Kita ini, meskipun tidak semua, memang sukanya melabeli apapun atau siapapun, termasuk dalam dunia ngeblog. Namun celakanya, pelabelan yang dilakukan itu justru menyebabkan pengerdilan dan menjadikan kita terkotak-kotak serta serasa menjadi katak dalam tempurung. Seperti yang pernah saya tumpahkan dalam tulisan Tolak Blogger Nasional, Blogger Elite Blogger Kroco, atau Prestasi Tanpa Isi, sikap naif dan euforia bisa menjadi penyebabnya. Bagaimana dengan Bapak Blogger Indonesia? Tak ada bedanya dengan yang pernah saya tuliskan tersebut. Hanya karena prestasi yang tidak istimewa, atau dipicu oleh ketenaran, kemudian memproklamirkan diri atau orang menggelarinya Bapak Blogger Indonesia adalah sebentuk narsis yang berlebihan dan konyol.
Apakah menjadi blogger pertama di negeri ini otomatis berhak disebut Bapak Blogger Indonesia? Ah, kasihan benar mereka yang jauh dari hingar-bingar teknologi internet sehingga tidak mungkin menjadi orang pertama yang tersentuh dunia ngeblog. Hanya gara-gara jauh dari jangkauan internet, baik secara geografis atau fasilitas (di rumah/tempat kerja), sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mendapat gelar Bapak Blogger Indonesia. Bila parameter yang digunakan untuk memberi label segagah itu hanya menjadi orang pertama yang ngeblog, alangkah sepelenya. Dengan demikian, sungguh gampang mendapatkan gelar dan akan muncul bapak-bapak lain karena alasan sederhana sejenis yaitu merasa menjadi orang pertama sebagai pengguna. Jadi, jangan heran bila kemudian muncul Bapak Twitter Indonesia yang ngalah-ngalahin Jack Dorsey (pencipta Twitter), Bapak Facebook Indonesia yang merasa lebih hebat dari Mark Zuckerberg, dan bapak-bapak yang lain, atau bisa juga ibu-ibu yang lain.
Menjadi pengguna pertama tentu saja menyenangkan tetapi belum cukup untuk dibanggakan. Lebih-lebih, disombongkan. Amit-amit, dah. Bolehlah menuntut orang lain menyebut dirinya sebagai Bapak Blogger Indonesia asal telah menghasilkan karya orisinal dan pertama dalam dunia blog. Orang-orang semacam Bruce Ableson yang mencipta Open Diary (Oktober 1998), Brad Fitzpatrick dengan LiveJournal (Maret 1999), Andrew Smales dengan Pitas.com (Juli 1999) kemudian Diaryland (September 1999), atau Evan Williams dan Meg Hourihan (Pyra Labs) dengan Blogger.com (Agustus 1999) yang selanjutnya dibeli oleh Google pada Februari 2003 saja tidak dijuluki sebagai Bapak Blogger Dunia. Hla, ini? Baru taraf pemakai saja sudah digelari Bapak Blogger Indonesia. Apa tidak lebay itu namanya?
Saya tidak yakin apakah Bapak Blogger Indonesia benar-benar ada dan layak mendapat julukan itu karena saya sendiri baru mulai ngeblog Januari 2006. Sedangkan kedua sahabat saya di atas, yang obrolannya telah menginspirasi tulisan ini, telah lebih lama menjadi blogger. Di mata saya, mereka itulah Bapak Blogger Indonesia yang sesungguhnya, dan bisa jadi Anda juga. Bila di Google ada 906.000 laman yang menggunakan kata kunci itu, saya lebih suka mengabaikannya karena menurut saya siapapun bisa saja mendapat gelar itu.
Jadi, siapa Bapak Blogger Indonesia sebenarnya? Atau, adakah? Bagi saya Bapak Blogger Indonesia jelas ada dan yang jelas bukan (hanya) orang Indonesia yang pertama kali ngeblog. Jika anda seorang laki-laki dewasa, lebih afdol lagi sudah menikah, lebih sip lagi telah mempunyai anak, yang saat ini mempunyai blog, Andalah Bapak Blogger Indonesia. Mudah kan untuk jadi Bapak Blogger Indonesia?
Sumber foto: koleksi pribadi
