Dusun Rapetsari tidak pernah bangga dengan apapun selain dua hal: jalan aspalnya yang berlubang artistik dan pohon jambu air milik keluarga Gelinu. Ya, pohon jambu air. Tidak ada monumen pahlawan, tidak ada mal dengan bioskop berkursi empuk, tidak ada kedai kopi dengan barista bersertifikat internasional. Hanya pohon jambu air yang entah bagaimana selalu berbuah seolah tidak peduli pada perubahan iklim global. Mungkin pohon itu satu-satunya makhluk di desa yang tidak membaca berita tentang kekeringan panjang.
Di bawah pohon itulah sebuah Yamaha RX-King keluaran ’97 diparkir dengan bangga oleh Pareman Gelinu. Motor yang selalu dia sebut sebagai “Kuda Besi Kesatria Jomblo,” meskipun statusnya sudah berpacaran dengan Temu sejak tiga tahun lalu. Ironis memang, tapi begitulah Pareman. Dia juga masih menyimpan stiker “Jones Forever” di bagian belakang motornya, padahal hidup dan matinya sudah untuk Temu seorang.
Pohon jambu air itu menyaksikan segalanya. Bagaimana Pareman tumbuh dari bocah ingusan yang suka melempar batu ke arah buah jambu, hingga menjadi pria 27 tahun yang masih suka melempar batu ke arah buah jambu—perkembangan yang sungguh mengesankan. Pohon itu juga saksi bisu ketika Pareman pertama kali membonceng Temu dengan motornya, dengan helm pink mengilap yang khusus dibeli untuk kekasihnya itu.
“Lihat Pak, pohon jambu yang jadi saksi cinta anak kita,” kata Bu Gelinu suatu sore sambil menata jemuran.
“Iya Bu, semoga saja pohon ini tidak menjadi saksi hal-hal lain yang tidak kita harapkan,” jawab Pak Gelinu sambil tertawa. Tawa yang kemudian akan dia sesali seumur hidupnya.
—
Pareman selalu menaruh helmnya di atas spion motor. Kebiasaan yang membuat Pak Gelinu geram bukan kepalang.
“Taruh di gantungan! Itu gunanya ada gantungan helm di motor!” teriak Pak Gelinu hampir setiap hari.
“Bapak ini tidak mengerti estetika ya? Helm di spion itu ciri khas anak motor,” jawab Pareman dengan logika yang hanya bisa dipahami oleh teman-temannya sesama pengendara motor modifikasi. Bapaknya jelas tidak akan mengerti.
Bu Gelinu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perdebatan ayah dan anak itu. Dia lebih fokus pada pohon jambu air kesayangan keluarga yang sore itu akan dia petik buahnya untuk dijadikan setup rujak.
—
Di pohon jambu air itu hiduplah koloni semut rangrang yang berkerumun di antara daun dan ranting. Semut-semut itu bergerak cepat, membangun sarang, mengangkut makanan, dan melakukan apa yang biasa dilakukan semut rangrang—termasuk terkadang menjelajahi benda-benda asing di sekitar mereka.
Beberapa semut rangrang sering terlihat bergerak turun dari pohon, menelusuri batang, hingga sampai ke permukaan tanah. Mereka berjalan tanpa tujuan yang bisa dipahami manusia, terkadang mendekati motor Pareman yang selalu terparkir di sana, menyelinap ke sela-sela ban, atau bahkan ke atas spion tempat helm biasa diletakkan.
—
Sore itu, Pareman bersiap untuk menjemput Temu. Mereka berencana menonton film horor Indonesia terbaru yang katanya “bakal bikin bulu kuduk merinding,” padahal yang merinding biasanya hanya kantong karena harga popcorn di bioskop.
“Mau ke mana kau?” tanya Pak Gelinu dari beranda rumah.
“Menjemput Temu, Pak. Kami mau nonton film.”
“Film apa?”
“Utusan dari Neraka.”
Pak Gelinu tertawa mengejek. “Film horor Indonesia? Lebih serem hidup dengan gaji UMR, Nak.”
Pareman hanya tersenyum sambil mengambil helmnya yang—sesuai kebiasaan—tergeletak di atas spion motor. Dia pakai helm itu dengan perlahan sambil melihat ke kaca spion, Pareman mematut-matut diri. Bangga dengan kegantengannya yang hanya diakui Temu dan keluarganya. Pareman tidak menyadari seekor semut rangrang telah masuk ke dalam helm tersebut, bersembunyi di bantalan empuk yang melindungi kepala.
—
Temu sudah berdandan cantik ketika Pareman menjemputnya. Gadis itu selalu tampil sempurna meski hanya untuk menonton film di bioskop kecil di pusat kota.
“Sudah siap untuk ketakutan?” tanya Pareman sambil memberikan helm pink pada kekasihnya.
“Kau yang akan ketakutan. Aku tidak takut film horor Indonesia,” jawab Temu percaya diri.
“Oh ya? Ini katanya beda. Produser filmnya mengatakan bahwa mereka terinspirasi dari film-film Jordan Peele.”
“Jordan siapa?”
“Jordan Peele. Sutradara ‘Get Out’, ‘Us’…”
Temu menatap Pareman dengan bingung. “Aku hanya tahu Jordan pemain basket itu.”
Pareman menghela napas. Terkadang dia lupa bahwa referensi film mereka sangat berbeda. Temu lebih menyukai film-film romantis Korea, sementara dia diam-diam mengoleksi film-film horor psikologis indie.
—
Mereka melaju dengan kecepatan sedang di jalan kabupaten. Pareman tidak pernah ngebut jika membonceng Temu. Tidak seperti ketika dia sendiri, saat motornya seolah berubah menjadi kendaraan dalam film Fast and Furious versi kampung.
Rangrang di dalam helm Pareman mulai bergerak ketika merasakan guncangan dan pergerakan.
Semut merambat ke telinga Pareman. Dalam kepanikannya, semut itu bergerak semakin dalam ke telinga, mencari tempat berlindung.
Pareman merasa gatal. Dia mencoba mengorek telinganya dengan jari, tapi helmnya menghalangi. Gatal itu berubah menjadi rasa sakit ketika sang semut, dalam usaha bertahan hidup, menggigit.
“Ahhh!” Pareman berteriak, kehilangan konsentrasi.
“Ada apa?” tanya Temu dari belakang, suaranya penuh kekhawatiran.
Pareman tidak sempat menjawab. Motornya oleng ke kanan, tepat ketika sebuah truk kontainer melaju dari arah berlawanan.
—
Pohon jambu air itu masih berdiri gagah di samping rumah keluarga Gelinu. Buahnya masih lebat, seolah tidak peduli pada tragedi yang telah terjadi. Seolah tidak peduli bahwa seekor semut kecil dari koloninya telah menjadi bagian dari rantai kejadian yang mengakhiri hidup seorang manusia.
Bu Gelinu tidak lagi menata jemuran di bawah pohon itu. Pak Gelinu tidak lagi duduk di beranda sambil menikmati buah jambu. Rumah itu sepi, hanya sesekali terdengar isak tangis dari dalam.
Temu masih hidup. Dia selamat dari kecelakaan itu dengan luka fisik minimal. Tapi luka di hatinya menganga lebar, seperti lubang yang terbentuk di jalan aspal Dusun Rapetsari setelah hujan deras.
—
“Kau tahu apa yang lucu dari hidup ini?” Temu bertanya pada pohon jambu air itu suatu sore, enam bulan setelah pemakaman Pareman. “Kita semua bisa mati karena hal-hal kecil. Sebuah semut. Sebuah kebiasaan menaruh helm di tempat yang salah. Sebuah momen ketidakfokusan.”
Pohon jambu air itu tidak menjawab. Tentu saja tidak. Tapi buahnya bergoyang pelan tertiup angin, seolah mengangguk setuju.
“Jika aku percaya takdir, maka takdir Pareman sungguh konyol. Tapi jika aku percaya kebetulan, maka kebetulan ini terlalu kejam untuk diterima,” lanjut Temu.
Dia duduk di sana, di bawah pohon jambu air, tempat dulu motor RX-King Pareman selalu diparkir. Motor itu kini berada di garasi keluarga Gelinu, tidak akan pernah disentuh lagi.
—
Di koloni semut rangrang yang mendiami pohon jambu, kehidupan berjalan seperti biasa. Semut-semut tetap bekerja, mengangkut makanan, membangun sarang, dan berkembang biak. Tak ada yang menyadari bahwa salah satu dari mereka telah menjadi penyebab tragedi besar di dunia manusia.
—
Suatu hari, Pak Gelinu mengambil kapak dari gudang. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau karena air mata yang ditahan.
“Mau apa kamu, Pak?” tanya Bu Gelinu khawatir.
“Menebang pohon jambu itu.”
“Tapi pohon itu kesayangan kita. Kesayangan Pareman.”
Pak Gelinu tertawa pahit. “Kesayangan? Pohon itu menyaksikan anakku mati, Bu. Setiap aku melihatnya, aku ingat Pareman menaruh helmnya di sana, di atas spion motor. Aku ingat semut-semut sialan itu.”
Bu Gelinu menangis. “Tapi bukan salah pohon itu, Pak.”
“Lalu salah siapa? Salah semut? Salah helm? Salah truk? Atau salahku yang selalu mengomel tapi tidak pernah benar-benar mendidiknya untuk menaruh helm di tempat yang benar?”
Kapak itu akhirnya tidak jadi digunakan. Bukan karena Pak Gelinu berubah pikiran, tapi karena tubuhnya mendadak lemas dan jatuh terduduk. Air matanya akhirnya jatuh juga, setelah berbulan-bulan ditahan.
—
Pohon jambu air itu akhirnya tetap berdiri. Masih berbuah lebat setiap musimnya. Tapi tidak ada lagi yang memetik buahnya. Tidak ada lagi yang duduk di bawahnya. Tidak ada lagi motor yang diparkir di sana.
Buah-buah jambu itu jatuh ke tanah, membusuk, dan menjadi makanan bagi semut-semut dan serangga lainnya. Siklus kehidupan tetap berlanjut, tidak peduli betapa tragisnya kematian seorang manusia bernama Pareman.
—
Kadang, Temu masih datang ke rumah keluarga Gelinu. Dia membantu Bu Gelinu memasak atau sekadar menemaninya mengobrol. Mereka berdua menghindari membicarakan pohon jambu air itu, meski pohon itu terlihat jelas dari jendela dapur.
“Aku kadang berpikir,” kata Bu Gelinu suatu hari, “apakah ada hikmah dari semua ini?”
Temu menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Bu. Terkadang hal buruk terjadi tanpa alasan. Tanpa hikmah. Hanya kebetulan yang kejam.”
“Tapi kau masih muda, Nak. Kau harus melanjutkan hidupmu.”
Temu tersenyum tipis. “Saya mencoba, Bu. Tapi setiap kali saya melihat orang menaruh helm di atas spion motor, saya ingin berteriak pada mereka.”
Bu Gelinu mengangguk paham. “Aku juga. Aku bahkan tidak bisa melihat semut rangrang tanpa merasa marah.”
Mereka tertawa kecil, menertawakan absurditas perasaan mereka. Menertawakan fakta bahwa mereka kini membenci semut dan kebiasaan menaruh helm di tempat yang salah.
—
Jalan aspal Dusun Rapetsari masih berlubang. Pohon jambu air keluarga Gelinu masih berdiri, tapi kini menjadi pengingat akan tragedi, bukan lagi sumber kebanggaan.
Namun, ada sesuatu yang baru di dusun itu. Sebuah papan peringatan sederhana dibuat di samping pohon jambu air.
“Taruh helmmu pada tempatnya. Periksa sebelum memakainya. Untuk Pareman.”
Beberapa anak muda di dusun itu mulai menaruh helm mereka di gantungan, bukan di atas spion. Bukan karena takut pada semut rangrang, tapi karena mereka mengenal Pareman. Mereka ingat bagaimana dia tertawa, bagaimana dia selalu siap membantu, dan bagaimana dia mati dengan cara yang tidak layak untuk siapa pun.
—
Di atas langit Dusun Rapetsari, mungkin roh Pareman sedang tertawa. Tertawa pada ironi bahwa kematiannya yang konyol telah mengubah kebiasaan orang-orang. Atau mungkin dia menangis, menyesali kebiasaan buruknya sendiri yang telah merenggut kesempatannya untuk hidup lebih lama, untuk mencintai Temu lebih lama.
Tapi kita tidak akan pernah tahu. Karena pohon jambu air itu, meski menyaksikan segalanya, tidak bisa berbicara. Dan semut-semut rangrang, meski mungkin memiliki cerita untuk diceritakan, tidak bisa berbicara dalam bahasa yang kita pahami.
Yang tersisa hanyalah pelajaran tentang hal-hal kecil yang bisa memiliki konsekuensi besar. Tentang kebiasaan buruk yang kita anggap remeh. Tentang hidup yang bisa berakhir karena pertemuan tak terduga antara helm, semut rangrang, dan truk kontainer.
Dan tentang pohon jambu air yang tetap berbuah, tidak peduli betapa tragis kehidupan manusia di bawahnya.

