Ah ini sih saya saja yang lebay. Sepele kok masalahnya. Karena dulu saya tidak pernah bisa menyelesaikan permainan kotak rubik, bahkan sampai sekarang, kotak rubik menjadi salah satu permainan yang masih menjadi misteri buat saya. Pernah, saya dilatih untuk menyelesaikan kotak ajaib itu langkah demi langkah. Barangkali karena otak ini sudah mulai karatan, saat diajari untuk mengingat-ingat langkah-langkahnya atau suka disebut dengan memorisasi, saya sudah menyerah duluan. Ketika anak saya yang kelas empat sd dapat menaklukkan kotak permainan yang menyebalkan sekaligus menyenangkan itu, saya berteriak, ”Nah, rasain lo!” Hlah, apa hubungannya? Kotak rubik kok disumpahin. Yang berhasil anaknya, kok ayahnya yang puas.
Begitulah akhirnya. Saat tadi siang (27/7) mengantarkan anak saya menyaksikan kompetisi rubik di mol Ekalokasari, saya sempatkan memvideokan dia ketika sedang menyelesaikan kotak rubik yang ada di tangannya. Dia sendiri tidak mau ikut turnamen. Padahal dia sudah bisa menyelesaikan seluruh warna rubik dalam waktu kurang dari satu setengah menit. Belum apa-apa memang bila dibandingkan dengan waktu yang dicapai para juara turnamen rubik yang dalam hitungan detik sebagaimana yang dicatat oleh World Cube Association. Selain itu sebenarnya ada pertandingan untuk kelas anak-anak. Dia lebih suka merampungkan kotak rubiknya ketika sedang beristirahat di food court sambil menunggu makanan yang sudah dipesan. Dia memilih menjadi penonton kakaknya yang mengikuti pertandingan dan kebetulan berhasil menjadi juara kedua.
Sumber gambar: di sini
Sumber video: koleksi pribadi
