Aksi provokatif tulisan itu betul-betul ampuh. Memang, dia tidak bersuara, hanya sebuah frasa merah dua kata, tapi telinga ini terasa mendengar cemoohannya. ”Pengen ya? Sori, menu ini buat orang berduit. Bukan untuk mahasiswa kos-kosan sepertimu. Silakan ngences (ngiler). Boleh datang bila sudah ada uang.”
Sebab-musabab namanya seperti itu tidak penting bagi kami. Yang paling penting adalah kami bisa menggunakan kolam wudhu bersejarah itu untuk bermain air. Berenang kesana-kemari layaknya perenang yang bertanding dalam kolam skala olimpiade.
Bukan bentuk dan warnanya yang menarik dan membuat penasaran tetapi jumlahnya yang berubah-ubah saat dihitung. Berapa sebenarnya jumlah piring Putri Campa?
Setelah merasa menjadi pemenang karena bisa sampai di puncak menara, melihat dan memegang lonceng menara Masjid Agung Demak yang tidak akan terlihat dari bawah, serta melihat pemandangan kota, kami selanjutnya turun. Sampai di bawah, seorang petugas masjid berbadan besar sudah menunggu.