Site icon Wong Kam Fung

Diancuk Dalam Berkendara

Diancuk! Mata sampyan apa ndak liat kalo saya brenti?” Seorang laki-laki dengan logat Jawa Timurnya marah-marah ketika motornya ditabrak dari belakang oleh motor lain.

Hei, bazingan… zaga mulut kau! Kasih sein kalo akan berhenti! Emang zalan ini milik moyang kau?” Yang dikatai ’diancuk’ tidak terima. Dari aksen ngomongnya, jelas dia berasal dari Sumatera Utara. Dengan kunci Inggris di genggamannya, dia mendekati lelaki yang mengumpatnya terlebih dahulu. Yang didekati bergeming tetapi diam-diam tangannya yang ada di balik punggung telah menggenggam bata merah. Apa yang terjadi kemudian? Anda akan tahu kelanjutannya. Nanti.

Diancuk atau ada juga yang mengatakan jancuk adalah sebuah ungkapan untuk mengekspresikan kejengkelan, kemarahan, kekesalan, dan rasa kecewa. Kata ini sering diucapkan terutama oleh saudara kita yang berasal dari belahan timur pulau Jawa. Anda yang tinggal di Surabaya dan sekitarnya, umpatan tersebut tentu sudah tidak asing lagi. Sebuah ungkapan yang begitu ekspresif.

Umpatan semacam diancuk bisa muncul di jalan sudah pasti dikarenakan ketidak hati-hatian dari pengemudi. Ketika seorang pengendara sepeda motor misalnya tidak menerapkan safety riding, bukan hanya dia yang bisa celaka. Orang lainpun dapat terseret dalam kecelakaan lalu-lintas ketika ada pengguna jalan yang ceroboh. Tidak heran bila ada pengendara yang meskipun sudah berhati-hati tetapi tetap tertimpa musibah disebabkan kecerobohan pengendara lain.

Bukan hanya sekali saya hampir celaka karena kecerobohan orang lain di jalan. Saya pernah kelabakan saat berkendara di malam hari dikarenakan sebuah sepeda motor tanpa lampu tiba-tiba sudah ada di depan saya. Untungnya saya sempat membelokkan motor sebelum tabrakan terjadi. Pengendara yang kebut-kebutan juga dapat memicu terjadinya kecelakaan. Saat berkendara dengan tenang di suatu siang, mendadak sebuah sepeda motor yang kencang menyalip dan memotong jalan saya. Kelakuan berkendaranya membuat saya begitu kaget dan hampir masuk selokan.

Yang namanya hati-hati dalam berkendara tentu saja tidak bisa hanya dari satu pihak. Seperti yang saya sampaikan di atas, sehati-hatinya kita dalam berkendara, ketika ada pengguna kendaraan lain yang ceroboh, musibah tetap akan terjadi. Untuk itulah perlu adanya kesadaran dalam berkendara. Semua orang memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan. Setiap orang juga punya kewajiban yang sama untuk santun dalam berkendara. Ketika semua pemakai jalan sadar akan hal itu, kecelakaan lalu-lintas bisa dipastikan menurun dengan drastis. Yang namanya musibah mungkin saja terjadi. Namun bila kita semua sadar untuk berhati-hati dalam berkendara, jumlah musibah tentu menurun.

Berkendara di jalan memang tidak lepas dari resiko. Resiko dalam berkendara tentu saja menjadi korban kecelakaan. Dan sudah bisa dipastikan, hampir semua kecelakaan terjadi karena kecerobohan. Para pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm, kebut-kebutan, mengangkut penumpang melebihi kapasitas, menggunakan telepon genggam sambil berkendara, tidak menyalakan lampu di malam hari, tidak melengkapi motornya dengan lampu sein dan kaca spion, serta tidak mematuhi rambu lalu-lintas adalah perilaku berkendara yang ceroboh. Namun percayalah, ketika kita menerapkan safety riding, musibah pasti bisa dihindari. Dengan demikian cek-cok seperti yang digambarkan di awal tulisan ini tidak akan terjadi di jalan.

Terus bagaimana akhir dari cek-cok tersebut? Kelanjutan adu mulut itu bisa beragam sesuai imajinasi anda masing-masing. Perdebatan dua orang itu juga bukan betulan kok. Itu hanya sebuah rekaan. Namun yang jelas, umpatan dan kata kasar semacam diancuk tidak akan lahir di jalanan bila kita semua berhati-hati saat berada di atas kendaraan dan menghormati pengguna jalan lain. Ini perlu kita sadari bersama dan yang terpenting, kita praktekkan di jalan raya.

Sumber gambar: di sini

Exit mobile version