Karena menemani, saya harus ikut. Bila menuruti kata hati, pengennya tinggal di rumah. Waktu membayangkan berpanas-panasan naik angkotnya, maunya tiduran di kamar sambil mendengarkan Il Divo. Saat merasakan capenya antri, bangku yang ada di teras rumah yang terbayang di kepala. Sebentar, sebentar. Ini apa sih maksudnya? Kok nggak jelas gitu. Kalau anak-anak BEC suka bilang, ”Eddy Sud Rahmat Kartolo. Maksud loh?”
Gedung BS ada di dekat tugu kujang yang menjadi landmark-nya Bogor, juga dekat terminal bis Baranangsiang. Proses pembangunannya yang sempat kontroversial justru menjadikan publikasi gratis bagi BS sendiri. Demo yang dulu dilakukan mahasiswa IPB dan komponen masyarakat lainnya untuk menentang pendirian mal tersebut karena didirikan di lahannya dunia pendidikan tidak mempengaruhi keputusan rektornya. Alasan mengkomersialkan kampus juga tidak dianggap suatu hal yang perlu didengar. Sang rektor tetap keukeuh memberikan lahannya untuk investor. Sekali lagi, uang lebih keras bicaranya daripada ribuan warga Bogor yang melakukan demo. Kalau anda baca bukunya Henry Ford ’The International Jew’, seperti pendirian mal itulah yang merupakan contoh konsep Zionis meninabobokan musuhnya ke dalam kubangan hedonisme. Kaun Yahudi, meskipun minoritas, merupakan penguasa mayoritas terhadap uang yang beredar di seluruh dunia. Dengan menggunakan kekuatan uangnyalah dia bisa mengatur jalannya kehidupan seperti yang diinginkan, bahkan untuk kehidupan sebuah negara. Contoh gampang saja tentang Amerika Serikat. Siapa yang ada di balik segala keputusan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih?
Saya ternyata sudah ada di dalam BS. Rupanya Zionis dan kelakuannya tadi merupakan lamunan yang lewat di benak saya. Tujuan utamanya adalah jalan-jalan. Jadi, ketika masuk ke Giant yang dibeli tidak seberapa. Sebelum ke tempat tersebut saya bertiga menikmati makan siang dulu di A&W. Ada dan hanya satu yang merupakan favorit saya di restoran fastfood tersebut, root beer float. Minuman tersebut mempunyai kenangan ketika saya tinggal pertama kalinya di Jakarta tahun 1992. Sudah bisa dipastikan minuman itu yang selalu saya beli bila mampir di A&W di manapun berada.
