Site icon Wong Kam Fung

Memang Marissa Haque Doktor?

(foto: okezone.com)

Blogger juga manusia. Dia punya perasaan. Karena dia manusia, tentunya dia tahu apa itu tanggung jawab. Bagaimana dengan Marissa Haque?

Karena Marissa Haque memiliki blog, bahkan kabarnya sampai berjumlah 48, pantaslah dia disebut seorang blogger. Marissa Haque juga manusia tentunya, malah seorang figur publik yang doktor, tapi sayangnya dia masih perlu belajar arti tanggung jawab. Bertanggung jawab atas perbuatannnya memanipulasi komentar yang masuk di blog dia menjadi sebuah fitnah. Ya, itu yang harus dia lakukan, belajar menjadi blogger yang bertanggung jawab. Masalah lain yang sedang dia hadapi bukan berarti menjadikannya bisa melakukan tindakan sesuka-sukanya tanpa disertai tanggung jawab.

Perihal perseteruannya dengan keluarga Addie MS, itu urusan dia. Saya awalnya juga tidak peduli dengan masalah tersebut yang ternyata sudah terjadi bahkan sebelum ada Dee Kartika Djoemadi. Bila sekarang saya menuliskannya, itu dikarenakan perilaku dia yang tidak bertanggung jawab dan tidak etis terkait dengan blog. Tidak menyangka seorang figur publik dan yang membangga-banggakan gelar akademiknya mau berbuat curang. Jelas kontradiktif. Yang disayangkan lagi, banyak tulisannya berisi caci maki dan hujatan serta merendahkan orang lain. Jauh dari cerminan seorang intelektual dan figur publik. Salah satu contohnya adalah kalimat “… tidak heran kelakuan dia sangat tidak berbudaya karena memang standar S1 sih ya?” yang ada di dalam tulisan berjudul begitu panjang bak rangkaian KRL “Marissa Haque Fawzi: Terimakasih Mas Buni Yani @buniyani di Leiden, Belanda”. Pantaskah seorang doktor menulis seperti itu meskipun tulisan tersebut ditujukan untuk Dee Kartika Djoemadi? Dia lupa bahwa di negeri ini banyak lulusan S-1, dan lebih banyak lagi di bawah S-1 atau bahkan yang tidak sekolah. Tulisannya telah melukai perasaan banyak orang. Tak terbayang berapa banyak rakyat Banten yang hatinya akan terluka seandainya dia berhasil menjadi Wakil Gubernur Banten dalam pencalonannya tahun 2006. Untungnya, tidak.

Pantaskah figur publik yang mengaku doktor menulis seperti ini?

Ketika dua komentar yang sengaja saya buat di dua tulisannya dihapus, hal itu sudah saya perkirakan. Saya hanya bereksperimen dan menunggu perubahan apa yang akan dia lakukan terhadap dua komentar tersebut seperti yang dia perbuat terhadap komentar teman-teman saya: Nonadita, Rudigints, dan Harris Maulana. Sayangnya eksperimen tersebut gagal. Namun komentar dari Harris Maulana berhasil di-screenshoot sebelum dia hapus dan bisa dijadikan bukti kelakuan bodoh Marissa Haque. Selain namanya, komentar milik teman itu diubahnya habis-habisan.

komentar @rudigints setelah diubah menjadi fitnah dan komentar @wkf2010 yang tidak ditampilkan
komentar @wkf2010 yang masih menunggu moderasi dan akhirnya tidak ditampilkan

Sebagai blogger, saya hanya fokus kepada ketidakjujuran Marissa Haque memanipulasi komentar yang masuk ke dalam blognya. Komentar tersebut dia ubah menjadi fitnah dan hujatan yang akhirnya dia hapus. Saya dan teman-teman blogger menuntut penjelasan dari dia melalui akun Twitternya atas tindakan tidak etisnya itu. Namun apa jawaban yang dia berikan? Kami disuruh fokus pada kejahatan Dee Kartika Djoemadi! Sungguh konyol dan aneh.

Mengubah komentar dalam blog tidaklah ditabukan. Itu sebabnya fasilitas moderasi disediakan oleh mesin blog semacam WordPress. Namun tentunya ada hal-hal prinsip yang harus diperhatikan dalam mengubah suatu komentar. Membenarkan tanda baca yang salah, kosakata vulgar, atau tata bahasa acak-acakan, wajar bahkan harus dilakukan. Tetapi memanipulasi isi komentar apalagi menjadi fitnah adalah perbuatan tercela dan tidak beretika. Akan sangat merendahkan pelakunya lebih-lebih bagi orang sekelas Marissa Haque.

sebelum diubah
setelah diubah

Jika kemarahan Marissa Haque terhadap Dee Kartika Djoemadi karena kicauannya di Twitter diungkapkan dengan lebih elegan dan santun, barangkali orang lain termasuk para blogger akan memaklumi. Bahkan mungkin orang tidak ikut-ikutan mempertanyakan keabsahan gelar doktor yang disandangnya. Namun ketika ledakan kemarahannya melupakan kesantunan dan akal sehatnya sehingga membabi buta dalam membuat tulisan di blog, berkicau di Twitter, berkomentar di Youtube, dan yang paling fatal mengubah komentar menjadi fitnah, orang kemudian bertanya, “Apakah betul Marissa Haque seorang doktor?” Dengan aksinya yang berlebihan itu bahkan akhirnya orang-orang memperkirakan dia menderita kelainan jiwa. Tanda-tanda skizofrenia, megalomania, dan paranoia yang didefinisikan KBBI Daring memang cocok dengan kondisi Marissa Haque saat ini.

 

ski·zo·fre·nia /skizofrénia/ n penyakit jiwa yg ditandai oleh ketidakacuhan, halusinasi, waham untuk menghukum, dan merasa berkuasa, tetapi daya pikir tidak berkurang

me·ga·lo·ma·nia /mégalomania/ n Psi kelainan jiwa yg ditandai oleh khayalan tt kekuasaan dan kebesaran diri

pa·ra·no·ia n Psi penyakit jiwa yg membuat penderita berpikir aneh-aneh yg bersifat khayalan, spt merasa dirinya orang besar atau terkenal; penyakit khayal;

Motivasi Dee Kartika Djoemadi berkicau tentang ketidaklayakan disertasi Marissa Haque memang perlu dipertanyakan. Namun demikian, apa yang dilakukan Dee tersebut tidak salah-salah amat. Bisa saja Dee melakukan itu sekedar menginformasikan ke khalayak karena Marissa Haque memang figur publik. Jika Marissa kemudian jadi marah, itu justru menimbulkan tanda tanya. Ada apa ini? Selain itu, yang saya tidak habis pikir, mengapa Marissa Haque menanggapi begitu emosional sehingga mengabaikan kesantunan? Sampai-sampai menghalalkan fitnah melalui pengubahan komentarpun dia jalani.

Marissa Haque ini seperti orang yang kebakaran jenggot. Dia membabi buta mencari pembenaran untuk menyerang lawannya. Itulah sebabnya ketika ada seorang pengguna Twitter bernama @buniyani berkicau menyatakan status S-2 dan S-3 Dee Kartika palsu, dia langsung memanfaatkannya sebagai bahan tulisan. Sayangnya data @buniyani tentang S-2 itu terbukti salah dan @buniyani tanpa ada beban telah meminta maaf atas kesalahannya itu. Tinggal status S-3nya yang sampai tulisan ini dibuat masih belum jelas. @buniyani dan @DeeDeeKartika yang kemudian berubah menjadi @KartikaDjoemadi, keduanya ngotot menuntut pembuktian dengan cara masing-masing. @buniyani meminta @KartikaDjoemadi memindai ijazahnya kemudian diunggah sedangkan @KartikaDjoemadi mengundang dia dan memberi waktu hingga 25 Januari untuk melihat langsung ijazah-ijazahnya. Siapa yang benar dalam hal ini, kita tunggu saja. Banyak orang, terutama blogger dan akademisi, berharap kebenaran bisa segera diungkap.

Selanjutnya, muncul pertanyaan baru tentang Dee Kartika Djoemadi. Mengapa dia mengubah nama akun Twitternya dan profil dia di halaman Founder di situs miliknya (http://spindoctors-indonesia.com/founder.php)? Awalnya halaman tersebut terdapat kata-kata “Ph.D graduated from Universiteit van Amsterdam, The Netherlands”. Setelah investigasi atas keabsahan gelar Ph.D tersebut gencar dilakukan, kata-kata itu dia hilangkan. Apakah Dee Kartika telah membohongi publik untuk gelar Ph.D-nya itu? Celakalah dia bila hal itu benar-benar dia lakukan.

Dee Kartika Djoemadi pasti memiliki tendensi atas kicauannya di Twitter. Dalam menanggapi hal itu, mengapa Marissa Haque tidak menunjukkan saja surat keterangan lulus ujian doktoralnya ke publik? Selesai urusannya! Bila selanjutnya dia mau memperkarakan dia secara hukum, silakan saja. Atau Marissa Haque ini sebetulnya belum benar-benar lulus? Artinya Marissa Haque sebenarnya baru berhasil di ujian tertutup sedangkan ujian terbukanya belum dijalani. Jika dua video yang dia tautkan di dalam tulisan berjudul “Mulut Kotor Penyanyi Baru Dee Djumadi Kartika Trionya Memes Addie MS Motivasinya Apa Ya?: Marissa Haque Fawzi” adalah rekaman Marissa Haque saat setelah ujian tertutup, maka dia masih memiliki satu kewajiban lagi yaitu menyelesaikan ujian terbuka. Bila dalam ujian terbuka ini dia dinyatakan lulus maka barulah gelar doktor itu secara sah menjadi miliknya dan dia berhak memajang gelar akademik itu di depan namanya.

Sekarang, bisakah Marissa Haque menunjukkan ijazah S-3nya atau setidaknya surat keterangan lulus ujian terbukanya? Sekaligus untuk menyangkal berita ujian sidang terbukanya baru akan dilaksanakan 17 Januari nanti. Jika tidak, apalagi ditambah tulisan-tulisan dia yang tidak mencerminkan kualitas seorang doktor serta hutang klarifikasi dia terhadap pengubahan komentar teman-teman blogger yang tidak (belum) dia bayar, wajar saja bila kemudian timbul pertanyaan, “Memang Marissa Haque doktor?

Exit mobile version