Site icon Wong Kam Fung

Si Goblog Memimpin

Saya mohon maaf bila kata goblog terasa kasar atau vulgar bagi anda. Hanya kata itu yang bisa mewakili dengan pas apa yang saya ingin gambarkan. Walaupun dengan terpaksa, akhirnya saya putuskan tetap menggunakan kata itu sebagai judul. Mudah-mudahan saja anda bisa memaklumi. Dan, semoga saja anda tidak merasa tersakiti karena pilihan judul yang saya ambil itu.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), goblog ditulis goblok. Mengapa saya menggunakan huruf akhir ‘g’ adalah agar terdengar lebih greng. Selain itu, saya merasakan kata goblog lebih kuat maknanya dibandingkan goblok yang pakai ‘k’. Kamus itu mengartikan goblok sebagai bodoh sekali. Juga dijelaskan goblok dalam bahasa Sunda kasar berarti tuli. Penggunaan huruf ‘g’ atau ‘k’ hanyalah sebuah ragam. Dari segi arti, kamus itu sudah dengan jelas mendifinisikannya.

Di kehidupan nyata, si goblog bertebaran di mana-mana. Mereka sangat mungkin ada di dekat anda. Keberadaan mereka bisa memiliki efek ke anda secara langsung maupun tidak, atau sama sekali tidak ada pengaruhnya. Ketika mereka hadir dalam lingkaran kehidupan dan memiliki pengaruh langsung, berbagai bentuk sikap akan muncul merespon pengaruh dari kehadiran si goblog. Dalam lingkungan kerja, sudah barang tentu akan sangat mungkin si goblog muncul. Tidak tertutup kemungkinan si goblog ini menduduki posisi pengambil keputusan. Ini merepotkan tetapi ini tidak mustahil terjadi. Dan anda perlu siap-siap, peristiwa menjengkelkan itu bisa saja muncul di tempat kerja anda. Pemimpin anda, baik atasan langsung atau tidak, ternyata si goblog itu.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Yang pasti bukan karena faktor prestasi. Mana mungkin pekerja yang track record kinerjanya merah diangkat menjadi pemimpin. Mustahil seorang yang kinerjanya pas-pasan bisa menduduki kursi pimpinan. Manajemen yang dijalankan dengan benar tidak akan mengambil resiko dengan mengangkat seorang dengan kinerja memble menjadi pimpinan. Gila apa?! Tapi itu kan kalau dijalankan dengan benar? Jika manajemen abal-abal, tentunya lain lagi.

Ada beberapa faktor yang memungkinkan si goblog menjadi pemimpin. Pertama, ka-ka-en, ya, kkn. Ini jenis penyakit yang ampuh menciptakan kerusakan. Efeknya maha dahsyat. Belum lama kita disodori kasus bank Century yang sudah pasti merupakan produk kkn. Sampai-sampai, karena skadal itu, kata sistemik menjadi populer. Dengan memainkan ‘serial komedi’ kkn yang tidak lucu, si goblog bisa nangkring sebagai penguasa.

Kedua, panjang lidahnya lebih dari 30 cm. Maaf, hanya bercanda. Seorang penjilat bisa memiliki kedekatan dengan pengambil keputusan. Jika pihak yang mengambil keputusan cara berpikirnya pas-pasan, bisa dipastikan hasil pemikirannya juga ala kadarnya, atau malah tidak masuk pikiran alias tidak masuk akal. Dengan panjang lidah yang dia miliki, si goblog bisa menjilati bagian manapun yang membuat  si pengambil keputusan menggelinjang.

Ketiga, melacurkan diri. Maaf, maaf, bila saya kembali menggunakan istilah yang bombastis. Tetapi memang itulah salah satu cara yang akan dilakukan si goblog untuk mewujudkan ambisinya. Saya perlu tekankan di sini, melacurkan diri yang saya maksud bukan seperti yang dilakukan pelacur yang menjual tubuhnya. Namun, si goblog tokoh kita ini menjual harga dirinya. Harga diri yang seharusnya tidak ternilai secara sukarela dia tukar dengan jabatan. Dan, si goblog ini mempunyai senjata ampuh yang sama seperti miliknya wanita/pria psk (penjaja seks komersial) yaitu rayuan maut. Kan para psk ini jago merayu sampai korbannya kelepek-kelepek?

Keempat, mukanya setebal tembok. Selain tidak tahu dia juga tidak punya rasa malu. Jangankan malu terhadap orang lain maupun dirinya sendiri, kepada Tuhan saja dia tidak malu. Asal kedudukan bisa diperoleh, muka setebal apapun akan siap dilakoni. Memang semua dia punya termasuk, maaf, kemaluan. Hanya satu yang dia tidak miliki, rasa malu. Oleh karenanya, kalaupun harus menghalalkan segala cara, tidak ada masalah baginya.

Kelima, atasan yang juga goblog. Biasanya yang sering kita dengar kan maling teriak maling? Dalam hal ini yang terjadi bukan goblog teriak goblog tetapi si goblog bersatu padu dengan si goblog. Mereka melenggang bersama, tersenyum ceria, tidak menyadari jika para bawahan memandang mereka layaknya kotoran yang menjijikkan. Jadi intinya, mereka bersatu dalam kegoblogan. Atasan yang goblog akan mengangkat bawahannya tanpa menyadari bawahan yang dia promosikan itu adalah si goblog.

Keenam, manajemen abal-abal. Saya yakin manajemen abal-abal pasti dihasilkan oleh orang-orang dengan kualitas yang abal-abal juga. Konsep fungsi manajemen seperti PODC (planning, organizing, directing, controlling) atau POAC (-, -, actuating, -) kemungkinan hanya dikenali sebatas kulitnya. Ibarat melihat seseorang dengan pakaian sederhana, kemudian berkesimpulan orang tersebut pasti miskin. Padahal belum tentu mereka yang memakai baju secara bersahaja hartanya tidak seberapa. Jangan harap pemikiran yang dangkal dapat menelorkan kebijakan mendalam.

Ketujuh, owner yang terlalu percaya. Perbedaan antara owner (pemilik), employer (pemberi kerja), dan employee (karyawan) tentunya sudah jelas. Owner sudah pasti employer tetapi employer belum tentu owner. Seorang employer bisa jadi hanya sekedar orang kepercayaan owner yang ditugasi menjalankan usaha. Namun, yang terjadi di lapangan sering membingungkan. Cara seorang employer mengelola sebuah usaha yang dipercayakan owner kepadanya tidak ubahnya seperti dirinya sendiri yang owner. Usaha yang dia jalankan seakan-akan miliknya. Pikiran negatif sering menjadi landasan dalam setiap pengambilan keputusan. Sebagai contoh misalnya, kucuran dana yang notabene milik owner yang dimaksudkan untuk kemajuan usaha malah dihentikan dengan alasan yang tidak masuk akal dan berlebih-lebihan. Celakanya lagi bila owner yang sudah terlalu percaya terhadap orang yang dia tugasi kemudian menutup mata dengan apa yang terjadi di lapangan.

Kemudian, apa akibatnya bila si goblog memimpin? Banyak! Beberapa di antaranya misalnya kebijakan yang tidak masuk akal, keputusan yang menggelikan, rencana yang tidak jelas, salah menterjemahkan instruksi dari atasan, pernyataan yang mendiscourage dan dekonstruktif, berbicara tanpa menggunakan otak, memberikan janji-janji angin surga yang sebenarnya kentut belaka, dan … ini yang paling parah juga sebenarnya memalukan, apa yang menjadi inventaris kantor seolah-olah milik pribadi.

Jika si goblog ini tetap dibiarkan memimpin, tinggal tunggu munculnya bencana. Bila sebuah mobil disopiri si goblog yang tidak becus mengemudi, anda sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi.

Selamat berjuang kawan.

Exit mobile version