Hari ini adalah ujian bagi kebapakan saya. Sebagai seorang ayah, saya harus mendampingi anak terkecil saya, Reyhan, di ruang dokter gigi. Saya harus berperan sebagai seorang ayah yang baik. Ayah yang bisa menenangkan anak saat ketakutan. Meyakinkan anak bahwa apa yang dialaminya merupakan hal yang biasa. Terjadi pada semua orang. Bahwa ke dokter untuk cabut gigi itu dijalani siapa saja. Intinya, tidak ada yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan.
Kenyataannya? Jantung saya empot-empotan. Campuran antara deg-degan, kasihan, dan takut. Saya tidak tega melihat Reyhan meringis kesakitan saat giginya digoyang-goyang pakai tang besi. Rasanya mau pulang saja. Kalau pulang, trus, siapa yang nemenin dia?
Saya hanya berdoa saja mudah-mudahan pengalaman ke dokter gigi tidak membuatnya trauma. Saat keluar dari ruang dokter, dia sempat bilang nggak mau ke dokter gigi lagi. Sakit. Padahal ini pertama kali dia berurusan dengan dokter gigi. Kalau giginya yang lain sama seperti sekarang, mau nggak mau harus ke dokter gigi. Semoga saja ketika harus ke dokter gigi lagi dia sudah lupa dengan kejadian yang dialaminya hari ini.
