Catatan perjalanan ini sudah berminggu-minggu ada dalam tas. Sejak pulang dari tempat yang sesuai dengan namanya, Ujung Genteng, yang memang benar-benar berada di ujung wilayah Kabupaten Sukabumi, saya belum sempat membuka-bukanya lagi. Dengan sedikit memaksakan diri meluangkan waktu, saya akan tuliskan kisah menarik itu untuk anda. Sebuah perjalanan hati yang saya lakukan saat libur lebaran kemarin. Bagi teman-teman seperjalanan, mohon maaf, baru sekarang hasrat anda untuk membaca sekaligus mengenang kembali masa-masa di Ujung Genteng bisa kesampaian.
Tidak mudah untuk mencapai Ujung Genteng. Bukan dalam artian langkanya tranportasi atau lokasinya yang begitu terpencil, tetapi lebih karena tuntutan fisik dan mental yang prima. Kenapa saya berkata demikian? Dari semua perjalanan yang pernah saya jalani, inilah yang paling berat. Entah karena faktor ‘U’ yang susah diajak kompromi, atau memang seperti itulah kenyataan yang ada. Setelah anda membaca tulisan ini sampai tuntas, barangkali anda bisa menyimpulkan sendiri.
Awalnya saya tidak ada rencana, dalam waktu dekat, pergi ke tempat tersebut. Barangkali, memang sudah tiba waktunya untuk berangkat lebih cepat ketika suatu sore serombongan teman-teman muda datang berkunjung. Mereka bermaksud meminjam tenda. Untuk apa? Rupanya mereka akan pergi camping ke pantai, di Ujung Genteng. Mereka menawari saya untuk bergabung.
23 September 2009
Esok harinya perjalanan dimulai. Saya memutuskan ikut serta. Tidak sendiri, saya berangkat bersama dua junior saya (Izal & Reyhan) dan emaknya (Utami). Teman-teman muda saya yang baik hati mengajak jalan-jalan adalah Ical, Ade, Bedul, Fatimah, dan Titi. Total peserta jadinya sembilan orang.
Tempat berkumpul yang disepakati sebelum berangkat adalah di depan pos polisi yang ada di depan Terminal Baranangsiang. Rencana akan berangkat dari terminal itu jam 7.30 pagi tetapi prakteknya, bis baru jalan sepuluh menit kemudian. Perjalanan berjalan lancar dan normal, awalnya. Mengapa awalnya? Karena sepanjang jalan dari Bogor ke Sukabumi bagi saya bukan asing lagi. Jalan itu sudah sering saya lewati. Tidak ada yang aneh dan mengejutkan. Begitu mulai belok di pertigaan Cibadak ke arah Pelabuhan Ratu, inilah perjalanan yang sangat jarang saya lakukan. Bahkan seingat saya, perjalanan melewati jalur menuju Pelabuhan Ratu ini adalah yang kedua kalinya. Perjalanan pertama saya lakukan sudah lama sekali kalau tidak salah di tahun 1992. Jalan yang dilewati tidak terlalu lebar, namun mobil masih bisa berpapasan meskipun agak miring-miring bila yang ketemu sama-sama bis atau truk engkel. Bagaimanapun juga, saya masih bisa menikmati perjalanan itu. Lanjut!
Sampailah pada sebuah pertigaan. Jangan ditanya apa namanya. Saya lupa mencatatnya. Saat itu sih ingat, juga setelah beberapa hari. Masalahnya sekarang kan sudah berminggu-minggu, berbulan-bulan malah. Pertigaan itu bila ke kanan menuju Pelabuhan Ratu jika ke kiri ke arah Jampang Surade. Pertigaan apa namanya? Bis saya ambil belokan yang ke kiri. Dari pertigaan itu, jalan dan lingkungannya masih “beradab”. Kelaupun ada tanjakan atau turunan, jalan itu masih saya anggap normal, setidaknya masih ada rumah di kiri kanan jalan.
Setelah selesai waktu istirahatnya, perjalanan atau tepatnya siksaan kedua dimulai. Kami semua naik bis lagi. Saya kembali duduk di jok belakang seperti sebelumnya. Tidak ada pilihan tempat duduk lain karena semua kursi sudah terisi. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan saya kuat menghadapi cobaan ini. Cobaan? Lebay banget yak? Tetapi memang itulah yang saya rasakan.
Kondisinya masih sama. Jalan rusak berlubang-lubang. Sopir masih ugal-ugalan bahkan malah lebih liar. Entah habis makan apa dia. Pemandangan di kanan kiri jalan membosankan, hijau tetapi pucat. Barangkali karena lama tidak hujan dan banyak debu yang menutupi permukaan daun. Apa boleh buat, saya harus menguatkan diri dan berpura-pura menikmati perjalanan yang menyiksa ini. Sekedar untuk menghibur diri. Saya yakin, nanti saya pasti akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan di akhir perjalanan panjang ini.
Selesai istirahat selama satu jam perjalanan dilanjutkan. Setelah terkena air wudlu badan sedikit terasa segar. Dan syukurlah, doa saya terkabul. Perjalanan menuju Ujung Genteng cukup menyenangkan. Meskipun naik kendaraan yang lebih kecil tetapi jalannya rata tidak bolong-bolong dan sopirnya tidak liar. Saya yang duduk di sebelah sopir bisa dengan leluasa menikmati hamparan kebun kelapa di kanan kiri jalan. Rupanya mereka menanam kelapa untuk diambil niranya sebagai bahan baku membuat gula merah (jawa). Sebuah perjalanan yang menyenangkan, dan murah, karena ongkos angkot yang saya tumpangi itu hanya Rp4000. Dengan uang itu saya sudah bisa menikmati indahnya perkebunan kelapa di sepanjang jalan selama satu jam.
Akhirnya saya sampai di Ujung Genteng. Sungguh luar biasa. Saya sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat keindahan pantai Ujung Genteng yang terhampar di depan mata. Yang dapat saya katakan hanyalah menyarankan anda untuk datang sendiri dan menikmati kekayaan alam ini secara langsung. Apa yang menjadi keyakinan saya bahwa di akhir perjalanan panjang hari ini saya akan menemukan sesuatu yang menyenangkan benar-benar menjadi kenyataan. Pantai Ujung Genteng yang masih perawan dengan pasir putihnya lebih dari hanya sekedar menyenangkan.
Lokasi camping di pantai Cibuaya merupakan hamparan pasir yang berbatu-batu. Bebatuan itu harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum tenda didirikan. Tempatnya cukup teduh karena banyak pohon ketapang. Dua tenda doom yang dibawa segera dirangkai bersebelahan di bawah salah satu pohon ketapang yang cukup besar. Kedua tenda menghadap pantai. Dengan demikian, sepanjang hari kami bisa menikmati indahnya pantai dan laut lepas.
Saat sore menjelang, matahari berwarna keemasan. Sinarnya yang mulai meredup menambah suasana menjadi makin romantis. Di kejauhan nampak beberapa pasang anak manusia yang lagi kasmaran sedang mencari kerang, bermain air maupun pasir pantai. Mereka juga menunggu seperti yang sedang saya nantikan, sunset. Dan saya akan mencoba menggambarkan indahnya matahari terbenam di balik garis laut meskipun saya yakin gambaran saya ini jauh dari aslinya.
Malampun datang. Di sekeliling tenda jadi gelap gulita. Sekitar 200 meter dari tempat berkemah terdapat toilet umum. Di situlah kami mandi, buang hajat, serta mengambil air tawar untuk masak dan bikin minum. Tidak ada mata air tawar yang bisa digunakan sepuas-puasnya seperti bila camping di pegunungan. Toilet umum itulah satu-satunya tempat untuk mengambil air, dan kami harus bayar. Kalau malam, toilet ditutup. Ini tidak praktis dan mahal. Bayangkan saja berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk kami yang bersembilan ini. Belum lagi bila misalnya sakit perut di tengah malam sementara toilet itu dikunci. Masa ‘be-ol’ di pantai? Nggak asik ah. Lagian akan mencemari tempat yang indah itu. Sayang kan? Kan nggak lucu bila pagi-pagi ada orang menemukan si kuning mengambang. Hiii… Karena itulah kami memutuskan besok akan menyewa penginapan saja, dan pindah ke tempat itu.
24 September 2009
Semalam saya tidak begadang. Oleh karenanya pagi ini saya bisa bangun lebih awal dengan badan yang terasa segar bugar dan penuh semangat. Tadi malam hanya sebentar menyalakan api unggun. Daerah pantai ternyata kurang bersahabat dengan api unggun. Angin laut begitu kencang, sampai-sampai bara api unggun memercik ke mana-mana. Saya khawatir percikan itu akan membakar tenda. Karena anginnya yang kencang ditambah lagi hujan turun, jam 9-an kami kemudian masuk ke tenda. Tidur.
Pagi-pagi kami membuat sarapan. Setelah itu memanfaatkan waktu yang ada sebelum mencari penginapan untuk bermain ke pantai. Izal dan Reyhan asyik bermain pasir. Kakak beradik ini bermain sambil ditungguin emaknya yang cantik, Utami. Sementara Fatimah, Titi, Ical, Ade, dan Bedul sibuk mencari kumang (keong laut). Anehnya saat pulang ke tenda, yang mereka bawa bangkai ikan buntal dan teripang yang menjijikkan. Mereka bilang, itupun setelah dikasih tahu penduduk setempat, teripang enak dimakan. Emang bisa masaknya? Memang benar teripang yang bentuknya seperti timun bisa dimakan setelah diolah, dengan benar tentunya. Saya pernah makan keripik (atau kerupuk ya?) teripang yang merupakan oleh-oleh dari teman kantor yang berasal dari Surabaya. Baunya amis mirip ikan dan rasanya gurih asin. Teripangnya itu, bukan teman saya.
Segera semua barang dimasukkan ke penginapan. Kecuali tenda saya. Tenda itu saya dirikan di depan penginapan yang kemudian malamnya dipakai tidur. Biarlah yang lain bermalam di penginapan. Saya, Utami, dan Reyhan menghabiskan malam kedua di Ujung Genteng dengan tetap tidur di dalam tenda. Inilah contoh camper sejati. 😉
Matahari sudah menghilang. Keadaan menjadi remang-remang. Kami berjalan kembali menyusuri pasir putih menuju penginapan. Di kejauhan terlihat lampu-lampu rumah penduduk desa Pangumbahan sudah mulai dinyalakan. Ke arah titik-titik lampu itulah saya menuju. Sore ini puas sudah menjalani semua kegiatan. Dari mencari kulit kerang, bermain pasir, berjalan di air, menyaksikan pelepasan anak penyu, sampai menikmati deburan ombak serta turunnya matahari yang berwarna keemasan. Saya tidak khawatir bakal tersesat saat pulang ke penginapan. Tidak mungkin. Hanya dengan mengikuti garis pantai, dijamin pasti sampai di penginapan. Biar gelap gulita sekalipun.
Selesai makan malam apalagi yang dilakukan kalau bukan ngerumpi. Sambil nyeruput kopi di serambi kami ngobrol diiringi irama debur ombak dan belaian angin pantai. Entah sampai jam berapa obrolan itu berlangsung dan entah siapa pula yang mengawali untuk berangkat tidur. Saya, Utami, dan Reyhan memilih tidur di dalam tenda yang tadi pagi saya rakit di depan penginapan, sedangkan yang lain pada tidur di dalam penginapan.
25 September 2009
Udara pagi di pantai tidak semenggigit bila di gunung. Bisa dibilang bukan dingin tapi sejuk. Airnya pun tidak dingin membeku sebagaimana di gunung. Itulah sebabnya saya berani mandi pagi. Kalau di gunung jangan harap pagi-pagi saya akan mandi. Siang saja kagak.
Angkot sampai di terminal Surade. Ongkos angkot sama seperti waktu mengantar kami ke Ujung Genteng, Rp4.000 per kepala. Kami akan pindah angkutan menggunakan bis yang langsung ke Bogor. Namun sayang bisnya sudah berangkat. Kelamaan dan terlalu siang bila kami harus menunggu bis berikutnya. Trayek Bogor-Surade pp hanya dilayani oleh beberapa bis ¾ dari satu PO (perusahaan otobus). Terpaksa kami menggunakan colt yang cuma sampai Sukabumi dengan tarif Rp30.000 per orang. Dari Sukabumi terus ganti angkutan menuju Bogor.
Colt yang kami naiki langsung penuh. Karena kami bersembilan dan sebelumnya sudah ada beberapa penumpang, maka begitu kami naik tidak lama kemudian terus berangkat. Begitu masuk ke dalam colt dan mencium bau interiornya, kepala langsung empot-empotan. Saya kadang-kadang seperti itu bila naik mobil dan biasanya itu menjadi indikator saya akan mabok di perjalanan. Saya hanya berdoa mudah-mudahan sopirnya tidak segila sopir bis dua hari yang lalu. Mengenai jalan yang bolong-bolong saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah menerima keadaan. Saya tahu bakal dikocok-kocok lagi. Namun bila si sopir membawa kendaraannya agak santun, setidaknya kocokan dan bantingannya tidak terlalu keras. Saya pasti tidak terlalu menderita jika seperti itu.
Sayangnya harapan saya tidak terpenuhi. Sungguh celaka. Sopir colt yang kami naiki ternyata lebih biadab. Dia membawa kami seperti mengangkut gerombolan kambing. Ngebut kesetanan. Tidak salah bila colt ini juga mendapat julukan angset alias angkutan setan. Pusing saya langsung mentok ke ubun-ubun. Mulut jadi berasa asam. Isi perut bergolak. Kemudian… seluruh yang saya makan tadi pagi keluar semua. Gunung berapi telah memuntahkan laharnya. Saya yang waktu berangkat gagah perkasa, tahan dibanting dan dikocok-kocok dalam bis serta merasa super karena sementara yang lain berjatuhan saya masih tegak, sekarang lunglai tak berdaya. Untungnya ada Utami yang duduk di sebelah saya, yang selalu bersedia jadi petugas palang merah yang setia dan siap menolong arjunanya yang ganteng ini. Dia memang seorang superwoman. Ke manapun pergi, dia tidak pernah mengalami apa yang saya alami sekarang. Utami ini juga seorang Kartini modern. Ah, rasanya tidak akan pernah selesai bila kebaikan-kebaikannya saya tuliskan di sini.
Perjalanan pulang ini ternyata lebih menyengsarakan. Si sopir makin biadab saja rasanya. Dia tidak peduli ada ‘veteran perang’, superwoman, dan coverboy-covergirl di dalam mobilnya. Kebiadabannya sempat terhenti sejenak saat ban belakang bocor dan harus diganti. Inilah kesempatan saya untuk keluar dari perangkap penyiksaan dan menghirup udara segar meskipun hanya sesaat.
Akhirnya kami tiba di terminal Lembursitu, Sukabumi. Saat itu pukul 12.30 wib. Begitu keluar dari colt saya mencari tempat untuk menenangkan diri dulu. Saya masih di awang-awang. Rasanya belum menginjak bumi walaupun pada kenyataan saya sudah sampai Sukabumi. Kepala yang begitu berat memaksa saya beristirahat sejenak sebelum masuk ke rumah makan. Karena mobil yang kami naiki tadi tidak berhenti di rumah makan seperti pada saat menuju Ujung Genteng, maka sekarang perut harus diisi. Apalagi tadi sudah dikuras habis-habisan di perjalanan.
Selesai makan siang kami harus naik angkot dulu menuju terminal di tengah kota Sukabumi. Rupanya terminal Lembursitu hanyalah terminal pembantu yang ada di pinggiran Sukabumi. Dari terminal yang di tengah kota, saya lupa namanya, kami naik angset menuju Bogor. Saya pikir hanya jenis angkutan itu yang ada, ternyata ada bis yang menuju Bogor. Tadinya sebenarnya saya ingin naik bis tetapi karena sudah terlanjur masuk ke dalam angset, ya sudahlah. Kali ini perjalanan menuju Bogor lebih bisa dinikmati. Jalan Sukabumi-Bogor lebih manusiawi meskipun sopir angsetnya tidak.
Sumber gambar & video: koleksi pribadi
Video:
1. Ngobrol di teras
2. Sunset di pantai Ujung Genteng
3. Pelepasan penyu
4. Pantai Ujung Genteng
