Site icon Wong Kam Fung

Eyang Gondo Jamban

Sepasang jalak suren sedang bertengger dengan tenang di atas dahan trembesi. Di dekat mereka terdapat sarang dengan lima piyik berlomba mengangakan mulut berharap diloloh induknya. Induk jalak hanya mengamati piyik-piyik itu seolah berkata, “Masih terlalu pagi untuk makan.”

Pohon trembesi raksasa tempat jalak uren bersarang berusia seratus tahun lebih. Di dekatnya terdapat sebuah makam yang diyakini penduduk kampung berusia jauh lebih tua. Menurut para sesepuh kampung, usianya sekitar lima ratus tahun. Konon yang dimakamkan bukan sembarang orang. Itulah sebabnya dari semua makam yang ada di perkuburan itu, hanya makam dekat trembesi raksasa yang bercungkup dan dikelilingi pagar besi dengan cat hijau tua. Sebuah papan nama dipasang di pagarnya yang menghadap jalan setapak. Tulisan dari tinta emas diukir di atas selembar papan berwarna sama dengan pagar besi. Dari jarak seratus meter, tulisan emas itu terbaca jelas, “MAKAM EYANG GONDO JAMBAN”.

Kampung Klenyer, sebuah tempat di mana logika libur panjang dan kepercayaan warga justru lembur. Kampung ini belakangan menjadi viral karena terjadi peristiwa menghebohkan dan tidak masuk akal. Orang-orang yang percaya bahwa ini tuah dari Eyang Gondo Jamban berduyun-duyun datang untuk menyaksikan keajaiban dengan mata kepala sendiri.

Kampung Klenyer berlokasi sepelempar batu dari makam Eyang Gondo Jamban. Mayoritas penduduknya bertani, beberapa berdagang. Meskipun tidak tergolong makmur, semua kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka tercukupi. Tidak ada yang buta huruf di kampung ini. Pendidikan paling tinggi yang sanggup diraih setingkat SMA. SMA terdekat ada di kota kabupaten yang bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui jalan pintas menembus hutan selama dua jam. Salah satu lulusannya adalah Parno yang lahir dan besar di Kampung Klenyer.

“Kopi pahit siji, Yu.” Parno memesan segelas minuman favoritnya di warung Yu Legi.

“Aku juga, Yu,” kata Baris, teman sekolah Parno waktu SMP yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Parno.

“Rapi sekali, Ris. Mau ke mana? Eh, bawa apa itu?” Pertanyaan pertama belum sempat dijawab, Parno sudah bertanya lagi.

“Ini?” Kata Baris sambil menggoyang-goyangkan map biru di tangan kanannya.

“Ini surat lamaran, Par. Aku mau mencoba melamar kerja di proyek PLN yang lokasinya ada di atas makam eyang. Nggak tertarik ikut melamar? Siapa tahu diterima.”

“Belum kepingin, Ris,” jawab Parno singkat lalu memonyongkan bibirnya untuk meniup kopi panas yang baru saja diantar Yu Legi sebelum dia seruput.

Kompleks perkuburan Eyang Gondo Jamban berada di lereng perbukitan di Desa Ngancar. Bisa dicapai menggunakan kendaraan selama kurang lebih setengah jam dari Telaga Sarangan. Dua minggu lalu, lurah menginformasikan akan ada proyek pembangkit tenaga listrik baru milik PLN yang akan dibangun. Warga desa termasuk penduduk Kampung Klenyer yang berminat melamar kerja dipersilakan. Syaratnya sederhana yaitu pendidikan minimal SMP dan berbadan sehat.

“Kenapa dirimu nggak tertarik, Par? Kerjaan kayak gini jarang ada di kampung kita,” tanya Baris sambil menyeruput kopi yang masih mengepul panas.

Parno memandang ke luar warung dengan tatapan malas, “Nanti PLN nangis setiap hari kalau aku kerja di sana. Wong sekolah aja aku terpaksa lulus, apalagi kerja.”

Yu Legi yang mendengar percakapan itu tertawa, “Halah, Parno. Dari dulu nggak berubah. Terlalu pintar untuk sekolah, terlalu malas untuk bekerja.”

“Terserah Yu Legi mau bilang apa. Yang penting aku punya prinsip,” timpal Parno dengan nada angkuh yang dibuat-buat. “Kerja atau tidak kerja, hidup tetap susah. Jadi mending pilih tidak kerja sekalian.”

Baris dan Yu Legi hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka sudah terlalu hapal dengan sikap Parno yang satu ini.

“Lagian aku nggak percaya sama proyek di atas makam Eyang Gondo itu,” lanjut Parno. “Mbok yo PLN punya otak dikit. Masa mau bangun proyek di atas tanah keramat?”

Di tengah obrolan mereka, terdengar suara bising motor vespa dari kejauhan. Suaranya berdecit nyaring seperti tikus kejepit, kadang tersendat-sendat seolah ingin batuk. Tak lama kemudian, tampak sepasang muda-mudi yang sedang menuntun vespa hijau pastel dengan kondisi memprihatinkan.

“Wah, itu kayaknya vespa yang kemarin viral di TikTok,” kata Yu Legi sambil menunjuk ke arah pasangan itu.

Parno dan Baris menoleh bersamaan. Mereka melihat Marmo dengan wajah kusut penuh keringat sedang mendorong vespanya yang mogok. Sweater biru dongkernya kedodoran. Ukuran sweater tersebut terlihat lebih besar satu tingkat dari yang seharusnya dia pakai. Di sampingnya, Giyem berjalan dengan wajah masam, helai-helai rambutnya lepas dari kunciran dan berkibar ditiup angin. Bibir Angelina Jolienya bergincu merah menor.

“Permisi, Bu. Boleh kami istirahat sebentar di sini?” tanya Marmo begitu sampai di depan warung Yu Legi.

“Monggo, Mas. Mau pesan apa?” jawab Yu Legi ramah.

“Air putih dua gelas saja, Bu. Sudah kehausan sejak tadi mendorong vespa dari makam.”

Parno melirik penuh minat, “Lho, vespanya kenapa, Mas?”

Marmo menghela napas panjang sebelum menjawab, “Ceritanya panjang, Mas. Saya ini datang dari Madiun karena dengar kabar viral tentang air ajaib di makam Eyang Gondo Jamban yang katanya bisa jadi bensin.”

Baris nyaris tersedak kopinya, “Air jadi bensin? Serius, Mas?”

“Ya itu yang viral di sosial media,” Giyem ikut bicara dengan nada ketus. “Makanya pacarku ini langsung ngajak road trip jauh-jauh, katanya mau coba keajaiban air Eyang Gondo. Eh, malah begini jadinya.”

“Memangnya benar ada air menyembur di makam?” tanya Parno penasaran.

“Ada, Mas. Tapi bukan semburan gede kayak di video-video yang disebar,” jelas Marmo. “Cuma rembesan air kecil di bawah pohon trembesi dekat makam. Entah sejak kapan mulai ada.”

“Eh ngomong-ngomong, saya Parno,” Parno memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan mengajak salaman.

“Saya Marmo. Ini pacar saya, Giyem,”  kata Marmo sambil menjabat tangan Parno.

Yu Legi yang sejak tadi mendengarkan, angkat bicara, “Kalau nggak salah, air itu mulai muncul seminggu yang lalu, pas ada tim survey dari PLN datang ke sana.”

“Oh, air itu muncul setelah ada tim survey PLN?” Baris terlihat berpikir keras.

“Iya. Mereka memasang beberapa alat pengukur di sekitar makam,” tambah Yu Legi.

Parno terkekeh, “Trus Mas Marmo ini percaya kalau air itu bisa jadi bensin? Lalu dimasukkan ke tangki vespa?”

Marmo terlihat malu, “Habisnya di TikTok ada yang bilang vespa mereka bisa jalan 100 kilometer tanpa isi bensin lagi setelah pakai air dari makam.”

“Dan kamu percaya begitu saja?” Giyem menatap pacarnya dengan pandangan yang bisa membunuh. “Jauh-jauh dari Madiun, vespa mogok, kita terjebak di sini, semua gara-gara kamu terlalu percaya sama TikTok!”

“Ya ampun, Mas. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin air bisa berubah jadi bensin?” Parno tertawa semakin keras. “Kalau benar begitu, mungkin Pertamina sudah bangkrut dari dulu.”

Wajah Marmo memerah karena malu. “Saya pikir karena ini makam keramat, mungkin saja ada keajaibannya…”

“Ah, masa sih? Eyang Gondo Jamban itu cuma manusia biasa kok,” kata Yu Legi sambil menyajikan dua gelas air putih untuk pasangan malang tersebut.

“Memangnya siapa sebenarnya Eyang Gondo Jamban itu?” tanya Giyem sambil menyeka keringat di dahinya.

Parno menyeringai lebar, “Kalian datang jauh-jauh tanpa tahu siapa yang kalian kunjungi?”

“Kami cuma tahu dari TikTok kalau makamnya keramat,” jawab Marmo polos.

Parno menatap Baris dengan tatapan ‘Kau percaya ini?’ sebelum melanjutkan, “Eyang Gondo Jamban itu dulunya adalah juru kunci jamban kerajaan jaman Majapahit.”

“Jamban… maksudnya toilet?” Giyem terperangah tidak percaya.

“Betul sekali, Mbak. Beliau adalah penjaga toilet kerajaan yang sangat setia,” Parno menahan tawa. “Konon beliau tidak pernah meninggalkan posnya sampai akhir hayat. Bahkan mati pun masih di dekat jamban.”

Baris yang paham betul kalau temannya sedang mengarang cerita, hanya bisa menunduk menahan tawa. Yu Legi menggelengkan kepala melihat kelakuan Parno.

“Jadi air yang muncul itu…” Marmo tidak berani melanjutkan kalimatnya.

“Ya, Mas. Bisa dibayangkan dari mana asalnya, kan?” Parno mengedipkan mata dengan jenaka.

Wajah Marmo dan Giyem memucat seketika. Mereka saling berpandangan, kemudian menatap gelas air putih di depan mereka dengan horor.

“Eh, jangan khawatir. Air yang Yu Legi sajikan bukan dari sana,” kata Baris cepat-cepat, merasa kasihan pada pasangan tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara ribut dari arah jalan utama. Sekelompok orang tampak berlarian dengan wajah panik.

“Ada apa, Pak?” tanya Yu Legi pada salah satu orang yang lewat.

“Ada kecelakaan di proyek PLN! Tanah longsor di dekat makam Eyang!” teriak orang itu sambil berlalu.

Parno, Baris, dan yang lainnya saling berpandangan. Tanpa dikomando, mereka bergegas menuju lokasi kejadian, meninggalkan vespa Marmo terparkir di depan warung.

***

Suasana di kompleks makam Eyang Gondo Jamban benar-benar kacau. Puluhan orang berkerumun di dekat lokasi proyek PLN yang baru dimulai. Alat-alat berat berserakan. Beberapa pekerja tampak terluka ringan dan sedang ditolong oleh warga.

“Apa yang terjadi?” tanya Baris pada salah satu pekerja proyek.

“Kami sedang menggali untuk fondasi tiang listrik, tiba-tiba tanahnya amblas. Untung tidak ada korban jiwa,” jawab pekerja itu dengan wajah pucat.

“Tuh kan, sudah kubilang jangan bangun apa-apa di dekat makam keramat,” bisik seorang warga pada temannya. “Ini pasti Eyang Gondo Jamban marah.”

Parno yang sejak tadi diam, mendekati lokasi longsor dengan penasaran. Dia melihat sesuatu yang aneh di dasar lubang galian.

“Pak Lurah!” panggilnya pada seorang pria paruh baya yang sedang berbicara dengan mandor proyek. “Coba lihat ke bawah sana.”

Semua orang mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk Parno. Di dasar lubang tampak sebuah struktur beton tua yang retak. Air merembes keluar dari retakan tersebut.

“Itu… itu seperti saluran air tua,” kata salah seorang sesepuh desa.

“Kalau tidak salah, dulu jaman Belanda ada proyek irigasi di daerah sini,” tambah sesepuh lainnya. “Tapi sudah puluhan tahun ditinggalkan.”

Marmo dan Giyem yang baru tiba di lokasi, ikut melongok ke dalam lubang.

“Jadi air yang muncul di bawah pohon trembesi itu…” Marmo tidak melanjutkan kalimatnya.

“Ya, itu air dari saluran irigasi tua yang bocor,” kata Pak Lurah setelah memahami situasinya. “Mungkin gempa kecil beberapa waktu lalu menyebabkan retakan di saluran ini semakin parah.”

Parno tertawa keras, “Jadi bukan keajaiban Eyang Gondo Jamban? Bukan air suci yang bisa jadi bensin?”

Wajah Marmo semakin merah karena malu.

“Ngomong-ngomong, siapa sebenarnya Eyang Gondo Jamban itu, Pak?” tanya Giyem pada sesepuh desa.

“Oh, Eyang Gondo itu dulu adalah kepala tukang di proyek irigasi jaman Belanda,” jawab sesepuh tersebut. “Beliau sangat dihormati karena keahliannya membuat saluran air. Nama aslinya Gondoruwo, tapi karena selalu bekerja di saluran air yang orang sini menyebutnya ‘jamban’, jadi dipanggil Gondo Jamban.”

Mendengar penjelasan tersebut, Marmo menatap Parno dengan kesal, “Jadi cerita tentang penjaga toilet kerajaan itu bohong?”

Parno hanya mengangkat bahu sambil nyengir, “Cerita mana yang lebih keren? Kepala tukang irigasi atau penjaga toilet kerajaan?”

Sesepuh desa menghela napas, “Yang jelas, makam ini tetap harus dihormati. Dan sepertinya proyek PLN harus mencari lokasi lain.”

“Atau paling tidak, perbaiki dulu saluran irigasi tua ini,” usul Baris.

Pak Lurah mengangguk setuju, “Iya, kita akan bicarakan dengan pihak PLN. Yang penting tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.”

Giyem menarik lengan Marmo, berbisik, “Jadi kita jauh-jauh ke sini, vespa rusak, hanya untuk menemukan saluran air bocor?”

“Yah, setidaknya kita tahu kebenarannya,” Marmo mencoba tersenyum meski wajahnya masih merah karena malu. “Dan ini bisa jadi pelajaran untuk tidak mudah percaya sama viral-viral di TikTok.”

“Omong-omong, ada bengkel vespa di sekitar sini?” tanya Marmo pada Parno.

Parno tersenyum lebar, “Kebetulan, Mas. Saya tahu mesin. Bisa saja bantu benerin vespa, tapi…”

“Tapi apa?” tanya Marmo penuh harap.

“Ongkosnya bukan air dari makam ya, Mas. Tapi rupiah yang asli,” jawab Parno disambut tawa orang-orang di sekitarnya.

Di atas pohon trembesi, sepasang jalak suren masih setia bertengger. Mereka seolah mengamati kehebohan manusia di bawah dengan tatapan geli. Sementara di sarangnya, lima piyik masih mengangakan mulut, kali ini berhasil diloloh oleh induknya yang baru saja kembali membawa makanan.

Sementara itu, di makam Eyang Gondo Jamban, angin berhembus pelan menggoyangkan dedaunan trembesi, seolah sang Eyang sedang tertawa menyaksikan kekonyolan manusia-manusia modern yang mudah tertipu oleh kabar viral tanpa mengecek kebenarannya.

Kehebohan tentang air ajaib di makam Eyang Gondo Jamban menyadarkan Marmo supaya jangan mudah percaya TikTok, apalagi sampai mengisinya ke dalam tangki vespa kesayangan. Marmo tambah tersentil ketika salah satu sesepuh desa berkata, “Keajaiban terbesar adalah kemampuan manusia untuk berpikir jernih, bukan air jernih yang mengalir dari makam.”

Exit mobile version