Site icon Wong Kam Fung

Persepsi Butuh Persuasi

Tidak gampang untuk menyamakan persepsi. Dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati, keikhlasan, kedewasaan, dan banyak hal yang setiap orang sebenarnya bisa melakukan itu semua tetapi kadang sulit mewujudkannya pada saat dibutuhkan. Inti semua itu, menyamakan persepsi menuntut sikap legowo alias menurunkan tingkat egoisme ke posisi yang paling bawah.

Tentu saja bukan tidak mungkin untuk mau mengalah. Siapapun punya daya untuk melakukan hal itu. Masalahnya kan kadang-kadang kita ini lebih sering dan lebih suka mementingkan diri sendiri dibandingkan mendahulukan kepentingan orang lain. Kalau sudah begitu, sulit untuk bisa berpersepsi sama. Padahal, saat kita harus menyamakan persepsi, unsur mengalah ada di dalamnya. Kan susah jika kedua pihak saling tidak mau mengalah? Bahkan bisa dibilang tidak mungkin titik persamaan dari persepsi akan ditemukan jika masing-masing ‘keukeuh’ (ngotot) dengan egonya sendiri-sendiri.

Entah sudah berapa kali saya menulis atau berbicara tentang gelas berisi air yang hanya setengah saat membahas persepsi. Jika di depan anda terdapat sebuah gelas yang air di dalamnya cuma setengah, anda menyebutnya setengah kosong atau setengah isi? Hal yang sudah jelas tersebut bisa jadi akan membingungkan, dan mungkin juga menyebabkan perdebatan. Saat anda mengatakan setengah isi, orang lain bisa saja bilang setengah kosong. Siapa yang benar dan salah? Tentu saja keduanya benar dan tidak ada yang salah. Setujukah bila ada yang menyalahkan setengah kosong karena biasanya orang bilang setengah isi? Itulah persepsi yang tidak mau diajak kompromi. Kadang-kadang karena persepsinya berbeda, kemudian kita menyalahkan mereka yang sebenarnya tidak salah. Dan, sekali lagi, tidak mudah menyamakan persepsi meskipun jelas sangat mungkin untuk melakukannya. Kisah tiga orang buta dengan gajahnya juga bisa menjadi contoh bagus perihal persepsi. Silakan keluyuran di internet untuk mengetahui cerita itu bila penasaran. 😉

Banyak faktor yang mempengaruhi persepsi. Salah satu yang saya lihat adalah karakter. Bila merunut empat tipe karakter yang dipopulerkan Florence Littauer yaitu koleris, sanguinis, melankolis, dan phlegmatis, semua memiliki kekuatan saat mempersepsi sesuatu dan sekaligus mempunyai kelemahan saat mempersepsi yang lain. Dengan demikian, bisa diartikan bahwa tidak ada satu karakter lebih baik dari yang lain. Di saat dan tempat tertentu karakter tertentu bisa menjadi lebih unggul dari yang lain. Selain itu, setiap karakter memiliki sisi baik/positif dan sisi buruk/negatif.  Ketika dua karakter mempersepsi satu hal dan kemudian tidak diperoleh titik temu, maka bisa dipastikan kedua karakter tersebut sedang memunculkan kekhasannya masing-masing entah itu sisi positif maupun negatif. Siapa yang salah? Sekali lagi tidak ada yang salah. Hanya saja, masing-masing tidak mau berkompromi. Jika tidak mau berkompromi, apa artinya? Jelas, sifat egois masing-masing yang muncul.

Begini contohnya, ada karakter yang begitu concern dengan disiplin waktu sebaliknya ada juga yang lebih memilih kebersahajaan. Keduanya bisa positif bisa negatif. Negatifkah yang mengabaikan disiplin waktu? Barangkali dari kacamata mana dulu melihatnya. Kalau saya, dalam hal menghilangkan atau mengurangi stres, misalnya, saya lebih suka melupakan sejenak tentang disiplin waktu.  Bagaimana anda bisa rileks dalam liburan anda bila selalu memikirkan waktu? Anda yang sangat peduli dengan waktu mungkin tidak setuju. Nggak apa-apa. Berarti kita beda. Kalau mau sama, kita harus menyamakan persepsi dulu tentang waktu. Jika mau sama maka kita harus berkompromi dengan ego kita masing-masing. Bisakah ego kita diajak kompromi? Barangkali kita harus membujuk ego kita dulu agar mau berkompromi untuk mencapai kesamaan persepsi. Memang, kadang-kadang persepsi perlu persuasi.

Ah, sudah ah, cape saya nulis yang serius kayak gini. 😉

Sumber gambar: di sini

Exit mobile version