Istilah Fakir Bandwidth saya temukan ketika mengikuti acara workshop bertajuk Nganggur Itu Anugerah beberapa waktu lalu. Makna dari istilah itu entah apa. Mungkin terkait dengan ketidakpunyaan bandwidth, atau justru tidak ada hubungannya dengan kepemilikan bandwidth. Yang jelas, Fakir Bandwidth merupakan kosa kata baru dan menarik bagi saya. Barangkali sahabat-sahabat saya dari Gelatik Selam Yogyakarta bisa menjelaskan. Silakan.
Acara workshop yang saya ikuti di Kaliurang Yogyakarta beberapa hari yang lalu betul-betul sangat berkesan. Kekaguman saya tidak ada habis-habisnya dengan para sahabat dari komunitas Gelatik Selam yang menjadi tuan rumah acara itu. Barangkali merekalah yang disebut dengan Fakir Bandwidth atau pernah menjadi si fakir itu. Sharing pengalaman mereka membuat decak kagum sekaligus menimbulkan keheranan para peserta workshop. Kok ya bisa, dengan bahasa Inggris yang minim bahkan ada yang sama sekali tidak ’dong’ mereka mampu mendulang dolar secara gemilang dari dunia maya.
Workshop yang diadakan secara tidak serius ini sangat mencerahkan. Ketidakseriusan itu ditunjukkan dengan pelaksanaan acara yang mengalir dengan santai dan tanpa aturan-aturan yang baku dan kaku seperti biasa terjadi pada workshop pada umumnya. Orang yang berbicara di depan audience ada yang bercelana pendek, memakai kaos buntung, atau berkalung sarung. Duduknya juga tidak di atas kursi tetapi lesehan di atas tikar dan karpet yang dihampar sambil menikmati teh atau kopi dan kudapan yang tersedia. Hanya ada satu meja pendek yang digunakan untuk menaruh proyektor, laptop dan mikrofon untuk pembicara yang sedang menyampaikan materi. Sangat santai dan penuh kekeluargaan. Ini sebuah contoh bagus untuk mereka yang akan menyelenggarakan workshop, rapat, atau kegiatan lain yang sejenis.
Meskipun santai dan penuh canda tawa, dampak yang dihasilkan sangat menginspirasi dan memotivasi. Bagaimana tidak? Semua yang menjadi pembicara adalah orang-orang sukses di dunia maya. Mereka adalah orang-orang tidak masuk akal yang dengan kemampuan juga keterbatasannya mampu membuat Google Adsense menyerahkan ribuan dolarnya. Abiyoso yang bertampang katrok alias ndeso misalnya, yang menjadi orang paling memotivasi dan inspiratif, dengan bahasa Inggris ’Yes Father’nya dia bisa memperoleh jutaan rupiah per bulan. Melalui situsnya yang sangat sederhana, Adsense yang dipasang bisa menjadi mesin uang yang bisa menghidupi diri dan keluarganya.
Kesuksesan para mantan Fakir Bandwidth itu ditunjukkan dengan benda-benda yang mereka bawa saat menghadiri workshop. Wawan atau lebih dikenal dengan nama Pogung karena dia kos di daerah Pogung datang dengan membawa Harley Davidson barunya. Motor Amerika yang berharga ratusan juta ini dia beli dari uang Adsense. Mobil dan motor dari berbagai jenis lainnya juga terlihat di tempat parkir. Selain itu mereka yang sebagian masih mahasiswa terlihat membawa kamera digital standar fotografi yang harganya sudah barang tentu tidak murah. Doneeh yang webmaster malah saat itu sedang menyelesaikan rumahnya yang berharga 2 milyar. Kalau sudah begitu, masihkah bisa disebut fakir?
Barangkali itulah yang membedakan mantan fakir online dengan fakir offline. Jika mantan fakir online, sumber penghasilan diperoleh dari dunia maya. Sedangkan mantan fakir offline, kekayaannya diperoleh dari dunia fana.
Apakah anda merasa masih fakir di dunia maya sekarang?
Sumber gambar: di sini
