Saya senang saja menerima bunga yang diambil dari kebun itu namun dengan hati penasaran. Yang katanya harum, bagi saya bunga itu lebih kecium mirip daun sirih. Apakah itu yang dikatakan wangi menurut pak profesor, saya tidak tahu. Perihal tumbuhan ini enak dijadikan campuran masakan, itulah yang menarik saya untuk mencobanya. Seperti apa sih rasa dan baunya. Dan dari situlah petualangan saya dengan pemberian profesor yang bernama bunga kecombrang (Nicolaia speciosa horan), tanaman yang masuk keluarga Zingiberaceae atau empon-emponan, dimulai.
Maknya anak-anak sebenarnya sudah memperingatkan jika bunga itu baunya aneh, begitu juga dengan rasanya. Dia bisa mengatakan begitu karena dia memang pernah memakannya saat tetangga yang lagi nujuh bulanin perutnya memberi dia rujak kecombrang. Sebenarnya dia tidak tahan, namun untuk tidak makan atau menolak pemberian itu, tidak enak rasanya. Karena pedasnya rujak itulah yang akhirnya menyelamatkan dia dari kewajiban menghabiskan rujak istimewa tersebut. Dengan alasan tidak tahan pedasnya, dia berhenti memakannya. Penyebab sebenarnya sih karena rasanya yang aneh, terutama baunya.
Tabloid masakan yang numpuk di kamar tv segera saya bongkar. Tabloid itu bukan milik saya, tapi kepunyaan maknya anak-anak. Namanya juga tabloid masakan, seluruhnya tentang masakan dan memasaknya, termasuk yang ada kecombrangnya. Beberapa resep yang menggunakan bunga kecombrang akhirnya saya temukan. Masakan berbahan baku cumi terlihat mewah dan menggiurkan dalam foto yang disertakan dalam salah satu resep-resep itu. Jika melihat tampilannya, dijamin menggiurkan dan pasti lezat rasanya. Sayangnya di rumah tidak ada ikan cumi, yang ada ayam. Karena maknya anak-anak ini tergolong manusia kreatif, diperlakukanlah ayam itu sebagai cumi. Tidak ada rotan, akarpun jadi. Tidak ada cumi, ayampun diembat untuk dijadikan korban eksperimen orang penasaran.
Pembagian tugas segera dilakukan. Maknya anak-anak menyiapkan segala bahan baku, peralatan masak dan kemudian memasaknya. Saya tugasnya berdoa, menjadi penggembira, dan sekaligus sebagai tukang makannya nanti. Meskipun tukang masaknya setengah hati, tetapi karena dia tergila-gila dengan kelinci percobaan yang sudah siap menyerahkan jiwa raganya demi semangkok sayur kecombrang, diraciklah segala bahan dan bumbu yang sudah tersedia. Whatever will be, will be, begitu kata mbah saya.
Sebagai informasi tambahan, tapi bukan menjadi perhatian utama saya, katanya, orang yang mengonsumsi kecombrang, dijamin aroma tubuhnya terjaga dari bau badan yang kurang enak. Ini karena zat aktif yang terkandung di dalamnya, yaitu saponin, flavonoida, dan polifenol. Tidak heran makanya jika kecombrang digunakan sebagai deodoran alami. Selain itu, kecombrang juga kaya vitamin dan mineral lho.
Saya ini suka jalan-jalan, baik yang sekedar wisata maupun petualangan. Kesukaan yang saya jalani itu bukan hanya sekedar mendatangi tempat rekreasi, tapi juga ke tempat yang menawarkan makanan atau suka disebut dengan wisata kuliner. Wisata kuliner ini kadang-kadang tidak saya lakukan di luar rumah, cukup di dapur saya sendiri. Semangkuk sayur ayam bumbu kecombrang yang saat itu terhidang di hadapan saya merupakan contohnya. Namun buat saya, sayur kecombrang itu bukan hanya sekedar wisata kuliner melainkan lebih cocok disebut dengan petualangan kuliner. Dan petualangan yang berurusan dengan makan ini juga hobi saya selain wisata kuliner tentu saja. Kenapa saya sebut petualangan kuliner? Karena saya akan mencoba yang oleh sebagian orang, termasuk mantan pacar saya sendiri, menghindarinya. Jadi, ada unsur tantangan di dalamnya. Menghadapi tantangan seperti itu sudah pasti memacu andrenalin dalam tubuh.
