“Saya suka dengan orang-orang yang total.” Seorang sahabat saya tiba-tiba mengomentari sebuah artikel dalam koran yang sedang dia baca. Di dalam tulisan itu diceritakan seorang seniman begitu serius menggeluti bidang kesenian yang selama ini telah menghidupi dia dan keluarganya. Gambaran sebuah pengabdian terhadap profesi yang inspiratif. “Tetapi kalau totalitas tanpa logika, konyol namanya,” lanjut sahabat saya ini.
Totalitas dalam berkarya memang dibutuhkan. Apapun profesi yang digeluti. Ketika seseorang berkarya secara total itu artinya dia memiliki komitmen yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dia memiliki integritas dalam menjalankan itu semua. Orang-orang dalam aneka profesi yang memiliki totalitas akan sukses dalam bidang yang digelutinya. Kita bisa lihat banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari. Coba kita perhatikan, misalnya, orang-orang yang kita anggap berhasil yang saat ini kebetulan kita kenal atau hidup di sekitar kita. Bisa dipastikan mereka merupakan orang-orang yang total dalam menjalani profesinya.”
Dan memang, totalitas adalah kunci. Kunci yang entah untuk membuka pintu sukses atau malah untuk mengunci diri di ruang sempit bernama ‘nasib’. Tapi tak apa. Selama total, kita dianggap mulia. Menderita? Ya, itu konsekuensi. Namanya juga pengabdian.
“Lihat Mang Gowok tukang bakso depan gang itu,” kata sahabat saya sambil melipat koran dengan gaya seolah sedang menandatangani perjanjian damai antara dua negara adidaya. “Setiap hari jam empat sore dia udah siap di ujung gang, mangkal sambil dorong gerobak dengan penuh semangat. Kadang hujan, kadang panas. Tapi dia tetap jalan. Itu namanya total.”

Saya manggut-manggut. Dalam hati, saya ingin berkata bahwa itu juga bisa disebut kebutuhan ekonomi. Tapi saya tahan. Saya tahu, di mata sahabat saya, segala sesuatu harus dibingkai dengan puisi dan pengorbanan. Kalau tukang bakso itu istirahat karena masuk angin pun, bisa jadi nanti dianggap ‘luntur integritas’.
Lalu dia menyebut Ibu Gempol, guru SD di kampung kami yang tetap mengajar walau gaji telat datang selama tiga bulan. “Dedikasi,” katanya sambil menatap langit-langit, seperti sedang melihat masa depan yang indah dan bergaji tetap. Saya ingin menimpali bahwa mungkin Bu Gempol mengajar karena belum ada kerjaan lain dan suaminya belum pulang sejak tahun 2014, tapi ya sudahlah. Biarkan idealisme mengalir.
“Tapi, Bro,” kata saya akhirnya, karena tidak tahan, “apa semua orang total itu pasti sukses?”
“Jelas! Minimal sukses secara batin.”
Saya menarik napas dalam. Itu jawaban paling aman sekaligus paling licin yang pernah saya dengar. Sukses secara batin itu seperti kamu bilang kamu kenyang setelah makan satu potong tempe dan dua sendok nasi, lalu kamu ngaku sedang ‘detoks spiritual’. Padahal itu jelas-jelas tanggal tua.
Sahabat saya mulai antusias. Dia menyebut lagi orang-orang yang menurutnya layak mendapat penghargaan karena totalitasnya. Seperti Pak Peyang satpam yang tiap malam jaga pos walau kompleks kami damai-damai saja, bahkan maling pun mungkin bosan saking nggak ada apa-apa. Tapi Pak Peyang tetap hadir. Setia dengan senter kecil dan secangkir kopi sachet. Menurut sahabat saya, itu contoh nyata dari keteguhan hati.
Lalu ada teman SMA kami, Dodol, yang sejak kuliah memutuskan hidup dari trading online. Sudah sepuluh tahun hidupnya naik-turun seperti grafik saham yang dia mainkan. Tapi dia tetap total. Bahkan dia pernah bangkrut tiga kali dan masih sempat bikin seminar motivasi berjudul “Bangkit dari Keterpurukan: Investasi atau Mati”—yang dihadiri oleh lima orang, tiga di antaranya keluarganya sendiri.
“Orang-orang seperti mereka harusnya jadi inspirasi nasional,” kata sahabat saya lagi, semakin dalam ke zona puji-pujian yang luar biasa optimistis. “Bukan artis TikTok yang cuma joget-joget sambil pamer kolor.”
Saya tidak membantah. Tapi saya juga tidak sepenuhnya setuju. Karena kalau dipikir-pikir, artis TikTok itu juga total. Bayangkan, tiap hari mengedit video, mengatur lighting, mencari lagu, belum lagi kalau salah gerakan terus direvisi berkali-kali. Bahkan kalau salah angle dikit, bisa dikira punya dagu dobel. Itu jelas tekanan mental tersendiri.
“Totalitas itu bukan soal apa profesinya,” katanya seperti seorang motivator versi abal-abal. “Tapi soal bagaimana kamu menjalaninya. Mau kamu jadi tukang servis kipas angin keliling pun, kalau total, kamu layak dihormati.”
Saya mengangguk. Tapi saya juga ingat tukang servis kipas angin kemarin yang bikin kipas saya malah nyala kebalik. Mungkin dia terlalu total sampai kipasnya berubah jadi alat hisap energi.
Sahabat saya kemudian menunjuk dirinya sendiri. “Gue ini juga total, loh.”
Tentu. Saya sudah menebak bagian ini akan datang. Dia memang sangat total… dalam menghindari pekerjaan tetap. Sejak lulus kuliah, dia sudah mencoba jadi musisi indie, content creator, penulis puisi, stand up comedian underground, hingga paranormal dadakan yang sempat punya pelanggan tetap: seekor kucing tetangga yang suka duduk diam waktu dia baca mantra.
“Tiap malam gue nulis,” katanya penuh kebanggaan. “Gue pertaruhkan waktu tidur, relasi, bahkan asuransi BPJS gue yang sekarang udah expired.”
Saya menatapnya penuh hormat, sambil berpikir apakah ada versi totalitas yang bisa menghidupi minimal satu paket nasi uduk per hari. Tapi saya tahu, di matanya, perjuangan ini bukan soal uang. Ini soal “visi hidup”. Visi yang sayangnya belum punya investor.
Dia melanjutkan monolognya, sekarang dengan intonasi seperti sedang pidato kelulusan. “Masalah generasi sekarang itu bukan kurang pintar. Tapi kurang total. Semua serba setengah-setengah. Liat aja, kerja baru dua bulan udah resign. Padahal belum sempat dimaki bos lebih dari tiga kali.”
Saya nyaris menyembur kopi. Bagi dia, dimaki bos adalah bagian dari proses pendewasaan. Dan resign terlalu cepat adalah kegagalan dalam menghadapi kerasnya dunia. Menarik.
“Lu harus total juga,” katanya menunjuk saya. “Jangan cuma nulis status sindiran di medsos terus berharap hidupmu berubah.”
Saya terdiam. Tertusuk. Karena itu benar.
“Mulai aja dari hal kecil,” tambahnya. “Misalnya total dalam diam. Total dalam tidur. Atau total dalam menolak ajakan reuni keluarga yang toxic. Semua bisa jadi bentuk perlawanan spiritual yang hakiki.”
“Bahkan bila lu seorang koruptor, totalitas koruptor harus lu tunjukkan. Jangan pedulikan jika ada yang bilang negara ini diacak-acak koruptor. Itu omongan mereka saja yang nggak punya kesempatan untuk korupsi. Ingat itu!”, tambahnya. Entah apa maksudnya, saya memilih bengong untuk yang satu ini.
Saya tidak tahu apakah dia sedang memberi motivasi atau sekadar merayakan kemalasannya dengan retorika puitis. Tapi jujur, saya sedikit terinspirasi. Setidaknya, saya ingin jadi total dalam menyelesaikan tulisan ini, walaupun isi kepalanya makin lama makin mirip taman hiburan di malam hari—penuh lampu tapi tidak jelas arahnya.
“Jadi, totalitas itu semacam agama, ya?” saya bertanya, iseng.
“Bisa dibilang begitu. Tapi bedanya, totalitas nggak perlu rumah ibadah. Cukup hati dan tekad.”
Kalimat itu terdengar seperti kutipan di mug-mug motivasi yang dijual di toko oleh-oleh spiritual. Tapi saya biarkan saja. Toh, dunia ini terlalu serius. Kadang kita perlu orang seperti sahabat saya, yang total dalam ketidakjelasan tapi berhasil membuat kita merasa hidup kita belum sepenuhnya gagal.
Kami pun beranjak, menyudahi obrolan yang, bagi saya, lebih seperti seminar motivasi level RT. Tapi satu hal yang saya pelajari hari itu adalah: totalitas memang penting. Meski kadang membuat kita lapar, kesepian, atau bahkan dipandang aneh oleh dunia.
Tapi, setidaknya kita bisa bilang kita sudah mencoba. Secara total.
Dan kalau gagal? Ya sudah. Total juga dalam menerima nasib.







