Banyak pelajaran saya peroleh setelah nonton Linimassa 2. Film yang saya nikmati bareng teman-teman dari komunitas Blogor dan seratus lebih santriwan-santriwati hingga memadati aula Pondok Pesantren Daarul Uluum Bogor itu begitu sarat pesan. Melalui gambar-gambar yang indah, film itu membuka mata saya bahwa ternyata ada hal-hal yang terlewatkan. Entah apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan ini jika Anda juga telah menonton, beberapa kesadaran saya peroleh begitu film itu selesai.
Yang pertama adalah fakta bahwa media arus utama (mainstream) lebih menjual berita, bukan menyampaikan berita. Beda sekali dengan informasi yang disampaikan oleh para pengguna media sosial semacam Twitter. Media utama baik itu cetak maupun elektronik dalam pemberitaan perihal peristiwa di Ambon lebih cenderung mendramatisir. Apa yang terjadi di lapangan faktanya tidak seperti itu. Akibatnya adalah opini yang terbentuk baik di tingkat nasional maupun masyarakat Ambon sendiri tidak sesuai dengan kenyataan. Ambon seolah-olah mencekam padahal sebenarnya tidak. Ini dibuktikan oleh warga masyarakat yang tinggal di Ambon melalui kicauan-kicauannya di Twitter. Sayangnya, media utama tidak menanggapi dan menganggapnya tidak ada. Pemberitaan yang datangnya dari masyarakat melalui media sosial lebih sering diabaikan dan disepelekan bobot informasinya.
Hal kedua yang saya dapatkan dari Linimassa 2 adalah fakta bahwa kekuatan media sosial mampu menggerakkan sendi-sendi kehidupan dalam masyarakat. Dalam bidang ekonomi, bagaimana perajin batik di Yogyakarta memanfaatkan Facebook untuk menduniakan batiknya digambarkan dengan jelas dan menarik. Ketidakmungkinan yang dihadapi seorang perajin batik dengan kemampuan terbatas untuk melakukan perdagangan internasional saat ini menjadi mungkin. Itu semua dikarenakan keberadaan Facebook. Media sosial ini bisa menjadi media promosi, etalase barang-barang dagangan, sekaligus menjadi pasar untuk bertransaksi. Semua bisa dikerjakan dengan biaya sangat murah melalui media sosial tersebut yang sudah pasti terjangkau oleh pelaku UKM (usaha kecil & menengah).
Ketiga, media sosial bisa menjadi jembatan penyampaian informasi baik berupa program pemerintah maupun kegiatan sosial yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Keberadaan radio komunitas di daerah Lombok yang sudah dibentuk sejak tahun 2002 bisa menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan secara mandiri melalui media sosial. Paparan dalam film yang menggambarkan seorang jagawana sekaligus penjaga mata air yang dikonsumsi masyarakat di sepuluh desa sangat menarik. Hanya berbekal hape biasa yang ada kameranya, dia memotret kerusakan yang terjadi pada paralon saluran air. Gambar-gambar dengan kualitas rendah tetapi masih jelas terlihat tersebut kemudian dia sampaikan ke radio komunitas yang kemudian diteruskan ke masyarakat. Hasilnya luar biasa. Tanpa menunggu uluran tangan pemerintah, masyarakat tersebut bisa mandiri bergotong-royong mengatasi kerusakan itu. Luar biasa.
Sumber gambar: suster ngesot
