Maaf, bukan sombong. Saya sudah melihat tempat-tempat dan benda-benda yang disebutkan Dan Brown dalam novelnya, Inferno. Basilika Santo Markus, Ghent Altarpiece atau Adoration of the Mystic Lamb atau The Lamb of God, The Tetrarchs, The Horses of St. Mark’s, Riva degli Schiavoni, Il Ponte dei Sospiri, Piombi, dan lukisan The Kiss karya Gustav Klimt adalah beberapa yang tersebut dalam Inferno.
Dan Brown memang penulis dunia. Karyanya renyah untuk dinikmati. Cara dia mengolah konflik, menyusun alur, mendeskripsikan latar tempat, mampu memukau pembacanya. Tak heran bila karya-karyanya menjadi bestseller internasional. Siapa yang tak kenal dengan The Da Vinci Code, The Lost Symbol, Angels & Demons, Deception Point, dan Digital Fortress? Bagi mereka yang gemar membaca, bisa dibilang pasti tahu judul-judul novel itu. Walau belum membacanya, setidaknya pernah dengar.
Inferno mengambil latar tempat di Italia, dan seperti biasa, Dan Brown kembali menunjukkan kejeniusannya dalam hal riset lokasi. Riset, kata yang begitu muluk untuk aktivitas yang pada dasarnya adalah googling sambil minum kopi di kafe pinggir jalan, lalu sesekali melakukan trip lapangan ke museum dengan kamera DSLR untuk dokumentasi Instagram yang estetik. Namun, siapa peduli dengan proses kreatifnya, yang penting hasilnya memukau, bukan?
Tentu saja, sebagai pembaca yang telah berkelana ke tempat-tempat eksotis tersebut, atau setidaknya pernah melihatnya melalui layar ponsel saat menjelajahi unggahan Instagram travel blogger, kita dapat merasakan betapa detailnya Brown menggambarkan setiap sudut Venesia dan Florence. Seakan-akan dia adalah seorang pemandu wisata yang telah pensiun, kemudian memutuskan untuk menulis cerita menegangkan alih-alih membuka usaha warung nasi gudeg.
Bayangkan saja, betapa beruntungnya kita yang bisa membaca deskripsi Basilika Santo Markus dengan begitu detail, lengkap dengan sejarah mozaiknya yang berkilau, tanpa perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk tiket pesawat dan akomodasi. Brown bahkan dengan baik hati menyertakan detail arsitektur yang mungkin terlewat oleh mata wisatawan awam yang terlalu sibuk berfoto selfie di depan bangunan bersejarah tersebut.
Ghent Altarpiece, misalnya. Karya seni yang telah berusia ratusan tahun ini digambarkan Brown dengan detail yang membuat pembaca seolah-olah sedang mengikuti tur eksklusif museum dengan panduan audio premium. Tentu saja, dia tidak lupa menyelipkan teori konspirasi yang membuat bulu kuduk merinding, karena apa gunanya karya seni bersejarah kalau tidak dikaitkan dengan misteri gelap yang mengancam peradaban dunia?
Begitu pula dengan The Tetrarchs, patung porfiria yang berdiri kokoh di sudut Basilika Santo Markus. Brown berhasil mengubah patung yang mungkin hanya dilirik sekilas oleh turis menjadi bagian integral dari alur cerita yang menegangkan. Siapa sangka bahwa empat kaisar Romawi yang tergambar dalam patung tersebut bisa menjadi kunci untuk mengungkap rencana jahat yang dapat memusnahkan separuh populasi dunia? Hanya Dan Brown yang mampu mengubah pemandu wisata menjadi cerita menegangkan berkaitan dengan kiamat.
The Horses of St. Mark’s pun tidak luput dari sentuhan magis Brown. Empat kuda perunggu yang megah ini tidak hanya dijelaskan sebagai hasil rampasan perang dari Konstantinopel, tetapi juga sebagai saksi bisu dari rencana yang telah direncanakan selama berabad-abad. Karena memang, dalam dunia Dan Brown, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua adalah bagian dari rencana besar yang telah diatur oleh organisasi rahasia yang entah bagaimana berhasil bertahan selama ribuan tahun tanpa ada yang bocor ke media sosial.
Jalan-jalan di Riva degli Schiavoni sambil membaca Inferno memberikan pengalaman yang cukup unik. Bayangkan saja, berjalan di sepanjang dermaga yang sama di mana Robert Langdon berlari terburu-buru mengejar petunjuk sambil dihantui oleh visi mengerikan tentang neraka Dante. Tentu saja, dalam kenyataan, yang kita temui di sana hanyalah kerumunan turis yang sibuk berfoto dengan latar belakang gondola dan penjual souvenir yang menawarkan topeng Venesia dengan harga yang cukup fantastis.
Il Ponte dei Sospiri atau Bridge of Sighs menjadi salah satu lokasi yang paling dramatis dalam novel ini. Brown berhasil mengubah jembatan yang dulunya dilewati tawanan menuju penjara menjadi panggung untuk adegan yang memacu adrenalin. Ironis memang, bagaimana sebuah jembatan yang dulunya adalah simbol penderitaan kini menjadi salah satu destinasi paling romantis di dunia. Hanya di Venesia, dan dalam novel Dan Brown, kontradiksi semacam ini bisa berjalan dengan begitu harmonis.
Piombi, penjara terkenal di mana Casanova pernah melarikan diri, juga mendapat porsi yang cukup dalam novel ini. Brown dengan lihai menggunakan sejarah kelam tempat ini untuk menambah atmosfer mencekam dalam ceritanya. Tentu saja, tidak ada yang seperti penjara bersejarah untuk menambah drama dalam sebuah thriller yang berlatar belakang seni dan sejarah.
Dan siapa yang bisa melupakan lukisan The Kiss karya Gustav Klimt? Meskipun lukisan ini secara geografis berada di Wina, bukan Italia, Brown berhasil menyelipkannya ke dalam alur cerita dengan cara yang cukup meyakinkan. Karya seni yang penuh dengan simbolisme emas ini menjadi salah satu kunci dalam mengungkap misteri yang membungkus seluruh cerita. Klimt mungkin tidak pernah membayangkan bahwa karyanya akan menjadi bagian dari cerita menegangkan modern yang melibatkan virus mematikan dan rencana pengurangan populasi dunia.
Yang menarik dari gaya penulisan Brown adalah kemampuannya untuk membuat pembaca merasa pintar. Setiap referensi sejarah, setiap penjelasan tentang karya seni, setiap detail arsitektur dijelaskan dengan cara yang mudah dicerna namun tetap terkesan mendalam. Pembaca merasa seperti sedang mengikuti kuliah sejarah seni yang sangat menarik, hanya saja dosennya kebetulan adalah seorang profesor yang juga ahli dalam teori konspirasi dan aksi menegangkan.
Memang, ada kritik yang menyebutkan bahwa formula Dan Brown sudah terlalu repetitif. Robert Langdon yang selalu terjebak dalam misteri yang melibatkan organisasi rahasia, selalu ada wanita cantik dan cerdas yang menemaninya, selalu ada kejaran yang menegangkan di tempat-tempat bersejarah, dan selalu ada pelintiran di akhir yang mengejutkan namun entah mengapa terasa familier. Namun, bukankah itu yang membuat pembaca nyaman? Seperti menonton serial TV favorit, kita tahu apa yang akan terjadi, tetapi tetap menikmati prosesnya.
Inferno, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tetap menjadi bacaan yang menghibur bagi mereka yang menyukai perpaduan antara kisah menegangkan, sejarah, dan seni. Dan bagi kita yang pernah berkelana ke tempat-tempat yang disebutkan dalam novel, membaca Inferno memberikan kepuasan tersendiri, seolah-olah kita adalah bagian dari petualangan Robert Langdon, meskipun dalam kenyataan kita hanya turis biasa yang terlalu banyak mengambil foto selfie.
Saya pun terbangun dari lamunan karena teriakan tukang tahu lewat di depan rumah. Dengan terpaksa, kesombongan saya bahwa sudah melihat tempat-tempat dan benda-benda yang disebutkan Dan Brown dalam Inferno harus berhenti sampai di sini.
Catatan:
Sekadar diketahui, draf tulisan ini saya buat pada 21 Oktober 2013 pukul 13.05 WIB. Baru sekarang saya selesaikan, setelah 12 tahun kurang 4 bulan konsep ini saya telantarkan.







