Site icon Wong Kam Fung

Berdiri di Pantai Widuri

Sore itu, seperti biasa, saya duduk di pinggir balong sambil menyebarkan pelet ikan gurami yang rakus tak kenal kenyang. Gerakan tangan yang melempar pelet sudah menjadi rutinitas otomatis, lempar, lihat ikan berebut, lempar lagi. Namun pikiran saya melayang jauh, kembali ke delapan tahun silam. Tepatnya 30 Oktober 2017, saat kami bereuni setelah 31 tahun tak bertemu sejak lulus SMA.

Tiga puluh satu tahun. Angka yang cukup untuk mengubah bocah nakal menjadi bapak-bapak berkumis, atau gadis manis menjadi ibu-ibu yang lebih galak dari guru matematika dulu. Waktu memang penyihir terbaik. Ia bisa mengubah anak bandel yang sering bolos menjadi dokter terhormat, atau si pemalas yang hobi tidur di kelas menjadi PNS yang… ya, masih hobi tidur, tapi kali ini di kantor.

Malam itu, 29 Oktober 2017, saya naik kereta dari Jakarta menuju Pemalang. Perjalanan malam yang panjang memberikan waktu cukup untuk merenung, atau lebih tepatnya, khawatir. Bagaimana kalau mereka sudah berubah total? Bagaimana kalau percakapan jadi kaku karena sudah lama tak bertemu? Atau lebih parah lagi, bagaimana kalau saya satu-satunya yang masih ingat lelucon lama yang dulu kami anggap lucu?

Kereta tiba di Stasiun Pemalang saat subuh masih menggantung di langit. Udara sejuk Jawa Tengah menyambut dengan ramah, sekaligus mengingatkan betapa jauhnya saya dari hiruk-pikuk Jakarta. Restu sudah menunggu di stasiun, masih dengan gaya rambut sama meski tak sepanjang dulu yang selalu membuat guru BK gerah, kini malah terlihat seperti musisi indie yang bijaksana.

“Woy, peternak ikan!” sapanya sambil memeluk. Ah, panggilan lama yang langsung membuat saya tersenyum. Tidak ada yang berubah dari Restu, masih blak-blakan dan hangat seperti dulu.

Perjalanan menuju rumah Yoyok memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Selama di perjalanan, Restu bercerita tentang karir musiknya yang naik-turun seperti roller coaster, sementara saya menceritakan perjuangan membesarkan ikan gurami yang kadang lebih rewel dari anak kecil. Kami tertawa—tawa yang tulus, tanpa beban, seperti dulu saat kami masih remaja yang hanya memikirkan ujian dan gebetan.

Rumah Yoyok ternyata sudah ramai saat kami tiba. Anton si geolog sudah duduk santai di teras sambil menyeruput kopi, dengan wajah yang sedikit lebih berisi tapi mata masih tajam seperti dulu saat menganalisis batuan, atau menganalisis jawaban teman saat ujian. Dono datang dengan keluarga kecilnya, masih dengan sifat perhatian yang dulu membuatnya cocok menjadi perawat anestesi. Dan Yanti, dokter yang dulu paling rajin di kelas, kini terlihat anggun tapi tetap dengan tatapan serius yang bisa membuat pasien langsung nurut minum obat.

“Sudah lama menunggu?” tanya saya sambil menyalami satu per satu.

“Baru sejak kemarin,” sahut Anton dengan nada sarkastik khasnya. “Kamu kan memang selalu telat dari dulu.”

Benar juga. Beberapa hal memang tidak pernah berubah.

Setelah sarapan dan istirahat sebentar, kami bersiap menuju lokasi reuni di vila dekat Pantai Widuri. Perjalanan dilakukan dalam beberapa mobil, sebuah konvoi mini yang terdiri dari enam sahabat lama beserta keluarga masing-masing. Anak-anak mereka bermain-main di kursi belakang, sementara kami para orang tua sibuk bernostalgia tentang masa-masa SMP dan SMA dulu.

Vila yang dipilih Yoyok ternyata strategis, tidak terlalu jauh dari pantai, tapi cukup nyaman untuk menampung semua peserta reuni beserta keluarga. Pemandangan laut yang membentang biru memberikan latar yang sempurna untuk reuni yang sudah ditunggu-tunggu.

Siang hari dihabiskan dengan berbagai aktivitas. Kami bermain voli pantai, dengan kemampuan yang sudah menurun drastis dibanding dulu, dan berenang di laut sambil mengawasi anak-anak yang lebih lincah dari orang tuanya. Anton menjelaskan formasi geologis pantai dengan antusias, sementara yang lain pura-pura mendengarkan sambil lebih fokus pada es kelapa muda.

Makan siang dilakukan di warung pinggir pantai. Deretan warung sederhana yang menyajikan hidangan laut segar dengan harga yang masih bersahabat. Kami duduk lesehan di atas tikar, seperti piknik masa kecil yang diperpanjang hingga dewasa. Percakapan mengalir dari topik ringan hingga yang lebih serius, karir, keluarga, mimpi yang tercapai, dan mimpi yang masih menggantung.

“Dulu siapa yang ngira Anton bakal jadi geolog?” tanya Yanti sambil mengupas udang.

“Yang pasti bukan guru fisika kita,” sahut Dono. “Dia dulu bilang Anton cuma bisa ngitung batu di jalan.”

Kami tertawa mengingat guru fisika yang galak itu. Ternyata prediksinya salah, Anton tidak hanya bisa menghitung batu, tapi juga bisa membaca cerita jutaan tahun yang tersimpan dalam batuan.

Sore menjelang malam, kami berkumpul di teras vila sambil menikmati matahari terbenam yang spektakuler. Langit berubah warna dari biru menjadi jingga, kemudian merah, sebelum akhirnya gelap. Restu membawa gitar dan menyanyikan lagu-lagu lama yang dulu sering kami dengarkan bersama. Suaranya masih merdu, meski kini dengan warna yang lebih matang.

“Ingat waktu kita sering nongkrong di warung Pak Mul?” tanya Yoyok.

Tentu saja kami ingat. Warung kecil di belakang sekolah yang menjadi saksi bisu percakapan remaja tentang cita-cita, cinta monyet, dan rencana-rencana besar yang kini terasa naif tapi penuh semangat.

Malam itu, setelah anak-anak tertidur, kami melanjutkan obrolan hingga larut. Membahas perubahan hidup, tantangan yang dihadapi, dan bagaimana persahabatan ini tetap bertahan meski terpisah jarak dan waktu. Dono bercerita tentang pengalamannya menangani pasien-pasien kritis. Bagaimana ia harus tetap tenang saat orang lain panik, seperti dulu saat ia selalu jadi penengah kalau kami bertengkar. Yanti berbagi kisah tentang pasien-pasiennya yang unik, termasuk seorang nenek yang menolak operasi karena takut kehilangan “jimat” di perutnya. Sementara Yoyok mengeluhkan birokrasi kantor yang kadang bikin pusing tujuh keliling. “Dulu guru kita bilang PNS itu enak, ternyata enaknya cuma gaji tanggal tua,” candanya.

“Kalau Anton gimana? Masih suka ngumpulin batu kayak dulu?” tanya Restu sambil memainkan kunci gitar.

Anton tertawa. “Sekarang ngumpulin batu jadi mata pencaharian. Ironis kan? Dulu dikira aneh, sekarang malah dibayar.”

Percakapan berlanjut ke topik yang lebih dalam. Kami membahas bagaimana ekspektasi masa muda berbeda dengan realitas sekarang. Dulu kami pikir umur 47 tahun itu sudah tua banget, tapi ternyata masih banyak yang bisa dilakukan. Bahkan masih bisa main voli pantai, meski napas ngos-ngosan setelah lima menit.

“Ingat waktu kita bikin surat kontrak persahabatan di kelas 3 SMA?” tanya Yanti tiba-tiba.

Kami semua terdiam. Bagaimana mungkin lupa? Surat kontrak konyol yang kami tulis dengan tinta biru di kertas bergaris, berisi janji-janji yang terdengar dramatis tapi tulus. Salah satu poinnya adalah “tidak akan melupakan teman meski sudah berkeluarga dan sukses.” Yang lain berjanji untuk “tetap rendah hati meski sudah jadi orang terkenal.” Anton malah menulis “tidak akan sombong meski sudah jadi ahli batu.”

“Ternyata kita berhasil memegang janji itu,” kata Dono sambil tersenyum. “Meski Anton sudah jadi ahli batu, dia masih mau main sama kita.”

“Eh, siapa yang bilang aku ahli batu?” protes Anton. “Aku masih belajar kok. Batu itu kompleks, kayak persahabatan kita.”

Obrolan malam itu juga menyentuh masa-masa sulit yang pernah kami alami. Yanti bercerita tentang masa-masa awal jadi dokter, saat harus menghadapi pasien pertama yang meninggal. Dono berbagi pengalaman pahit saat hampir salah memberikan anestesi. Saya menceritakan masa-masa awal ternak ikan, saat ribuan ikan mati karena penyakit dan hampir bangkrut total.

“Kalian tahu tidak,” kata saya sambil menatap laut yang gelap, “kadang saya mikir, hidup ini seperti memelihara ikan. Butuh kesabaran, perhatian, dan sedikit keberuntungan agar semuanya berjalan baik. Tapi yang paling penting, butuh teman yang bisa diajak berbagi kalau ada masalah.”

“Filosofi peternak ikan,” goda Anton. “Tapi ada benarnya juga. Kayak batuan, persahabatan juga terbentuk dari proses yang panjang dan tekanan yang tepat.”

“Kalian ini,” kata Restu sambil menggerakkan jari di senar gitar, “bahasanya makin filosofis saja. Dulu kita cuma mikirin siapa yang traktir es campur.”

Kami tertawa mengingat perdebatan konyol soal siapa yang harus traktir kalau kalah main kartu. Atau ingat saat kami kompak bolos pelajaran matematika untuk nonton film di bioskop, lalu panik karena ternyata ada ulangan mendadak.

“Eh, kalian masih ingat waktu kelas 2 SMA, kita bikin band?” tanya Yoyok.

“Ah iya! ‘The Broken Dreams’,” sahut Dono sambil tertawa. “Sok Inggris. Nama yang lebih dramatis dari sinetron.”

Restu menggaruk kepala. “Masa itu periode gelap bagi musikku. Tapi seru juga sih. Anton main bas, Yoyok drum, Dono kibor, Yanti jadi backing vocal, kamu jadi manajer yang paling berisik.”

“Terus kenapa bubar?” tanya saya, padahal sudah tahu jawabannya.

“Karena kita cuma bisa main satu lagu, itupun masih melenceng,” jawab Anton. “Terus guru musik bilang suara kita bisa bikin kucing stres.”

Kami terus bernostalgia sampai jam menunjukkan pukul dua pagi. Istri-istri sudah lama tidur, meninggalkan kami para suami yang keras kepala untuk melanjutkan obrolan yang tidak pernah bosan. Sesekali ada yang mengantuk, tapi begitu ada yang mulai cerita lagi, mata langsung melek.

Keesokan harinya, kami berpisah dengan berat hati. Sebelum berpisah, kami sempat sarapan bersama di warung yang sama dengan kemarin. Kali ini menu sarapan adalah nasi gudeg dan teh manis yang membuat perut kenyang dan hati hangat. Anak-anak sudah berbaur dengan mudah, seolah mereka sudah kenal lama. Melihat mereka bermain bersama mengingatkan kami pada masa kecil dulu.

“Anak-anak kita kompak juga ya,” komentar Yanti sambil melihat putrinya asyik bermain pasir dengan anak-anak yang lain.

“Gen persahabatan turun-temurun,” sahut Dono. “Mudah-mudahan mereka juga bisa berteman selamanya.”

Saat bersiap-siap untuk pulang, ada ritual kecil yang tidak boleh terlewat, foto bersama. Kali ini tidak cuma foto formal, tapi juga foto candid, foto konyol, dan foto dengan pose yang sama seperti 31 tahun lalu saat foto kelulusan SMA. Saya bahkan menyempatkan foto bersama Anton dengan gaya sama seperti waktu kami di puncak Merbabu 31 tahun yang lalu. Hasilnya? Kami masih bisa pose yang sama, cuma sekarang dengan perut yang lebih buncit dan rambut yang mulai menipis.

Berdiri di Pantai Widuri

“Selfie juga dong,” pinta Restu sambil mengeluarkan telepon genggamnya. Di era digital ini, dokumentasi jadi lebih mudah tapi juga lebih ribet, harus dari berbagai sudut dan filter.

Janji untuk tidak menunggu 31 tahun lagi untuk bertemu dilontarkan dengan serius, meski dalam hati kami tahu betapa sulitnya mengatur jadwal enam keluarga yang tersebar di berbagai kota. Tapi kali ini kami lebih optimis. Teknologi sudah memudahkan komunikasi, jadi tidak ada alasan untuk putus kontak lagi.

“Tahun depan di Bogor ya,” tawar saya. “Kalian bisa lihat balong ikan gurami sekaligus.”

“Boleh, tapi jangan kasih makan ikan mentah-mentah,” canda Anton. “Kalau digoreng, okelah.”

Perpisahan di stasiun terasa seperti adegan film drama, pelukan yang lebih lama dari biasanya, janji untuk saling menghubungi yang diucapkan berkali-kali, dan sedikit air mata yang ditahan. Kereta membawa saya kembali ke Jakarta, sementara kenangan indah itu tersimpan rapi dalam memori dan ratusan foto di telepon genggam.

Selama perjalanan pulang, saya sempat video call dengan grup WhatsApp yang pernah dibuat. Semua masih di perjalanan pulang masing-masing, tapi semangat untuk tetap komunikasi masih tinggi. Restu bahkan sudah mulai merencanakan reuni berikutnya. “Tidak usah nunggu lama-lama, tahun depan saja sudah.”

Yang tidak kami ketahui adalah tragedi yang akan terjadi sehari setelah reuni. Banjir besar melanda Pantai Widuri, menerjang deretan warung tempat kami makan siang kemarin. Warung-warung sederhana itu hancur tersapu air laut yang ganas. Berita itu sampai ke telinga kami melalui grup WhatsApp. Yoyok yang pertama membagikan tautan berita lokal tentang musibah tersebut.

“Untung kita kemarin sudah pulang,” tulis Restu di grup, diikuti emotikon peluh dingin.

“Benar. Nasib baik,” sahut yang lain hampir bersamaan.

“Aku jadi merinding bacanya,” tambah Dono. “Bayangin kalau kita masih di sana…”

Perasaan syukur dan ngeri bercampur jadi satu. Kami yang kemarin masih duduk santai di warung itu, makan sambil ketawa-ketawa, kini hanya bisa membayangkan betapa dahsyatnya banjir yang menerjang. Pak Wagiyo, pemilik warung tempat kami makan, untungnya selamat tapi kehilangan seluruh mata pencahariannya.

“Kita patungan yuk buat bantu Pak Wagiyo,” usul Yanti. “Dia kan baik banget kemarin, sampe kasih diskon karena kita rombongan.”

Tanpa basa-basi, kami langsung mengumpulkan dana. Dalam beberapa jam, terkumpul cukup uang untuk membantu Pak Wagiyo memulai lagi usahanya. Aksi spontan ini justru membuat ikatan persahabatan kami semakin kuat. Ternyata setelah 31 tahun, naluri untuk saling membantu masih sama kuatnya.

Dari sinilah grup WhatsApp menjadi semakin aktif. Tidak hanya untuk berbagi foto-foto reuni, tapi juga untuk saling menginfokan kabar kehidupan sehari-hari, berbagi tips pekerjaan, sampai konsultasi kesehatan gratis sama Yanti.

Sekarang, delapan tahun kemudian, saya duduk di pinggir balong sambil mengingat momen-momen itu. Ikan-ikan gurami berenang tenang, tidak tahu bahwa majikannya sedang bernostalgia. Grup WhatsApp kami masih aktif, meski frekuensi obrolannya tidak seintens minggu-minggu pertama setelah reuni. Anton masih rajin mengirim foto-foto batuan yang menurutnya menarik, meski kami sering bingung bedanya batu A dengan batu B. Dono sesekali membagikan tips kesehatan dan cerita-cerita unik dari rumah sakit. Yanti rajin mengingatkan untuk periksa rutin. “Jangan tunggu sakit baru ke dokter,” pesannya yang selalu diabaikan. Yoyok mengeluh soal atasan baru yang lebih ribet dari yang lama, sementara Restu kadang mengirim video pertunjukan musiknya di berbagai kota.

Yang paling menarik, ternyata anak-anak kami juga mulai saling kenal melalui media sosial. Mereka bikin grup sendiri dan kadang ngobrol tentang orang tua mereka yang “aneh-aneh tapi lucu.” Suatu hari, anak saya bilang, “Yah, teman-teman ayah itu kocak ya. Kayak anak kecil yang udah tua.”

Tidak salah juga sih. Memang kadang kami masih bertingkah seperti remaja SMA yang terperangkap di tubuh bapak-bapak berumur. Tapi itulah yang membuat persahabatan ini istimewa. Kami bisa tetap jadi diri sendiri tanpa perlu pura-pura dewasa atau formal.

Tahun lalu, kami sempat bertemu lagi di Bandung, di rumah Anton. Tidak semeriah reuni di Pantai Widuri, tapi tetap seru. Kami berkeliling melihat koleksi batu Anton yang sudah seperti museum mini, lalu makan di restoran Sunda sambil nostalgia lagi. Kali ini tanpa drama banjir, untungnya.

“Kapan reuni di Bogor?” tanya Yoyok saat itu.

“Nunggu ikan gurami beranak pinak dulu,” jawab saya. “Biar ada yang bisa digoreng buat kalian.”

Mereka tertawa, tapi saya serius. Memang sedang ada rencana untuk mengadakan kumpul-kumpul di rumah saya di Bogor. Selain bisa pamer balong ikan gurami, juga bisa masak ikan segar untuk teman-teman. Mungkin tidak seindah matahari tenggelam di Pantai Widuri, tapi pasti tetap berkesan.

Persahabatan memang seperti ikan di balong ini, butuh perawatan dan perhatian agar tetap hidup dan sehat. Tapi kalau sudah terjalin kuat, jarak dan waktu tidak akan mudah memutuskannya. Seperti ikan gurami yang tahan banting, persahabatan sejati bisa bertahan dalam berbagai kondisi, bahkan selamat dari ancaman banjir.

Telepon genggam saya bergetar. Ada pesan di grup WhatsApp dari Restu. “Guys, aku ada konser di Jakarta bulan depan. Kalian harus datang ya! Aku bakal nyanyiin lagu-lagu jaman SMA kita.”

Saya tersenyum sambil mengetik balasan, “Siap! Asalkan jangan lagu yang dulu bikin kucing stres.”

Dalam sekejap, grup langsung ramai dengan emotikon tertawa dan komentar-komentar jahil lainnya. Melihat antusiasme mereka, saya jadi yakin, mungkin sudah saatnya mengadakan reuni lagi. Kali ini, saya akan pastikan memilih tempat yang aman dari banjir, aman dari musibah, dan yang pasti aman untuk nostalgia tanpa batas waktu.

Sore semakin larut, dan ikan-ikan gurami mulai tenang. Saya melempar pelet terakhir sambil berencana menghubungi teman-teman untuk membahas reuni selanjutnya. Siapa tahu kali ini bisa lebih dari dua hari, akhir pekan panjang untuk mengenang masa lalu sambil merajut masa depan bersama sahabat terbaik.

Persahabatan 31 tahun memang bukan main-main. Tapi kalau sudah melewati ujian waktu seperti ini, rasanya bisa bertahan 31 tahun lagi, atau bahkan lebih. Dan bisa berdiri bersama lagi di Pantai Widuri.

Exit mobile version