
Silakan berkunjung ke wongkamfung.boogoor.com jika ingin membaca tulisan lama saya (yang katanya bermasalah). ![]()
Terima kasih.
Menuju #NgopiKere
Hohah kembali melihat jam tangan, untuk ketujuh kalinya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit. Duloh dan Wekape belum junga muncul. Padahal jadwal pemberangkatan bus setengah jam lagi. Sore itu mereka akan berangkat ke acara #NgopiKere. Acara minum kopi yang dikemas sangat menarik. Tak heran jika pesertanya dari beragam komunitas dan profesi.
Euforia #NgopiKere

(foto: @PelancongMalas)
Acara kumpul-kumpul bareng sahabat yang dinamai #NgopiKere telah usai seminggu yang lalu. Namun demikian, kegembiraan itu masih saja ada. Euforia #NgopiKere masih mewujud di media sosial. Twitter. Itu media sosial yang saya amati.
#NgopiKere: Pesta yang Tak Pernah Usai

Ceret penjerang air untuk menyeduh kopi di #NgopiKere.
Bagi saya, #NgopiKere adalah pesta yang tak pernah usai. Apa yang sudah digelar di Gunung Kelir selama tiga hari kemarin hanyalah episode awal sebuah perhelatan. Itu akan terjadi lagi dan terus berlangsung.
Wujud Cinta Tulus Bernama #NgopiKere

Arang pendidih air kopi.
Mengapa judul tulisan ini seperti itu, Anda akan tahu nanti. Saat ini semua peserta #NgopiKere sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya beberapa sahabat yang tetap tinggal karena ada kepentingan yang harus mereka selesaikan.
Continue reading
Episode Asyik #NgopiKere
#NgopiKere telah berjalan dua hari. Hanya tiga kata yang bisa saya ucapkan untuk menggambarkan acara ini: asyik, asyik, asyik. Seperti yang pernah saya tulis dalam Keluarga #NgopiKere, acara ini tidak memiliki rincian acara atau yang suka disebut rundown. Kegiatan mengalir begitu saja tanpa batasan dan rambu-rambu yang hukumnya wajib dipatuhi dan diikuti. Beberapa agenda utama memang dibuat tetapi sifatnya hanya sebagai patokan tetapi sekali lagi, jika pun ini tak terlaksana, tak ada masalah.
Continue reading
Founder Komunitas Serabi Jenggot di #NgopiKere
“Belum akan pulang, kan?” Tanya Duloh kepada Hohah.
“Sebentar lagi. Masih pengen nyantai.” Hohah telah menyerahkan dua tiket bus pesanan Duloh. Sepiring ketoprak sudah tandas dilalap. Tinggal piring kosong tergeletak di atas meja. Hohah menyebut ketoprak yang sekarang berada di dalam perutnya ketoprak setan karena saking pedasnya. Bibirnya kemerahan sisa serangan panas dari cabai jablai dalam bumbu ketoprak.
Tulisan Bermasalah di #NgopiKere
Hohah celangapan. Ketoprak racikan Duloh sesuai pesanannya ternyata berasa api. Mulutnya terbakar, kepedasan. Air teh segelas sudah dia minum. Maksudnya agar rasa panas di mulutnya menggelontor melalui lorong tenggorokan. Usahanya tak sepenuhnya berhasil.
“Gila lu, Loh. Itu cabai jablai yang kamu pakai, ya?” Hohah menyebut cabai jablai untuk cabai rawit merah yang memang terkenal pedas.
“Kan kamu sendiri yang tadi minta ketopraknya dibuat pedas sepedas-pedasnya?”
“Ya, sih, tapi tak kusangka pedasnya setan gini.”
“Silakan dinikmati saja kalau begitu,” kata Duloh sambil tertawa, melihat temannya keok oleh pedasnya ketoprak bikinannya.
Continue reading
Nikmatnya #NgopiKere
Duloh mengelus-elus jenggot kambingnya. Dia sedang menunggu para pembeli ketoprak, dagangannya. Sekali-sekali dia tengok telepon genggamnya. Siapa tahu ada kicauan untuk @SerabiJenggot, akun Twitter yang dia buat untuk komunitas yang dia dirikan dan ketuai.
