Lilac (08:29): Eh tapi Olive di Korea…
Vanda (08:30): Ya sudah, kita pergi saja. Dia lagi tur ke istana-istana kan? Pasti sibuk.
Rose (08:31): Yakin nih? Nanti dia ngamuk lho…
Vanda (08:32): Tenang saja! Kita foto-foto banyak terus tag dia. Dia pasti suka!
Wulan (08:33): Oke deal! Aku booking sekarang ya!
Tiga hari kemudian, Olive muncul di grup WA Emak-emak Gaul Forever.
Olive (02:47 KST): HALOOOOO! Baru buka HP setelah seharian tur Istana Gyeongbokgung!
Olive (02:48 KST): Tunggu… KALIAN PERGI KE VILA TANPA AKU? 😡😡😡
Olive (02:49 KST): INI APA-APAAN SIH! Kenapa nggak ngajak aku?
Vanda (12:50): Ol, kamu kan lagi sibuk tur…
Olive (02:51 KST): SIBUK GIMANA! Aku bisa saja ubah jadwal!
Olive (02:52 KST): Kalian jahat banget! Aku di sini sendirian, kalian enak-enakan staycation!
Rose (13:00): Sori Ol, ini dadakan banget sih…
Olive (03:01 KST): Dadakan apanya! Aku lihat booking Wulan itu tiga hari yang lalu!
Lilac (13:05): Ol, tenang… Nanti kalau kamu sudah balik, kita ke sana lagi deh!
Olive (03:06 KST): Janji?
Vanda (13:07): JANJI! Malah nanti kita sewa yang lebih kece lagi!
Olive (03:08 KST): Oke! Tapi kalian harus kirim video call tiap jam! Aku mau ikut virtual!
Wulan (13:10): Siap komandan! 😂
—
Jumat sore, setelah macet total di Jagorawi selama tiga jam, mereka berempat minus Olive akhirnya sampai di vila yang ternyata benar-benar berada di tengah hutan. Lokasinya memang Instagramable banget dengan pemandangan pegunungan dan udara yang sejuk. Tapi yang bikin agak merinding, untuk sampai ke vila, mereka harus melewati jalan setapak yang cukup gelap dan sepi.
“Girls, ini beneran aman nggak sih?” Vanda mulai khawatir ketika mobil Rose berhenti di depan gerbang vila yang terlihat sepi.
“Tenang saja, Van. Ini kan vila resmi. Ada satpamnya juga kok,” Wulan menenangkan sambil menunjuk pos satpam yang memang ada, tapi satpamnya sedang tidak ada.
“Lho, orangnya mana?” Rose ikut khawatir.
“Mungkin lagi patroli atau ke toilet,” Lilac mencoba berpikir positif.
Vila itu memang cantik seperti di foto. Arsitektur kayu yang artistik, kolam renang kecil di tengah, dan pemandangan hutan yang hijau. Tapi suasananya… agak terlalu sepi dan sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dan angin yang bertiup di antara pepohonan.
“Oke, ini memang bagus banget. Tapi kenapa rasanya kayak lokasi film horor ya?” Vanda bergidik sambil menarik kopernya.
“Jangan paranoid, Van. Ini kan hutan. Wajar kalau sepi,” Rose mencoba rasional meski dalam hati juga agak deg-degan.
Mereka masuk ke vila dan memilih kamar masing-masing. Vanda dengan strategis memilih kamar yang paling dekat dengan kamar teman-temannya, tentunya dengan alasan ‘supaya gampang kalau mau ngobrol’. Padahal aslinya karena dia takut tidur sendirian di tempat sepi seperti ini.
“Girls, kita video call Olive dulu yuk sebelum dia ngamuk lagi,” Wulan mengajak sambil menyiapkan HP-nya.
“HALOOO DARI SEOUL!” Olive muncul di layar dengan latar Istana Gyeongbokgung.
“Wah, kece banget Ol! Kamu di istana mana lagi?” Rose penasaran.
“Gyeongbokgung Palace! Saya baru saja lihat pergantian penjaga istana. Keren banget! Tapi saya lebih penasaran sama vila kalian. Ayo kalian berkeliling!”
Mereka pun memutari vila sambil video call dengan Olive. Mulai dari ruang tamu, dapur, kolam renang, sampai kamar-kamar. Olive terlihat iri sekaligus kagum dengan pemandangan vila.
“Wow, aku akui vila kalian memang keren banget. Tapi tetep saja kalian jahat ninggalin aku!” Olive masih ngambek.
“Nanti kita ke sana lagi sama kamu, Ol. Janji!” Vanda meyakinkan.
“Btw, kenapa suaranya kayak ada gaung gitu? Dan kok sepi banget?” Olive memperhatikan audio dari video call.
“Soalnya kita di tengah hutan, Ol. Makanya sepi,” Lilac menjelaskan.
“Hmm, seram. Kalian hati-hati ya malam-malam. Jangan sampai ada apa-apa.”
“Tenang saja, Ol. Kita kan berempat,” Wulan menenangkan.
Setelah video call dengan Olive selesai, mereka memutuskan untuk masak makan malam bersama. Menu yang dipilih simpel, mie instan dengan telur dan sosis, plus kerupuk yang mereka beli di minimarket tadi.
“Puji Tuhan, setelah insiden Padang kemarin, aku bisa makan normal lagi,” Vanda bersyukur sambil menyeruput kuah mie.
“Jangan diingat-ingat lagi, Van. Yang penting kita lagi menikmati kebersamaan sekarang,” Rose mengingatkan.
“Betul! Dan kali ini tidak ada petualangan kuliner gagal,” Lilac menambahkan sambil nyengir.
Setelah makan malam, mereka duduk-duduk di teras sambil menikmati udara malam yang sejuk. Suasana hutan memang damai, tapi juga agak bikin merinding karena gelap gulita dan hanya diterangi lampu teras vila.
“Girls, kalian dengar suara aneh nggak?” Vanda tiba-tiba bertanya sambil menoleh ke arah hutan.
“Suara apa? Yang ada cuma suara jangkrik sama angin,” Rose mendengarkan dengan seksama.
“Iya, normal kok, Van. Jangan paranoid,” Wulan menenangkan.
“Mungkin karena aku belum terbiasa sama suasana hutan,” Vanda mencoba meyakinkan diri sendiri.
Jam sepuluh malam, mereka memutuskan untuk tidur karena besok pagi mau mendaki ke air terjun yang katanya tidak jauh dari vila. Sebelum masuk kamar masing-masing, mereka sepakat untuk meninggalkan pintu kamar tidak dikunci rapat supaya bisa saling menyapa kalau ada apa-apa.
“Malam, Girls! Sweet dreams, ya!” Vanda masuk ke kamarnya sambil masih agak deg-degan.
“Malam, Van! Kalau ada apa-apa teriak saja!” Rose berpesan sebelum masuk kamar.
Vanda masuk ke kamarnya dan langsung mengecek semua sudut. Kamar memang nyaman dengan tempat tidur queen size dan jendela besar yang menghadap langsung ke hutan. Pemandangannya bagus sih, tapi di malam hari terlihat agak menyeramkan.
Dia mencoba tidur tapi tetap tidak bisa pulas. Setiap ada suara aneh sedikit, langsung terbangun. Sampai akhirnya sekitar jam 12 malam, dia mendengar suara yang benar-benar membuatnya panik.
“Huuuu… huuu… huaaa… huaaa…”
Suara seperti perempuan menangis terdengar jelas dari arah jendela kamarnya. Vanda langsung bangun dan duduk tegak di tempat tidur sambil gemetar.
“Suara apa itu?” bisiknya ketakutan.
Suara itu terus berlanjut. “Huuu… huaaa… huuu… huaaa…” Seperti ada perempuan yang sedang menangis dengan sangat sedih di luar jendela.
Vanda tidak tahan lagi. Dia langsung loncat dari tempat tidur, ambil tasnya, dan berlari ke luar kamar sambil berteriak.
“GIRLS! GIRLS! BANGUN! ADA YANG ANEH!” dia menggedor-gedor pintu kamar Wulan dengan keras.
“Van? Kenapa?” Wulan membuka pintu dengan mata masih setengah tertutup.
“WULAN! Kita harus pulang sekarang juga!” Vanda langsung masuk ke kamar Wulan sambil menangis gemetaran.
“Lho, kenapa? Ada apa?” Wulan bingung melihat Vanda yang pucat dan gemetar.
“Ada suara perempuan nangis di luar jendela kamarku! Aku nggak bisa tidur di sini!” Vanda memeluk Wulan sambil terisak.
“Perempuan nangis? Van, kita di tengah hutan. Mana mungkin ada perempuan nangis?”
“AKU DENGAR SENDIRI! Suaranya jelas banget! Huuu… huaaa… gitu terus!”
Rose dan Lilac yang mendengar keributan langsung keluar dari kamar mereka.
“Ada apa ini?” Rose khawatir melihat Vanda yang menangis.
“Vanda bilang dengar suara perempuan nangis,” Wulan menjelaskan.
“Van, coba tenang dulu. Mungkin cuma suara angin atau binatang hutan,” Lilac mencoba menenangkan.
“BUKAN! Aku tahu suara perempuan nangis itu kayak gimana! Ini beneran suara orang nangis!” Vanda ngotot sambil masih gemetar.
“Kalau gitu kita cek bareng-bareng yuk,” Rose mengajak.
“NGGAK MAU! Aku nggak mau balik ke kamar itu lagi! Kita pulang sekarang juga!”
“Van, ini sudah tengah malam. Mau pulang ke mana?” Wulan mencoba mengajak Vanda berpikir logis.
“Hotel! Kita nginep di hotel saja! Yang penting nggak di sini!”
“Vanda, ayolah. Ini cuma sugesti saja. Kamu kecapean dan stres makanya halusinasi,” Lilac berusaha rasional.
“AKU NGGAK HALUSINASI! KALIAN NGGAK PERCAYA SAMA AKU?”
Melihat Vanda yang sudah histeris, ketiga sahabatnya mulai khawatir. Apalagi ingat insiden pingsan di warung Padang kemarin. Mereka tidak mau Vanda stres berlebihan lagi.
“Baik, baik. Kita cari hotel terdekat,” Rose akhirnya menyerah.
“Serius? Kita mau check out jam segini?” Wulan tidak percaya.
“Vanda sudah kena serangan panik, Wul. Kita nggak bisa maksa dia,” Rose menjelaskan sambil memeluk Vanda yang masih gemetar.
Mereka pun akhirnya memberesi barang-barang yang dibawa dengan terburu-buru di tengah malam. Vanda sama sekali tidak mau kembali ke kamarnya, jadi Rose dan Lilac yang mengambilkan barang-barangnya.
Saat mereka sedang berkemas, tiba-tiba suara perempuan menangis itu terdengar lagi.
“DENGAR NGGAK? ITU DIA LAGI!” Vanda teriak sambil menunjuk ke arah jendela.
Ketiga sahabatnya diam sejenak mendengarkan. Dan memang benar, ada suara ‘huuu… huaaa… huuu… huaaa…’ yang terdengar dari luar.
“Oke, itu memang suara aneh,” Rose mengakui sambil bergidik.
“MAKANYA! Aku nggak mau tidur di sini!” Vanda semakin panik.
Mereka berempat langsung bergegas keluar dari vila sambil membawa semua barang. Di dalam mobil, mereka masih bisa mendengar suara aneh itu dari kejauhan.
“Google Maps bilang ada hotel di pusat kota Sukabumi. Tiga puluh menit dari sini,” Rose mengecek GPS sambil menyalakan mesin mobil.
“Yang penting jauh dari sini,” Vanda menjawab sambil masih gemetar.
Perjalanan menuju hotel cukup menegangkan karena jalanan gelap dan berkelok. Tapi setidaknya mereka sudah menjauh dari ‘vila berhantu’ itu.
Sampai di hotel, resepsionis terlihat bingung melihat empat perempuan datang jam dua pagi dengan wajah pucat dan buru-buru.
“Maaf, ada kamar kosong nggak? Empat orang,” Rose bertanya.
“Ada, Bu. Tapi kenapa check-in tengah malam? Ada masalah?” resepsionis penasaran.
“Panjang ceritanya. Yang penting ada kamar saja,” Rose menjawab singkat.
Setelah dapat kamar dan mereka sudah agak tenang, Wulan baru ingat untuk mencari info di Google tentang suara aneh yang mereka dengar tadi.
“Girls, coba kalian dengar ini,” Wulan memutarkan video dari YouTube tentang suara kukang.
“Huuu… huaaa… huuu… huaaa…”
“OH MY GOD! INI DIA! Suara yang tadi!” Vanda teriak sambil menunjuk HP Wulan.
“Kukang?” Rose tidak percaya.
“Iya! Kukang itu primata nokturnal yang hidup di hutan. Suaranya memang mirip orang nangis,” Wulan menjelaskan sambil baca artikel di internet.
“Jadi… yang bikin aku panik itu cuma suara kukang?” Vanda mulai merasa bodoh.
“Yep. Faktanya, kamu memang dengar ‘perempuan’ menangis. Cuma bukan perempuan manusia,” Lilac nyengir.
“Ya ampun, Van. Kita jadi check out tengah malam gara-gara kukang,” Rose geleng-geleng kepala sambil tertawa.
“Hey! Kalian juga ikut panik tadi!” Vanda membela diri sambil muka merah.
“Iya sih. Suaranya memang seram banget,” Wulan mengakui.
“Yang penting kita sekarang aman di hotel berbintang dengan AC dan WiFi,” Rose mencoba positif.
“Dan sarapan prasmanan besok pagi,” Lilac menambahkan.
“Eh, tapi gimana sama booking vilanya? Kan sudah bayar,” Wulan baru ingat.
“Ya sudah, anggap saja sebagai donasi untuk konservasi kukang,” Vanda menjawab sambil nyengir.
Mereka berempat akhirnya tertawa mengingat betapa konyolnya situasi malam ini. Dari rencana liburan romantis di vila hutan berubah jadi kabur tengah malam gara-gara takut sama kukang.
“Besok gimana ceritanya ke Olive?” Rose bertanya.
“Bilang saja kita upgrade akomodasi karena vilanya tidak sesuai ekspektasi,” Vanda menjawab diplomatik.
“Maksudnya ada kukang yang ganggu tidur?” Lilac nyeletuk.
“Tepat! Terganggu oleh satwa lokal,” Vanda tertawa.
“Olive pasti ngakak kalau tahu cerita lengkapnya,” Wulan bisa membayangkan reaksi Olive.
“Makanya jangan bilang detail. Cukup bilang kita pindah hotel saja,” Vanda meminta.
Keesokan paginya, mereka sarapan di hotel sambil video call dengan Olive yang baru bangun di Seoul.
“Pagi, Girls! Gimana vilanya? Tidur nyenyak?” Olive bertanya sambil menguap.
“Ehmm… kami pindah hotel, Ol,” Rose menjawab singkat.
“Pindah hotel? Kenapa? Vilanya tidak bagus?”
“Bagus sih, tapi… ada gangguan,” Vanda menjawab diplomatik.
“Gangguan apa? WiFi lemot?”
“Seperti itulah,” Wulan ikut menutupi.
“Hmm, mencurigakan. Tapi ya sudahlah. Yang penting kalian senang. Hotelnya gimana?”
“Bagus! Ada sarapan prasmanan, AC-nya dingin, dan yang paling penting… tenang,” Vanda menekankan kata ‘tenang’.
Setelah video call selesai, mereka merencanakan aktivitas hari ini. Rencana mendaki ke air terjun dibatalkan karena mereka lebih memilih mengeksplorasi kota Sukabumi dan cari oleh-oleh.
“Jadi moral of the story hari ini adalah… selalu cari tahu dulu tentang satwa setempat sebelum booking vila di hutan,” Rose menyimpulkan sambil menyeruput kopi.
“Dan selalu bawa sumpal telinga kalau liburan ke tempat sepi,” Lilac menambahkan.
“Yang paling penting, jangan terlalu banyak nonton film horor sebelum liburan,” Wulan nyeletuk sambil melirik Vanda.
“Halah! Aku nggak nonton film horor! Aku cuma… overprotective sama diri sendiri,” Vanda membela diri.
“Overprotective sampai kabur tengah malam,” Rose tertawa.
“Setidaknya kita dapat pengalaman baru. Dan hotel ini lebih nyaman daripada vila,” Vanda mencoba mencari sisi positif.
“Plus, kita jadi tahu kalau suara kukang itu menyeramkan banget,” Wulan setuju.
“Nanti kalau Olive sudah balik, kita pilih vila yang di pinggir pantai aja. Nggak ada kukang di pantai kan?” Vanda bertanya.
“Nggak ada kukang, tapi ada suara ombak yang bisa bikin kamu pikir ada hantu laut,” Lilac nyeletuk.
“Lilac!” Vanda melempar tisu ke arah Lilac sambil tertawa.
Dan begitulah berakhir ‘liburan vila hutan’ mereka yang berubah jadi ‘staycation hotel kota’ gara-gara Vanda yang panik dengan suara kukang. Satu lagi pengalaman absurd yang akan mereka ceritakan dan tertawakan di tahun-tahun mendatang, tentunya dengan tetap merahasiakan detail sebenarnya dari Olive.
Yang jelas, mereka semakin yakin bahwa persahabatan mereka bisa bertahan dalam situasi apapun, bahkan ketika salah satu dari mereka panik gara-gara dikira hantu padahal cuma kukang yang lagi nyanyi malam-malam.
“Besok-besok kalau ada rencana liburan, yang milih tempat Rose saja ya,” Vanda berpesan sambil tertawa.
“Siap! Asal jangan tempat yang ada binatang-binatang anehnya,” Rose setuju.
“Mal saja gimana? Paling banter ada kucing mal,” Wulan usul.
“Cucok! Kucing mal kan lucu, bukan menyeramkan,” Vanda setuju.
Dan mereka berempat tertawa sambil melanjutkan sarapan, sudah mulai merencanakan ‘petualangan’ berikutnya yang semoga lebih normal dan tidak berakhir dengan kabur tengah malam.







