Penulis Sesat

0
290

Secara kebetulan saya mendapati komentar salah satu pembaca tulisan lama saya. Karenanya, tiba-tiba saya kok jadi meragukan jati diri sendiri. Jangan-jangan saya ini seorang penulis sesat.

PENULIS SESAT?

Komentar tersebut memang tidak secara gamblang ditujukan ke saya. Biar jadi tidak kabur lagi, baiknya saya suuzan alias berprasangka buruk saja kalau yang dimaksud komentar itu adalah saya. Dengan demikian saya punya alasan kuat membuat tulisan ini untuk merespon komentar tersebut. Bukan, bukan sebagai pembelaan atau penyangkalan bahwa saya ini penulis sesat. Malah sebaliknya, tulisan ini untuk memastikan bahwa saya ini seorang penulis sesat, jika memang sesat. Atau ternyata justru sebaliknya. Untuk membantu saya, tolong Anda ikut memutuskan setelah saya ceritakan duduk berdiri perkaranya dan fakta-faktanya.

MENYAMAKAN PERSEPSI

Agar adil bagi semua pihak, langkah awal memang harus menyamakan persepsi dulu. Dengan demikian apa yang dihasilkan atau diputuskan nanti bisa dimengerti semua pihak dengan pemahaman sama persis. Dengan demikian kesalahpahaman bisa dihindari.

Betul, penyamaan persepsi di awal penting dilakukan dan harus. Jika tidak, kebingungan bisa terjadi. Sebagai contoh, coba Anda bayangkan obrolan antara seorang sopir dan seorang pedagang buah. Ketika terdengar kata ‘kilo’ tanpa ada embel-embel di belakang kata itu, kira-kira kilo yang dimaksud itu mengacu ke bobot atau jarak? Jika yang bicara sopir, arahnya pasti jarak. Namun bila yang ngomong tukang buah, tentunya lagi membahas berat atau bobot. Kecuali mereka belum sepakat perihal yang dibicarakan alias persepsi belum disamakan, miskomunikasi bisa dihindari. Ya toh?

SESAT

Kalau bicara tentang sesat, sesat yang mana atau apanya, atau gimana? Harus ada satu kata sepakat untuk urusan sesat. Yang dimaksud sesat di sini apakah saya ini menyimpang dari ajaran kebenaran agama? Misalnya saya menyembah pohon jengkol alih-alih menyembah Tuhan? Atau bukannya pergi ke rumah ibadah, perginya malah ke gedung bioskop untuk memuja artis idola yang sedang main? Jangan-jangan saya terlihat berangkat Jumatan di hari Sabtu?

Barangkali sesat yang dimaksud adalah tulisan saya tidak untuk hal yang benar? Contohnya saya menulis untuk memfitnah atau menzalimi orang lain. Saya sengaja memberi informasi salah perihal seseorang atau suatu kejadian untuk tujuan tertentu. Jadi, saya dengan sadar menciptakan hoaks layaknya yang sering dilakukan seorang bigot. Begitu?

Atau yang ini, sesat yang dimaksud adalah judul-judul tulisan saya tidak sesuai dengan isinya? Misalnya judulnya A, isinya atau yang diomongkan dalam tulisan ternyata B.

PENGAKUAN

Mungkin bagusnya saya mengaku saja. Dari tiga kemungkinan sesat yang saya sebutkan di atas sehingga saya pantas disebut penulis sesat, yang ketiga kayaknya ada benarnya juga. Kayaknya ya, bukan pasti. Tapi Anda bebas menilai saya kok.

Bisa saja Anda punya kriteria lain sehingga baiat Anda kepada saya sebagai penulis sesat, sah.

PEMBELAAN

Lebih tepatnya penjelasan, bukan pembelaan. Karena yang ingin saya sampaikan lebih ke arah pemaparan untuk klarifikasi.

Saya merasa apa yang saya lakukan tidak menyimpang dari norma umum. Juga apa yang saya tulis tak berisi hal-hal atau ajakan untuk keluar dari jalur yang diterima semua pihak. Pihak ini bisa dari mereka yang menjalankan norma agama, mereka yang berkuasa di dunia politik, atau masyarakat umum dengan norma-normanya yang dianggap baik dan lazim.

Orang-orang, khususnya yang berkecimpung di dunia kepenulisan, yang dianggap sesat baik perilaku maupun yang ditulisnya biasa mereka yang dianggap menyimpang dan keluar dari norma agama, politik, dan sosial.

MEREKA YANG DISESATKAN

Mengambil contoh kasus-kasus yang pernah terjadi di masa lalu, penulis yang dianggap sesat misalnya Salman Rushdie penulis Inggris keturunan India. Dia dianggap sesat gara-gara menulis novel Ayat-ayat Setan (Satanic Verses). Sampai-sampai dia harus menyembunyikan diri karena muncul fatwa hukuman mati baginya dari Syah Iran. 

Dari Indonesia ada Pramoedya Ananta Toer yang karya-karyanya dianggap sesat karena menentang otoritas rezim masa itu. Beberapa kali dia dibui. Bagi rakyat jelata seperti saya ini, karya-karya Pram justru mengagumkan. Saya bisa bilang begitu barangkali karena saya tidak merasa buah tangan Pram mengancam kekuasaan saya. Lebih-lebih karena saya memang tidak memiliki kekuasaan yang bisa menggerakkan Pram membuat karya perlawanan kepada saya.

Yang pasti, bagi saya, meskipun Pramoedya dilabeli penulis sesat pada saat itu, karya-karyanya tak ada yang menyesatkan saya. Begitu karya-karyanya tidak diberedel lagi, semua karya Pram yang saya temukan saya koleksi. Beberapa kali saya menyinggung Pram dalam tulisan-tulisan saya. Salah satunya berjudul Penulis ‘Cemen’ Tak Memilih Tulisan Dibalas Tulisan. Sebuah gambaran perilaku seorang penulis, dikenal karena novelnya Laskar Pelangi, yang saya anggap tidak punya nyali.

Arswendo Atmowiloto seorang novelis Indonesia juga pernah dipenjara karena dianggap sesat oleh orang Islam. Dia nekad memosisikan Nabi Muhammad bukan di nomor satu dalam daftar orang-orang populer di dunia. Daftar itu diterbitkan di tabloid Monitor yang dipimpinnya.

PERAN PENULIS SESAT

Selain tiga contoh penulis yang dianggap sesat di atas, dua di antaranya yaitu Salman dan Arswendo pernah saya singgung di tulisan berjudul Jyllands-posten, banyak penulis yang dituduh sesat dari jaman dulu hingga sekarang. Asal mereka yang memiliki otoritas entah itu di politik, agama, atau masyarakat pada umumnya menyatakan seorang penulis dianggap sesat karena tidak sejalan dengan norma-norma yang dianut pada waktu itu, maka sesatlah penulis itu.

Namun demikian ketika jaman berubah, waktu bergulir, penulis yang tadinya dianggap sesat bisa bergeser sebutannya menjadi pembaharu. Apa yang dia tulis sebelumnya yang dikatakan menantang penguasa, mengkritik ajaran agama, atau mengulas hal-hal tabu di masyarakat yang tidak sepantasnya diumbar, kemudian dianggap sebagai pionir atau pembuka jalan pemikiran baru.

Sudah baca tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer? Karya Pram seperti inilah yang dianggap mengancam kursi kekuasaan rezim Soeharto pada masa itu hingga akhirnya dilarang beredar. Namun saat ini karya-karyanya sudah gampang kita jumpai di mana-mana baik offline maupun online. Dulu, tak bakal buku-buku Pram ditemukan dan dijual bebas di toko buku karena semua karyanya diberedel. Tentara saja merazia kos teman saya karena dicurigai menyimpan karya Pram. Yang punya mesti sembunyi-sembunyi untuk membacanya, itu pun hanya fotokopian, bukan buku asli. Saat saya di bandara Changi, saya hanya bisa ngiler melihat tumpukan karya Pram dipajang di  toko buku dengan dipasangi tulisan peringatan “Banned in Indonesia“. Untung waktu itu pikiran waras saya masih befungsi dengan baik, kalau tidak, saya pasti membelinya kemudian bermasalah dengan pihak imigrasi Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta dilanjut berurusan dengan militer. Membeli karya penulis sesat berarti mendukung pemikiran penulisnya. Bisa jadi begitu, kan?

Saya kasih satu contoh bagian dari Bumi Manusia yang dianggap tidak sesuai dengan norma rezim penguasa waktu itu yang kental dengan feodalisme. Adegan tokoh Minke yang menolak laku ndhodhok yaitu berjalan sambil jongkok atau bertumpu pada lutut ketika menghadap bupati adalah sebuah penghinaan bagi penguasa atau bangsawan. Ini bisa menjadi contoh tidak baik atau ajakan bagi pembaca untuk melakukan hal sama seperti yang diperbuat Minke. Jelas ini perbuatan sesat di mata kaum feodal. Seperti kita ketahui, feodalisme merupakan sistem sosial atau politik yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, bukan prestasi kerja, memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan dan tuan tanah.

SESAT, TERSESAT, MENYESATKAN

Kembali saya tegaskan, harus jelas yang dimaksud sesat di sini. Kata sesat bisa multitafsir. Dibilang penulis sesat kalau yang ditulis menyimpang dari norma umum. Penulis yang perilakunya tidak sesuai tatanan yang berlaku secara umum juga bisa dibilang penulis sesat. Sesat bisa juga disematkan karena tulisannya membuat pembaca tersesat. Ibarat pisau bermata dua, bisa kelakuan penulisnya yang sesat, dapat pula karyanya menyebabkan orang lain tersesat karena membacanya. Atau bisa keduanya, ya orangnya ya karyanya?

Atau makna yang satu ini? Sebenarnya dia orang baik tetapi karena tidak ada yang menuntunnya dalam menulis sehingga dia menjadi tersesat. Penulis ini ibarat murid tanpa guru, tidak ada yang mengarahkan, seperti pelancong di dalam hutan belantara tanpa kompas, peta, atau ilmu menentukan arah.

SAYA PENULIS SESATKAH

Sebelum menyimpulkan saya ini penulis sesat entah itu orangnya atau tulisannya atau keduanya, atau sebenarnya saya penulis baik-baik yang hanya tersesat saja, atau bukan semuanya, saya akan kisahkan perihal tulisan-tulisan yang saya buat.

Penulis Sesat atau Penulis Tersesat?

Beberapa teman yang sudah kenal saya sejak lama dan suka membaca tulisan saya biasanya sudah ancang-ancang. Mereka tahu bagaimana menyikapi tulisan saya. Mereka juga kadang berbaik hati memperingatkan pembaca lain ketika menikmati tulisan saya. Ada juga yang memberi tips cara membaca tulisan saya. 

Biasanya saya memang suka iseng, menyesatkan dalam menulis. Kalau gara-gara ini kemudian saya divonis sebagai penulis sesat, saya terima. Saya beri tiga tulisan saya sebelum menjatuhkan vonis. Pertama: Cara Membuat Tulisan Kontroversial Untuk Blog. Kedua: Mari Telanjang. Ketiga: Berpikir Negatif Memang Asyik.

Silakan dibaca ketiga tulisan itu. Sampai tuntas ya. Kalau tidak tuntas, risikonya Anda bisa tersesat dan gagal paham. Mudah-mudahan Anda bisa meluangkan waktu untuk membacanya. Semoga saja Anda bukan tipe pembaca sumbu pendek, hanya dengan membaca judul langsung memvonis. Selanjutnya Anda putuskan, kira-kira tulisan saya itu bisa menjadikan saya penulis sesat versi Anda atau justru Anda yang jadi tersesat karenanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here