Site icon Wong Kam Fung

Blogger Elite Blogger Kroco

“Mas WKF ya?”
“Hiya. Kok tahu?”
“Mas itu seleblog bagi kami. Mas itu blogger elite. Siapa yang tidak kenal WKF? Wong Kam Fung, gitu lho.”
Crot! Lebih dari 50 blogger mengerubuti saya di lapangan tenis indoor atau saya lebih suka menyebutnya bungker dalam acara Blogger Nusantara di Sidoarjo beberapa waktu yang lalu.

Ini hanya sebuah fenomena tapi memang nyata adanya. Ada menurut saya. Entah dengan anda. Sebagian blogger mengelompokkan para blogger lainnya sebagai blogger elite atau blogger kroco. Mereka menganggap dirinya elite, yang lain kroco. Atau sebaliknya, dirinya merasa blogger kroco dan silau dengan blogger lain yang dianggap elite. Sebuah bentuk inferioritas. Inilah yang disebut dengan krisis identitas seorang blogger. Terus terang, saya tertawa menemukan fenomena seperti ini. Tertawa atas mereka yang merasa blogger elite. Tertawa atas mereka yang mengganggap dirinya blogger kroco. Tertawa atas diri saya sendiri yang terbengong-bengong menemukan ini semua. Mari kita tertawa. Hahaha…

Apa yang menjadikan seorang blogger elite atau kroco? Ah, ada-ada saja pertanyaan itu. Buat saya, tidak ada blogger elite atau kroco. Semua yang memiliki blog namanya blogger. Elite atau kroco hanyalah sebuah anggapan kosong yang tidak penting dan tidak ada gunanya diciptakan. Dua istilah itu hanya akan mengotak-kotakkan dan menghancurkan kebersamaan. Di mata saya, blogger hanya ada dua macam yaitu mereka yang rajin menambah isi blog atau mereka yang membangun kuburan alias terus abai terhadap blognya.

Blogger dikaitkan dengan prestasi sehingga berhak merasa atau dipanggil blogger elite juga merupakan sebuah hal yang absurd. Prestasi apa yang bisa dibanggakan sehingga merasa pantas dipanggil blogger elite? Ukuran saya sangat sederhana untuk menyebut seorang blogger berprestasi, yaitu bila dia rajin mengisi blognya. Tak peduli sejauh apa kualitas dari yang diisikannya. Bila kemudian seorang blogger dianggap berprestasi tetapi prestasi tersebut tidak membuatnya lebih baik, saya menyebut prestasi tersebut sebagai ‘prestasi tanpa isi’. Percuma saja memiliki prestasi jika karenanya malah membuat jadi tinggi hati, bahkan menyebabkan yang lain tersakiti.

Blogger bisa macam-macam jenisnya. Ada yang lebih senang bersembunyi di balik tulisan-tulisannya, ada yang suka memamerkan diri dan ‘bersosialita’ di dunia nyata. Blogger yang senang tampil inilah yang sering dianggap seleblog. Wajar, karena dia sering terlihat dan terdengar karena tampilnya itu. Namun, bukan kemudian otomatis dia pantas dipanggil blogger elite. Di mata saya, semua blogger sama. Selama dia rendah hati, saling menghargai dan menghormati, serta rajin menjalin tali silaturahim, saya akan angkat topi. Bila perlu, saya traktir apapun yang dia maui. Halah!

Menjadi popular sehingga dipanggil blogger elite kadang tanpa sengaja. Karena menulis buku, menjadi pembicara, memiliki blog yang diminati adalah di antara penyebab yang menjadikan dia seperti itu. Ada pula yang popular karena memang dia sengaja melakukan pencitraan diri meski kadang caranya tidak bermutu. Dalam istilah bahasa Inggris, makna terkenal bisa direpresentasikan dengan dua kata, famous dan notorious. Dengan demikian, artinya ada dua jenis seleblog yaitu blogger famous, terkenal karena hal-hal baik, dan blogger notorious yang popular karena keburukannya.

Jadi, jelas kan? Bila seorang blogger dianggap blogger elite, belum tentu dia blogger yang famous. Atau parahnya lagi, mereka yang merasa blogger elite sebenarnya hanyalah blogger kroco. Ah, whatever lah. Yang pasti, di kamus saya tidak ada blogger elite mapun blogger kroco.

Perlu anda ketahui, semua yang saya tulis di atas hanya pendapat dan angan saya semata. Termasuk percakapan di awal tulisan. Memang anda kira saya yang blogger kroco ini seorang seleblog? Hahaha… percakapan itu hanya dialog imajinatif dari seorang blogger bukan elite yang tidak pernah berada di dalam lapangan tenis indoor di Sidoarjo sana.

Sumber gambar: di sini

Exit mobile version