Mari Marah Bersama Fucktivist

0
271

Fucktivist bukan kumpulan cerpen. Buku ini di mata saya adalah kumpulan kemarahan yang diramu oleh koki pengolah kata terampil dan jago meracik bumbu sehingga Fuctivist menjadi sedap untuk dinikmati.

BUKAN BUKU PERTAMA

Fucktivis bukan buku pertama yang saya baca dari penulis yang sama dan juga bukan buku pertama Mataharitimoer sebagai penulisnya. MT, saya biasa memanggilnya begitu, termasuk spesies pembaca segala dan penulis apa saja. Debutnya di dunia kepenulisan dimulai ketika dia menerbitkan novel Jihad Terlarang yang bikin gerah sebagian orang. Padahal kalau dilongok, isinya tak ubahnya jurnal dia ketika bergabung menjadi bagian dari suatu organisasi Islam yang kemudian diubah menjadi karya fiksi.

CITARASA FUCKTIVIST

Cara MT meramu kata di Fucktivist setali tiga uang dengan karya-karya dia sebelumnya. Ringan, mencerahkan, dan menghibur sehingga sangat cocok dinikmati sambil santai ditemani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng. Saya sendiri melahap Fucktivist yang diterbitkan pada November 2024 hanya sekali duduk karena kumpulan cerpennya MT ini cuma setebal 89 halaman dengan isi 14 cerita. Hanya saja, meskipun nikmat, terselip beberapa kerikil ketika mengunyahnya. Anda bisa bayangkan ketika lagi nikmat-nikmatnya menikmati nasi biryani, ini salah satu menu favorit saya, tiba-tiba terdengar bunyi “kletuk” karena terselip kerikil dalam nasi biryani yang sedang saya kunyah. Awalnya saya diamkan. Sekali, dua kali, masih oke. Ternyata tidak berhenti sampai di situ. Lama-lama jadi mengganggu. Dan ini perlu saya sampaikan agar MT atau editornya lebih cermat dalam menyunting naskah sebelum disajikan pembaca.

KERIKIL DALAM FUCKTIVIST

Sebenarnya dari halaman-halaman awal, kerikil berujud pilihan kata yang salah, hilang satu atau dua huruf dari sebuah kata, dan frasa atau kalimat yang tidak nyambung sudah saya nikmati dalam Fucktivist. Hanya saja, kerikil yang berserakan itu tidak saya tandai. Baru mulai cerpen ketujuh, Wejangan Mulyono, dan beberapa cerpen berikutnya gangguan yang saya temukan saya inventarisasi. Untuk kesalahan yang ada di enam cerpen sebelumnya, silakan disigi sendiri, terserah siapa yang hendak menyiginya. MT atau editornya, bebas.

MARAH BERSAMA FUCKTIVIST

Wejangan Mulyono, paragraf 5, halaman 39, ada kata “oleh” yang mungkin menggantikan “dan” atau “oleh” tetap dipakai tapi kata di belakangnya “terjebak” dihilangkan. Atau “oleh terjebak” dibuang jauh-jauh sehingga kalimatnya akan lebih efektif. “Ada yang tergoda uang atau jabatan” jelas lebih bisa dipahami daripada “Ada yang tergoda oleh terjebak uang atau jabatan”. Paragraf 6, halaman 40, cerpen yang sama, kata “sesali” bisa menjadi “disesali” atau kalau mau lebih nikmat bisa menjadi “aku sesali” sehingga frasa “tidak ada yang aku sesali” terasa lebih maknyes daripada “tidak ada yang sesali”.

Suara Pinggiran, baris terakhir di halaman 46, kata “kita” rasanya kurang pas. Kata Dewi kepada Rani, “Tenang aja. Ikuti aja apa yang kita lakukan.” Kita? Kami, kali!

Nasi Bungkus, paragraf 2, halaman 62, “Aku ragu.” Adi menghela napas. Adi atau Bimo?

Fvcktivist, halaman 73, huruf “u” dalam judul cerpen Fucktivist sengaja diganti “v” agar berbeda dengan judul yang ada di sampul buku atau gimana? Ini disengaja biar dikira lebih unik atau salah ketik? Kalau salah ketik dimaklumi, kalau disengaja terus apa hubungannya dengan Fucktivist yang jadi judul yang dipajang di sampul buku?

Trauma, paragraf 5, halaman 88, pilihan kata “dementor” bagi saya cukup berisiko. Yang pembaca novel atau penonton film Harry Potter, mereka tentu kenal baik. Bagaimana dengan yang bukan mereka. Kan tinggal buka Google? Baiklah kalau itu jawabannya. Yang malas googling, pasti akan bertanya-tanya siapa itu dementor. Juga, lema “dementor” tidak ditemukan di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tapi ada di KBHP (Kamus Besar Harry Potter).

KETIKA KEMARAHAN MENJADI MENU UTAMA

Setelah melakukan investigasi mendalam terhadap kerikil-kerikil yang berseliweran di antara halaman Fucktivist, atau haruskah saya sebut Fvcktivist mengikuti gaya kreatif di halaman 73?, saya mulai memahami mengapa MT memilih judul yang begitu eksplisit. Ini bukan sekadar kumpulan cerpen biasa yang hendak merayu pembaca dengan kemanisan kata-kata. Ini adalah manifesto kemarahan yang dibungkus rapi dalam kemasan sastra populer.

Namun, ironi mulai terasa ketika kemarahan yang ingin disampaikan MT justru terganggu oleh kemarahan saya sendiri sebagai pembaca yang harus berhadapan dengan suntingan yang tampaknya dilakukan sambil menonton drama Korea atau sambil memasak rendang. Bagaimana mungkin seseorang bisa marah dengan sempurna tentang ketidakadilan dunia sementara di saat bersamaan tidak mampu memberikan keadilan pada kata-kata dalam karyanya sendiri?

PROFESIONALISME DALAM KEMASAN AMATIR

MT, dengan segala pengalaman menulis dan membacanya, seharusnya sudah memahami bahwa pembaca dewasa, apalagi yang berusia 25 tahun ke atas, bukanlah anak kecil yang akan dengan mudah memaafkan kesalahan-kesalahan teknis demi kepentingan ‘apresiasi karya seni’. Kami adalah generasi yang tumbuh dengan akses informasi berlimpah, yang terbiasa dengan konten berkualitas tinggi, dan yang tidak segan-segan meninggalkan buku di tengah jalan jika merasa waktu kami tidak dihargai.

Ketika saya membaca “Adi menghela napas” di cerpen Nasi Bungkus padahal seharusnya Bimo yang menghela napas, atau ketika menemukan pilihan kata “kita” yang seharusnya “kami” dalam dialog Suara Pinggiran, saya tidak bisa tidak bertanya-tanya: di mana editor ketika naskah ini sedang diproses? Apakah mereka sedang berlibur ke Planet Mars sehingga tidak sempat membaca ulang? Atau mungkin mereka menggunakan sistem kerja ‘asal jadi’ yang begitu populer di era digital ini?

DEMENTOR DAN DILEMA REFERENSI BUDAYA POP

Penggunaan kata “dementor” dalam cerpen Trauma menjadi representasi sempurna dari ambivalensi MT dalam menentukan target pembaca. Di satu sisi, dia ingin menulis untuk pembaca dewasa yang cerdas dan kritis. Di sisi lain, dia menggunakan referensi budaya pop yang sangat spesifik tanpa memberikan konteks yang memadai bagi pembaca yang mungkin tidak familier dengan jagat Harry Potter.

Ini bukan soal elitisme sastra atau puritanisme bahasa. Ini soal konsistensi dan rasa hormat terhadap pembaca. Ketika seorang penulis memutuskan untuk menggunakan referensi eksternal, dia seharusnya mempertimbangkan apakah referensi tersebut menambah nilai pada cerita atau justru menjadi penghalang pemahaman. Dalam kasus “dementor”, sepertinya MT lebih memilih jalan pintas daripada mencari metafora yang lebih universal dan kuat.

KETIKA KREATIVITAS BERTABRAKAN DENGAN KONSISTENSI

Perubahan ejaan dari “Fucktivist” menjadi “Fvcktivist” di halaman 73 mengundang pertanyaan serius tentang konsistensi editorial. Apakah ini upaya kreatif untuk menghindari sensor? Ataukah ini kesalahan ketik yang lolos dari proses penyuntingan? Jika yang pertama, mengapa tidak diterapkan secara konsisten di seluruh buku? Jika yang kedua, mengapa tidak ada yang menyadari sebelum buku dicetak?

Dalam dunia penerbitan profesional, detail sekecil ini tidak boleh diabaikan. Pembaca yang membayar untuk sebuah buku berhak mendapatkan produk yang telah melalui proses kontrol kualitas yang memadai. Ketika detail seperti ini luput, itu menandakan adanya masalah sistemik dalam proses produksi buku.

TANTANGAN MENJADI PENULIS SERBA BISA

MT memang telah membuktikan dirinya sebagai penulis yang produktif dan berani mengangkat tema-tema kontroversial. Dari Jihad Terlarang hingga Fucktivist, dia konsisten dalam menyuarakan kritik sosial melalui karya fiksinya. Namun, produktivitas tanpa disertai perhatian pada detail justru bisa menjadi bumerang yang merugikan reputasi penulis dalam jangka panjang.

Pembaca Indonesia, khususnya generasi milenial dan Gen Z, semakin kritis dan menuntut. Mereka tidak hanya menilai konten, tetapi juga kemasan dan presentasi. Sebuah ide brilian bisa kehilangan dampaknya jika dikemas dengan ceroboh. Sebaliknya, ide sederhana bisa menjadi dahsyat jika dipresentasikan dengan sempurna.

IRONI DALAM KEMASAN KEMARAHAN

Yang paling ironis dari Fucktivist adalah bagaimana buku yang berisi kemarahan terhadap ketidakadilan justru menjadi korban ketidakadilan dari proses penyuntingannya sendiri. Kemarahan MT terhadap sistem yang tidak peduli pada kualitas tercermin dalam kemarahan pembaca terhadap sistem penerbitan yang tidak peduli pada kualitas penyuntingan.

Mungkin ini adalah metakomentar yang tidak disengaja, maksudnya ketika kita marah terhadap sesuatu, kita harus memastikan bahwa kemarahan itu tidak membuat kita mengabaikan standar kualitas kita sendiri. Jangan sampai dalam usaha mengkritik ketidakprofesionalan orang lain, kita justru menunjukkan ketidakprofesionalan diri sendiri.

APRESIASI DI TENGAH KRITIK

Meskipun demikian, saya tidak bisa mengabaikan kekuatan naratif MT dalam menyampaikan kritik sosial melalui cerita-cerita pendek yang tajam dan mengena. Kemampuannya untuk mengemas isu-isu berat dalam kemasan yang gampang ditelan patut diapresiasi. Gaya berceritanya yang dialogis membuat pembaca merasa sedang ngobrol dengan teman dekat yang cerdas dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Fucktivist, terlepas dari kerikil-kerikil editorialnya, tetap berhasil menyampaikan pesan-pesan penting tentang kondisi sosial-politik kontemporer Indonesia. MT memiliki kemampuan unik untuk menggabungkan kemarahan yang konstruktif dengan humor yang cerdas, menciptakan pengalaman membaca yang akan menjadi kenangan.

SERIUS INI SANJUNGAN TULUS

Pada akhirnya, MT adalah penulis yang berani dan konsisten dalam menyuarakan kritik sosial melalui karya-karyanya. Dia tidak takut mengangkat isu-isu sensitif dan tidak ragu menantang status quo melalui narasi yang gampang dimengerti dan menarik. Kemampuannya mentransformasi kemarahan menjadi karya sastra yang menghibur sekaligus mencerahkan adalah talenta yang langka dan berharga.

Fucktivist, meski memiliki beberapa kelemahan teknis, tetap menjadi kontribusi bernilai dalam khazanah sastra Indonesia kontemporer. MT telah membuktikan bahwa sastra tidak harus selalu serius dan megah untuk bisa menyampaikan pesan-pesan penting. Dengan perbaikan pada aspek penyuntingan dan konsistensi, karya-karya MT di masa depan berpotensi menjadi lebih dahsyat dan berdampak.

Bravo, MT, untuk keberanian dan konsistensi Anda dalam berkarya. Semoga kerikil-kerikil editorial tidak lagi mengganggu kelezatan hidangan kata-kata Anda selanjutnya.

Juga, saya perlu minta maaf ke MT karena tidak bisa menyembunyikan kemarahan bak hendak menelannya bulat-bulat. Biarlah saya kali ini jadi pembaca julid asal karya MT berikutnya terbebas dari hal-hal yang bisa membuat saya marah. Kalau saya sudah membaca buku tapi ada banyak kesalahan penyuntingan, kadang saya suka seperti kena sawan dari demit penunggu pohon tomat. Salam hormat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here