Ketika bulan purnama menggantung di langit malam wilayah Semin, Gunungkidul, dari rumah Marmo Kendit terdengar suara tangis bayi. Sulastri, istri Marmo, telah melahirkan seorang bayi perempuan.
“Namanya Wulandari,” kata Marmo sambil memandangi bulan yang bersinar terang. “Wulan artinya bulan, dari atau ndari artinya indah. Semoga anakku seindah bulan purnama malam ini.”
Sulastri hanya tersenyum lelah. Dalam hati, dia berharap suaminya tidak akan terlalu berlebihan dengan nama bermakna mendalam seperti ini. Tetapi siapa yang tahu, mungkin nama yang dipilih Marmo akan membawa berkah.
Dan ternyata, Wulandari memang tumbuh menjadi anak yang istimewa, istimewa dalam artian dia bisa duduk berjam-jam dengan buku di tangan tanpa bergerak seperti patung Buddha yang sedang bermeditasi. Sejak kecil, hobi membacanya sudah mencapai level yang mengkhawatirkan. Ketika anak-anak seusianya bermain petak umpet atau lompat tali, Wulandari sudah akrab dengan tokoh-tokoh seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan.
“Wulan, makan dulu!” teriak Sulastri dari dapur.
Tidak ada jawaban. Wulandari masih asyik dengan bukunya, seolah-olah dunia di sekelilingnya tidak ada. Sulastri harus mengulangi panggilannya hingga lima kali baru Wulandari sadar bahwa dia masih hidup di dunia nyata.
Kebiasaan ini semakin parah ketika Wulandari mulai sering ikut Marmo ke ladang tembakau. Bukan untuk membantu, tentu saja, melainkan untuk membaca di bawah pohon sambil menunggu bapaknya selesai bekerja. Para petani di sekitar sana mulai mengenal Wulandari sebagai “Genduk Paiton”, julukan yang diberikan karena dia selalu hadir di ladang tembakau jenis paiton milik bapaknya, meskipun kontribusinya terhadap pertanian sama sekali nol.
“Wulan, kamu lihat tembakau ini. Bagus kan? Kalau kamu bisa mengelola usaha ini dengan baik, kita bisa kaya,” kata Marmo suatu hari sambil menunjukkan daun tembakau yang hijau subur.
Wulandari mengangguk sambil mata masih terpaku pada novel Pramoedya Ananta Toer yang sedang dibacanya. “Iya, Pak. Bagus sekali.”
Marmo tersenyum puas, tidak menyadari bahwa anaknya bahkan tidak melirik ke arah tembakau yang dibanggakannya.
Ketika Wulandari beranjak remaja, obsesinya terhadap sastra semakin menguat. Dia bermimpi kuliah di jurusan Sastra Indonesia UGM. Tetapi Marmo punya rencana lain.
“Wulan, kamu harus kuliah manajemen. Biar nanti bisa mengelola usaha tembakau kita,” kata Marmo dengan nada serius yang biasa dia pakai ketika membicarakan masa depan usahanya.
“Tapi, Pak, saya ingin belajar sastra,” jawab Wulandari dengan suara yang hampir seperti bisikan.
“Sastra? Untuk apa? Mau jadi penulis? Penulis itu tidak ada penghasilannya. Lihat saja, berapa banyak penulis Indonesia yang kaya? Sedangkan kalau kamu bisa mengelola usaha tembakau dengan baik, kita bisa jadi jutawan.”
Wulandari terdiam. Dia tahu bapaknya keras kepala, tetapi dia juga tidak mau menyerah begitu saja dengan mimpinya. Akhirnya, setelah negosiasi yang cukup alot dan beberapa kali Sulastri harus turun tangan sebagai mediator, tercapai kesepakatan yang bisa dibilang cukup kreatif. Wulandari akan kuliah S1 jurusan Sastra Indonesia di UGM, dan jika ada kesempatan, akan melanjutkan S2 di bidang manajemen.
“Tapi ingat, Wulan. Setelah lulus, kamu harus membantu mengembangkan usaha tembakau kita,” kata Marmo dengan nada yang masih skeptis.
“Baik, Pak,” jawab Wulandari sambil dalam hati berterima kasih kepada ibunya yang telah memberikan jalan keluar yang cukup diplomatis.
Masa kuliah S1 di jurusan Sastra Indonesia UGM ternyata tidak hanya memberikan Wulandari pengetahuan tentang kesusastraan Indonesia, tetapi juga pelajaran berharga tentang cinta, atau lebih tepatnya, tentang cinta yang tidak berbalas. Brandon, mahasiswa Sastra Inggris yang satu angkatan di atasnya, berhasil membuat Wulandari melupakan sementara obsesinya terhadap Pramoedya dan kawan-kawan.
Brandon dengan rambut panjang sepundaknya yang terurai seperti model sampul novel roman picisan, berhasil membuat Wulandari rela meninggalkan kebiasaan membaca di perpustakaan hanya untuk mengintip jadwal kuliahnya. Setiap kali Brandon lewat di koridor Fakultas Ilmu Budaya, Wulandari akan berpura-pura sibuk dengan buku sambil melirik dari sudut mata.
“Wulan, kamu kenapa sih belakangan ini? Kok sering bengong,” tanya Sari, teman sekelasnya.
“Tidak apa-apa. Cuma lagi mikirin tugas,” jawab Wulandari sambil berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
Tetapi usaha Wulandari untuk mendekati Brandon tidak membuahkan hasil. Setelah mengumpulkan keberanian selama berbulan-bulan, dia akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Hasilnya? Penolakan yang halus tetapi mematikan.
“Wulan, kamu gadis yang baik. Tapi aku sudah punya pacar,” kata Brandon dengan senyum yang, menurut Wulandari, sangat tampan tetapi juga sangat menyakitkan.
Wulandari mengangguk sambil berusaha menjaga harga diri. “Oh, oke. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kamu tahu saja.”
Malam itu, Wulandari menelepon rumah dengan mata sembab. Sulastri yang mengangkat telepon langsung khawatir mendengar suara anaknya yang parau.
“Wulan, kamu kenapa? Sakit?”
“Tidak, Bu. Cuma capek kuliah.”
Sulastri tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja, tetapi dia tidak mau memaksa. “Jaga kesehatan, ya. Kalau butuh apa-apa, bilang.”
Beruntung, patah hati tidak membuat Wulandari kehilangan fokus pada studinya. Dia malah semakin rajin membaca, mungkin sebagai pelarian dari kenyataan pahit bahwa cinta pertamanya tidak berbalas. Novel-novel romantis yang dulu dibacanya dengan mata berbinar, kini dibacanya dengan senyum sinis.
“Cih, tokoh perempuan ini terlalu naif. Masa percaya sama cowok yang bilang ‘aku tidak bisa hidup tanpamu’ segala,” gumam Wulandari sambil membaca novel populer.
Pengalaman pahit dengan Brandon justru membuat Wulandari lebih realistis dalam memandang kehidupan. Dia fokus menyelesaikan studinya dengan baik dan berhasil lulus dengan IPK yang memuaskan. Ketika teman-temannya masih sibuk dengan drama percintaan, Wulandari sudah mulai memikirkan masa depan kariernya.
Tahun 1996, Wulandari akhirnya memulai perjalanan baru sebagai mahasiswa S2 manajemen di sebuah institut ternama dekat Stasiun Gambir. Berkat beasiswa yang diterimanya, dia bisa melanjutkan kuliah tanpa membebani keuangan keluarga. Meskipun hatinya masih tertambat pada dunia sastra, dia mencoba menjalani kuliah manajemen dengan sikap yang positif. Atau setidaknya, dia berusaha untuk tidak terlihat seperti orang yang sedang menjalani hukuman.
Pengalaman patah hati dengan Brandon ternyata memberikan kematangan emosional yang tidak terduga. Wulandari menjadi lebih selektif dalam bergaul dan tidak mudah terkesan dengan penampilan luar seseorang.
Di kampus barunya, Wulandari bertemu dengan empat gadis yang kemudian menjadi sahabat karibnya. Mereka adalah Vanda, Lilac, Olive, dan Rose. Kelima gadis ini kemudian dikenal sebagai “Geng Bunga” karena nama mereka yang, menurut mereka, semuanya berkaitan dengan bunga.
Vanda, gadis berkulit putih asal Sentani yang berprofesi sebagai model, adalah alumni Universitas Trisakti jurusan Komunikasi. Dia memiliki kebiasaan unik yang kadang membuat orang lain merasa geli, selalu berhenti dan bercermin setiap melewati permukaan yang memantulkan bayangan, baik itu kaca pintu, jendela, atau bahkan etalase toko. Terkadang, teman-temannya harus menunggu hingga lima menit hanya karena Vanda sedang “memeriksa penampilan” di depan cermin.
“Vanda, kita sudah terlambat,” kata Rose suatu hari ketika mereka sedang bersiap pergi ke kampus.
“Sebentar, rambutku belum rapi,” jawab Vanda sambil terus memperbaiki tatanan rambutnya di depan cermin.
“Kamu sudah bilang sebentar sepuluh menit yang lalu,” sahut Lilac dengan nada yang mulai kesal.
Lilac sendiri adalah gadis berambut panjang lulusan Universitas Indonesia jurusan Psikologi yang memiliki kebiasaan aneh menganalisis kepribadian orang hanya dari cara mereka memegang pulpen. Menurut Lilac, cara seseorang memegang pulpen bisa mengungkap kepribadian mereka yang paling dalam.
“Lihat dosen kita tadi. Dia memegang pulpen dengan cara yang sangat kaku. Itu menunjukkan bahwa dia orang yang perfeksionis dan kurang fleksibel,” kata Lilac sambil menunjukkan cara dosen mereka memegang pulpen.
“Atau mungkin dia hanya gugup karena baru pertama kali mengajar,” sahut Rose dengan logika yang tajam.
Rose adalah lulusan Universitas Padjadjaran jurusan Hukum yang bicara dengan logika tajam layaknya jaksa penuntut umum. Setiap kali ada diskusi, Rose selalu siap dengan argumentasi yang sistematis dan data yang mendukung. Kadang-kadang, teman-temannya merasa seperti sedang diadili ketika berdebat dengan Rose.
“Menurut penelitian Dr. Smith tahun 1994, cara memegang pulpen memang bisa mencerminkan kepribadian seseorang. Tetapi faktor situasional juga harus diperhitungkan,” kata Rose sambil mengeluarkan catatan kecil dari tasnya.
“Rose, kita cuma ngobrol santai. Tidak perlu pakai referensi segala,” kata Olive sambil tertawa.
Olive adalah alumnus Institut Pertanian Bogor jurusan Teknologi Pangan yang selalu bersikeras bahwa namanya berasal dari bunga zaitun, meskipun semua orang tahu bahwa zaitun itu buah. Setiap kali ada yang mempertanyakan hal ini, Olive akan memberikan penjelasan panjang lebar tentang bunga zaitun yang katanya sangat indah.
“Zaitun itu kan berbunga sebelum berbuah. Jadi namaku tetap masuk kategori bunga,” kata Olive dengan nada yang meyakinkan.
“Tapi orang kan lebih kenal zaitun sebagai buah,” sahut Vanda sambil masih sibuk bercermin.
“Nah, kalau begitu, Wulan juga tidak bisa masuk kategori bunga dong. Bulan itu kan benda langit,” kata Lilac dengan nada menggoda.
Wulandari, yang sedang asyik membaca novel, langsung mengangkat kepalanya. “Bulan kan mekar seperti bunga. Dari bulan sabit sampai bulan purnama, itu seperti proses mekarnya bunga.”
Keempat temannya langsung terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa Wulandari bisa memberikan argumentasi yang, meskipun agak dipaksakan, cukup kreatif untuk mempertahankan keikutsertaannya dalam Geng Bunga.
“Wah, Wulan. Kamu ini memang jagoan bikin analogi,” kata Rose sambil tepuk tangan.
“Itu karena dia anak sastra. Terbiasa bermain dengan kata-kata,” tambah Lilac.
Dan sejak saat itu, kelima gadis ini resmi menjadi Geng Bunga yang paling unik di kampus. Mereka sering terlihat bersama di kantin, di perpustakaan, atau di taman kampus. Meskipun mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda, mereka memiliki keterikatan emosional yang luar biasa.
Suatu sore, ketika mereka sedang nongkrong di kantin sambil menikmati gorengan dan teh manis, Vanda tiba-tiba membuka topik yang cukup personal.
“Wulan, kamu belum pernah cerita soal cowok. Masa selama kuliah S1 nggak pernah naksir siapa-siapa?” tanya Vanda sambil memperbaiki tatanan rambutnya menggunakan cermin lipat kecil yang selalu ada di dalam dompetnya.
Wulandari hampir tersedak teh manisnya. “Eh, ada sih. Tapi sudah lama.”
“Wah, cerita dong!” kata Olive dengan antusias.
“Iya, cerita. Kita kan sudah sahabat,” tambah Rose sambil mengeluarkan buku catatan kecilnya, seperti siap menganalisis cerita Wulandari.
Lilac sudah mulai menganalisis ekspresi wajah Wulandari. “Dari cara kamu memegang gelas teh, kayaknya ini cerita yang agak menyakitkan.”
“Ih, Lilac. Jangan dianalisis terus,” protes Wulandari sambil tertawa gugup.
“Ayolah, Wulan. Kita kan teman. Cerita saja,” bujuk Vanda.
Wulandari menghela napas panjang. “Oke, tapi jangan ketawa ya. Waktu kuliah S1 di UGM, aku naksir berat sama senior jurusan Sastra Inggris namanya Brandon. Rambutnya panjang sepundak, tipe cowok yang kayak di novel-novel romantis gitu.”
“Wah, tipe anak motor ya?” tanya Olive dengan mata berbinar.
“Bukan anak motor sih. Lebih ke arah… seniman? Dia sering baca puisi di acara-acara kampus. Suaranya bagus, penampilannya keren. Pokoknya tipe yang bikin cewek-cewek bengong,” jelas Wulandari.
“Terus gimana? Kamu nyatain perasaan?” tanya Rose dengan nada seperti jaksa yang sedang memeriksa saksi.
“Nah, itu dia. Aku sampai rela ninggalin kebiasaan baca di perpustakaan cuma buat ngintip jadwal kuliahnya. Bayangin, aku yang biasanya betah berjam-jam di perpustakaan, malah mondar-mandir di koridor fakultas cuma buat lihat dia lewat.”
“Astaga, Wulan. Kamu parah banget,” kata Lilac sambil menggelengkan kepala.
“Belum selesai. Aku bahkan hapal jadwal kuliahnya di luar kepala. Tahu dia makan siang di mana, tahu dia biasanya nongkrong di mana. Jujur, aku jadi penguntit yang nggak profesional,” lanjut Wulandari sambil menutup wajahnya dengan tangan.
“Wah, ini mah bukan naksir, tapi obsesi,” komentar Vanda sambil masih sibuk dengan cermin.
“Terus akhirnya gimana?” tanya Olive penasaran.
“Setelah berbulan-bulan jadi penguntit amatir, aku akhirnya nekat nyatain perasaan. Tahu nggak apa jawaban dia?”
“Apa?” tanya keempat sahabatnya bersamaan.
“Dia bilang, ‘Wulan, kamu gadis yang baik. Tapi aku sudah punya pacar.’ Dengan senyum yang, menurut aku waktu itu, sangat tampan tapi juga sangat mematikan.”
“Oh,” kata Rose sambil meringis.
“Iya, oh banget. Malam itu aku nangis sambil baca novel Pramoedya. Bayangkan, patah hati tapi tetap harus baca tugas kuliah,” cerita Wulandari sambil tertawa pahit.
“Tapi kamu nggak sampai DO kan?” tanya Lilac dengan nada khawatir.
“Untungnya tidak. Kalau aku DO, pasti nggak ketemu kalian sekarang. Aku justru malah jadi lebih rajin baca. Mungkin baca itu jadi pelarian dari kenyataan pahit bahwa cinta pertamaku nggak berbalas,” jawab Wulandari.
“Wah, setidaknya sekarang kamu lebih matang,” kata Olive sambil menepuk pundak Wulandari.
“Iya, dari pengalaman itu aku belajar untuk nggak gampang terkesan sama penampilan luar doang. Dan yang paling penting, aku belajar bahwa dunia nggak akan berakhir gara-gara ditolak cowok,” kata Wulandari sambil tersenyum.
“Betul banget. Cowok mah banyak. Yang penting sekarang kita fokus sama karier dulu,” sahut Rose dengan nada yang tegas.
“Iya, dan sekarang kamu punya kami. Teman-teman yang nggak akan nyakitin perasaan kamu,” tambah Vanda sambil akhirnya menutup cermin lipatnya.
“Kecuali kalau kamu bilang zaitun bukan bunga,” canda Olive.
“Atau kalau kamu bilang cara memegang pulpen nggak bisa menganalisis kepribadian,” tambah Lilac.
“Atau kalau kamu bilang Rose terlalu serius,” sahut Vanda.
“Atau kalau kamu bilang Vanda nggak cantik,” kata Rose sambil tertawa.
Wulandari ikut tertawa. “Kalian ini… tapi makasih ya. Seneng banget punya sahabat kayak kalian.”
“Sama-sama. Kita kan Geng Bunga yang saling mendukung,” kata Olive sambil mengangkat gelas teh manisnya.
“Ayo bersulang untuk persahabatan dan untuk masa depan yang lebih cerah!” kata Vanda.
“Cheers!” sahut keempat sahabatnya bersamaan sambil mengangkat gelas mereka masing-masing.
Wulandari merasa beruntung memiliki sahabat-sahabat seperti mereka. Setelah bertahun-tahun merasa sendiri dengan hobi membacanya, akhirnya dia menemukan orang-orang yang bisa memahami keunikannya masing-masing. Vanda dengan obsesi cerminnya, Lilac dengan analisis kepribadiannya, Rose dengan logika tajamnya, dan Olive dengan pembelaan zaitunnya.
Kuliah S2 manajemen yang awalnya dirasa berat, menjadi lebih menyenangkan berkat kehadiran Geng Bunga. Mereka saling mendukung dalam setiap tugas dan ujian. Wulandari mulai menemukan bahwa manajemen ternyata tidak seburuk yang dibayangkannya. Bahkan, dia mulai berpikir bahwa pengetahuan manajemen bisa berguna untuk mengelola usaha tembakau bapaknya dengan lebih baik.
“Siapa tahu nanti kita bisa bikin bisnis bareng,” kata Olive suatu hari ketika mereka sedang ngobrol di kantin.
“Bisnis apa?” tanya Vanda sambil memperbaiki lipstiknya menggunakan cermin lipat andalan.
“Bisnis tembakau premium. Wulan kan punya koneksi dengan petani tembakau di Gunungkidul,” jawab Olive dengan antusias.
“Ide bagus. Kita bisa buat merek premium dengan kemasan yang menarik,” tambah Rose.
“Dan kita bisa buat kampanye pemasaran yang unik,” sahut Vanda yang sudah mulai membayangkan dirinya sebagai duta merek.
Wulandari tersenyum mendengar rencana teman-temannya. Mungkin memang benar, nasib telah mengatur semuanya dengan baik. Dia bisa mengejar mimpinya di bidang sastra, tetapi juga bisa membantu mengembangkan usaha keluarga dengan pengetahuan manajemen yang diperolehnya.
“Tapi nanti kita juga harus bikin program CSR untuk petani tembakau,” kata Wulandari sambil memikirkan para petani di desanya.
“CSR apa?” tanya Lilac yang belum familier dengan istilah tersebut.
“Corporate Social Responsibility. Tanggung jawab sosial perusahaan,” jawab Rose dengan nada seperti dosen yang sedang menjelaskan materi.
“Wah, Wulan. Kamu sudah mulai berpikir seperti pengusaha sejati,” kata Olive sambil tertawa.
Mungkin memang benar, pikir Wulandari. Dia yang dulu hanya bermimpi menjadi sarjana sastra, kini mulai membayangkan dirinya sebagai pengusaha yang bisa membantu para petani tembakau di desanya. Siapa sangka, perjalanan hidup bisa seunik ini.
Dan ketika malam itu Wulandari menelepon bapaknya untuk menceritakan rencana bisnisnya, Marmo tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya.
“Wulan, kamu memang anak yang pintar. Bapak bangga sama kamu,” kata Marmo dengan suara yang sedikit bergetar.
“Terima kasih, Pak. Semua ini berkat doa dan dukungan Bapak dan Ibu,” jawab Wulandari sambil tersenyum.
Dan malam itu, bulan purnama kembali bersinar terang di langit Semin, Gunungkidul. Seperti malam ketika Wulandari dilahirkan. Mungkin memang benar, bulan purnama selalu membawa berkah bagi keluarga kecil ini. Keluarga Genduk Paiton yang sekarang telah menjelma menjadi gadis sastra yang jago manajemen.

