Site icon Wong Kam Fung

Mabok Apa Mabuk?

Mana yang benar dari dua kata itu, nggak usah diambil pusinglah. Biar itu jadi urusannya orang-orang Pusat Bahasa. Yang jelas, ada kondisi yang menggambarkan seseorang atau sekelompok orang menjadi lupa diri karena kemenangan. Anda tahu kan dengan istilah euforia?

Ya, euforia merupakan perasaan nyaman atau gembira yang berlebih-lebihan. Akibatnya, kadang-kadang yang bersangkutan menjadi lupa daratan, seperti orang mabuk gitulah. Anda tahu kan gimana orang mabuk itu? Perasaan ini sering dijumpai pada orang-orang yang memperoleh kemenangan. Menang lotere misalnya. Apalagi mereka yang sekali-sekalinya beli lotere, eh, hla kok kemudian menang. Mabuk kepayanglah dia.

Belum lama berselang, barangkali juga sampai saat ini, rakyat Amerika terutama pendukung Partai Demokrat mengalami euforia. Pada Selasa malam 4 November 2008, sekitar seperempat juta rakyat Amerika berkumpul di Grand Park pinggiran Danau Michigan untuk sebuah pesta yang disebut Election Night. Mereka merayakan kemenangan capres dari Partai Demokrat, Senator Barack Hussein Obama Junior yang berpasangan dengan Senator Joe Biden.

Kegembiraan itu kemudian bukan hanya milik pendukung Obama tapi telah menjadi milik seluruh penduduk Amerika pada umumnya. Hal itu dikarenakan contoh sikap positif yang ditunjukkan oleh pemimpinnya. Saat pemenangnya sudah terpilih, pihak yang kalah bukan terus memperkarakan kemenangan lawan dan berbuat anarki. Yang dilakukan John McCain sebagai calon presiden yang dikalahkan adalah mendatangi Obama untuk bersalaman dan mengucapkan selamat atas kemenangan lawannya. Sungguh, sebuah tauladan yang berasal dari pemimpin sejati. Betapa indahnya bila para calon pemimpin kita yang dikalahkan dalam pilkada maupun pemilu dapat berlaku seperti itu.

Euforia atas kemenangan Obama itu ternyata tidak hanya dialami orang-orang Amerika. Sebagian dari penduduk ini rupanya turut gembira dengan terpilihnya Obama. Barangkali hal ini terjadi karena dia pernah tinggal di Indonesia. Orang-orang yang terkena euforia itu merasa memiliki ikatan batin dan emosi dengan presiden yang baru terpilih. Apalagi teman-teman sekelasnya waktu sekolah di Menteng, Jakarta dulu.

Menyaksikan peristiwa pemilihan seorang pemimpin di negeri ini selama ini, rasanya kita masih harus banyak belajar, terutama belajar menata emosi. Keinginan menduduki sebuah jabatan pemimpin seharusnya didasarkan pada pengabdian. Sebuah pengabdian dalam arti yang sebenar-benarnya, bukan mengabdi yang hanya digembor-gemborkan saat kampanye semata-mata untuk mendapatkan suara dari massa. Malu rasanya setiap ada pilihan pemimpin selalu ribut.

Nggak ada habis-habisnya dan malah semakin sakit hati bila diterusin omongan tentang kelakuan orang-orang yang tidak amanah itu. Kita ngomongin yang senang-senang sajalah. Bila hati ini senang, sakit akan hilang. Itu yang disebutkan sebuah artikel dalam majalah Reader’s Digest Indonesia bulan ini. Saya tuliskan kembali artikel itu untuk anda di sini.

Artikel kesehatan ini menukil isi dari buku seorang neuroscientist, Morten Kringelbach, dari Universiti of Oxford. Morten melakukan penelitian revolusioner dengan cara memasukkan elektroda ke dalam otak seseorang untuk menghilangkan rasa sakit dan mengubahnya menjadi rasa senang dan nyaman. Dalam bukunya yang berjudul The Pleasure Center, dia memaparkan hasil penelitiannya itu.

Bagaimana komentar anda? Bersenang-senang itu banyak untungnya, termasuk euforia. Bila anda sekarang sedang mengalami euforia, teruskan saja. Asal anda tidak kebablasan dalam bersenang-senang. Sebagian orang masalahnya melihat euforia itu secara negatif. Euforia diidentikan dengan anarki. Jadi, mari bersenang-senang.

 

Exit mobile version