Saya kembali mendapatkan fakta alangkah ampuhnya sebuah kata, betapa tajamnya sebuah frasa melebihi tajamnya pisau tukang cukur yang membabat kepala anda sampai gundul. Tidak heranlah, dan entah sudah keberapa kali istilah ini saya gunakan, bahwa keyboard ah, ujung pena lebih tajam dari pedang. Bukan hanya setajam, tapi ‘lebih tajam’ dari silet. Silakan baca tulisan berjudul Risiko Menulis untuk menemukan istilah yang sama seperti di atas.
Ketika saya menggunakan istilah ‘murtad’ untuk menyebut seorang blogger, tentu saja dalam konteks tulisan yang saya buat itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama tertentu (Islam). Saya menggunakan istilah ‘murtad’ untuk merujuk kepada blogger yang sudah tidak lagi menulis karena panggilan hati seorang penulis, tetapi menulis karena uang (dollar) atau istilahnya memonetisasi blog. Blogger yang mencari uang tentu saja tidak salah. Tetapi bila menulis karena uang kemudian uang yang diharapkan itu sudah tidak ada lagi, akankah dia menulis? Itulah yang saya maksudkan dengan ‘blogger murtad’. Kepuasannya membuat tulisan bukan lagi ditentukan oleh seberapa tinggi kesenangan yang bisa diberikan kepada pembacanya tetapi seberapa banyak dollar yang bakal masuk ke pundi-pundi uangnya.
Ya sudahlah, persepsi orang memang berbeda-beda. Istilah ‘blogger murtad’ yang saya buat ternyata dipersepsi lain. Saya yang tadinya menggunakan istilah itu untuk menggambarkan blogger yang sudah tidak meyakini lagi betapa pentingnya kepuasan pembaca ternyata mendapat kecaman. Meskipun tidak sampai dicaci maki dan yang menulis komentar protes tidak banyak, tapi saya yakin yang juga memprotes namun tidak menulis komentar pasti lebih banyak. Dengan pertimbangan agar tidak semakin banyak pembaca yang merasa tidak nyaman dengan istilah tersebut, saya kemudian memutuskan mengganti kata itu. Walaupun jelas diganti atau tidaknya istilah tersebut sepenuhnya ada di tangan saya tetapi saya lebih memilih untuk merubahnya. Saya tidak mau menciptakan sebuah tulisan yang kontroversial. Dan anda yang mengikuti tulisan saya pasti tahu bahwa ini bukan pertama kalinya saya membuat tulisan kontroversial meskipun tidak dengan sengaja saya rencanakan.
Nasib Blogger Murtad
Tulisan kontroversial memang mengundang banyak pembaca. Tetapi jika yang datang pembaca yang mencaci maki, mending enggak deh. Ternyata blogger murtad bisa menimbulkan kontroversi. Namun orang murtad yang setiap pagi suka anda temukan di pinggir kali pasti tidak menciptakan kontroversi. Mereka murtad karena buang hajat. Maklumlah, kalau mereka buang hajat, memang mereka harus murtad alias njemur pantad. Jika tidak murtad, itu (maaf) ‘cepirit‘ namanya.
Sumber gambar: di sini
