TAS adalah pejuang sejati, pembela rakyat kecil, dan juga pendukung emansipasi wanita. Melalui koran pertama berbahasa Melayu yang dia terbitkan, Medan Prijaji, TAS menyebarkan ide-idenya.
Siapa bilang menulis itu bikin pusing? Saya! Lho, mengapa? Bagaimana tidak pusing jika tangan sudah memegang alat tulis atau jemari sudah siap memencet tombol-tombol keyboard tetapi ide yang sudah ada di kepala hanya muter-muter nggak mau keluar? Bahasa joroknya, seperti orang mau ’boker’ pakai sembelit dulu.
Mbah Maridjan memang bukan seorang pemuda. Oleh karena itu, sumpahnya tidak bisa dibilang sumpah pemuda. Namun dari sumpah mbah Maridjan, sebuah keteladanan diajarkan. Sayangnya, karena sumpahnya pula, dia mendapat cercaan.