Kuliner di Rumah Sakit

0
185

Vanda baru saja menyendok rendang keduanya ketika tiba-tiba dunia di sekitarnya berputar seperti komidi putar rusak. Sendok jatuh dari tangannya, kepalanya terasa ringan, dan mata mulai berkunang-kunang.

“Van, kamu kenapa?” Rose yang duduk di sebelahnya mulai panik melihat wajah Vanda pucat pasi.

“Aku… agak pusing…” Vanda mencoba berdiri tapi langsung oleng ke kiri.

“VANDA!” teriak Lilac ketika melihat sahabatnya limbung dan hampir jatuh ke lantai.

“Uda! Tolong!” Wulan panik memanggil pemilik warung yang langsung berlari menghampiri mereka.

Vanda pingsan total di kursi dengan kepala bersandar ke meja. Wajahnya pucat seperti kain kafan, keringat dingin mengucur di dahinya, dan napasnya tersengal-sengal.

“Astaga, dia kenapa?” si uda warung ikut panik. “Jangan-jangan keracunan makanan?”

“Bukan! Dia tadi kebanyakan makan!” Rose menjelaskan sambil mengipasi wajah Vanda dengan serbet.

“Kebanyakan makan sampai pingsan?” si uda tidak percaya.

“Dia pesan tiga nasi, gulai kepala kakap dua, tunjang dua, rendang dua, ayam gulai tiga,” Lilac menjelaskan dengan nada panik. “Semuanya dia habisin sendiri!”

“Ya ampun! Pantas saja pingsan. Perutnya kayak apa coba?”

“Uda, rumah sakit terdekat di mana?” Wulan langsung siaga.

“RS Leuwiliang, Mbak. Lima menit dari sini.”

Dengan bantuan si uda dan beberapa pengunjung warung, mereka menggotong Vanda ke mobil Rose. Lilac duduk di belakang sambil menggendong kepala Vanda yang masih tidak sadarkan diri.

“Van, bangun dong! Jangan dramatis gini!” Lilac mencoba membangunkan Vanda sambil menepuk-nepuk pipinya pelan.

“Li, jangan dipaksa bangun. Nanti tambah parah,” Rose menyetir sambil sesekali melihat ke spion tengah, cemas dengan kondisi Vanda.

“Gimana ceritanya orang bisa pingsan gara-gara kebanyakan makan sih?” Wulan bingung sendiri.

“Namanya juga balas dendam. Dia bilang dietnya gagal gara-gara aku,” Lilac merasa bersalah.

“Sekarang bukan waktunya nyalahin siapa-siapa, Li. Yang penting Vanda selamat,” Rose menenangkan sambil menambah kecepatan mobil.

Di IGD RS Leuwiliang, mereka berempat langsung disambut perawat jaga yang sigap. Vanda dipindahkan ke brankar dan dibawa masuk ke ruang pemeriksaan.

“Keluarga pasien yang mana?” tanya perawat.

“Kami semua teman dekatnya, Sus,” Rose menjawab.

“Baik, silakan tunggu di luar. Dokter sedang periksa.”

Ketiga sahabat itu duduk gelisah di kursi tunggu IGD. Lilac tidak berhenti menggerutu menyalahkan dirinya sendiri, Rose mondar-mandir tidak karuan, sementara Wulan sibuk berdoa dalam hati.

“Ini semua salahku,” Lilac merutuki diri sendiri untuk kesekian kalinya.

“Li, sudah! Jangan menyalahkan diri sendiri terus. Yang penting sekarang Vanda baik-baik saja,” Rose mencoba menenangkan.

“Tapi kan gara-gara petualangan kuliner gagalku, Vanda jadi emosi dan makan berlebihan.”

“Vanda dewasa, Li. Dia tahu apa yang dia lakukan,” Wulan ikut menenangkan meski dalam hati juga khawatir.

Setelah menunggu setengah jam yang terasa seperti setengah abad, dokter jaga keluar dari ruang pemeriksaan.

“Keluarga pasien Vanda?”

“Iya, Dok. Gimana keadaannya?” Rose langsung menghampiri dokter.

“Pasien sudah sadar. Kondisinya stabil, tidak ada yang berbahaya. Hanya kelelahan dan perutnya kembung karena makan terlalu berlebihan dalam waktu singkat. Tubuhnya syok.”

“Syukurlah,” ketiga sahabat itu menghela nafas lega bersamaan.

“Tapi saya sarankan untuk lebih berhati-hati ke depannya. Jangan makan berlebihan seperti itu lagi. Bisa berbahaya untuk kesehatan.”

“Iya, Dok. Terima kasih.”

“Pasien bisa dijenguk sekarang, tapi jangan terlalu lama. Dia perlu istirahat.”

Mereka bertiga masuk ke ruang perawatan dan menemukan Vanda sudah terbaring lemah di tempat tidur dengan infus terpasang di tangan kirinya.

“Van, kamu sudah sadar!” Lilac langsung menghampiri tempat tidur.

“Masih pusing,” Vanda menjawab dengan suara lemah.

“Makanya jangan makan kayak orang kesurupan!” Rose ikut mendekat sambil memperhatikan kondisi Vanda.

“Aku lapar, Rose. Bala-bala karton tadi cuma bikin perutku tambah kesel.”

“Tapi juga jangan sampai pingsan gini, Van. Kami kan jadi panik,” Wulan memegang tangan Vanda yang tidak dipasang infus.

“Sori ya, girls. Aku tidak tahu bisa sampai begini.”

“Yang penting kamu baik-baik saja,” Lilac merasa lega melihat Vanda sudah bisa ngomong normal.

Tiba-tiba Vanda ingat sesuatu yang penting. “Eh, girls! Jangan bilang-bilang suamiku ya tentang kejadian ini!”

“Loh, kenapa?” Rose bingung.

“Nanti dia khawatir berlebihan. Kamu tahu kan suamiku orangnya gimana kalau aku sakit? Bisa-bisa dia izin kerja sebulan buat jaga aku.”

“Tapi Van, dia kan suamimu. Harusnya tahu dong kalau kamu masuk rumah sakit,” Wulan merasa tidak enak.

Please, girls! Ini harus jadi rahasia kita berempat. Jangan sampai dia tahu. Ke Olive juga jangan bilang! Nanti dia lapor ke suamiku.”

“Tapi gimana kalau dia nanya kenapa kamu pulang telat?” Rose masih khawatir.

“Aku bilang saja kita lanjut kulineran di tempat lain sampai malam.”

“Bohong dong?” Wulan tidak sreg.

“Bukan bohong! Kita kan memang kulineran di rumah sakit. Cuma beda tempat saja,” Vanda nyengir sambil menunjuk kantong infus di atasnya.

“Kulineran di rumah sakit?” Lilac tidak mengerti.

“Iya! Aku kan makan cairan infus ini. Rasanya hambar, tapi lumayan mengenyangkan,” Vanda bercanda sambil tertawa pelan.

“Gila kamu, Van. Masih saja sempat bercanda,” Rose geleng-geleng kepala tapi ikut tersenyum lega.

“Makanya, kalau nanti suamiku nanya, bilang saja kita kulineran di rumah sakit. Nggak bohong, kan?”

“Vanda dan logika anehnya,” Wulan menggeleng sambil tersenyum.

Satu jam kemudian, dokter memperbolehkan Vanda pulang setelah kondisinya benar-benar stabil dan infus sudah dilepas. Mereka berempat keluar dari rumah sakit dengan perasaan lega campur capek.

“Van, kamu yakin tidak apa-apa pulang sekarang?” Rose masih khawatir.

“Aku baik-baik saja. Cuma agak lemes doang.”

“Jangan lupa ya, girls. Ini rahasia kita berempat!” Vanda mengingatkan lagi sambil masuk ke mobil.

“Iya, iya. Rahasia,” mereka bertiga menjawab kompak.

Perjalanan pulang ke Bogor cukup sunyi. Vanda tertidur di kursi belakang, sementara Rose fokus nyetir, Lilac dan Wulan sesekali ngobrol pelan supaya tidak membangunkan Vanda yang sedang istirahat.

“Li, lain kali kalau ada ide petualangan kuliner, survei total dulu ya,” Wulan berpesan.

“Iya, Wul. Aku kapok. Hampir kehilangan sahabat gara-gara kuliner gagal.”

“Jangan dramatis. Vanda cuma kelebihan makan, bukan mau mati,” Rose menenangkan.

“Tapi serius ya, girls. Hari ini heboh banget. Mulai dari nyasar ke kuburan, warung tutup, makan bala-bala karton, terus Vanda pingsan di warung Padang, dan berakhir di rumah sakit,” Lilac merangkum perjalanan mereka hari ini.

“Petualangan kuliner paling berkesan sepanjang masa,” Wulan setuju.

“Yang jelas, grup WhatsApp kita harus ganti nama lagi nih,” Rose nyeletuk.

“Jadi apa?”

“‘Vanda’s Emergency Squad’ gimana?”

Mereka bertiga tertawa pelan sambil sesekali melirik Vanda yang masih tertidur pulas di kursi belakang.

Sampai di rumah Vanda sudah jam 9 malam. Suaminya sudah menunggu di depan rumah dengan wajah cemas campur kesal.

“Sayang, kok pulang malam banget? Dari tadi papa nelpon tidak diangkat,” suami Vanda langsung menghampiri mobil.

“Sori, Pa. HP mati. Habis kulineran tadi lanjut kulineran lagi,” Vanda menjawab sambil turun dari mobil dengan langkah masih agak lemas.

“Kulineran di mana sampai semalam ini?”

“Di Rumah Sakit Leuwiliang.”

Suami Vanda melongo. “Rumah sakit? Memang ada warung makan di rumah sakit?”

“Ada dong, Pa. Kita makan di kafetaria rumah sakit. Lumayan enak kok menurut aku,” Vanda menjawab santai sambil melambaikan tangan ke ketiga sahabatnya yang masih di dalam mobil.

“Oh, kafetaria rumah sakit. Kirain gimana,” suaminya mengangguk-angguk.

“Sudah ya, girls! Makasih ya hari ini. Petualangan kuliner yang… berkesan banget,” Vanda nyengir ke arah mereka.

“Hati-hati ya, Van. Jangan makan berlebihan lagi,” Rose berpesan dari dalam mobil.

“Iya! Dan jangan lupa obatnya diminum teratur!” Wulan menambahkan.

“Obat apa?” suami Vanda mulai curiga.

“Obat… pencernaan! Habis makan banyak tadi,” Vanda cepat-cepat mengalihkan perhatian suaminya. “Yuk masuk, Pa. Aku capek.”

Sambil masuk ke rumah, Vanda masih bisa mendengar suara tawa ketiga sahabatnya dari dalam mobil yang mulai menjauh. Dia tersenyum sendiri mengingat petualangan kuliner hari ini yang berakhir dengan ‘kuliner’ di rumah sakit.

“Besok-besok kalau kulineran jangan sampai malam-malam lagi ya, Sayang,” pesan suaminya sambil membukakan pintu rumah.

“Iya, Pa. Besok-besok kita kulineran di rumah aja. Mama masak sendiri.”

“Nah, itu baru istri yang baik!”

Vanda cuma tersenyum sambil dalam hati berjanji tidak akan lagi ikut petualangan kuliner gila ala Lilac. Setidaknya… untuk bulan ini.

Di dalam mobil yang sudah mulai menjauh, ketiga sahabat itu masih tertawa mengingat jawaban santai Vanda tentang ‘kulineran di rumah sakit’.

“Vanda memang kreatif ya bikin alibi,” Wulan menggeleng kagum.

“Yang penting dia selamat dan suaminya tidak curiga,” kata Rose lega.

Girls, kita sepakat ya. Ini memang rahasia kita berempat,” Lilac memastikan lagi.

“Sepakat!”

Dan begitulah akhir petualangan kuliner yang dimulai dengan pencarian soto mie terenak sedunia, nyasar ke kuburan, warung tutup, bala-bala karton, hingga berakhir dengan ‘kuliner infus’ di rumah sakit. Sebuah petualangan yang akan selalu hidup dalam kenangan, tentunya tetap dengan menjaga rahasia tentang insiden pingsan Vanda di warung Padang.

Satu hal yang pasti, mereka semakin yakin bahwa persahabatan mereka sudah teruji dalam berbagai situasi ekstrem, mulai dari nyasar di Korea hingga darurat medis di rumah sakit lokal. Dan entah kenapa, justru momen-momen tak terduga seperti ini yang membuat ikatan persahabatan mereka semakin kuat.

“Besok-besok kalau Lilac ngajak kulineran lagi, kita bilang saja ‘terima kasih, tapi nggak ah’,” Rose berpesan sambil nyetir menuju rumah masing-masing.

“Setuju banget!” Wulan dan Lilac menjawab bersamaan, meski dalam hati Lilac sudah mulai merencanakan petualangan kuliner berikutnya yang ‘pasti lebih aman’ dari yang hari ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here