Saya punya cerita untuk anda. Kisah tentang seorang mualaf. Dia tinggal di daerah Gadog, Puncak. Usaha yang dijalankan menghidupi keluarga dan lingkungannya. Dengan mempekerjakan 150 karyawan yang berasal dari tetangga sekeliling dalam usaha jamurnya, bolehlah dia disebut pahlawan. Setuju? Mudah-mudahan kisahnya dapat menjadi inspirasi anda.
Saya memang sengaja datang ke tempat usaha jamurnya. Awalnya bukan ingin menemui dia. Saya hanya ingin melihat-lihat budidaya jamur yang dia jalankan. Siapa tahu saya bisa menirunya. Tapi pak Biyo, yang mengantarkan dan juga teman kantor saya, berinisiatif mempertemukan saya dengan pemiliknya, haji Ahmad. Ya okelah, rasanya hal itu lebih baik. Saya bisa jadi tanya-tanya banyak.
Dari hasil obrolan dengan haji Ahmad, bisa disimpulkan dia termasuk orang yang tidak gampang menyerah. Moto pelajari dan perbaharui yang dia pegang sampai saat ini menjadikan dia mampu bertahan dalam usahanya. Resep rahasia bibit jamur yang dimilikinya merupakan buah dari moto pelajari dan perbaharui. Yang dilakukan oleh haji Ahmad ini bisa dibilang merupakan pengejawantahan S kelima dari istilah manajemen dari Jepang yang dikenal dengan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Shitsuke yang berarti disiplin bisa juga bermakna komitmen. Dia terus-menerus berupaya melakukan tindakan yang mengarah pada perbaikan.
Tanpa ragu-ragu dia menceritakan kepada saya bagaimana bibit jamur yang dia tanamkan dalam baglog-baglog (kantong plastik) yang menjadi tempat persemaian jamur diciptakan. Bibit jamur yang dulu dia pernah miliki berasal dari IPB. Sayangnya bibit itu, dia istilahkan, tidak tepat waktu. Maksudnya setelah 27 hari harusnya sudah berproduksi, ternyata 40 hari baru bisa dipanen. Bibit jamur yang ada ternyata tidak tahan terhadap perubahan cuaca. Kalaupun bisa hidup, hasilnya tidak maksimal. Jamur yang diperoleh kalau tidak sedikit, tidak putih alias kekuning-kuningan, ya mati. Karena semangat untuk terus belajar dan memperbaharui yang dia miliki yang membuatnya terbang ke beberapa negara. Dia tidak puas dengan hasil yang ada. Haji Ahmad ingin memperbaiki bibit jamurnya sehingga bisa tahan terhadap cuaca, memiliki penampilan menarik, dan hasil produksinya banyak.
Saya pribadi salut dan angkat topi tinggi-tinggi untuk orang seperti haji Ahmad, manusia yang berani menghadapi tantangan dan tidak gampang menyerah. Sekolahnya memang hanya sampai di bangku sekolah dasar, seperti yang dia bilang kepada saya, tapi struggle for life-nya melebihi yang sarjana. Dia lebih realistis, tidak mengunggul-unggulkan pengetahuan yang kadang hanya hebat di teori, tidak membumi, sering tidak aplikatif.
Haji Ahmad pernah bangkrut dalam usaha jamur, bahkan kehidupan keluarganya kena imbas juga, tapi dia bangkit dan berusaha kembali. Dalam bisnis, memang dia bukan orang baru. Sebelum usaha jamur dia pernah berjaya dalam bisnis minyak wangi sebagai pedagang grosir di Glodok. Saat jaya-jayanya dalam bisnis kosmetik ini, dia mendapat hidayah. Dia merasa telah mengambil rejeki orang lain. Yang dia rasakan persis dengan yang disebutkan dalam kitab suci yang sekarang menjadi panduannya setelah menjadi mualaf. Karena tahu yang dilakukan bertentangan dengan hati nurani, dihentikanlah bisnis yang menguntungkan ini. Segera dia banting setir.
Sebagai imbalan atas courtesy pak haji, ucapan terima kasih dan sekaligus membayar janji, saya buat tulisan ini.
