Setelah berkeluarga dan punya anak, kok ya muncul sebuah kebetulan. Anak saya yang pertama lahir tanggal 16 Juli. Nah lo! Otomatis makin lieur perihal ingatan saya tentang tanggal kelahiran. Untungnya anak kedua saya meskipun bulannya juga Juli tapi tanggalnya tidak 16 atau 19. Kelahiran sendiri saja rancu, apalagi ditambah kelahiran anak. Komplit deh.
Masalah 16 atau 19 ternyata bukan pemiliknya (saya) saja yang bingung. Ternyata teman-teman muda saya ada juga yang keliru. Mereka ngucapin met ultah pada tanggal 16 untuk ulang tahun tanggal 19. Saya nggak tahu apakah karena salah informasi atau lagi lalai. Yang pasti saya yakin mereka bukan penderita disleksia.
Senang rasanya banyak yang memberikan ucapan selamat. Dengan demikian saya jadi sadar ternyata banyak yang peduli. Tanpa bermaksud mengesampingkan perhatian yang diberikan, tanggal kelahiran bukanlah hari istimewa bagi saya. Tanggal tersebut hanya mengingatkan bahwa saat itu saya telah dilahirkan. Tidak pernah ada pesta khusus untuk merayakannya. Apalagi pakai ngadain orkes segala.
Ketika ada yang mengucapkan panjang umur, sebenarnya yang terjadi justru sebaliknya. Seharusnya yang diucapkan adalah selamat pendek umur. Bila ini yang dilakukan, lucu kali ya. Pasti dianggap aneh. Tidak biasa-biasanya. Bisa-bisa kita dituduh sebangsa alien. Tapi emang bener kok. Bukan bener kita ini alien. Tapi bener kalau ucapan yang disampaikan lebih cocok pendek umur. Mengapa?
Kita kan tinggal di muka bumi ini ibarat kontrak rumah. Setiap kali sampai pada tanggal kelahiran, pada saat itu genap setahun usia kita telah berkurang. Jatah umur yang diberikan untuk hidup di dunia susut satu tahun. Namun okelah. Nggak perlu mikir yang rumit-rumit. Apalagi kalau kita saja masih tinggal di rumah kontrakan.
