Bandara Soekarno-Hatta pagi itu ramai seperti biasa, tapi empat perempuan paruh baya yang berdiri di area kedatangan internasional terlihat lebih heboh dari penumpang lainnya. Rose, Vanda, Lilac, dan Wulan kompak mengenakan kaos dengan tulisan “Welcome Home Olive” yang dibuat dadakan semalam, ide brilian Wulan yang langsung dieksekusi dengan semangat berlebihan.
“Kayaknya pesawatnya sudah mendarat deh,” Wulan cek aplikasi flight tracker di HP-nya sambil sesekali melompat-lompat kecil karena kegirangan.
“Iya, tadi ada pengumuman,” Rose membenarkan rambut yang sudah mulai beruban tapi masih dicat pirang samar, hasil salon kemarin khusus untuk menjemput Olive.
“Kalian yakin nggak malu pakai kaos kayak gini? Kita kan bukan fandom artis Korea,” Lilac protes sambil menarik-narik kaosnya yang memang agak ketat di bagian perut.
“Ah, santai saja Li. Namanya juga mengekspresikan persatuan dan kesatuan,” Vanda menenangkan sambil memperbaiki posisi kaosnya yang juga mulai naik karena perutnya yang semakin membuncit—efek samping hobi kuliner yang tak terkendali. Perkataan Vanda malah membuat Lilac bengong bingung dengan yang dimaksud Vanda. “Oh mungkin maksudnya mengekspresikan persahabatan,” batin Lilac.
Ketika pintu kedatangan terbuka dan Olive muncul dengan troli penuh koper, keempat sahabatnya langsung berteriak, “OLIIIIIIIIIV!” bersamaan sampai penumpang lain pada menoleh bingung.
“Astaga, kalian ini!” Olive tertawa sambil berlari menghampiri sahabat-sahabatnya. “Pakai kaos seragam segala! Kayak anak sekolah!”
“Selamat datang di tanah air tercinta!” Wulan memeluk Olive sambil menyanyikan lagu nasional dengan nada yang salah total.
“Korea gimana? Oppa-oppanya pada ganteng nggak?” Rose langsung bombardir pertanyaan sambil membantu dorong troli.
“Cerita nanti saja di mobil. Ini koper kalian sudah kayak mau pindahan,” Lilac mengamati empat koper besar Olive dengan heran.
“Oleh-oleh untuk kalian semua! Kosmetik, makanan, baju, sampai masker wajah Korea asli,” Olive bangga menunjukkan hasil belanjanya.
Di mobil menuju Kemang, tempat favorit mereka untuk ngumpul, Olive mulai menceritakan petualangannya di Korea. Mulai dari kuliner yang enak sampai rutinitas perawatan kulit yang bikin dia kelihatan sepuluh tahun lebih muda (menurut klaimnya sendiri).
“Oh ya, kalian kemarin bilang ada kejadian seru pas aku nggak ada. Cerita dong!” Olive penasaran sambil mengeluarkan krim tangan ginseng untuk dibagi-bagi.
“Cerita panjang, Ol. Nanti saja kalau kita sudah duduk nyaman di kafe,” Rose menghindar sambil fokus nyetir.
“Pokoknya kita berlima kompak tetap heboh kemana-mana,” Vanda nyengir.
Mereka tidak lama mampir di Kemang. Hanya sekadar minum kopi dan menyantap kudapan sambil bicara-bicara sebentar untuk melepas kangen. Setelah itu Olive diantar pulang oleh keempat sahabatnya. Mereka berjanji akan bertemu lagi minggu depan di tempat yang sama.
Seminggu kemudian, mereka berkumpul kembali di kafe favorit Lilac di Kemang. Kafe kecil dengan konsep taman yang Instagramable, tempat yang cocok untuk arisan bulanan atau sekadar ngobrol sambil makan kue dan minum kopi.
“Jadi, ceritanya kemarin pas aku di Korea, kalian pada petualangan ke mana saja?” Olive duduk manis sambil menyeruput es amerikano—kebiasaan baru yang dibawa dari Korea.
“Mulai dari mana ya…” Rose bingung mulai cerita dari mana.
“Dari yang paling tak terlupakan saja. Selabintana!” Wulan semangat.
“Jangan mulai dari situ!” Lilac protes keras. “Aku masih trauma!”
“Trauma apaan sih Li? Kan cuma kena ulat bulu,” Vanda meremehkan sambil melahap croissant salmon.
“CUMA? Kamu lihat sendiri kan bentol-bentol merah di muka aku kayak monster!” Lilac masih emosional mengingat kejadian itu.
Olive mendengarkan dengan penuh antusias sementara sahabat-sahabatnya bergiliran menceritakan petualangan mereka. Mulai dari kuliner soto mie yang gagal total, masuk IGD karena keracunan makanan, kabur tengah malam dari vila karena suara kukang, sampai diserang ulat bulu di kebun teh.
“Kalian ini benar-benar koleksi pengalaman unik ya,” Olive geleng-geleng kepala sambil tertawa. “Untung aku nggak ikut, bisa-bisa aku yang kena musibah paling parah.”
“Eh, ide bagus nih!” tiba-tiba mata Wulan berbinar. “Gimana kalau kita kamping bareng keluarga? Sekalian anak-anak pada libur sekolah.”
“Kamping?” Rose tertarik. “Di mana?”
“Tanakita! Aku sudah pernah ke sana sama keluarga. Tempatnya asri, ada sungai, bisa tubing, api unggun, lengkap deh!” Wulan antusias banget.
“TIDAK!” Lilac langsung protes keras sampai pengunjung kafe lain menoleh. “Aku sudah bilang nggak akan lagi main ke kebun teh di mana pun di muka bumi ini, bahkan sampai planet Mars!”
“Li, Tanakita itu bukan kebun teh,” Wulan menjelaskan sambil menahan tawa.
“Bukan kebun teh?” Lilac bingung.
“Bukan! Itu tempat rekreasi alam. Ada sungai, hutan, tapi bukan kebun teh,” Rose ikut menjelaskan.
“Oh…” Lilac malu sendiri. “Tapi tetap saja, kalau ada tumbuhan-tumbuhan aneh yang bisa bikin alergi gimana?”
“Nggak ada Li. Ini tempat wisata keluarga yang aman,” Olive mendukung ide Wulan. “Lagian kita butuh waktu khusus bareng keluarga. Anak-anak kita pada jarang ketemu.”
“Setuju! Sekalian perkenalan lebih dalam antara keluarga kita,” Vanda antusias. “Suamiku dari dulu penasaran sama suami-suami kalian.”
“Kapan?” Rose langsung praktis.
“Akhir pekan depan gimana? Aku cek dulu dengan suami dan anak-anak,” Wulan mulai merencanakan.
“Oke, setuju! Tapi kalau ada kejadian aneh lagi, aku nggak mau disalahkan,” Lilac pasrah.
Akhirnya mereka sepakat kamping ke Tanakita akhir pekan berikutnya. Masing-masing akan membawa keluarga lengkap, suami dan anak-anak. Rencananya mereka akan bertemu di parkiran tempat ngopi di daerah Sentul sebelum jalan konvoi menuju lokasi.
“Oh ya, aku dan suami baru bisa bergabung besok paginya. Terlanjur ada acara kantor suami yang nggak bisa ditinggal,” Wulan memberi tahu.
“Nggak apa-apa, yang penting bisa gabung,” Rose santai.
Akhir pekan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi mereka sudah bersiap dengan perlengkapan kamping yang lengkap, tenda, sleeping bag, perlatan masak, sampai P3K lengkap yang khusus diminta Lilac karena masih parno.
Di tempat ngopi Sentul, mereka berkumpul dengan keluarga masing-masing. Rose datang dengan suami dan dua anaknya yang sudah kuliah. Lilac dengan suami dan anak kembarnya. Vanda dengan suami dan ketiga anaknya. Olive dengan suami dan dua anak laki-lakinya.
“Wah, heboh banget nih rombongannya,” Olive tertawa melihat barisan mobil yang akan jadi konvoi mereka.
“Kayak mudik lebaran,” anak Vanda yang paling besar komentar sambil geleng-geleng kepala.
“Sudah, ayo berangkat sebelum macet,” suami Rose yang praktis langsung memimpin konvoi.
Perjalanan ke Tanakita lumayan jauh, sekitar tiga jam dari Sentul. Tapi pemandangan sepanjang jalan cukup menyenangkan, sawah, kebun, dan udara yang mulai sejuk karena menuju daerah pegunungan.
Sesampainya di Tanakita, mereka langsung takjub dengan pemandangannya. Sungai jernih mengalir di tengah hamparan hijau, dikelilingi pepohonan rindang dan udara segar pegunungan.
“Wah, bagus banget tempatnya!” anak kembar Lilac bergairah melihat sungai.
“Bisa berenang nggak?” anak Olive bertanya pada petugas.
“Bisa, tapi hati-hati ya. Arusnya lumayan deras di beberapa titik,” petugas menjelaskan sambil menunjukkan area yang aman untuk berenang.
Mereka mulai mendirikan tenda di area yang sudah disediakan. Para suami kompak bekerja sama mendirikan tenda, sementara para istri sibuk mengatur perlengkapan dan anak-anak sudah pada main air.
“Li, kamu nggak turun main air?” Rose bertanya melihat Lilac yang duduk-duduk saja di depan tenda.
“Nggak ah, aku di sini saja. Jaga barang-barang,” Lilac menghindar.
“Masih trauma ya?” Olive menggoda.
“Bukan trauma! Aku cuma… hati-hati saja. Siapa tahu ada sesuatu di air,” Lilac membela diri.
Lilac memang sejak trauma dengan kejadian di Selabintana, jadi lebih suka berada di area yang aman. Dia masuk ke tenda dan mulai menyiapkan sound system portabel yang dia bawa khusus untuk acara ini.
“Li, kamu ngapain di dalam?” Rose bertanya dari luar tenda.
“Nyetel musik buat ngademin suasana!” Lilac berteriak dari dalam tenda sambil mengatur daftar lagu di HP-nya.
Tidak lama kemudian, terdengar musik dari dalam tenda Lilac. Dia memilih lagu-lagu lawas yang menurutnya cocok untuk suasana alam. Salah satunya adalah lagu hits dari Mbah Surip yang memang dia suka karena liriknya yang sederhana tapi berkesan.
Sementara itu, Rose yang biasanya paling berani malah jadi paling dramatis pas ikut tubing—aktivitas mengarungi sungai dengan ban. Dia menjerit-jerit ketakutan bukan karena arusnya, tapi karena ada lintah yang menempel di lengannya.
“TOLOOOOONG! ADA LINTAAAAAH! LEPASKAN AKU!” Rose teriak histeris sambil loncat-loncat di atas ban.
“Sabar Ma, nanti dilepas pakai garam,” anaknya yang cowok coba menenangkan sambil berenang menghampiri.
“SEKARANG! LEPAS SEKARANG!” Rose makin histeris sampai hampir jatuh dari ban.
Akhirnya suaminya yang turun tangan melepas lintah dengan hati-hati sambil Rose terus menangis seperti anak kecil.
“Dramanya nggak ketulungan,” Vanda berkomentar sambil ketawa dari pinggir sungai.
Sore hari, mereka mulai persiapan bikin api unggun. Pihak pengelola memang menyediakan kayu bakar, tapi Olive tidak puas dengan kualitasnya.
“Kayu ini terlalu basah. Api unggunnya nggak akan bagus,” Olive mengkritik sambil memegang-megang kayu.
“Sudah bagus kali Ol, daripada nggak ada,” suami Lilac komentar.
“Nggak, aku cari kayu yang lebih kering di hutan sekitar sini. Pasti ada,” Olive nekad masuk ke hutan kecil di sekitar area kamping.
“Ol, jangan jauh-jauh!” Lilac teriak khawatir dari dalam tendanya.
“Bentar saja!” Olive menghilang di balik pepohonan.
Satu jam kemudian, Olive belum juga balik. Mereka mulai khawatir dan mencari ke berbagai arah sambil berteriak memanggil namanya.
“OLIVE! DIMANA KAMU?!” Rose teriak sambil menyusuri pinggir sungai.
“OL! BALIK SINI!” Vanda ikut teriak dari arah berlawanan.
Akhirnya mereka mendengar suara Olive dari jauh, tapi agak lemah.
“SINI! AKU DI SINI!” teriak Olive dari dalam hutan.
Mereka mendatangi suara Olive dan menemukan dia duduk di bawah pohon besar dengan tumpukan kayu bakar di sampingnya, tapi wajahnya pucat dan terlihat kebingungan.
“Ol, kamu kenapa?” Vanda khawatir.
“Aku… lupa jalan pulang,” Olive mengaku dengan muka memerah. “Tadi asyik nyari kayu, eh pas mau balik malah bingung arah mana.”
“Ya ampun Ol, untung ketemu!” Rose lega.
“Ini kan bukan hutan amazon, masa bisa nyasar?” Vanda geleng-geleng kepala.
“Habis pohonnya pada mirip-mirip sih,” Olive membela diri sambil berdiri membersihkan celana.
“Sudah, yang penting ketemu. Ayo balik sebelum gelap beneran,” suami Olive yang praktis langsung memimpin jalan pulang sambil membawa kayu bakar yang tadi dikumpulkan Olive.
Malam hari, saat api unggun sudah menyala dengan kayu pilihan Olive yang memang bagus, mereka berkumpul dalam lingkaran besar, lima keluarga yang sudah seperti satu keluarga besar.
Lilac masih setia di dalam tenda, sesekali keluar hanya untuk ke kamar mandi atau ambil makanan. Dari dalam tenda, masih terdengar musik-musik lawas yang dia putar dengan volume yang cukup keras.
“Li, keluar dong! Api unggunnya bagus,” Olive mengajak.
“Nggak ah, aku di tenda saja. Udara malam kan dingin,” Lilac berdalih. “Lagian aku lagi menikmati musik di sini!”
“Ya sudah, biarkan dia. Nanti juga keluar sendiri kalau lapar,” Rose pasrah.
Vanda, sesuai kebiasaannya, sibuk makan berbagai makanan yang sudah mereka siapkan. Mulai dari sate, jagung bakar, marshmallow panggang, sampai mie instan yang dimasak di atas api unggun.
“Van, pelan-pelan makannya,” Lilac yang sempat keluar tenda mengingatkan melihat Vanda yang makan tanpa henti.
“Biasa saja kok Li, ini kan suasana kamping. Harus makan banyak biar ada tenaga,” Vanda menjawab sambil melahap sate ayam.
“Iya tapi jangan berlebihan. Biar nggak kejadian kayak di warung Padang lagi sampai masuk Rumah Sakit Leuwiliang,” Lilac kelepasan bicara.
Hening sejenak. Suami Vanda yang duduk di sampingnya langsung menoleh dengan mata melotot.
“Masuk rumah sakit? Kapan? Kenapa aku nggak tahu?” suami Vanda langsung menginterogasi.
“Ehm… itu…” Vanda tergagap.
Lilac kembali masuk ke tenda dengan muka memerah, merasa bersalah sudah membocorkan rahasia.
“Van, kamu masuk rumah sakit dan nggak kasih tahu aku?” Olive juga kaget.
“Ceritanya gimana sih?” suami Rose ikut penasaran.
“Nggak apa-apa kok, cuma masuk IGD bentar,” Vanda mencoba meremehkan.
“CUMA? Masuk IGD karena apa?” suami Vanda makin emosi.
“Maaf Van, aku nggak sengaja…” Lilac berteriak dari dalam tenda.
“Sudah terlanjur. Sekarang cerita yang jujur! Kalian berlima ada rahasia apa lagi yang disembunyikan dari suami-suami?” suami Vanda menuntut sambil menatap tajam istri dan sahabat-sahabatnya.
Para suami lain juga mulai penasaran dan ikut mendesak untuk diberi tahu kejadian sebenarnya.
“Oke, oke. Kita cerita semua ya, biar nggak ada yang disembunyikan lagi,” Rose menyerah duluan.
Wulan yang baru datang tadi pagi bingung dengan situasi yang tegang. Dia memilih diam dalam situasi yang tampaknya serius ini.
“Kita lagi diinterogasi sama para suami. Harus buka rahasia semua petualangan kita yang konyol,” Olive menyambung ucapan Rose dengan nada dramatis.
“Oh no… yang mana dulu nih?” Wulan ikut pasrah.
Akhirnya, satu per satu mereka mulai bercerita dengan lengkap dan jujur di hadapan keluarga besar mereka di bawah cahaya api unggun.
Wulan mulai duluan, “Ini harusnya Lilac yang cerita. Tapi nggak papalah aku saja. Jadi ceritanya, pas kami ke Korea kemarin itu sebenarnya berantakan banget. Kami salah naik bus yang harusnya ke Mapo tapi malah beli tiket ke bandara Gimpo! Jadinya nyasar setengah hari di Seoul sambil bawa koper gede dan nggak bisa bahasa Korea sama sekali.”
“Terus gimana?” suaminya penasaran.
“Ya akhirnya minta tolong sama orang lokal, lihat peta, naik taksi yang mahal banget, naik bus kota, naik subway dan akhirnya menghubungi Olive minta dijemput di Stasiun Chuncheon karena menyerah nggak tahu lagi harus gimana untuk sampai ke apartemen Olive. Tadinya mau memberi kejutan ke Olive dengan mengunjunginya tanpa kasih kabar terlebih dahulu, eh malah kami yang terkejut-kejut akibat nyasar ke mana-mana. Hari pertama di Korea habis cuma buat nyasar,” Wulan tertawa mengingat kekonyolan itu.
“Kenapa nggak bilang?” suaminya protes.
“Malu dong, masa sudah gede gini masih bisa nyasar di negara orang,” Wulan malu-malu.
Lilac melanjutkan dari dalam tenda dengan suara keras, “Kami berempat hunting soto mie legendaris di lereng Gunung Salak. Ikut GPS, eh malah nyasar ke kuburan. Seharian cuma makan bala-bala rasa karton di warung pinggir jalan yang nggak jelas.”
“Makanya waktu aku telpon Rose, suaranya terdengar lemas,” suami Rose menimpali sambil geleng-geleng kepala.
“Nah, habis gagal kuliner soto mie itu, kami lapar berat. Terus nemu rumah makan Padang di Cibatok,” Vanda mulai cerita bagiannya dengan malu-malu. “Aku makan berlebihan. Nasi, rendang, gulai, dendeng, kerupuk, semuanya aku makan. Eh, belum sampai habis ternyata perutku nggak kuat. Pingsan di tempat, masuk IGD RS Leuwiliang.”
“Ya ampun, Van!” suaminya geleng-geleng kepala. “Makanya sekarang juga masih suka makan berlebihan!”
“Habis enak sih,” Vanda membela diri dengan polos.
Rose tertawa sendiri sambil mulai cerita, “Yang paling konyol itu pas kami sewa vila di Sukabumi. Malam pertama, Vanda minta pulang tengah malam gara-gara takut sama suara kukang yang kayak suara perempuan tertawa. Dia bilang hantunya penasaran, padahal itu cuma kukang! Kami jadinya pindah ke hotel tengah malam dengan koper berantakan!”
“Beneran seram tau suaranya!” Vanda masih membela diri.
“Terus yang paling trauma itu aku,” Lilac berteriak dari dalam tenda dengan dramatis. “Di kebun teh Selabintana, aku kena ulat bulu. Tangan dan muka bentol-bentol merah, gatal nggak ketulungan. Kayak monster! Untung ada minyak ramuan dari ibu-ibu lokal.”
“Makanya kamu jadi anti segala macam tumbuhan ya sekarang,” suami Lilac menimpali sambil tertawa.
“Trauma berkepanjangan namanya,” Lilac mengangguk serius dari dalam tenda.
Setelah semua cerita terbongkar, para suami hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa.
“Kalian berlima memang nggak ada habisnya ya,” suami Rose berkomentar.
“Untung masih selamat semua,” suami Olive menambahkan.
“Yang penting, sekarang nggak ada rahasia lagi kan?” suami Vanda memastikan.
“Nggak ada lagi! Semuanya sudah terbuka,” kelima sahabat itu menjawab bersamaan, termasuk Lilac yang berteriak dari dalam tenda.
“Tapi seru juga sih petualangan kalian. Koleksi pengalaman yang unik,” suami Wulan mengapresiasi.
“Unik sih unik, tapi bikin jantungan,” suami Lilac menambahkan.
Malam itu mereka tertidur dengan tenang di tenda masing-masing. Tidak ada suara kukang, tidak ada ulat bulu, tidak ada yang nyasar, dan yang paling penting—tidak ada yang masuk rumah sakit. Hanya terdengar musik lembut dari tenda Lilac yang membantu semua orang tertidur dengan nyenyak.
Namun, pagi-pagi sekali, saat langit masih gelap dan semua orang masih terlelap, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang sangat keras dari tenda Lilac.
“HAHAHA…” suara tawa yang sangat khas dan keras sekali menggelegar di area perkemahan yang sepi.
Vanda yang sedang tidur nyenyak di tenda sebelah langsung terbangun dengan kaget. “Apa-apaan ini?”
Suara itu adalah bagian dari lagu Mbah Surip yang sedang diputar dengan volume maksimal di sound system Lilac. Entah kenapa, mungkin karena Lilac tidur sambil mendengarkan musik, HP-nya malah memutar lagu dengan volume yang sangat keras di pagi buta.
“LILAC!” Vanda berteriak sambil keluar dari tenda dengan rambut acak-acakan dan mata masih setengah terpejam.
“Hah? Ada apa?” Lilac terbangun dengan kaget dan bingung.
“Musikmu kenceng banget! Aku kaget banget tau! Pikir ada apa!” Vanda marah-marah sambil berdiri di depan tenda Lilac.
“Oh, maaf maaf! Aku nggak sadar volumenya gede banget,” Lilac buru-buru memelankan suara musik sambil tersenyum jail.
“Jam berapa sih ini? Masih gelap banget!” Vanda protes sambil lihat jam di HP.
“Jam 4 pagi. Maaf banget Van, aku nggak sengaja. Mungkin kesenggol pas tidur,” Lilac kembali minta maaf.
“Ya ampun Li, bikin jantungan tau! Aku kira ada apa,” Vanda masih kesal tapi mulai reda amarahnya.
Suara ribut mereka membuat yang lain juga terbangun satu per satu.
“Ada apa ini? Ributnya kenapa?” Rose keluar dari tenda sambil menguap.
“Lilac nyetel musik kenceng banget pagi-pagi,” Vanda menjelaskan.
“Wah, kaget aku. Pikir ada yang teriak minta tolong,” Olive ikut keluar dari tenda.
“Maaf semua, aku nggak sengaja. Ketiduran sambil dengar musik, nggak tahu kenapa jadi kenceng banget,” Lilac minta maaf sambil keluar dari tenda dengan muka malu.
“Sudah, sudah. Yang penting nggak ada apa-apa. Kita semua sudah bangun, gimana kalau sekalian lihat matahari terbit?” Rose mencoba mencairkan suasana.
“Ide bagus! Jarang-jarang kan kita bangun sepagi ini,” Olive setuju.
“Tapi dingin banget ini,” Vanda menggigil sambil memeluk diri sendiri.
“Makanya masuk tenda lagi atau pakai jaket,” Lilac menyarankan sambil mengambil jaket tebal dari dalam tenda.
Akhirnya mereka semua berkumpul di luar tenda sambil menunggu matahari terbit. Suasana pagi yang dingin dan sepi membuat mereka semakin akrab. Bahkan Vanda yang tadinya kesal jadi ikut tertawa mengingat kejadian tadi.
“Tadi aku beneran kaget banget. Mimpi lagi makan sate, eh tiba-tiba ada suara aneh,” Vanda cerita sambil tertawa.
“Salah sendiri sih, tidur sambil mikirin makanan terus,” Rose menggoda.
“Lagu Mbah Surip memang khas banget ya suaranya,” Olive komentar.
“Iya, makanya aku suka. Sederhana tapi berkesan,” Lilac menjelaskan.
“Tapi jangan kenceng-kenceng lagi ya Li. Bisa-bisa nanti dikira ada hantu,” Wulan yang baru bangun ikut komentar.
“Iya, maaf sekali lagi. Lain kali aku hati-hati,” Lilac berjanji.
Ketika matahari mulai terbit, mereka semua terpesona dengan pemandangan yang indah. Kabut tipis masih menyelimuti sungai, dan sinar matahari yang mulai muncul membuat suasana jadi sangat damai dan romantis.

“Wah, cantik banget,” Olive berkomentar sambil mengambil foto.
“Untung kita bangun pagi jadi bisa lihat ini,” Rose bersyukur.
“Berkat musiknya Lilac,” Vanda menambahkan sambil tertawa.
“Jadi blessing in disguise ya,” Lilac senang karena kejadian tadi malah membuat mereka semua bisa menyaksikan matahari terbit yang indah.
Pagi harinya, saat mereka bersiap-siap pulang dan membongkar tenda, Olive mendapat ide brilian.
“Eh, gimana kalau nama grup WhatsApp kita diganti?” Olive usul sambil melipat kantong tidur.
“Diganti apa?” Rose penasaran.
“Tanakita! Sesuai tempat di mana semua rahasia kita terbongkar,” Olive semangat.
“Ide bagus! Dari ‘Emak-emak Gaul Forever’ jadi ‘Tanakita’,” Wulan setuju.
“Setuju! Tanakita jadi saksi bisu semua kekonyolan kita,” Vanda ikut antusias.
“Oke, tapi artinya apa sih Tanakita?” Lilac bertanya sambil merapikan sound system portabelnya.
“Tana itu tanah, kita ya kita. Jadi tanah kita, tempat di mana kita berlima jadi satu keluarga besar dengan segala absurditas kita,” Rose menjelaskan dengan filosofis.
“Wah, mendalam banget Rose,” Olive kagum.
“Sudah sepakat ya? Tanakita!” kelima sahabat itu mengangkat tangan bersamaan.
Di perjalanan pulang, mereka konvoi dengan perasaan lega dan bahagia. Semua rahasia sudah terbuka, keluarga besar mereka semakin kompak, dan yang paling penting, tidak ada kejadian aneh atau petualangan konyol kali ini.
“Akhirnya ada satu liburan yang normal,” Lilac berkomentar dari mobil sambil video call dengan sahabat-sahabatnya yang ada di mobil lain.
“Eh, tapi tadi pagi ada kejadian musiknya kamu yang kenceng banget!” Vanda mengingatkan sambil tertawa.
“Itu kan nggak sengaja!” Lilac membela diri.
“Jangan bilang gitu Li, nanti ada saja kejadian aneh di jalan,” Rose mengingatkan.
“Amit-amit! Jalan pulang harus lancar dan aman,” Wulan berdoa.
“Aamiin!” keempat sahabatnya menjawab bersamaan.
Dan benar saja, perjalanan pulang berlangsung lancar tanpa ada kejadian apa-apa. Mungkin karena semua karma absurd mereka sudah terselesaikan di Tanakita.
Sesampainya di rumah masing-masing, hal pertama yang mereka lakukan adalah mengganti nama grup WhatsApp mereka dari “Emak-emak Gaul Forever” menjadi “Tanakita”.
Olive: Selamat datang di grup TANAKITA! 🏕️🌿
Wulan: Akhirnya punya nama grup yang bersejarah 😂
Rose: Tanakita, tempat di mana semua aib terbongkar 🙈
Vanda: Tapi sekarang rasanya lega ya, nggak ada yang disembunyikan lagi
Lilac: Yang penting, liburan kali ini normal dan nggak ada yang masuk rumah sakit!
Olive: Atau nyasar di hutan karena nyari kayu bakar 😅
Wulan: Atau kena lintah sambil teriak-teriak histeris
Rose: Atau trauma sama segala macam tumbuhan
Lilac: HEY! Jangan diungkit-ungkit lagi! 😤
Vanda: Eh, tapi yang paling tak terlupakan itu musiknya Lilac pagi-pagi! Bikin aku kaget setengah mati! 😂
Lilac: Sudah minta maaf berkali-kali! 🙈
Rose: Tapi berkat itu kita bisa lihat matahari terbit yang cantik
Olive: Betul! Jadi blessing in disguise
Wulan: Lagu Mbah Surip memang punya kekuatan magis ya, bisa membangunkan semua orang 😄
Lilac: Lain kali aku bawa earphone saja deh, biar nggak ganggu kalian lagi
Vanda: Nggak apa-apa Li, malah jadi cerita lucu. Pokoknya, Tanakita forever! 💪
Lilac, Rose, Wulan, Olive: TANAKITA FOREVER! 🎉
Beberapa hari kemudian, di grup WA mereka yang baru…
Lilac: Eh, kalian tahu nggak? Aku sudah beli earphone bluetooth yang bagus nih. Jadi nggak akan ada lagi kejadian musik kenceng pagi-pagi 😅
Vanda: Bagus! Jantungku belum pulih sepenuhnya dari syok kemarin 😂
Rose: Tapi lucu juga sih, jarang-jarang kita bangun sepagi itu
Olive: Iya, dan matahari terbitnya beneran cantik banget
Wulan: Kapan kita kamping lagi? Tapi kali ini aku dari awal ya, jangan nyusul
Lilac: Boleh, tapi tempat yang aman dari segala macam serangga dan binatang aneh
Vanda: Dan jauh dari rumah makan Padang 🤣
Rose: Dan jauh dari sungai yang ada lintahnya!
Olive: Dan yang penting, jangan ada yang nyasar lagi di hutan
Lilac: Sepakat! Tapi kalau ada yang nyetel musik kenceng pagi-pagi, yang lain nggak boleh marah
Vanda: LI! Itu kejadian sekali saja!
Rose: Sudah-sudah, yang penting kita kompak terus ya
Olive: Setuju! Apapun kejadian konyolnya, kita tetap solid
Wulan: Tanakita family forever!
Dan sejak hari itu, nama Tanakita menjadi simbol persahabatan mereka yang telah melewati berbagai petualangan konyol, namun selalu bersama dalam suka dan duka. Kelima sahabat yang dulunya dikenal sebagai “Geng Bunga” kini menjadi “Tanakita”, sebuah keluarga besar yang dipersatukan oleh tawa, cerita konyol, cinta yang tulus satu sama lain, dan tentu saja… kejadian musik Mbah Surip yang menggelegar di pagi buta.
Mereka tahu bahwa masih akan ada banyak petualangan konyol lainnya di masa depan, tapi sekarang mereka siap menghadapinya bersama-sama, tanpa rahasia, dengan keluarga besar yang mendukung, persediaan obat-obatan lengkap hasil belajar dari pengalaman, dan yang paling penting earphone bluetooth untuk Lilac agar tidak ada lagi kejadian “bangun tidur sepagi itu” versi Mbah Surip yang bikin semua orang kaget setengah mati. Juga, tidak mungkin mengikuti saran Mbah Surip, “bangun tidur, tidur lagi” sebagaimana lirik lagunya.
Dan sampai hari ini, setiap kali mereka berkumpul dan ada yang cerita tentang kejadian aneh atau konyol, yang lain pasti akan bilang, “Wah, ini bahan cerita buat Tanakita nih!”
Tapi yang paling sering diingat adalah kejadian musik pagi itu. Setiap kali Lilac mulai nyetel musik, yang lain pasti bilang, “Jangan kenceng-kenceng ya Li, nanti kita semua bangun kaget lagi!”
Dan Lilac selalu menjawab dengan malu-malu, “Iya, iya. Sudah ada earphone kok sekarang!”
Karena itulah Tanakita, bukan hanya sebuah tempat, tapi sebuah ikatan persahabatan yang tercipta dari koleksi kekonyolan, keabsurdan, kejadian tak terduga seperti alarm pagi versi Mbah Surip, dan cinta yang tulus.
**Epilog**
Tiga bulan kemudian, mereka merencanakan jalan-jalan lagi. Kali ini ke Bandung untuk berburu kuliner.
Wulan: Guys, gimana kalau kita ke Bandung akhir pekan depan?
Rose: Boleh! Sudah lama nggak jalan-jalan bareng
Vanda: Setuju! Aku sudah riset tempat makan yang enak-enak
Olive: Asal jangan yang bikin kamu masuk rumah sakit lagi ya Van 😂
Vanda: Hey! Itu kan dulu!
Lilac: Aku ikut, tapi nggak bawa sound system portabel
Vanda, Wulan, Rose, Olive: HAHAHAHAHA! 🤣
Rose: Li, kamu trauma sama sound system ya sekarang?
Lilac: Nggak trauma, cuma… lebih aman pakai earphone saja
Wulan: Pilihan cerdas, Li! 👍
Olive: Oke sepakat, Bandung trip! Tapi kali ini nggak ada yang boleh nyasar, masuk rumah sakit, atau bangunin orang pagi-pagi dengan musik kenceng
Vanda: Tantangan diterima!
Lilac: Aamiin! Semoga trip kali ini normal-normal saja
Rose: Sudah tahu kan kita ini? Pasti ada saja kejadian konyolnya 😅
Rose, Lilac, Vanda, Wulan, Olive: TANAKITA! 🎉
Dan petualangan Tanakita pun berlanjut…







